Kemudian om Bayu meraih handphone dan menghubungi seseorang, ternyata yang di hubungi om Bayu adalah bang Anggi dan bang Firman untuk segera datang ke rumah ini.
"keponakan saya masih ada dua lagi, kita tunggu kehadiran mereka.
Sebentar lagi sampai disini, karena saya melihat di sini ada nama mereka berdua sebagai saksi.
Saya juga ingin mendengarkan kesaksian mereka akan hal ini.
Lagi pula bapak lucu sebagai pembeli, bapak membeli rumah tapi tidak melihat dokumen aslinya.
Apa yang bapak pikiran sehingga begitu mudah membeli sesuatu yang berharga tanpa melihat dokumen aslinya?"
haaaaaaaa.......
Pak Ridwan menghela napasnya, terlihat dari raut wajahnya yang sangat kecewa.
"bukan hanya sekali ini saja saya membeli rumah pak, dan semuanya dilaksanakan di kantor notaris.
jujur memang setiap kali membeli rumah, pihak penjual selalu menunjukkan asli dokumennya yang kemudian di konfirmasi oleh notaris setelah melakukan pemeriksaan terhadap dokumen.
Saya berani membeli rumah ini secara tunai, karena dokter Damar yang sudah lama saya kenal.
Lagipula kami bertransaksi di kantor notaris Reva, dan notaris Reva telah memberikan jaminan tertulis akan segera mengurus sertifikat aslinya.
Menurut ibu Notaris, bahwa sertifikat aslinya pernah terkena air sehingga rusak, dan sekarang dalam tahap proses ganti blanko sertifikat di instansi terkait.
Saya juga melihat foto copy sertifikat dan sudah tertera nama dokter Damar, itulah sebabnya saya berani membeli rumah ini."
Bang Damar masih terlihat penuh percaya diri, tapi tidak dengan kak Reva.
Kak Reva sudah menunduk dan tidak berani menatap pak Ridwan selaku pembeli rumah ini.
"Damar....
kapan kakek mu memberikan hak rumah ini kepadamu?"
"sebelum kakek meninggal...."
drrrt.... drrrt.... drrrt....
Bang Damar berhenti bicara karena handphone milikku bergetar, di layar handphone terlihat pak Yose yang menghubungiku.
Langsung ku jawab panggilan tersebut dan mengaktifkan loud speakernya.
'Selamat pagi pak Bernat, saya Yose, yang bertanggungjawab akan kredit bapak.'
'ya pak Yose, bagiamana pengajuan saya pak?'
'baik bapak, disini saya memberitahu kepada bapak perihal pengajuan pelunasan yang telah kami terima.
Itu selesai di proses, mohon kepada bapak untuk menyiapkan surat keterangan waris dan kuasa waris untuk pengambilan sertifikat yang agunannya ya pak.
Kapan bisa datang ke kantor pak?'
'segera pak, karena dalam kepengurusan dokumen yang di butuhkan pak.
bisa saya bertanya pak?'
'silahkan pak.'
'begini pak, apakah bapak bisa mengecek siapa nama yang tertera di sertifikatnya pak?'
'baik pak, kebetulan sertifikat nya saat ini saya pegang, untuk membuat laporan kepada pimpinan kami.
Nama di sertifikat tertera atas nama bapak Sarkam.
oh iya, masa bapak tanya lagi, kan bapak sendiri ikut menandatangani perjanjian kredit nya pak.'
'lupa saya pak, maklum sudah lama sekali. saya kira atas nama almarhum nenek pak.
oh iya bagaimana dengan status permohonan kredit saya pak?'
'baik bapak, itu juga alasannya untuk menelepon bapak.
Permohonan kredit bapak atas nama Bernat, dengan agunan yang berbeda, untuk sementara prosesnya diterima pak, selanjutnya adalah survei tempat.
Kapan tim kami bisa survei lokasi pak?'
'nanti saya kabari ya pak, saya mau menarik agunan yang pertama dulu pak.
Nanti saya beserta om ku yang datang ke bank untuk mengambilnya.'
'baiklah kalau begitu pak, kami tunggu kehadiran bapak di kantor ya.'
Panggilan telepon berakhir, dan seketika itu juga Om Bayu langsung menatap tajam ke arah bang Damar.
"Damar....
