Perjalanan pulang dari puncak menuju rumah Briyan terasa sunyi, di dalam mobil, Asha yang biasa terus mengoceh dan berisik kini hanya terdiam, mata gadis itu membengkak karena tangisnya semalam, pandangan matanya kosong memandang jalanan yang dilalui mobil yang dikendarai Briyan, sisa isak masih terdengar, sementara Briyan setelah mendapatkan izin dari sang istri dia memilih untuk ikut terdiam, satu hatinya dia merasa senang, amat senang karena kini dia sudah satu langkah menuju mimpinya, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, pria itu merasakan gelenyar aneh, ada setitik rasa tidak nyaman kala melihat Asha terlihat seperti begitu tertekan.
“Sha, kita udah nyampe” Briyan menghentikan laju mobilnya tepat di halaman rumah mewahnya, Asha mengerjap kaget, memutar pandangan, lalu segera membuka seat beltnya, namun belum seat beltnya terlepas Asha segera membenahi duduknya kembali, gadis itu terlihat begitu galau.
“Sha?” Briyan kembali menatap Asha yang kembali terduduk.
“Aku mau pulang ke rumahku aja, anterin ya” Asha kembali menatap ke sembarang arah, hati gadis itu sungguh tak menentu.
“Gak ketemu Mamih dulu?” Briyan mengernyit heran.
“Aku mau pulang aja, aku mau tidur, aku lelah” Asha beralasan, namun alasannya cukup tepat juga, semalam gadis itu berada dalam pelukan Briyan sesuai keinginannya, namun jauh dari angan ternyata gadis itu tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak, hatinya gundah, pikirannya melayang, bagaimana mungkin dia bisa berpisah dengan belahan jiwanya, Asha tidak rela melepaskan, namun dia tidak ingin egois dengan menghalangi mimpi Briyan, Asha ingin Briyan bahagia, karena bahagianya Briyan adalah bahagianya Asha.
Briyan mengikuti keinginan Asha, pria itu kembali menghidupkan mobilnya, memutarnya dan mengendarainya menuju kediaman Asha yang tidak jauh dari rumahnya.
“Loh? Non sudah pulang?” Bi Inah menyapa dengan kening berkerut heran melihat Asha yang sudah pulang dengan tatapan kosongnya.
“Bi, ambilin obatku, aku ingin istirahat” Asha berjalan gontai menuju kamarnya, tanpa mengindahkan pertanyaan Bi Inah yang masih kebingungan.
Ceklek!
Bi Inah memasuki kamar majikan kecilnya, berjalan perlahan menuju ranjang yang ditiduri Asha, gadis itu meringkuk dengan tubuh sudah di tutupi selimut sepenuhnya.
“Ya Allah Non ...” Bi Inah menyibak selimut yang di gunakan Asha, terlihat gadis itu tengah menggigil, bukan karena kedinginan namun karena ketakutan, keringat sebesar biji jagung mengalir di dahinya, keningnya mengerut, bibirnya menggumam tidak jelas.
“Non kenapa? Apa yang terjadi?” Bi Inah bertanya dengan panik.
“Bi, obatku Bi ...” tangan Asha berusaha menggapai, sementara matanya masih terpejam.
“Non gak apa-apa, Non baik-baik saja, Non kuat” Bi Inah berbisik pada Asha menguatkan gadis itu jika kondisinya sudah seperti ini. Mencoba mensugesti, agar Asha tidak kembali panik dan trauma.
“Mamah dan Papah pergi Bi, mereka ninggalin aku dan gak kembali” air mata Asha mengalir deras, padahal matanya masih terpejam kuat, tubuhnya kian gemetar hebat.
“Non, istighfar Non, yang sabar” mata Bi Inah ikut berkaca-kaca.
“Sekarang Briyan juga akan pergi, apa Briyan juga gak akan kembali padaku Bi?” air mata Asha kian menderas membuat Bi Inah bingung.
“Non, semua yang seharusnya menjadi milik kita, pasti akan kembali pada kita Non” Bi Inah masih menenangkan sebisanya.
“Jika Briyan ditakdirkan bukan untuk menjadi milikku, apa aku akan hidup sendirian selamanya Bi? Sepi, sunyi, hening ... aku tidak suka itu Bi” tubuh Asha kian bergetar hebat.
“Non, sudah ... eling Non, ngucap istighfar Non, Allah sayang sama Non” Bi Inah menyeka air matanya sendiri, mengusap pelipis Asha yang berkeringat hebat, baju gadis itu sudah begitu basah, kakinya sedikit mengejang, napasnya sudah tersenggal.
“Non, minum obatnya Non” Bi Inah membantu Asha menenggak beberapa butir obat, lalu membenahi posisi tidur Asha, menyelimuti gadis itu sebatas dada, selang beberapa menit Asha sudah mulai tenang, meski raut gelisah masih ketara. Bi Inah menatap gadis dihadapannya, gadis yang Ia rawat sedari bayi, dia tahu persis perjuangan gadis ini hingga sampai di titik ini, sungguh bukan hal yang mudah.
Bi Inah mengerjap kaget kala mendengar bunyi ponselnya yang berdering, dengan segera perempuan tua itu mengangkat teleponnya,
“Ya Tuan?”
***
Suasana malam hari di kediaman Alexander terasa berbeda, malam ini Briyan memutuskan untuk memberitahu sekaligus meminta izin pada kedua orangtuanya untuk pergi melanjutkan pendidikannya ke luar negeri, namun tepat seperti dugaannya, kedua orangtua Briyan sama sekali tidak mengizinkan, bahkan mereka malah memaki Briyan dengan kesal.
“Pih, Mih, ini mimpi Briyan, tolong restui Briyan untuk pergi, Briyan janji setelah Briyan menyelesaikan pendidikan Briyan akan kembali pulang” Briyan mengatupkan kedua tangannya, memohon.
“Tidak Bry ... kamu tidak bisa pergi jauh dari tempat ini, kamu harus ingat kamu sudah menikah, kamu punya tanggung jawab, kamu punya Asha” Mamih yang hatinya lebih lembut memberi nasihat.
“Dari awal, Briyan tidak ingin menikah dengan Asha, lihat! Ini hasilnya” Briyan dengan kesal mengepalkan tangannya, selalu Asha yang menjadi alasan dia agar jauh dari mimpinya.
“Bry ... apa sih susahnya mencintai Asha? Dia pintar, cantik, lucu, kaya raya, anak tunggal, kenapa begitu sulit bagimu untuk menerimanya?” Mamih menghela napas panjangnya, merasa jengah dengan sikap remaja yang tengah bergejolak pada putra sulungnya.
“Mih, aku ingin meraih mimpiku sendiri, lagipula Asha sudah mengizinkan aku untuk pergi” Briyan berdalih dengan segera.
“Gak mungkin, Mamih tahu betul Asha bagaimana, kecuali jika kamu yang memaksanya” Mamih menatap Briyan dengan sorot mata curiga.
“Mih!” Briyan sungguh kesal setengah mati.
“Bry ... kamu gak tahu, Asha itu sakit, sebab itu Papih selalu minta kamu untuk jagain Asha” Papih menghela napas berat, menatap putranya yang tengah menggebu.
“Maksud Papih? Jangan mengada-ada, Asha sehat Pih, sangat sehat” Briyan mengelak, pria muda itu sungguh tidak tahu apapun tentang Asha, istrinya sendiri.
“Kamu gak akan mengerti Bry ... Asha itu ...”
“Asha sudah izinin Briyan untuk pergi Pih” suara Asha menginterupsi perdebatan sengit di antara orangtua dan anak tersebut, mereka bertiga kompak menoleh.
“Sha?” Mamih menoleh dengan tidak percaya, tiba-tiba saja menantunya sudah berdiri tegak diambang pintu, sejak kapan Asha berdiri disana? Apa Asha mendengar semua ucapan Briyan? Kepala Mamih mulai kembali pening.
“Asha udah izinin Briyan untuk pergi Mih, Asha gak apa-apa, Asha mau Bry bahagia, karena bahagianya Bry adalah bahagianya Asha” Asha tersenyum sendu, menatap Briyan yang tengah menatapnya kosong, hati pria itu terlalu sulit untuk di tebak.
“Kamu yakin sayang?” Mamih menghampiri, lalu memeluk menantu yang sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri.
“Yakin Mih” Asha mengangguk pasti, meski dia harus melawan fisik, hati, juga akal sehatnya untuk tetap waras karena harus melepas pria yang begitu dicintainya.
.
.
.
.
Selamat menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan ya readers, bagi readers yang menjalankannya.
Maafkan semua kesalahan aku selama menulis disini.
Bersihkan diri, sucikan hati, marhaban yaa Ramadhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Elsye_
ayo sha....kàmu harus kuat...
smangat....
2023-03-22
1