Nenek Meninggal Dunia.

Kondisi kesehatan nenek sudah semakin membaik, dan secara perlahan bangunan rumah tinggal kami dan juga kandang ternak sudah empat puluh persen selesai.

"Bernat....."

Seseorang memanggilku dan ketika menoleh ke belakang ternyata bang Damar, sepertinya dia terlihat kesal.

"iya bang."

"kau bantu lah untuk mengurus surat keterangan kematian kakek dan juga waris ini, abang kewalahan.

Nanti abang kasih lah upahmu dari bagian ku, karena abang ngak sempat untuk mengurus nya, lagian kamu yang kenal warga disekitar sini dan perangkat desa nya."

"maaf bang, Bernat juga sibuk. saya juga sibuk mempersiapkan rumah untuk kami bertiga.

Abang mintak bantuan aja sama bang Anggi atau bang Firman."

"lihat aja ya, Abang potong bagian kalian untuk biaya kepengurusannya."

Bang Damar langsung pergi, terlihat jelas dia sangat marah.

Tapi ya sudahlah, itu hanya bagian dari hidup, karena tidak semua orang bisa di puaskan.**

Lembu dan ayam sudah terjual kepada pak Raden, sisanya sudah mulai dipersiapkan untuk pindah ke tempat yang baru.

"Bernat...... Bernat..... Bernat....."

Bang Jepri langsung berjalan ke arah pintu masuk ketika mendengarkan suara teriakan bang Damar.

"lama amat buka nya? lagi ngapain sih?"

"beres-beres bang Damar, biar nanti tinggal angkut ketika sudah di usir."

"terserah deh, Abang kemari ingin membawa kalian ke kantor notaris, kantornya Reva. kita hari ini tanda tangan perjanjian jual beli dengan pembelinya."

"iya dah bang, nanti Bernat akan membawa nenek dan juga bang Jepri."

Tanpa pamit ke nenek, bang Damar langsung pergi. melihat hal itu nenek hanya mengelus dada.

Tanpa terasa akhirnya selesai juga beras-beras dan segera bergegas ke kantor notaris.

Sesampainya di sana, hanya ada bang Damar dan juga Reva calon istrinya.

Seharusnya hadir juga ibu Santi, ibu Dian dan juga om Bayu. karena itulah ahli waris kakek, tapi kenapa mereka tidak hadir ya?

"Nenek tandatangan di sini ya."

Begitu melihat nenek, kak Reva langsung mendekatinya seraya meminta nya untuk tandatangan berkas.

"tunggu kak, surat kematian kakek dan surat keterangan waris sudah selesai di urus?

lalu dimana om Bayu, ibu Santi dan ibu Dian?

Pembelinya dimana? dan berapa harga jualnya?"

Bang Damar langsung berdiri dan menghadap ke arahku, wajahnya terlihat bringas dan penuh amarah.

"ngak usah banyak nanya Bernat, kak Reva lebih tahu semuanya. sekarang tandatangani aja dulu ini."

Ujar bang Damar lalu memberikan kertas, istilahnya kertas kosong, lalu dimana kami tandatangannya.

"Abang jangan main-main, ini kertas kosong. memang saya hanya tamatan SMP, tapi saya bukan buta huruf.

Mau abang apa sebenarnya?"

"ngak usah ngeyel Bernat, sekarang tandatangani perjanjian itu. sisanya biar kak Reva yang urus.

kalian tinggal menerima beres aja, tiga hari dari sekarang kalian harus pergi dari rumah itu, karena abang sudah membuat perjanjian dengan pembeli nya."

Terlihat nenek menghapus air matanya, mungkin karena bang Damar mengatakan kalau harus secepatnya pindah dari rumah itu.

Rumah yang ditempati oleh nenek selama bertahun-tahun dan pada akhirnya harus di usir dari rumah oleh cucunya sendiri.

"nenek tidak akan tandatangan, kelewatan kamu ya Damar.

Rumah dan kebun itu milik nenek, dan tidak akan nenek jual.

Bernat, Jepri. ayo kita pulang."

Akhirnya kami pulang, kekecewaan jelas terlihat dari wajahnya nenek.**

Sesampainya di rumah, nenek terlihat sangat lemas dan tidak berapa kemudian tubuhnya menggigil.

Segera kami larikan ke rumah sakit, dan lagi-lagi ketiga abang-abang Ku itu tidak satupun yang hadir.

Bahkan sampai malam hari pun mereka tidak ada yang datang, di telpon ngak diangkat di kirim pesan pun tak terbalas.

Hanya aku dan Jepri yang menemani nenek, dan sampai akhirnya nenek bangun.

"nek......"

Nenek melihat kami berdua yang duduk di samping ranjangnya dan senyuman itu mengarah kepada Ku.

"Bernat, terimakasih karena kamu sudah menjadi cucu yang baik. terimakasih karena sudah merawat nenek dengan ikhlas, maafkan nenek yang bawel dan bisa memberikan apapun untuk Mu."

"nenek kok gitu, Bernat yang berterima kasih kepada nenek, karena nenek sudah menampung kami dan mencintai kami semuanya."

