Lalu bang Anggi berdiri dan tatapan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca mengarah kepadaKu.
"sekarang apa mau mu Bernat?"
Tanya bang Anggi dengan segala amarahnya, dan aku berdiri untuk menanggapi nya.
"Hanya saya yang membantu kalian bertiga, tapi kalian bertiga tidak pernah membantu saya.
Saat kakek dan mama kritis kalian dimana?
Begitu juga dengan nenek, bahkan kalian tidak menganggap saya dan nenek serta bang Jepri sebagai keluarga kalian.
Nenek akhirnya kritis karena ucapan mu bang Damar, dan sejak saat itu kalian bukan keluarga ku lagi.
Daripada membantu manusia-manusia yang tidak tahu diri seperti kalian bertiga, lebih baik saya berikan kepada anak yatim-piatu piatu.
Tidak sepersen aku berikan untuk kalian bertiga.
Sekarang kalian maunya apa?"
Mereka bertiga akhirnya berdiri dan tatapan mereka yang penuh amarah menatapku.
"baik jika kau maunya seperti itu, kami akan serentak menggugat rumah peninggalan itu beserta hasil nya, saya akan pastikan kalau kau akan membayar semuanya."
"silahkan Damar, saya tidak takut karena saya tidak pernah memakan hal orang lain.
Pergi kalian dari sini dan jangan pernah temui aku dan bang Jepri lagi.
keluar.......
keluar......"
Mereka bertiga akhirnya pergi dan aku berusaha menenangkan diri ini.**
Sudah satu bulan aku tidak pernah ketemu lagi dengan ke-tiga abang-abang ku itu, dan tidak ada yang datang atau apapun itu.
Mengingat kalau mereka bertiga akan menggugat Ku, ini tidak ada yang datang atau panggilan kepadaku.
Hari sudah petang dan saatnya pulang ke rumah, sesampainya di rumah ada yang berbeda.
Kali ini tidak ada sambutan dari bang Jepri seperti biasa.
Apa bang Jepri sakit?
Lalu aku mencarinya ke kamar, karena kami tidur satu kamar.
"Riyan....
kemana bang Jepri?"
Aku bertanya kepada Riyan yang datang menghampiriku ke kamar ini.
"itu bang...
tadi siang bang Firman datang kemari dan membujuk bang Jepri untuk tinggal bersamanya."
"jadi bang Jepri mau?"
"iya bang Bernat, baru aja pergi setelah berjam-jam membujuk bang Jepri, tadi aku menelpon abang tapi nomor Abang ngak aktif."
Segera aku meraih handphone Ku dan benar saja handphone ku ternyata lowbet.
"apa kamu tahu dimana alamat bang Firman?"
"manalah ku tahu bang."
Sejenak aku berpikir, karena waktu itu sempat membaca surat perjanjian kredit itu.
"iya....
Jalan melati nomor 92 tempat tinggal mertua bang Firman, pasti tahu lah dimana menantunya tinggal."
Aku segera membuka lemari untuk mengambil dokumen yang dikeluarkan oleh kelurahan dan juga dokter kejiwaan serta dari psikolog, setelah mendapatkan dokumen itu Lalu pamit ke Riyan dan segera pergi ke alamat rumah mertuanya bang Firman.
Tidak susah mencarinya dan aku langsung menemukan rumah itu.
Setelah mengetuk pintu dan keluarlah wanita paru baya.
"apa benar ini rumah mertuanya bang Firman?"
"Firman, dokter hewan? mungkin masih di klinik, ada perlu apa ya nak?"
Ucap ibu paru baya itu, dan kemudian mempersilahkan aku duduk di kursi yang di teras rumah ini.
"begini ibu, saya datang ke sini ingin bertanya kepada ibu alamat bang Firman."
Lalu aku mengeluarkan dokumen tentang bang Jepri kepada ibu paru baya itu.
"bang Jepri kami mengalami sedikit gangguan mental ibu, dan semuanya dijelaskan di riwayatnya.
Bang Firman membawa bang Jepri setelah membujuk nya dan itu entah kemana.
Nama saya Bernat, wali sah dari bang Jepri. Bernat ingin membawa pulang bang Jepri."
