Malu

Pak Bima terus memperhatikan pria itu dan akhirnya membuka paksa masker yang dipakainya.

"Anggi......

sudah lama loh tidak kemari, sombong amat. kamu tahu ngak kalau semua ternak disini yang membuat mu bisa menjadi dokter.

Sombong benar pake masker segala, itu namanya kacang lupa akan kulitnya."

"apa maksudnya semua ini pak?"

Ujar perempuan paru baya itu dan pak Bima meliriknya.

"pria ini namanya Bima, abang dari pemilik usaha rumah potong hewan ini.

Tapi kok sombong benar ya, asal ibu tahu ya kalau Bernat ini adalah orang yang membiayai sekolah kedokteran si Anggi ini.

Tapi apa balasannya? "

Ibu paru baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan terlihat kecewa atas sikap bang Anggi yang enggan mengakui aku adiknya.

"apa benar itu bang?"

Lalu bang pria itu mengangguk kepada wanita cantik itu, dan terlihat jelas kekecewaan dari raut wajahnya yang cantik.

"Abang sanggup ya untuk tidak mengakui saudara sendiri, apa alasannya bang?"

Ternyata benar pria itu adalah bang Anggi, apa salahku? dan kenapa bang Anggi enggan mengakui aku sebagai adiknya?

"apapun itu alasannya, itu tidak penting Rima. karena kita akan segera menikah dan hanya kamu dan aku.

Kita tidak memerlukan siapapun, karena mereka-mereka itu tidak terlalu penting.

Kita pulang aja yuk, disni sangat bau dan menjijikkan. kita beli di tempat lain aja, tempat yang jauh lebih higienis dari sini."

"apaan sih kamu nak Anggi? rumah pemotongan hewan ini adalah rekomendasi dari teman-teman ibu.

Daging dari sini adalah daging yang tebaik, dan harga cukup terjangkau."

"tempat ini terlalu jorok dan bau, ibu tahu kan kalau tamu-tamunya nanti adalah orang-orang yang terhormat.

Anggi ngak mau kalau tamu-tamunya nanti mencret karena mengkonsumsi daging dari tempat yang tidak higienis."

"jadi mau kamu gimana nak? kita beli dari supermarket aja?"

"iya...

kenapa ngak? Anggi sanggup kok bu."

Ibu paru baya dan calon istrinya bang Anggi terlihat menghela napas panjang dan tatapannya yang kecewa terhadap bang Anggi.

"hei mak Lisa....."

Perhatian kami teralihkan kepada seorang ibu-ibu yang datang dengan berpakaian mewah.

Ibu itu turun dari mobil yang jauh lebih mewah dari mobil yang dikendarai oleh bang Anggi.

Terlihat ibu sangat akrab dengan mak Lisa, penanggung jawab rumah pemotongan hewan ini.

"eh bu Ani.....

inilah yang kami rekomendasikan itu bu, lengkap mah disini, restoran, kafe dan hotel saya itu dagingnya dari sini.

Saya sudah lihat sendiri peternakan nya, makanan ternak itu organik dan kandangnya bersih.

Untuk daging ayam hampir seratus kilogram setiap minggunya dan daging sapi serta lembu hampir dua ratus kilogram tiap minggunya.

Semuanya dari rumah pemotongan ini, kalau untuk sayurnya dan bumbunya dari tempat lainnya.

Makanya saya merekomendasikan ibu kesini, kalau ibu butuh nanti saya bawa ibu ke tempat langganan sayuran saya."

"semua tergantung anak dan calon menantu ku bu, tapi kayaknya kami harus belanja daging ke supermarket itu deh, supermarket-supermarket yang di simpang itu biar lebih higienis kata calon menantu Ku."

"itu milik supermarket milik keluarga saya ibu, semua dagingnya bersalah dari sini, hanya saja di kemas oleh supermarket dengan kemasan produk buatan sendiri.

Kami kerjasama dengan nak Bernat, eh nak Bernat....."

Namanya bu Lia, yang sudah bekerjasama dengan kami untuk memasok kebutuhan daging ayam, sapi, kerbau, kambing dan juga telur ayam untuk restauran, kafe, hotel dan juga supermarket nya milik Nya.

Dengan sistem pembayaran setiap hari Sabtu, dan kami memenuhi segala kebutuhan daging yang di inginkan oleh usahanya.

"itu harga di supermarket sudah dinaikkan, untuk saya merekomendasikan ibu Ani ke sini kalau toh juga supermarket itu jadi pilihan?

tapi ngak apa-apa sih, saya jadi untung lebih. hanya karena kita bersahabat loh bu Ani, nah jika bu Ani menelpon saya, mungkin saja saya bisa meminta diskon untuk ibu Ani.

kan membawa pelanggan baru, iya kan nak Bernat?"

Bu Ani yang ramah langsung menolehku seraya tersenyum.

"terimakasih ya bu Ani, seharusnya saya bisa mendapatkan diskon spesial bu, karena ternyata pemilik rumah potong hewan ini adalah adik dari calon menantu saya."

"iya nak Bernat? jadi kamu itu adiknya dokter Anggi?"