"terimakasih atas semua Bernat, semoga kebahagiaan menghampiri mu."

"nek..... nek ......

n.....e.....k...... n......e....n.....e....k........."

Hari terakhir bersama nenek dan kami harus berpisah untuk selamanya.

Jenazah nenek sudah di rumah, tapi tidak satupun keluarga yang datang, baik itu om Bayu, ibu Santi dan ibu Dian serta ketiga abang-abang Ku.

Hanya tetangga yang memenuhi rumah ini, sejenak mereka bertanya-tanya tentang sanak saudara yang tidak terlihat di rumah ini.

Sudah saatnya jenazah nenek di kebumikan, dan sampai nenek ke liang lahatnya tidak satupun keluarga yang datang.

Nenek sudah tenang di sisi pencipta Nya, dan saat kami pulang ke rumah. para tetangga sudah membersihkan rumah kami, karena nanti sore akan diadakan pengajian.

Lagi-lagi tidak satupun keluarga yang datang, bahkan sampai pengajian selesai pun tidak ada yang datang.***

tok.... tok.... tok..... Tok.... tok.... tok..... Tok.... tok.... tok..... Tok.... tok.... tok.....

Pintu di ketuk berulang kali, dan akhirnya kami berdua terbangun.

Ternyata sudah jam tujuh pagi, mungkin karena kelelahan sehingga kami berdua bangun kesiangan seperti ini.

"rumahnya Nenek Saena?"

Seorang bapak-bapak yang didampingi oleh seorang perempuan berdiri di hadapan Ku.

"iya benar pak, maaf ada keperluan apa pak?"

"jadi kamu yang menjaga rumah ini? baiklah kalau begitu.

rumah ini sudah kami beli, dan ini akta jual belinya, saya minta kalian pergi dari sini. hari ini juga, karena hal itu juga tertuang di perjanjian jual beli."

"saya cucunya nenek Saena, dan baru kemarin nenek meninggal.

kapan nenek saya tanda tangan jual beli itu, sepertinya bapak salah alamat."

Kedua orang itu terlihat kesal dan langsung mengeluarkan handphone dari saku celananya.

'halo dokter Damar, gimana sih ini? dokter bilang penjaga tanah, nyata cucu nenek Saena.

Tolong datang kemari secepatnya, kalau tidak saya akan melaporkan dokter Damar ke polisi atas penipuan.'

Pria itu terlihat kesal dan kemudian mengakhiri obrolan nya, lalu duduk di kursi teras seraya melihat kami berdua yang baru bangun tidur.

"bukannya rumah ini sudah di hibahkan ke dokter Damar?"

"setahu saya, almarhumah nenek tidak pernah menghibahkan rumah ini kepada siapapun, rumah ini masih atas almarhum kakek.

Oh iya, apakah bapak sudah melihat asli sertifikat rumah ini?"

Pria itu hanya geleng-geleng kepala, dan itu sesuai dugaan Ku. karena sampai saat ini sertifikat rumah ini masih di Bank sebagai jaminan.

Tapi kenapa pria ini membeli rumah tanpa melihat dokumen yang aslinya?

