Bang Firman masih terdiam dan menunduk, bahkan dia tidak berani lagi menatap istrinya ketika melawan omongan nya.
"jelaskan Firman..."
Setelah ayah mertua nya berteriak, barulah bang Firman menoleh istrinya.
"benar kata Fira, saya sudah punya dua anak perempuan dari istri pertama Ku, saya menginginkan anak laki-laki sebagai penerus ku kelak nanti.
Istri pertama ku tidak bisa lagi melahirkan anak, karena rahimnya sudah diangkat."
"rahim mu yang diangkat bang Firman, orang kak Ririn masih menstruasi kok.
kalau tidak punya rahim bagiamana bisa menstruasi?
benar-benar gila kau ya."
"saya mengetahui keadaan Istriku bukan kau."
"oke....
sekarang kita panggil kak Ririn ya, biar jelas. sekaligus kedua putri mu dibawa kemari."
Fira yang membantah omongan bang Firman langsung meraih handphonenya.
Tapi yang aku tunggu-tunggu sudah datang yaitu bang Jepri, dia diantar oleh pria yang sudah berumur.
"Abang kemana aja? Bernat ngajak jalan abang ngak mau, tapi giliran bang Firman langsung aja mau."
"maaaaaf.....
kata bang ..... m....a....u. ..... liat anak kerbau..yaaaaang di juuuual olang."
"buat apa anak kerbau, anak kerbau kita banyak."
"kaaaaatanya ngak sanggup memlihara...."
"lain kali suruh aja diantar orang ke tempat kita, atau mintak tolong sama Riyan, atau Togu ataupun Juna.
Mereka yang butuh kok, kenapa harus abang repot.
kita pulang yuk....
Kita sudah di tungguin oleh Riyan, Togu dan Juna."
"Tunggu dulu, jangan langsung pulang. bapak ingin semua jelas malam ini, bagiamana pun juga kalian berdua adalah saudaranya Firman."
"kami berdua tidak di akui nya sebagai saudara nya pak, lagi pula apa yang bisa kami bantu?"
"tolonglah nak, jangan pergi dulu. bapak mendapatkan penjelasan malam ini."
"baik pak tapi dengan syarat, saya memanggil kepala lingkungan tempat tinggal kami dan bapak juga harus memanggil kepala lingkungan disini.
Kita menyelesaikan secara musyawarah, saya juga tidak masalah ini berlarut-larut karena pastinya akan ada yang tersakiti."
Ayah mertuanya bang Firman setuju, dan aku langsung menelpon pak Bima untuk musyawarah di tempat ini.
Syukurlah pak Bima bisa hadir ke sini, karena kebetulan juga sedang mengikuti rapat di kantor camat dekat daerah ini.
Pak Bima sekarang dalam perjalanan menuju kemari, sementara kepala lingkungan daerah sini adalah tetangga mertua abang ku ini.
Tidak berapa lama istri pertama bang Firman telah datang dengan membawa kedua putrinya yang lucu dan cantik serta kedua orangtuanya.
Langsung menyusul pak Bima dan dua orang rekannya, yang merupakan perangkat kelurahan di tempat tinggal Ku.
Setelah perkenalan satu sama lainnya, dan minuman tersaji di hadapan kami.
"Kenapa Bernat memanggil bapak kemari? Bernat mau beli rumah ini?"
"nanti akan jelaskan oleh mertuanya bang Firman."
Aku tidak bicara terlebih dahulu, jadi meminta kepada mertuanya bang Firman untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada pak Bima dan semua yang disini.
"Papa....."
Ujar kedua putrinya bang Firman, mereka berdua langsung berlari ke pelukan Papanya.
Kak Shela terlihat semakin sedih, manakala kedua putri suaminya memeluknya dengan mesra.
Dua putri dari pernikahan istri pertama, sementara kak Shela sedang mengandung anak bang Firman saat ini.
"baik saya mengumpulkan bapak-ibu disini untuk memperjelas keadaan keluarga.
Firman ini adalah suami dari putriku ini namanya Shela, saat sudah mengandung anak pertama mereka.