"entahlah bu, sepertinya ngak lagi."

"loh kok gitu nak Bernat, gimana sih ceritanya? ibu kepoh nih."

Memang sih bu Ani ini orang kepo dan aslinya orang baik kok, bu termasuk orang yang banyak membawa pelanggan kemari.

"mungkin dokter itu malu kali punya adik tukang potong hewan?"

Ujar pak Bima yang mencoba menyindir bang Anggi.

"pak Bima ngak salah ngomong tuh? ....

ini Bernat loh, pengusaha muda yang tampan nan tajir.

Pak Bima tahu ngak kalau tempat praktek dokter Anggi menyewa di gedung milik Bernat?"

Aku benar-benar terkejut mendengarnya, karena saya sungguh tidak mengetahui siapa yang menyewa salah satu dari ruko yang saya miliki.

Karena itu di urus oleh Tiara dan anggota nya, bagian keuangan.

"Ruko yang di komplek Sari itu kan? memang sih ada beberapa ruko punya nak Bernat ini disitu, dan juga ada satu ruko milik anakku.

Kami sama-sama membelinya, karena modal Bernat lebih banyak sehingga dia bisa membeli lebih banyak ruko."

Bang Anggi terlihat kaget mendengarnya, tapi dia berpura-pura untuk bersikap biasa.

"saya ngak tahu lagi harus bicara apa lagi pak Bima, seharusnya bangga ya punya adik seorang pengusaha muda.

mungkin bisa kali gratis biaya sewa gedung untuk abangnya sendiri, tapi gimana mau gratis ya.

Dokternya malu punya adik setampan dan sekaya raya ini.

nak Bernat jadi menantu ibu aja ya, itu si Nadia sudah cukup umur kok.

Nanti ibu bawa Nadia kemari ya, kali aja jodoh dan punya menantu yang kaya raya."

hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha

Ibu Lia tertawa lepas setelah mengatakan demikian, entah itu bercanda atau serius tapi itulah ucapnya.

Putrinya yang bernama Nadia itu masih belia, mungkin masih kelas dua SMP lah.

Namanya juga bu Lia, semua bisa dibuat candaan.

"ibu Lia kemari mau ngapain?"

Tanya mak Lisa, penanggung jawab rumah pemotongan hewan ini.

"ihhhhh Mak Lisa kepoh deh, terserah aku lah mau kemana."

hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha hahahaha

Para pegawai lainnya tertawa karena guyonan dari bu Lia, tapi ternyata kedatangan bu Lia kemari untuk menambah jumlah pesanan daging dari yang biasanya.

Karena ada perhelatan besar di hotel milik nya, dan bu Lia juga membagikan bonus kepada pegawai rumah pemotongan hewan ini karena sudah bekerja dengan baik.

Hal ini sering dilakukan oleh bu Lia, karena dirinya selalu puas dengan pelayanan para pegawai rumah pemotongan hewan ini.