Terpopuler

Comments

Emily

Emily

amit amit ya di Damar manusia serakah

2024-10-16

0

lihat semua
Episodes
1 Terlihat Seperti apa itu Saudara.
2 Haru
3 Nenek Meninggal Dunia.
4 Klaim.
5 Tatapan yang Kecewa.
6 Kacang Lupa akan Kulitnya.
7 Harta Peninggalan.
8 Perhitungan.
9 Wasiat Kakek.
10 Peralihan.
11 Merekrut Pegawai Baru.
12 Pertemuan Yang Tidak Terduga.
13 Malu
14 Tentang Bang Anggi.
15 Pertemuan Yang Tidak di Harapkan.
16 Kedatangan Tamu Lagi.
17 Kunjungan Dari Ketiga Abang.
18 Bang Jepri dibawa oleh bang Firman.
19 Ada apa dengan bang Firman?
20 Musyawarah.
21 Istri Bang Firman
22 Kiriman Pengacara.
23 Somasi
24 Diskusi.
25 Meraba Keikhlasan.
26 Sidang.
27 Sidang Lanjutan.
28 Penjelasan Yang Tidak Masuk Akal.
29 Kekwatiran Terhadap Bang Jepri.
30 Kisah Yang Lain.
31 Bang Jepri jadi Manusia Silver.
32 Permasalahan Manusia Silver.
33 Gatal-gatal.
34 Bang Jepri Siuman.
35 Pengacara Baru Damar.
36 Bang Jepri Memaksa Untuk Pulang.
37 Saling Menguatkan.
38 Sidang Putusan.
39 Jepri Pingsan Di Persidangan.
40 Bang Jepri Meninggal Dunia.
41 Hasil Otopsi.
42 Kedua Istri Damar.
43 Mahasiswi Cantik.
44 Di Usir Istri Pertama.
45 Panggilan Polisi.
46 Baru Terasa.
47 Bocil Beringas.
48 Menyerahkan Keponakan ke Panti Asuhan.
49 Istri Kedua Anggi
50 Perempuan Dari Anggi Lagi.
51 Berani Melawan.
52 Kisah Dari Ketiga Saudara.
53 Kisah Dari Bang Anggi.
54 Firman Akhirnya di Bekuk Polisi.
55 Solusi Yang Baik.
56 Kebahagiaan Yang Sederhana.
57 Obrolan Dengan Bang Yusuf.
58 Bertemu Parasit Lagi.
59 Sedikit Pencerahan.
60 Berhadapan Para Warga.
61 Sidang Warga
62 Terpuruk.
63 Damar Dan Perbuatannya.
64 Mengasingkan Diri.
65 Takut Jatuh Cinta.
66 Cerita Yang Melelahkan.
67 Petuah Dari Senior.
68 Kecelakaan.
69 Adek-adek Sudah Siuman.
70 Rencana.
71 Melamar Risa.
72 Teduh.
73 Memprovokasi.
74 Ada Hal Lain.
75 Reva Sekarat.
76 Korban.
77 Ikhlas Obat Yang Mujarab.
78 Pengertian.
79 Rencana Pernikahan.
80 Pengakuan Damar.
81 Mencoba Untuk Ikhlas.
82 Lamaran.
83 Bahagia.
84 Malam Pengantin.
85 Tali Persaudaraan Yang Putus.
86 Kisah Arpin dan Boy.
87 Tinggal Sementara di Lampung.
88 Istri Yang Lain Dari Ayah Kami.
89 Pengalaman Yang Ngeri Dari Keluarga.
90 Kabar Bahagia.
91 Penghargaan
92 Kisah Yang Unik.
93 Keluarga Tidak Harus Sedarah.
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Terlihat Seperti apa itu Saudara.
2
Haru
3
Nenek Meninggal Dunia.
4
Klaim.
5
Tatapan yang Kecewa.
6
Kacang Lupa akan Kulitnya.
7
Harta Peninggalan.
8
Perhitungan.
9
Wasiat Kakek.
10
Peralihan.
11
Merekrut Pegawai Baru.
12
Pertemuan Yang Tidak Terduga.
13
Malu
14
Tentang Bang Anggi.
15
Pertemuan Yang Tidak di Harapkan.
16
Kedatangan Tamu Lagi.
17
Kunjungan Dari Ketiga Abang.
18
Bang Jepri dibawa oleh bang Firman.
19
Ada apa dengan bang Firman?
20
Musyawarah.
21
Istri Bang Firman
22
Kiriman Pengacara.
23
Somasi
24
Diskusi.
25
Meraba Keikhlasan.
26
Sidang.
27
Sidang Lanjutan.
28
Penjelasan Yang Tidak Masuk Akal.
29
Kekwatiran Terhadap Bang Jepri.
30
Kisah Yang Lain.
31
Bang Jepri jadi Manusia Silver.
32
Permasalahan Manusia Silver.
33
Gatal-gatal.
34
Bang Jepri Siuman.
35
Pengacara Baru Damar.
36
Bang Jepri Memaksa Untuk Pulang.
37
Saling Menguatkan.
38
Sidang Putusan.
39
Jepri Pingsan Di Persidangan.
40
Bang Jepri Meninggal Dunia.
41
Hasil Otopsi.
42
Kedua Istri Damar.
43
Mahasiswi Cantik.
44
Di Usir Istri Pertama.
45
Panggilan Polisi.
46
Baru Terasa.
47
Bocil Beringas.
48
Menyerahkan Keponakan ke Panti Asuhan.
49
Istri Kedua Anggi
50
Perempuan Dari Anggi Lagi.
51
Berani Melawan.
52
Kisah Dari Ketiga Saudara.
53
Kisah Dari Bang Anggi.
54
Firman Akhirnya di Bekuk Polisi.
55
Solusi Yang Baik.
56
Kebahagiaan Yang Sederhana.
57
Obrolan Dengan Bang Yusuf.
58
Bertemu Parasit Lagi.
59
Sedikit Pencerahan.
60
Berhadapan Para Warga.
61
Sidang Warga
62
Terpuruk.
63
Damar Dan Perbuatannya.
64
Mengasingkan Diri.
65
Takut Jatuh Cinta.
66
Cerita Yang Melelahkan.
67
Petuah Dari Senior.
68
Kecelakaan.
69
Adek-adek Sudah Siuman.
70
Rencana.
71
Melamar Risa.
72
Teduh.
73
Memprovokasi.
74
Ada Hal Lain.
75
Reva Sekarat.
76
Korban.
77
Ikhlas Obat Yang Mujarab.
78
Pengertian.
79
Rencana Pernikahan.
80
Pengakuan Damar.
81
Mencoba Untuk Ikhlas.
82
Lamaran.
83
Bahagia.
84
Malam Pengantin.
85
Tali Persaudaraan Yang Putus.
86
Kisah Arpin dan Boy.
87
Tinggal Sementara di Lampung.
88
Istri Yang Lain Dari Ayah Kami.
89
Pengalaman Yang Ngeri Dari Keluarga.
90
Kabar Bahagia.
91
Penghargaan
92
Kisah Yang Unik.
93
Keluarga Tidak Harus Sedarah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!