Bab 3 - Terjebak
Ana masih terhenyak. Lalu, mengamati dengan saksama bertopang dengan tubuh limbungnya. Sosok pria yang Ana kenal, tengah duduk di alas hijau untuk pemotretan dalam ruangan tersebut. Pria itu hanya memakai ****** ***** dan kemeja yang semua kancingnya telah terbuka.
“Wah, bukankah itu Tuan Jayalah Selamanya? Eh … namanya Jaya apa tadi, ya?" Ana mengetuk dagu berkali-kali.
Lalu, wanita yang dirundung mabuk itu masuk ke dalam ruangan fotografer.
"Tuan Jaya? Bukankah aku hanya memintamu untuk menungguku? Kenapa sekarang kau–" ucapan Ana terhenti karena terkesima dengan tubuh atletis Jaya.
Setelah berdecak kagum, ia lanjutkan kata-katanya kembali, "oh, aku mengerti. Kau sedang bermimpi untuk menjadi model seksi, ya?” cibir Ana seraya berkacak pinggang.
"Hei, Nona Ana! Saya bukan bermimpi atau ngarep, ya. Mas Bima tadi yang minta saya jadi model," ucap Jaya.
Pria itu mencoba bangkit tetapi kepalanya terasa pusing. Dia limbung seraya memijit dahinya sendiri.
"Ha-ha, lucu sekali Anda ini! Seorang investor yang memiliki keinginan terpendam dan ingin menjadi model batiknya sendiri." Ana menyentuh dahi Jaya dengan ujung jari telunjuknya. Dia puas sekali mencemooh pria itu. Perlakuan superiornya terhadap laki-laki memang tak diragukan lagi.
"Jaga mulut Anda, Nona Ana!" Jaya yang kesal tak sadar sampai menarik tangan Ana sampai jatuh duduk di hadapannya.
"Ouch! Aku menjaga mulutku, kok. Nih...."
Ana sengaja menyodorkan bibir sensualnya pada Jaya.
Perempuan itu sempat terkesiap saat tubuh seksi milik sang pangeran terlihat sempurna dengan perut ala roti sobek yang menggoda di hadapannya. Perempuan bertubuh sintal itu menyentuh dada bidang milik pria itu.
"Ummm, ternyata kau memiliki tubuh seorang model juga. Bagaimana bisa kau seseksi ini?" tanya Ana dengan nada menggoda.
"Jangan sentuh aku, Nona Ana! Tak ada wanita yang pernah menyentuhku, ingat itu! Lagi pula aku ini seorang pangeran Kerajaan Garuda. Aku yang paling tampan di kerajaanku, wajar kalau kau akan tergoda," kata Jaya yang tengah mabuk terus meracau dengan tetap percaya diri akan ketampanannya.
"Kau itu lucu sekali, ya. Kau membuatku gemas." Ana yang juga dalam pengaruh alkohol menatap Jaya seraya terkekeh.
Entah kenapa tanpa diduga dan terjadi begitu saja, Ana menarik wajah Jaya mendekat. Mengecup bibir milik lelaki tampan itu dengan ganas.
"Hei, Nona Ana! Hmmmpppp, su-sudah kubilang ... jangan sentuh aku! Aku tak akan segan–"
Ana memotong ucapan Jaya lagi. Dia mendaratkan bibir sensualnya kembali ke benda kenyal nan menggoda milik pria tampan itu. Bibir bagian bawah yang terbelah itu sangat menggemaskan.
Cerebrum lelaki itu memerintahkan untuk berhenti. Namun, tubuhnya tak bisa bereaksi menerima titah tersebut. Malam itu kali pertama ada seorang wanita yang menyentuhnya.
Lukisan pemandangan di ruang pemotretan milik Bima, menjadi saksi bagaimana Ana meluluhlantakkan Jaya di atas alas hijau tersebut. Tanpa mereka sadari, camcorder milik Bima masih menyala dan mengabadikan semua kegiatan kedua insan yang seolah tengah mabuk asmara malam itu dalam kepalsuan pengaruh alkohol.
...***...
Sinar matahari yang mengintip dari celah tirai menerpa wajah cantik Ana. Mata cantik dengan iris coklat itu mulai terbuka. Wanita itu masih memeluk Jaya yang masih terlelap. Tak ada sehelai benang pun yang menutupi keduanya.
"Di mana ini, ya?" gumam Ana seraya mencerna keadaan sekitar.
Dia bangkit dan merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya.
"****! Kenapa Risa selalu saja benar! Duh, harusnya aku tidak mabuk!" Ana meraih pakaian miliknya yang berserakan.
Namun, dia meraih ****** ***** pria motif Batik Garuda milik Jaya. Dia mencoba mengamati ****** ***** yang aneh tersebut. Tak mungkin ada seorang model yang memakai ****** ***** bermotif aneh seperti itu, batinnya.