Ibu paru baya sudah selesai membaca dokumen nya dan kemudian memanggil suaminya.
"apa sih bu?"
"ini adiknya Firman, katanya menantu kita membawa adik nya yang cacat mental.
Coba papa hubungi Firman, biar jelas semua nya dan beli perlu suruh ke mari."
Terlihat bapak itu agak sedikit bengong dan kemudian disadarkan oleh istrinya.
Kemudian meraih handphonenya dan ternyata yang dihubungi nya adalah putrinya, istri dari bang Firman.
Dengan nada yang marah dan menyuruh putrinya agar mereka datang ke rumah ini.
Selesai menelpon dan bapak itu duduk disamping ku.
"kamu keluarganya Firman? hubungan kekeluargaan kalian gimana?"
"maksud bapak apa? emangnya bang Firman tidak menjelaskan semuanya?"
Si bapak menggelengkan kepalanya dan tatapannya yang kecewa terpancar dari sorot matanya.
"nanti bang Firman aja yang menjelaskan ya, takutnya nanti salah."
Kami bertiga hanya bengong, dan akhirnya pasangan suami-istri itu menyuruhku masuk ke dalam rumah.
Setelah beberapa duduk di sofa di ruang tamu, akhirnya bang Firman datang bersama seorang cantik yang sedang hamil.
"bang Jepri dimana bang?"
"di rumah, kamu ngapain sih nyari-nyari Jepri? dia itu mau tinggal sama saya bukan sama kamu."
Bang Firman langsung nyolot dan akhirnya kami dipersilahkan untuk duduk.
"Firman apa yang sebenarnya terjadi? lalu anak ini siapa? kenapa kamu membawa abang nya yang cacat mental?
kamu bilang waktu kalau kamu sebatang kara, lalu anak siapa dan kenapa kamu membawa adiknya?"
Terlihat jelas bang Firman berpikir dan kemudian menatapKu.
"itu pa...
Jepri itu adikku, dan ini Bernat orang yang Firman tugaskan untuk menjaga Jepri selama ini dan Bernat ini hanya perawat dari rumah sakit."
"saya bukan perawat bang, tapi peternak hewan.
ada apa sebenarnya bang?
ngak masalah bang Firman tidak mengakui aku sebagai adik mu, tapi tolong kembalikan bang Jepri.
Bang Jepri ngak urusannya sama abang, dan saya wali nya."
Ayah mertuanya sudah mulai emosi dan menatap bang Firman dengan tatapannya yang tajam.
"jangan bertele-tele Firman, jelaskan semuanya."
"Firman sudah jelaskan pah, manusia ini yang mengaku-ngaku sebagai saudara nya Jepri.
kamu pasti berniat jahat kan kepada Jepri?"
Lalu aku membuka identitas kami, berupa kartu keluarga dan KTP ku serta KTP bang Jepri bahkan sampai kartu BPJS nya.
"sekarang coba bapak tanya kepada menantu bapak, apakah dia mempunyai identitas bang Jepri?"
Bang Firman menolehku dan kemudian meraih handphonenya.
Tidak berapa lama kemudian bang Firman sudah selesai menelpon dan kemudian menatap ayah mertuanya.
"sebentar lagi abang ku akan tiba di sini."
"tunggu dulu Firman, kamu bilang abang. tapi dari awal kamu berkata kamu itu sebatang kara.
Jangan berbelit-belit lagi, siapapun diantara kalian berdua tolong jelaskan sisilah keluarga kalian yang ribet ini."
Wajahnya bang Firman merah seketika, sepertinya dia terjebak dengan kata-katanya sendiri.
Bang Firman masih diam, dan istrinya yang duduk disampingnya kini pandangannya sudah berbeda kepada bang Firman.
"jujurlah bang, biar semuanya jelas. baru beberapa jam Jepri tinggal di rumah kita, aku pusing di buat nya.
Banyak permintaannya bang, yang mau menutup kandang lah, lupa menghitung telur ayam lah. pusing di buat nya bang, tolong jujurlah bang."
Desakan itu datang dari istrinya, terlihat kepanikan dari sorot mata itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 93 Episodes
Comments
Emily
sedih bgt bernat selalu di rusuhi abang2 jahatnya
2024-10-16
0