Firman mengaku kepada kami sebagai lajang, dan hidup sebatang kara. tapi itu Damar, Anggi, Jepri dan juga Bernat adalah abang dan adek kandungannya.
itulah kebohongannya yang pertama, nyatanya Firman sudah memiliki istri dan putrinya.
Barusan Firman mengaku, kalau istri pertamanya tidak bisa melahirkan lagi karena rahim nya sudah diangkat."
"apa pak? saya sekarang lagi hamil loh pak, karena saya mengikuti program hamil anak cowok, anak yang di inginkan oleh bang Jepri.
Kedua putri ini lahir normal, dan rahim saya dalam keadaan baik-baik saja, dan saat ini saya hamil anak ketiga kami setelah mengikuti program kehamilan untuk mendapatkan anak laki-laki.
Bang Firman, jelaskan bang. kenapa kami harus berada disini dan siapa itu Shela?"
"hebat kamu ya Firman, dua kali nikah tapi saudara kandung mu tidak pernah kau undang.
Malu ya?
Tapi kenapa harus malu ya? Bernat dan Jepri pemuda tampan nan kaya.
Siapa tahu aja mereka berdua memberikan hadiah pernikahan berupa rumah atau mobil mewah mungkin."
Sanggah pak Bima, kepala lingkungan kami. tapi itu adalah sindiran darinya.
"oh iya pak Bima, apakah bapak mengenal Bernat dan saudara-saudaranya ini?"
"kenal pak Belman, almarhum kedua orang tua ku adalah tetangga dari kakek dan nenek mereka.
Bahkan sahabat, sama-sama membeli tanah, membangun rumah dan saling tolong menolong.
Saya juga kepala lingkungan di tempat tinggal kami sejak tamat SMA pak sampai sekarang dan cucuku sudah ada lima orang pak.
Bernat sudah seperti anak ku sendiri, karena juga sahabat anakku bungsu Ku.
Jika saya butuh uang, saya tinggal mintak aja dari Bernat ataupun Jepri.
Jika saya lapar tinggal masuk ke rumah Bernat dan makan, karena ada sahabat nya Bernat yang hobi masak enak.
Bisa dibilang rumah Bernat itu adalah rumah kedua saya pak.
kira-kira apa yang bapak pertanyakan?"
"apa benar Firman ini sebatang kara?"
Ayah kak Shela yang duluan bertanya kepada pak Bima, tapi ayah dari kak Aulia istri pertama dari bang Firman yang bertanya.
"sebatang kara.....
lucu juga ya pak, dan terdengar aneh sekali.
Mereka ini lima bersaudara dan semuanya laki-laki, memang ibu kandung mereka sudah meninggal dunia.
Sementara ayah mereka kawin lagi, hidup mereka awalnya sangat tragis pak.
Akan tetapi Bernat dan Jepri yang menjadi pahlawan keluarga mereka.
Bernat dan Jepri kerja siang malam untuk menyekolahkan ketiga abang-abang nya agar menjadi dokter.
Setelah menjadi dokter tapi Bernat dan Jepri tidak di akui sebagai saudara.
Kejam ya bapak-ibu, ibarat kacang lupa akan kulitnya.
Entah apa yang membuat mereka malu mengakui Bernat dan Jepri sebagai saudaranya.
Lucu memang, sangat lucu, karena lucu nya saya tidak tertawa malah meras ngenes alias geram."
Kedua mertuanya bang Firman menghela napas panjang, begitu juga dengan istri-istrinya.
"bang Firman berkata, kalau ada harta peninggalan orangtua tua nya yang di jaga oleh Bernat, yang ngakunya sebagai anak tetangga nya yang pengganguran.
Itulah yang mau di jual oleh bang Firman untuk memperbesar kliniknya.
apa itu benar pak?"
Pertanyaan dari Istri pertama bang Firman, membuat pak Bima hanya geleng-geleng kepala.
Pandangan sinis dari pak Bima untuk Firman dan senyuman itu seolah-olah mengejek bang Firman.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments