Bab 6 - Sahabat Terbaik
Leher Ana mengalami hal yang mirip seperti terkilir. Dia juga merasa leher miliknya terasa kaku dan nyeri. Beberapa orang yang melintas sekitar tempat kecelakaan Ana menepi. Mereka mulai berdatangan dan berkerumun untuk menolong Ana. Sementara itu, dua orang debt collector tadi pergi menjauh.
Beberapa warga memanggil bantuan polisi dan petugas medis. Seorang pria yang berusaha menolong Ana, mulai kesulitan saat perempuan itu tak bisa menggerakkan lehernya, sekalipun hanya untuk menganggukkan kepala. Ana bahkan tidak bisa menggerakkan leher untuk menengok ke samping kanan atau kiri. Rasa nyeri terasa dari pangkal tengkorak hingga ke arah dahinya.
"Jangan gerakkan lehernya! Aku rasa dia mengalami cedera di lehernya," ucap pria penolong tersebut yang merupakan seorang pekerja di bidang medis.
Penolong yang lainnya mengangguk dan menurut. Mereka memperlakukan tubuh Ana dengan hati-hati sampai mobil ambulans datang menjemput Ana. Tak lama kemudian, mobil ambulans datang dan membawa Ana menuju Rumah Sakit Kota.
Petugas kepolisian juga mengamankan tempat kejadian perkara. Kondisi mobil yang ditumpangi Ana itu pun mengalami rusak parah di bagian depan akibat benturan. Para tim pencari berita juga mulai berdatangan. Apalagi setelah tersebar di jagat maya kalau desainer terkenal, artis selebgram, dan pelaku video viral tengah mengalami kecelakaan tunggal yang diduga karena mabuk.
Di dalam mobil ambulans, Ana masih terjaga. Sayup-sayup dia mendengar kesibukan dua paramedik yang mencoba menyelamatkannya. Ana hanya bisa menatap sinar lampu pada mobil ambulans tersebut.
"Nona, bertahanlah!"
Suara paramedik itu sempat terdengar samar di telinga Ana, sebelum akhirnya sunyi. Indera penglihatan Ana pun berubah jadi gelap.
***
Seminggu kemudian...
Ana terjaga dari tidurnya setelah dirawat satu minggu di rumah sakit pusat kota. Perempuan cantik itu masih mencoba mengingat gambaran saat kecelakaan terjadi. Namun, pita-pita rekaman di otaknya malah membawanya pada ocehan sahabatnya. Risa memberikan informasi mengenai video skandal percintaan Ana yang tersebar di dunia maya.
Di dalam video tersebut, hanya wajah Ana yang tampak jelas terlihat. Sementara sang pria hanya terlihat punggungnya. Kasus video asusila tersebut membuat karir Ana hancur dan memiliki banyak hutang. Banyak investor dan yang akan menggunakan Ana sebagai bintang iklan angkat kaki meninggalkannya. Ana malah berteriak kesal. Dia bersumpah akan menghabisi nyawa si penyebar video tersebut.
"Kau sudah sadar?" Suara itu mengalun merdu, sangat perlahan dan terdengar lembut sekali dari bibir Risa.
Ana mengerjap perlahan, lantas dia terkejut kala menemukan dirinya terbaring di sebuah ranjang. Bola mata nan hitam sempurnanya menatap ke atas. Perempuan itu sempat termenung lama kala mendapati langit-langit berwarna putih cerah dengan gorden yang separuh menutupi bilik kecil tempat dia berada.
Suara samar-samar yang didengarnya mulai terdengar lebih jelas, dengan aroma obat yang tercium menyengat. Ana menolehkan kepala, lantas mendapati seorang perempuan yang dia kenal betul sedang menatapnya melalui sepasang iris kecokelatan.
"Ah, syukurlah! Aku pikir kau tak akan selamat kali ini!" seru perempuan itu bernada rendah dan terisak.
Suara Risa jelas tersirat rasa senang dan syukur. Kedua matanya juga tampak berkaca-kaca.
"Kau pikir aku selemah itu," ketus Ana seperti biasa penuh keangkuhan.
Padahal Risa mengatakannya dengan tulus. Dia sangat khawatir pada Ana.
