Pertemuan Yang Tidak Terduga.

Lahan yang baru jauh lebih luas dari lahan ku yang sekarang, tentunya bisa menampung lebih banyak ternak.

Segala Puji Syukur aku panjatkan, karena semua rencana ku berjalan sesuai harapan, kredit bank sudah cair dan saat nya berinovasi.

Rencananya mau rumah pemotongan hewan, untuk skala kecil maupun partai besar.

Ayam, lembu dan juga kambing. tentunya butuh butuh perijinan.

Lagi-lagi pak Bima sebagai kepala lingkungan membantuKu.

"nak Bernat..... oh nak Bernat......"

Tiga orang ibu-ibu dan dua orang laki-laki yang masih muda mendatangi rumah kediamanku.

Setelah mendengar mereka memanggilku dari pintu masuk dan aku menemui mereka di luar.

"ada apa bapak, ibu? apakah terganggu dengan kandang ternak serta rencana rumah pemotongan hewan yang lagi dibangun itu?"

Ibu-ibu itu malah mencubit pipiku dan kemudian tersenyum, salah satu diantara mereka langsung merangkul tanganku.

Hanya satu yang jelas aku kenal, yaitu mak Lisa dan dialah yang merangkul tangan kananku.

"kenalin teman-teman ibu, yang memakai hijab merah namanya mak Ririn, yang memakai baju hitam mak Nina, dan yang memakai baju hitam mak Rara.

Anak muda yang memakai kaos biru itu namanya Lamhot dan yang memakai kaos hitam Sion.

Kami ke sini untuk meminta pekerjaan, dikarenakan kami sudah melihat nak Bernat sudah membangun rumah potong hewan.

Dulunya kami ini semua yang ada disini kerja di rumah potong hewan, tapi lahan pasar itu bersengketa dan kemudian terbakar.

Kami pengangguran deh, kami bertiga janda loh Bernat dan kami punya anak-anak yang membutuhkan biaya hidup dan biaya sekolah.

Begitu juga dengan Lamhot dan Sion, mereka berdua juga tulang punggung keluarga. kami berlima sudah profesional lah."

"kirain mau demo, akhirnya Bernat tidak perlu repot-repot mencari pegawai, sekarang tinggal mencari kasir dan tenaga keuangan deh."

"tenang nak Bernat, ada juga. kami lengkap nak Bernat.

Satu orang kasir dan satu orang bagian keuangan, oh ya bisa nambah dua bapak-bapak lagi ngak?

Sudah ahli memotong hewan besar, dan bisa terpercaya."

"terimakasih......

kata pengurus surat izin rumah pemotongan hewan nya, mungkin lusa baru bisa keluar izinnya.

Jadi yang mau kerja, tolong besok datang kemari dengan membawa identitas diri yang asli dan juga foto copynya."

"ijazah ngak kan nak Bernat, karena kami pekerja nya tidak memiliki ijazah kecuali bagian kasir dan keuangannya."

"iya Mak Lisa, tenang aja. besok datang kemari ya.

kebetulan Bernat lagi panen sayur-sayuran, kali aja mau ambil, mari masuk."

Mereka berlima langsung kegirangan, dan masuk langsung ke belakang rumah.

Terutama ketiga ibu-ibu itu, langsung berhamburan memetik sayuran sambil bergosip riya.**

Rumah potong hewan resmi dibuka setelah mendapatkan izin bangunan serta ijin usaha rumah pemotongan hewan atau RPH nya dari dinas penanaman modal dan perizinan terpadu satu pintu.

Bangunan sesuai dengan rekomendasi dari dinas dan saluran pembuangan yang sudah di kelola terlebih dahulu, sehingga tidak mencemari lingkungan.

Kasir bernama Susi dan bagian keuangan lulusan diploma yang bernama Tiara.

Pak Leo dan pak Juru tukang potong hewan besar sekaligus bertugas menangani limbah yang dibantu oleh Lamhot dan Sion.

Sementara untuk ternak, dilahan yang baru dimana rumah potong hewan ini berada. sudah tujuh pegawai.

Arman sepupu dari Juna membawa tiga temannya kerja yang bernama, Erik, Dipos dan satu perempuan bernama Naira.

Dua tambahan ibu-ibu dengan panggilan Mak Ningsih dan mak Sira, yang merupakan tetangga rumah.**

Sudah tiga bulan usaha rumah pemotongan hewan berjalan, dan sudah setengah balik modal.

Alhasil bisa membeli lahan kosong yang bisa menghubungkan rumah peninggalan kakek dan nenek ke tempat usaha yang baru.

Dulu lahan itu milik pak Raden dan sisanya milik pak Bima, dan tentunya membutuhkan pegawai yang baru.

Tinggal nanya aja sama pegawai yang lain dan langsung dapat lima pegawai sekaligus.

Namanya Rudi, Bagus, David, Rehan dan juga Mak Irma.

Berhubungan rumah pemotongan hewan sudah memiliki pelanggan yang banyak dan sangat membutuhkan tenaga kerja.

