Sejenak kami terdiam karena suasana yang semakin kaku, kemudian bang Damar, bang Anggi dan juga bang Firman melihat ku secara bersamaan.
"sertifikat di bank, kalau menurut perhitungan Bernat, sisa tagihan mungkin sekitar tujuh bulan lagi.
Dengan cicilan setiap bulannya diatas dua juta rupiah, kalau memang mau di jual, silahkan ditebus dan segera urus surat kematian kakek lalu buat surat keterangan waris.
Ingat bang, anak kakek dan nenek masih ada yang lainnya.
Dua anak perempuannya serta satu lagi anak laki-laki, karena almarhumah mama yang paling terakhir maka mama di ijinkan untuk tinggal di rumah itu dan menggarap kebun untuk kebutuhan ternak.
Abang atur aja dulu, abang kan hebat. apalah daya Ku, yang hanya tamatan SMP."
Ucapan dariku seolah-olah membuat ketiga abang ku terlihat kecewa, lalu pergi tanpa berpamitan.
Setelah kepergian mereka dan terus berusaha untuk menenangkan nenek yang kecewa.
"begini aja, jual saja semua lembu mu itu kepada pak Raden. karena sebentar lagi anaknya yang besar akan melangsungkan pernikahan.
Kemarin itu pak Raden bicara sama nenek, untuk memintak kerbau dan juga ayam.
Nanti hasil penjualannya berikan kepada, Riyan, Juna dan Togu.
Karena setelah rumah dan kebun itu terjual, tentunya mereka tidak bisa bekerja lagi disana.
Nantinya sampai juga kepada pak Raden, siapa yang mau beli perangkat pembuat gas itu, serta ayam yang tersisa nantinya.
Segeralah cari tempat tinggal kita, nanti bagian nenek bisa sebagai biaya kita sebelum mendapatkan lahan yang bisa kita gunakan untuk lahan ternak."
"Nenek.....
Bernat sudah ada mencicil tanah tapak, yang bisa kita gunakan untuk membangun rumah dan lahan ternak kita nantinya.
Sebentar lagi Bernat juga bisa menarik uang dari CU harapan nek, untuk membangun rumah baru kita.
Kita tidak perlu menjual anak ternak dan juga alat itu nek."
Setelah menjelaskan demikian, barulah nenek bisa senyum, lalu aku memeluknya agar bisa membuatnya lebih tenang lagi.**
Petugas kebersihan rumah sakit membangunkan tidur kami berdua bersama bang Jepri yang tidur hanya beralaskan tikar.
Lalu dokter jaga serta dua perawat mendatangi ruangan ini, untuk memeriksa nenek.
"nenek.....
apakah dadanya masih sesak?"
Selang oksigen itu dicabut dan kami sama-sama melihat ke arah nenek untuk melihat efek tanpa selang oksigen itu.
"tidak lagi dokter, saya juga sudah buang air kecil dan juga sudah buang air besar serta sudah buang angin.
Kapan kami bisa pulang dokter?"
"bagus sekali nek, sebenarnya jatah dari BPJS tinggal besok. nanti siang kami akan datang lagi untuk memastikan kondisi kesehatan nenek.
jika memungkinkan untuk pulang, maka saya akan mengijinkan nenek untuk pulang.
Sabar dulu ya nek, dan tetap semangat."
Nenek tersenyum menanggapi ucapan dari dokter itu, kemudian salah satu perawat menyuntikkan obat melalui jalur infus.
Dokter dan perawat itu sudah pergi dan meninggalkan obat yang di minum setelah selesai makan nantinya.
Tidak berapa lama kemudian, sarapan pasien sudah datang.
Setelah nenek makan lalu minum obat, kemudian aku turun kebawah untuk membeli sarapan untuk ku dan bang Jepri.
Sudah tiga hari ini berada di rumah sakit dan ini adalah ke hari keempat kami disni, sementara kebun dan ternak di urus oleh Riyan, Juna, dan Togu.
Menunggu beberapa jam, wajah nenek sudah terlihat ceria kembali.
Akhirnya dokter mengijinkan kamu untuk berobat jalan saja, dan akhirnya kami bisa pulang ke rumah.***
Sesampainya di rumah dan langsung membaringkan nenek di tempat tidurnya, dan setalah memastikan nenek untuk minum obatnya, lalu menitipkan nenek kepada bang Jepri.
Kemudian berjalan menuju arah belakang rumah, dimana kebun dan ternak kami, lalu menemui Riyan, Juna, dan Togu.
Riyan langsung menyajikan kopi untuk kami berempat dengan jamuan ubi jalar bakar.
"bang Damar ingin menjual rumah dan kebun ini, tapi saya sudah memiliki lahan yang nantinya siap untuk menampung ternak serta tempat tinggal kita nanti.
Besok aku akan ke CU harapan untuk mengambil tabungan, untuk biaya buat rumah serta kandang ternak, apakah kalian bertiga ikut saya lagi?"
"jelas ikut lah bang."
Jawab mereka bertiga dengan kompak, dan kemudian kami tertawa bersama.
"emangnya kita masih bisa untuk membangun rumah serta kandang ternak nanti ya?"
"sempat Togu, sembari mengurus surat-surat nya maka kita akan membangun rumah dan kandang ternak kita nantinya di lahan itu."
Seketika itu juga Riyan mengambil handphone nya untuk menghubungi tukang langganan kami.
Tidak berapa lama tukang langganan kami langsung tiba di rumah ini, lalu menggambar sketsa rumah dan kandang ternak.
Tentunya rumah yang akan dibangun tidak sebesar rumah peninggalan kakek ini, tapi setidaknya bisa kami tempati dengan layak.
Butuh dana sebesar tiga ratus lima puluh juta untuk membangun rumah serta kandang ternak, dan untungnya itu sesuai bajet yang aku miliki saat ini.
Dengan menjual beberapa ekor ternak kerbau dan ayam nantinya, sebagai biaya kehidupan sehari-hari untuk kami di rumah yang baru.
"panggun nek di dalm."
Ujar bang Jepri, yang datang ke ruang tamu setelah tukang itu pulang dan menyuruhku untuk ke kamar nenek.
"nek..."
"sini duduk dekat nenek."
Lalu aku duduk di pinggir ranjangnya, senyuman nenek yang sudah berangsur membaik membuatku tenang.
Nenek mengeluarkan dompet yang sudah pudar warnanya lalu memberikannya kepadaku.
"bukalah."
Pinta nenek, dan kemudian aku membuka dompet yang sudah berumur itu.
Ternyata di dalamnya ada emas berupa dua kalung serta mainan nya, dan tiga cincin belah rotan.
Terlihat dari kwitansi pembeliannya, itu tahun 1994 dan secara berturut-turut setiap tahunnya.
"jika terjadi sesuatu kepada nenek, jual lah mas itu dan pergunakan untuk membiayai apapun nantinya."
Sebenarnya aku menolaknya akan tetapi nenek tetap memaksanya dan akhirnya aku menerima emas pemberian nenek itu.
Hanya bisa memeluk nenek, setelah berpelukan lalu nenek mengeluarkan celengannya berupa angsa yang terbuat dari keramik.
Lalu bang Jepri datang ke kamar nenek ini, dengan membawa celengan angsa yang sama dengan nenek.
prank..... prak......
Celengan angsa itu langsung dipecahkan oleh bang Jepri dengan menggunakan martil yang diambil dari kolong tempat tidur nenek.
Sungguh mengejutkan akan isi Nya, di dalam kedua celengan tersebut, berisi uang dengan nominal paling kecil uang pecahan dua puluh ribu.
Lalu aku menghitung dari kedua celengan tersebut sementara bang Jepri membersihkan pecahan celengan.
Selesai aku hitung dan jumlahnya mencapai sepuluh juta rupiah, lalu meletakkannya di meja kecil di dekat ranjang nenek.
"nenek dan Jepri selalu menabung, dan kami berdua sama-sama membeli celengan itu.
Pergunakan untuk biaya pindah kita nantinya, sebelum kita bisa menghasilkan uang."
Sungguh terasa haru, dan seketika kami bertiga langsung berpelukan dengan erat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Emily
semoga bernat berhasil di usahanya yg baru
2024-10-16
0