Terpopuler

Comments

Emily

Emily

Nah Ada Bu Lia yg kepincut sama bernat buat di jadikan menantu😁

2024-10-16

0

lihat semua
Episodes
1 Terlihat Seperti apa itu Saudara.
2 Haru
3 Nenek Meninggal Dunia.
4 Klaim.
5 Tatapan yang Kecewa.
6 Kacang Lupa akan Kulitnya.
7 Harta Peninggalan.
8 Perhitungan.
9 Wasiat Kakek.
10 Peralihan.
11 Merekrut Pegawai Baru.
12 Pertemuan Yang Tidak Terduga.
13 Malu
14 Tentang Bang Anggi.
15 Pertemuan Yang Tidak di Harapkan.
16 Kedatangan Tamu Lagi.
17 Kunjungan Dari Ketiga Abang.
18 Bang Jepri dibawa oleh bang Firman.
19 Ada apa dengan bang Firman?
20 Musyawarah.
21 Istri Bang Firman
22 Kiriman Pengacara.
23 Somasi
24 Diskusi.
25 Meraba Keikhlasan.
26 Sidang.
27 Sidang Lanjutan.
28 Penjelasan Yang Tidak Masuk Akal.
29 Kekwatiran Terhadap Bang Jepri.
30 Kisah Yang Lain.
31 Bang Jepri jadi Manusia Silver.
32 Permasalahan Manusia Silver.
33 Gatal-gatal.
34 Bang Jepri Siuman.
35 Pengacara Baru Damar.
36 Bang Jepri Memaksa Untuk Pulang.
37 Saling Menguatkan.
38 Sidang Putusan.
39 Jepri Pingsan Di Persidangan.
40 Bang Jepri Meninggal Dunia.
41 Hasil Otopsi.
42 Kedua Istri Damar.
43 Mahasiswi Cantik.
44 Di Usir Istri Pertama.
45 Panggilan Polisi.
46 Baru Terasa.
47 Bocil Beringas.
48 Menyerahkan Keponakan ke Panti Asuhan.
49 Istri Kedua Anggi
50 Perempuan Dari Anggi Lagi.
51 Berani Melawan.
52 Kisah Dari Ketiga Saudara.
53 Kisah Dari Bang Anggi.
54 Firman Akhirnya di Bekuk Polisi.
55 Solusi Yang Baik.
56 Kebahagiaan Yang Sederhana.
57 Obrolan Dengan Bang Yusuf.
58 Bertemu Parasit Lagi.
59 Sedikit Pencerahan.
60 Berhadapan Para Warga.
61 Sidang Warga
62 Terpuruk.
63 Damar Dan Perbuatannya.
64 Mengasingkan Diri.
65 Takut Jatuh Cinta.
66 Cerita Yang Melelahkan.
67 Petuah Dari Senior.
68 Kecelakaan.
69 Adek-adek Sudah Siuman.
70 Rencana.
71 Melamar Risa.
72 Teduh.
73 Memprovokasi.
74 Ada Hal Lain.
75 Reva Sekarat.
76 Korban.
77 Ikhlas Obat Yang Mujarab.
78 Pengertian.
79 Rencana Pernikahan.
80 Pengakuan Damar.
81 Mencoba Untuk Ikhlas.
82 Lamaran.
83 Bahagia.
84 Malam Pengantin.
85 Tali Persaudaraan Yang Putus.
86 Kisah Arpin dan Boy.
87 Tinggal Sementara di Lampung.
88 Istri Yang Lain Dari Ayah Kami.
89 Pengalaman Yang Ngeri Dari Keluarga.
90 Kabar Bahagia.
91 Penghargaan
92 Kisah Yang Unik.
93 Keluarga Tidak Harus Sedarah.
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Terlihat Seperti apa itu Saudara.
2
Haru
3
Nenek Meninggal Dunia.
4
Klaim.
5
Tatapan yang Kecewa.
6
Kacang Lupa akan Kulitnya.
7
Harta Peninggalan.
8
Perhitungan.
9
Wasiat Kakek.
10
Peralihan.
11
Merekrut Pegawai Baru.
12
Pertemuan Yang Tidak Terduga.
13
Malu
14
Tentang Bang Anggi.
15
Pertemuan Yang Tidak di Harapkan.
16
Kedatangan Tamu Lagi.
17
Kunjungan Dari Ketiga Abang.
18
Bang Jepri dibawa oleh bang Firman.
19
Ada apa dengan bang Firman?
20
Musyawarah.
21
Istri Bang Firman
22
Kiriman Pengacara.
23
Somasi
24
Diskusi.
25
Meraba Keikhlasan.
26
Sidang.
27
Sidang Lanjutan.
28
Penjelasan Yang Tidak Masuk Akal.
29
Kekwatiran Terhadap Bang Jepri.
30
Kisah Yang Lain.
31
Bang Jepri jadi Manusia Silver.
32
Permasalahan Manusia Silver.
33
Gatal-gatal.
34
Bang Jepri Siuman.
35
Pengacara Baru Damar.
36
Bang Jepri Memaksa Untuk Pulang.
37
Saling Menguatkan.
38
Sidang Putusan.
39
Jepri Pingsan Di Persidangan.
40
Bang Jepri Meninggal Dunia.
41
Hasil Otopsi.
42
Kedua Istri Damar.
43
Mahasiswi Cantik.
44
Di Usir Istri Pertama.
45
Panggilan Polisi.
46
Baru Terasa.
47
Bocil Beringas.
48
Menyerahkan Keponakan ke Panti Asuhan.
49
Istri Kedua Anggi
50
Perempuan Dari Anggi Lagi.
51
Berani Melawan.
52
Kisah Dari Ketiga Saudara.
53
Kisah Dari Bang Anggi.
54
Firman Akhirnya di Bekuk Polisi.
55
Solusi Yang Baik.
56
Kebahagiaan Yang Sederhana.
57
Obrolan Dengan Bang Yusuf.
58
Bertemu Parasit Lagi.
59
Sedikit Pencerahan.
60
Berhadapan Para Warga.
61
Sidang Warga
62
Terpuruk.
63
Damar Dan Perbuatannya.
64
Mengasingkan Diri.
65
Takut Jatuh Cinta.
66
Cerita Yang Melelahkan.
67
Petuah Dari Senior.
68
Kecelakaan.
69
Adek-adek Sudah Siuman.
70
Rencana.
71
Melamar Risa.
72
Teduh.
73
Memprovokasi.
74
Ada Hal Lain.
75
Reva Sekarat.
76
Korban.
77
Ikhlas Obat Yang Mujarab.
78
Pengertian.
79
Rencana Pernikahan.
80
Pengakuan Damar.
81
Mencoba Untuk Ikhlas.
82
Lamaran.
83
Bahagia.
84
Malam Pengantin.
85
Tali Persaudaraan Yang Putus.
86
Kisah Arpin dan Boy.
87
Tinggal Sementara di Lampung.
88
Istri Yang Lain Dari Ayah Kami.
89
Pengalaman Yang Ngeri Dari Keluarga.
90
Kabar Bahagia.
91
Penghargaan
92
Kisah Yang Unik.
93
Keluarga Tidak Harus Sedarah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!