Bab 12 - Dinikahi Pocong
Suara pria paruh baya itu menggema. Sosok hantu itu menyeringai, dan berusaha mencengkeram leher pria tua itu. Namun, serangan kedua bunga kantil itu kembali menghujani sosok hantu bernama Lastri tersebut. Hantu anak perempuan yang keriput itu berteriak, lantas mundur dan menghilang.
"Aku akan menahan pintu masuk alam gaib ini agar kalian bisa keluar dan mereka tak ikut keluar bersama kalian," ucap kakek itu.
Ana dan Risa masih shock dan saling menatap satu sama lain. Mereka juga mengamati sosok pria tua di hadapan mereka dengan saksama. Tak ada yang mau bergeming karena masih ragu.
"KALIAN BERDUA CEPAT PERGI DARI SINI! HANYA INI KESEMPATAN KALIAN!"
Suara pria itu terdengar mengejutkan Ana dan Risa. Kedua perempuan itu mencoba untuk bangkit.
"Ingat, saat kalian berlari meninggalkan tempat ini, jangan ada satu pun dari kalian yang melihat ke arah belakang, mengerti?!" serunya si kakek lagi penuh ketegasan.
Ana dan Risa masih jua tak bergeming. Mereka tampak kebingungan.
"KALIAN BERDUA MENGERTI, KAN?" teriak pria tua itu mengejutkan raga Ana dan Risa.
Ana dan Risa sontak saja mengangguk. Pria tua itu mengarahkan kedua tangannya agar pintu kereta hantu itu tetap terbuka.
"LEKAS PERGI SANA! PERGI!"
Ana dan Risa bergegas tetapi kakek itu kembali berseru.
"INGAT, APA PUN YANG TERJADI JANGAN LIHAT KE BELAKANG!!"
Ana dan Risa mengangguk. Mereka lantas melangkah mantap keluar dari gerbong kereta tersebut. Sejenak pandangan mata Ana tertuju pada sosok hantu bernama Lastri tadi. Ia masih menatap tajam dan melayang di dalam gerbong.
Hantu perempuan yang hanya diam sembari menatap datar itu mengangkat tangan kanannya dan menunjuk ke arah Ana. Dia tertawa menyeringai. Pria tua tadi kembali menyerang Lastri dan membuatnya menghilang lagi. Para sosok hantu yang ada di gerbong lainnya juga menghilang. Tak lama kemudian, kereta itu pun juga menghilang.
"Kakek tadi mana, Na?" tanya Risa.
"Peduli setan, Sa! Pokoknya kita harus pergi dari sini sekarang!" Ana menarik tangan Risa dan membawa sahabatnya itu berlari.
Jika memang pria tua tadi kalah dan masuk ke alam gaib dan terjebak di sana selamanya, tak ada yang bisa mereka perbuat. Semua sudah kadung terjadi dan mereka tak akan bisa berbuat apa-apa.
Ana semakin jauh melangkah pergi dengan langkah cepat. Ia masih menarik lengan Risa. Bersama sama mereka mulai meninggalkan tempat menyeramkan tersebut tanpa berani menoleh ke belakang lagi. Langkah Ana tiba-tiba terhenti, membuat Risa menubruknya.
"Kenapa, Na?" tanya Risa.
"Sa, coba lihat di depan kita!" titah Ana.
Sepasang mata lentik milik Risa terbelalak. Mereka tengah berada di kebun pisang. Tempat itu mulai dipenuhi oleh sesosok pocong yang bermunculan.
"Ba-bagaimana ini, Na? Kenapa kita jadi liat setan gini, sih?" Aliran hangat air seni itu kembali mengalir membasahi kaki Risa.
"Ingat kata kakek tadi, kita harus tetap berjalan dan jangan menoleh ke belakang," ujar Ana.
"Tapi, Na, pocongnya banyak banget," lirih Risa seraya menangis.
"Cuek aja, Sa. Kita lewati aja mereka, ayo!" Ana menarik tangan Risa.
Rupanya, Ana menyadari kalau semakin banyak sosok pocong yang mereka lewati. Wajahnya ada yang menghitam gosong, ada yang merah bersimbah darah, dan ada juga yang masih terlihat jelas wajahnya. Namun, wajah itu pucat dan penuh belatung.
Sepanjang Ana dan Risa menyusuri kebun pisang, entah kenapa makhluk-makhluk itu seperti memberi jalan kepada mereka. Ana sempat berpikir kalau mungkin saja karena bau pesing dari tubuh Risa, membuat para sosok pocong itu menjauh. Bahkan mereka seolah menuntun Ana dan Risa untuk pergi sejauh mungkin dan tidak lagi menginjakkan kaki di tanah tersebut.
Langkah Ana dan Risa semakin jauh, sebelum jeritan perempuan terdengar memecah keheningan. Risa sempat menghentikan langkahnya. la ingin berbalik menoleh melihat apa yang terjadi. Siapa perempuan yang berteriak itu.
Melihat hal itu, Ana segera menghantam kepala belakang Risa. Berteriak kepada sahabatnya dan mengingatkan, "Udah dibilang jangan nengok ke belakang, Sa! Kau mau celaka, ya?"
"Itu siapa yang jerit?" tanya Risa.
"Jangan kepo, deh! Bisa aja itu hantu Lastri tadi lagi main perang-perangan sama si kakek," tukas Ana.
"Ih, Ana bercanda mulu, nih!"
"Udah ayo buruan!" seru Ana.
Mendengar seruan Ana, Risa mengurungkan niatnya. Mengusap kepalanya yang baru saja dihantam Ana, Ia kembali berlari kecil mengikuti tarikan tangan Ana. Mereka terus berlari menuju ke jalan raya, meninggalkan sejauh mungkin sampai mereka tak lagi terikat dengan tanah gaib tersebut.
Sesampainya Ana dan Risa di sebuah jalanan tepi laut, hari sudah menjelang subuh. Dari jauh mereka melihat pria paruh baya yang menolong mereka tadi. Kakek itu baru saja keluar dari dalam kebun pisang.
"Itu bukannya si kakek tadi?" tanya Risa.
Sejenak Ana dan Risa saling melihat satu sama lain lalu melihat kembali ke arah pria tua tadi. Seorang pria berkumis menyambut kedatangan kakek itu. Dia melintasi kedua perempuan yang masih termangu itu. Merasa keheranan melihat Ana dan Risa yang baru saja berlari menuju ke arahnya dengan napas tersengal-sengal.
Niat hati ingin bertanya apa yang sedang terjadi, pria itu sudah lebih dulu dijabat tangannya oleh pria tua tadi.
"Siapkan kapal kita, Pak Joko," ucap pria tua itu.
"Baik, Mbah Karso. Lalu, apa para wanita ini juga penumpang kapal kita?" tanya pria berambut cepak, tinggi besar, dan perut agak buncit itu.
"Iya, aku yakin mereka akan pergi ke Pulau Garuda, bukan begitu Nona Nona?" Mbah Karso tersenyum pada Ana dan Risa yang masih menganga.
Tepukan kedua telapak tangan pria renta yang beradu itu mengejutkan Ana dan Risa. Kedua perempuan itu mengerjap.
"Kalian mau ke Pulau Garuda, kan?" tanya Mbah Karso.
Ana dan Risa mengangguk dan menyahut bersamaan, "Iya, Kek."
"Mari ikut saya kalau begitu!" ajaknya.
Ana dan Risa kini berdua terduduk diam di atas kapal layar yang mengarungi lautan. Tak ada lagi percakapan yang ingin mereka sampaikan satu sama lain, mereka berdua bingung apa yang terjadi dengan mereka di tanah gaib.
Mereka juga bingung dengan kehadiran Mbah Karso. Namun, siapa yang tahu nasib akan membawa Mbah Karso menyelamatkan mereka. Nyatanya, manusia hanya bisa berharap, Tuhan yang menentukan.
...*****...
...Bersambung dulu ya ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 137 Episodes
Comments
choowie
pake diaper sha😬
2023-09-09
0
ღ☙ Cahyo Utsukushi☙ᰔᩚ
hhhhh🤣🤣🤣 GK ada abis nya 👍🤣🤣🤣
2023-08-27
0
ღ☙ Cahyo Utsukushi☙ᰔᩚ
hhhhh 🤣🤣🤣
2023-08-27
1