Mak Lisa langsung membawa lima pegawai sekaligus dan akhirnya bangunan dilebarkan lagi.**

Waktu terus berjalan dan sudah hampir enam bulan, kabar dari ketiga abang-abang tidak ada. nomor handphone mereka juga juga sudah tidak aktif lagi.

Siang hari terik dan saat ini aku berada di rumah potong hewan, terlihat dari kejauhan ada mobil pribadi yang hendak menuju kemari.

Mobil mewah itu parkir di parkiran khusus pelanggan rumah potong hewan ini, dan seorang perempuan turun paru baya turun yang ditemani oleh seorang pria yang memakai masker.

"anak ibu itu mau nikah tiga hari itu lagi, undangan yang tersebar sekitar tiga ratus undangan.

Selain daging ayam, ingin juga daging lembut. seberapa banyak yang dibutuhkan?

karena ini pertama kalinya bagi ibu membuat hajatan besar."

Ucap ibu paru baya itu ke Mak Lisa, yang menjadi penanggung jawab di rumah potong hewan ini dan mak Lisa langsung melayani nya.

Tapi laki-laki yang berama ibu paru baya dan memakai masker atau penutup hidung, seperti tidak asing.

Lalu aku mendekati pria itu dan melihat lebih jelas, sepertinya dia ingin memalingkan wajahnya.

"bang Anggi."

"bukan, salah orang kamu bang."

Jawabannya membuat wanita paru baya itu menatap kami lalu menghampiri kami berdua.

"ada apa ya nak? apa kamu kenal dengan calon menantu ini?"

"maaf ibu, saya salah orang. saya kirain Abang Ku yang bernama dokter Anggi."

"tapi kalau ibu lihat-lihat kalian berdua rada-rada mirip loh, nak Anggi coba muka masker Nya."

Kemudian dari mobil yang sama yang di tumpangi oleh mereka keluarlah seorang wanita cantik dan menghampiri kami.

Lalu pria yang mirip bang Anggi membuka maskernya dan benar itu adalah bang Anggi, sepertinya dia malu mengakui aku adiknya.

"tuh kan mirip, apa kalian bersaudara? "

"iya mah....

mereka berdua mirip, seperti kakek adek."

Pria itu tidak bergeming dan kemudian memakai kembali maskernya, alasannya bau ditempat ini.

Ibu paru baya itu serta wanita cantik tidak merasa bau berbeda dengan pria itu.

"Bernat tanda dengan tai lalat di kuping kanan mu itu bang, apa bang Anggi malu mengakui saya sebagai adik Mu?"

Wanita paru baya dan wanita cantik itu menoleh ku dan kemudian menatap pria yang bernama Anggi itu.

"kamu salah orang."

Ucapnya dan nada suara itu semakin tinggi, ya mungkin saja aku salah orang.

"Bernat......"

Pak Bima kepala lingkungan datang, lalu kemudian memperhatikan dengan seksama pria yang mirip bang Anggi itu.

Pria itu berusaha memalingkan wajahnya dari perhatian pak Bima tapi pak Bima terus memperhatikan Nya.