"Hmmmm, masih Ana yang dulu. Padahal aku berharap kalau kau hilang ingatan dan berubah menjadi gadis manis yang ramah. Ternyata, kau tetaplah Ana yang angkuh!" Risa meraih botol air mineral di atas nakas samping ranjang Ana.
Ana sempat melihat Risa mengusap sudut matanya agar bulir bening itu tak menetes.
Ana masih berusaha untuk mencerna keadaan, tetapi satu hal yang jelas dia rasakan ketika tubuhnya tidak sesakit saat awal-awal. Sebuah infus tertancap di punggung tangan dan mungkin saja dokter telah memberinya obat penghilang rasa sakit sehingga rasanya tak sesakit saat dia baru saja mengalami kecelakaan.
"Sudah berapa lama aku di sini?" tanya Ana.
"Kau tak sadarkan diri sekitar satu minggu. Harusnya kau berterima kasih dulu padaku. Aku menunggumu selama kau di sini tau!" keluh Risa.
"Oh, memang itu kan tugasmu? Kau harus menjagaku, Sa."
Ana mencoba untuk bangun tetapi kepalanya masih berdenyut hebat ditambah dengan cervical collar yang terpasang di lehernya.
"Apa yang terjadi denganmu, sih? Kenapa kau bisa sampai seperti ini?" tanya Risa lagi penuh kekhawatiran.
Ana berdeham pelan, sebelum berupaya meminta Risa untuk mengambilkan air minum. Tenggorokan wanita cantik itu terasa kering.
"Kau tidak tahu kabar terbaruku yang lain? Diana belum membayar cicilan bank butik. Dia juga tidak mengurus tagihan kartu kreditku. Lalu, aku dikejar dua debt collector raksasa. Tapi, benar-benar nasib sial kini sedang menimpaku, sampailah aku di sini," jawab Ana.
Risa kemudian duduk setelah meletakkan air mineral yang baru saja Ana minum. Tak lama setelahnya ia bangkit lagi.
"Oh iya, tunggulah sebentar. Aku akan memanggil dokter. Mereka harus tau kalau kau sudah sadar."
Risa lalu menyingkap gorden untuk menuju meja di mana para perawat berada. Tak lama kemudian, gadis itu kembali.
"Kata suster tunggu sebentar lagi," kata Risa ramah lalu melanjutkan lagi ucapannya, "Dokter Richard akan segera datang dan memeriksamu."
"Sa, siapa yang menanggung biaya rumah sakit ini?" tanya Ana.
"Aku mengurus asuransimu, kan? Untungnya pembayaran asuransi mu dan punyaku masih lancar. Pihak asuransi akan menanggungnya. Padahal bisa saja aku berharap kau mati, jadi dana kompensasi akan keluar lebih besar dan mampu membayar hutang-hutang Heavenly Boutique," jawab Risa seraya terkekeh.
Namun, gadis itu sudah bersiap mendengar Ana yang akan mengamuk karena mengharapkan Ana mati. Akan tetapi hal itu tidak terjadi. Ana hanya memandang Risa dengan datar tetapi dalam hati dia bersyukur saat mengetahui kalau perempuan ini masih mau bersamanya dan menjaganya.
"Terima kasih, Sa," lirih Ana.
Risa menoleh dan menatap tak percaya. Bahkan dia memeriksa lubang telinganya karena takut ada kotoran yang menyumbat untuk memastikan. Pasalnya, Ana susah sekali mengucapkan kata "terima kasih" sepanjang mereka berteman.
"Kau bilang apa? Terima kasih?" tanya Risa meyakinkan pendengarannya.
Ana masih menancapkan netranya pada wajah lugu sahabatnya.
"Iya, terima kasih." Ana mengulas senyum.
Sontak saja Risa memeluk Ana. Dia tak dapat lagi membendung air matanya.
Jauh di dalam hati Ana, lagi-lagi dia bersyukur bahwa semesta mengirim sahabat sebaik Risa. Hanya saja dia selalu malu untuk mengakui.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
Ayuk Vila Desi
untung ana punya sahabat yang baik dan tulus
2023-06-30
0
fellyzziania
lanjut
2023-03-12
0
💜Shandy💜
semangat kk
2023-03-12
0