Sertifikat rumah ini masih atas nama bapak Ku dan bukan nama mu.....
Akhirnya kalian berdua datang juga, dan tanpa basa-basi lagi, sekarang om tanya.
Kenapa kalian bertiga menjual rumah peninggalan kakek kalian ini?
Kelewatan benar kalian bertiga ya, bisa-bisanya kalian menjual rumah orang tua saya.
Ayo jelaskan, kenapa kalian bertiga bisa menjual rumah orang tua saya?"
Suara om Bayu semakin kuat, bang Anggi serta bang Firman yang masih berdiri sudah mulai ketakutan.
"bang Damar yang bilang om, bang Damar bilang kalau rumah ini sudah milik nya dengan hibah dari kakek."
Jawab bang Firman yang melemparkan kesalahan kepada bang Damar, dan secara bersamaan kami kembali melihat bang Damar.
"Damar, jelaskan semuanya."
Nada suara om Bayu yang sudah tinggi, membuat bang Damar menolehnya dengan tatapannya yang tajam.
"iya...
karena Bernat curang, semua kasih mama, kakek dan nenek hanya Bernat dan hasil penjualan ternak.
Lihat saja sekarang, Bernat bisa membeli tanah yang luas dan membangun rumah serta peternakan nya yang baru.
Itu semua karena kerakusannya, semua Bernat yang ambil alih.
Setidaknya dapat rumah inilah untuk biaya pernikahan dan uang muka kredit rumah."
Kacang lupa akan kulitnya, itulah pribahasa yang tepat untuk bang Damar saat ini.
Seketika air mataku mengalir deras di pipiku ini, sesak dan sulit untuk mengungkap nya.
"bang Damar.....
abang bisa ya ngomong seperti itu, saya berhenti sekolah hanya karena ingin membantu almarhumah mama kita untuk kerja.
Agar bang Damar, bang Anggi dan bang Firman bisa kuliah.
Semua itu hanya untuk kalian bertiga, bang Jepri tertunda kemoterapi hanya karena kalian bertiga."
"Bernat....
kami bertiga itu beasiswa, jadi tidak perlu lah kau mengutarakan yang tidak perlu kau utaran."
Dengan angkuhnya bang Damar berkata demikian, sepertinya bang Damar tidak menyadari siapa yang mentransfer uang secara rutin tiap bulan ke rekening bank miliknya.
"beasiswa ya .... kalian bertiga memang karena beasiswa.
Tapi ingat hanya setengah uang kuliah di tanggung pemerintah, sisa nya saya yang bayar.
Ini semua bukti pembayaran uang semester kalian bertiga."
Semua dokumen tersimpan rapi di koper yang tersimpan di laci meja ini, dan langsung aku berikan kepada bang Damar.
Tapi bang Damar tidak menyentuhnya, lalu dokumen tersebut diambil oleh om Bayu.
"jarak tempuh dari rumah ini ke kampus kalian bertiga hanya satu jam, tapi kalian bertiga memilih mengontrak rumah di dekat kampus.
Biaya kontrakan satu tahunnya yaitu dua puluh lima juta, biaya air, listrik yang sangat besar tiap bulan nya, karena kalian bertiga masing-masing menggunakan AC di setiap kamar.
Biaya catering kalian bertiga, uang saku, membeli keperluan sehari-hari, biaya loundry dan peralatan belajar.
Sepeda motor kalian bertiga, biaya servisnya, uang minyaknya, serta biaya hidup kalian yang lainnya.
Kalian bertiga pikir, uang jatuh dari langit begitu saja.
Saya bukan mau mengungkit nya, saya juga melakukannya agar saya memiliki abang-abang yang hebat, dokter yang kelak bisa menolong ku dan keluarga.
Tapi apa bang?
Saat nenek di rumah sakit, kalian bertiga seolah-olah tidak mengenal kami.
Bahkan bang Damar berkata, kalau saya, bang Jepri adalah tetangga mu, yang mencoba meminta perlakuan khusus untuk nenek."
Berkali-kali aku menyeka air mata Ku dengan menggunakan tangan, mungkin karena suara tangisan yang terdengar sehingga bang Jepri datang dan memelukku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Emily
ya Allah sedih saya Thor..di damar ngakali saudaranya sendiri di bernat yg sudah berkorban sangat banyak😭
2024-10-16
0