Setelah berpakaian lengkap, Ana mencoba mendekati tubuh si pria. Rasa pusing yang hebat masih dia rasakan. Tubuhnya juga masih sempoyongan saat akan bangkit. Akhirnya, wanita itu memutuskan untuk merangkak. Ana mendekati tubuh si pria yang wajahnya menoleh ke arah lain.
"Siapa pria ini, ya? Apa dia model milik Bima? Bisa gawat nanti jika dia mengadu pada Bima," lirih Ana.
Ana lalu meraih punggung Jaya yang masih terlelap itu. Dia menariknya untuk membalikkan tubuh pria itu ke arahnya. Betapa terkejutnya Ana, kedua mata lentik itu terperanjat kala wajah itu dia kenal.
"Apa?! Bu-bukankah dia si investor Batik Garuda? Aduh, bisa-bisanya aku tidur dengan klien ku sendiri." Ana mencoba menggali lebih dalam pikirannya.
Samar-samar cuplikan kejadian panas nan erotis malam tadi melintas di kepalanya. Apalagi dia sedikit mengingat kalau dia yang bekerja dominan dalam pertarungan malam tadi.
"Aduh! Ini gawat! Risa pasti akan memarahiku habis-habisan. Tidak! Bukan cuma Risa, seluruh pegawai di sini pasti akan mencibirku." Ana menarik-narik rambutnya sendiri dengan kesal.
Jaya terjaga dan merentangkan kedua tangannya. Ia menguap dan sepertinya pria itu merasa sedang di rumah saja. Perlahan dia bangkit untuk duduk lalu mengerjap. Pandangannya tertuju pada Ana yang masih menggerutu dengan kalut.
"No-nona Ana? Apa yang kau lakukan–"
Jaya menyadari kalau dirinya terbangun tanpa busana.
"Aaaaaaaaaaaa!"
Jaya langsung berteriak dan menyeret bokongnya mundur.
"Jangan berteriak! Nanti semuanya tau kalau kita di sini!" Ana langsung membekap mulut Jaya.
Pria itu menepis tangan Ana.
"Kau memperkosa aku, ya?" tuding Jaya.
"Iyuh! Untuk apa aku memperkosamu?! Kau yang memintaku untuk tidur denganmu, apa kau tak ingat?! Dasar pria idiot!" cibir Ana.
Jaya mencoba mengingat kejadian semalam. Dia awalnya menolong Mas Bima untuk menjadi model pemotretan. Namun, Mas Bima terus menggodanya untuk mencicipi produk scotch terbaru tersebut. Bima senang menggoda Jaya yang terlihat sebagai pria polos. Lalu, timbul keinginan Bima untuk menjahili Jaya. Sampai akhirnya Jaya tergoda untuk minum lalu mabuk. Sialnya, dia juga bertemu Ana yang tengah mabuk.
"Kau menodaiku, Nona Ana! Kau merenggut keperjakaan yang aku pertahankan untuk istriku nanti!" seru Jaya.
Jaya memeluk dirinya sendiri untuk menutupi dada bidangnya dari tatapan Ana. Kedua iris nya sudah mengkilap. Wajahnya sangat memelas. Ia benar-benar merasa seperti korban pelecehan. Mungkin jika tidak ada Ana, ia ingin menangis.
"Dasar pria bodoh! Heh, harusnya kau bangga bisa tidur denganku! Banyak pria yang mencoba mendekatiku tau. Asal kau tahu, ya, aku pemilih tau. Sudahlah, sekarang pakai bajumu itu!" pinta Ana seraya buru-buru menutup pintu ruangan yang dia lihat masih terbuka tersebut.
Untungnya setelah pesta semalam tadi, semua pegawai diliburkan hari itu. Jadi, tak ada siapa pun yang akan melihat Ana dan Jaya. Kecuali, penjaga keamanan gedung dan Mang Udin. Semoga saja mereka belum ke ruangan Bima, begitu batin Ana memohon.
"Duh, bagaimana ini? Aku meninggalkan tas di pesta semalam. Apa aku harus ke rooftop, ya?" Ana berjalan mondar-mandir di hadapan Jaya.
Pria itu telah selesai mengenakan pakaiannya. Rasa sakit dan perih di bagian junior-nya masih membuatnya meringis.
"Aku tak menyangka kalau aku akan berakhir kehilangan masa depanku dengan wanita sepertimu," lirih Jaya penuh penyesalan.
"Heh, otak udang!" pekik Ana.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
choowie
disini ceritanya malah kebalik yaa🤭
2023-09-08
0
Ayuk Vila Desi
🤣🤣🤣🤣
2023-06-25
0
mama jasmine
berjayalah dikau jaya
siap2 telurmu bakal jadi kecebong oek oek
2023-03-12
0