Terpopuler

Comments

Emily

Emily

pret si Anggi ..gak mau orangnya tapi mau duitnya...dasar saudara lucnut

2024-10-16

0

lihat semua
Episodes
1 Terlihat Seperti apa itu Saudara.
2 Haru
3 Nenek Meninggal Dunia.
4 Klaim.
5 Tatapan yang Kecewa.
6 Kacang Lupa akan Kulitnya.
7 Harta Peninggalan.
8 Perhitungan.
9 Wasiat Kakek.
10 Peralihan.
11 Merekrut Pegawai Baru.
12 Pertemuan Yang Tidak Terduga.
13 Malu
14 Tentang Bang Anggi.
15 Pertemuan Yang Tidak di Harapkan.
16 Kedatangan Tamu Lagi.
17 Kunjungan Dari Ketiga Abang.
18 Bang Jepri dibawa oleh bang Firman.
19 Ada apa dengan bang Firman?
20 Musyawarah.
21 Istri Bang Firman
22 Kiriman Pengacara.
23 Somasi
24 Diskusi.
25 Meraba Keikhlasan.
26 Sidang.
27 Sidang Lanjutan.
28 Penjelasan Yang Tidak Masuk Akal.
29 Kekwatiran Terhadap Bang Jepri.
30 Kisah Yang Lain.
31 Bang Jepri jadi Manusia Silver.
32 Permasalahan Manusia Silver.
33 Gatal-gatal.
34 Bang Jepri Siuman.
35 Pengacara Baru Damar.
36 Bang Jepri Memaksa Untuk Pulang.
37 Saling Menguatkan.
38 Sidang Putusan.
39 Jepri Pingsan Di Persidangan.
40 Bang Jepri Meninggal Dunia.
41 Hasil Otopsi.
42 Kedua Istri Damar.
43 Mahasiswi Cantik.
44 Di Usir Istri Pertama.
45 Panggilan Polisi.
46 Baru Terasa.
47 Bocil Beringas.
48 Menyerahkan Keponakan ke Panti Asuhan.
49 Istri Kedua Anggi
50 Perempuan Dari Anggi Lagi.
51 Berani Melawan.
52 Kisah Dari Ketiga Saudara.
53 Kisah Dari Bang Anggi.
54 Firman Akhirnya di Bekuk Polisi.
55 Solusi Yang Baik.
56 Kebahagiaan Yang Sederhana.
57 Obrolan Dengan Bang Yusuf.
58 Bertemu Parasit Lagi.
59 Sedikit Pencerahan.
60 Berhadapan Para Warga.
61 Sidang Warga
62 Terpuruk.
63 Damar Dan Perbuatannya.
64 Mengasingkan Diri.
65 Takut Jatuh Cinta.
66 Cerita Yang Melelahkan.
67 Petuah Dari Senior.
68 Kecelakaan.
69 Adek-adek Sudah Siuman.
70 Rencana.
71 Melamar Risa.
72 Teduh.
73 Memprovokasi.
74 Ada Hal Lain.
75 Reva Sekarat.
76 Korban.
77 Ikhlas Obat Yang Mujarab.
78 Pengertian.
79 Rencana Pernikahan.
80 Pengakuan Damar.
81 Mencoba Untuk Ikhlas.
82 Lamaran.
83 Bahagia.
84 Malam Pengantin.
85 Tali Persaudaraan Yang Putus.
86 Kisah Arpin dan Boy.
87 Tinggal Sementara di Lampung.
88 Istri Yang Lain Dari Ayah Kami.
89 Pengalaman Yang Ngeri Dari Keluarga.
90 Kabar Bahagia.
91 Penghargaan
92 Kisah Yang Unik.
93 Keluarga Tidak Harus Sedarah.
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Terlihat Seperti apa itu Saudara.
2
Haru
3
Nenek Meninggal Dunia.
4
Klaim.
5
Tatapan yang Kecewa.
6
Kacang Lupa akan Kulitnya.
7
Harta Peninggalan.
8
Perhitungan.
9
Wasiat Kakek.
10
Peralihan.
11
Merekrut Pegawai Baru.
12
Pertemuan Yang Tidak Terduga.
13
Malu
14
Tentang Bang Anggi.
15
Pertemuan Yang Tidak di Harapkan.
16
Kedatangan Tamu Lagi.
17
Kunjungan Dari Ketiga Abang.
18
Bang Jepri dibawa oleh bang Firman.
19
Ada apa dengan bang Firman?
20
Musyawarah.
21
Istri Bang Firman
22
Kiriman Pengacara.
23
Somasi
24
Diskusi.
25
Meraba Keikhlasan.
26
Sidang.
27
Sidang Lanjutan.
28
Penjelasan Yang Tidak Masuk Akal.
29
Kekwatiran Terhadap Bang Jepri.
30
Kisah Yang Lain.
31
Bang Jepri jadi Manusia Silver.
32
Permasalahan Manusia Silver.
33
Gatal-gatal.
34
Bang Jepri Siuman.
35
Pengacara Baru Damar.
36
Bang Jepri Memaksa Untuk Pulang.
37
Saling Menguatkan.
38
Sidang Putusan.
39
Jepri Pingsan Di Persidangan.
40
Bang Jepri Meninggal Dunia.
41
Hasil Otopsi.
42
Kedua Istri Damar.
43
Mahasiswi Cantik.
44
Di Usir Istri Pertama.
45
Panggilan Polisi.
46
Baru Terasa.
47
Bocil Beringas.
48
Menyerahkan Keponakan ke Panti Asuhan.
49
Istri Kedua Anggi
50
Perempuan Dari Anggi Lagi.
51
Berani Melawan.
52
Kisah Dari Ketiga Saudara.
53
Kisah Dari Bang Anggi.
54
Firman Akhirnya di Bekuk Polisi.
55
Solusi Yang Baik.
56
Kebahagiaan Yang Sederhana.
57
Obrolan Dengan Bang Yusuf.
58
Bertemu Parasit Lagi.
59
Sedikit Pencerahan.
60
Berhadapan Para Warga.
61
Sidang Warga
62
Terpuruk.
63
Damar Dan Perbuatannya.
64
Mengasingkan Diri.
65
Takut Jatuh Cinta.
66
Cerita Yang Melelahkan.
67
Petuah Dari Senior.
68
Kecelakaan.
69
Adek-adek Sudah Siuman.
70
Rencana.
71
Melamar Risa.
72
Teduh.
73
Memprovokasi.
74
Ada Hal Lain.
75
Reva Sekarat.
76
Korban.
77
Ikhlas Obat Yang Mujarab.
78
Pengertian.
79
Rencana Pernikahan.
80
Pengakuan Damar.
81
Mencoba Untuk Ikhlas.
82
Lamaran.
83
Bahagia.
84
Malam Pengantin.
85
Tali Persaudaraan Yang Putus.
86
Kisah Arpin dan Boy.
87
Tinggal Sementara di Lampung.
88
Istri Yang Lain Dari Ayah Kami.
89
Pengalaman Yang Ngeri Dari Keluarga.
90
Kabar Bahagia.
91
Penghargaan
92
Kisah Yang Unik.
93
Keluarga Tidak Harus Sedarah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!