“Assalamu’alaikum ...”
Seorang gadis yang tengah menggunakan seragam putih abu-abu memasuki sebuah rumah megah di sebuah komplek elite dengan wajah cerianya, menyapa seluruh pegawai rumah tersebut dengan ramah, sesekali bersenandung ringan sebagai bukti jika harinya begitu menyenangkan.
"Selamat pagi Papih, Mamih” gadis itu menciumi kedua pipi orangtua yang kini tengah tersenyum melihat tingkahnya, sementara gadis muda yang kini duduk di sampingnya tengah memutar kedua bola matanya malas.
“Selamat pagi sayang, ayo duduk, kita sarapan dulu” perempuan yang disapa Mamih itu mengusap kepala sang gadis dengan sayang.
“Lo itu gak ada malu-nya ya! Tiap pagi datang kesini cuman buat numpang sarapan! Di rumah Lo gak ada makanan apa?” akhirnya gadis yang sedari tadi mati-matian menahan kesalnya angkat suara juga.
“Bintang! Gak baik bicara seperti itu Nak, Asha ini keluarga kita, Kakak ipar kamu” sang Ayah langsung menegur perbuatan putrinya yang semena-mena, hingga membuat gadis itu tertunduk sambil mengumpat.
“Dasar perempuan rubah!” rutuknya dalam hati.
“Pagi ...”
Semua orang menoleh pada sumber suara, terutama gadis yang dipanggil Asha, dengan mata berbinar gadis itu segera bangkit dari duduknya, berlari menghampiri sang pria yang kini tengah berwajah datar sambil berdecak malas.
“Selamat pagi Ayang! Ayo duduk, aku siapin sarapan kamu” ucapnya sambil bergelayut di tangan sang pria.
“Ish! Bisa gak sih Lo gak usah nempel-nempel kayak gini sama gue? Risih tahu gak?” pria itu segera menghempaskan tangan sang gadis, yang kini tengah memasang wajah kecewa.
“Kenapa sih? Ayang kok gitu? Gak apa-apa aku pegang tangan Ayang, kan halal” gadis itu cengengesan, membuat kedua orangtuanya ikut terkekeh geli, sementara gadis lainnya yang berada diruangan itu hanya tersenyum sinis, merasa puas karena gadis aneh yang selama ini mengganggu Kakaknya mendapat perlakuan buruk dari sang Kakak.
“Lepas gak?!” pria itu kembali membentak, sambil menghempaskan tangannya.
“Iya, aku lepas, kan sekarang kita mau makan dulu, Ayang duduk sini yah, deket aku” gadis itu menarik salah satu kursi, mempersilahkan pria yang juga tengah menggunakan seragam putih abu-abu itu untuk duduk di dekat tempatnya.
Namun, alih-alih duduk di tempat yang sudah disediakan, pria itu malah duduk di kursi lain, lebih tepatnya di samping adiknya.
“Ayang, kok gitu sih? Aku gak suka jauhan” gadis itu mengerucutkan bibirnya.
“Aku ambilin makan ya?” gadis itu kembali inisiatif menawarkan, bahkan tangannya sudah meraih piring yang berada di depan lelakinya.
“Gak usah! Gue bisa sendiri!” lelaki itu kembali membentak.
“Sudah, sudah, kalian kenapa ribut terus sih? Ayo makan dengan tenang!” sang Ayah sebagai kepala keluarga segera melerai, menatap anggota keluarganya satu persatu, hingga mereka terdiam, lalu duduk dengan tenang.
“Ayang! Tungguin, kita kan satu sekolahan, jadi kita harus bareng” gadis itu berlari setelah sempat hampir ditinggal oleh pria yang tengah dikejarnya.
“Lo berangkat sendiri!” pria itu berdecak malas, lalu menggunakan helm dan bersiap menaiki motor sport keluaran terbaru yang akan digunakannya berangkat sekolah.
“Ayang kan suami aku, suami itu tugasnya melindungi istri” ucapnya tak ingin kalah.
“Apa?” dengan menahan marah pria itu kembali membuka helmnya.
“Dengar ya! Kita memang suami istri! Tapi itu menurut Lo! Karena Lo yang mau!” pria itu kembali membentak, membuat nyali gadis dihadapannya menciut.
“Tapi Ayang ...” gadis itu menunduk takut-takut, masih ingin menjawab, namun nyalinya sudah menipis.
“Jangan pernah bilang di hadapan siapapun kalau kita sudah menikah! Dan satu lagi! berhenti panggil Gue Ayang! Karena Gue jijik dengernya!” pria itu kembali mengingatkan dengan tak berperasaan.
“Terus aku harus panggil Ayang apa?” gadis itu bergumam pilu, masih dengan menunduk. Sementara pria itu tidak peduli, memilih kembali menggunakan helmnya, lalu mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, suara deru mesin motor membuat gadis itu sedikit terperanjat dengan tangan bergetar kaget.
“Makanya jadi cewek jangan mu ra han!” gadis yang sedari tadi menabuh genderang perang membuka jendela mobilnya, lalu menutupnya kembali, dan meminta sopirnya untuk segera melajukan mobil yang mengantarnya berangkat sekolah.
“Sayang, kamu belum berangkat?” pria bijaksana yang selalu membelanya membuka kaca mobilnya, lalu melongokkan kepalanya.
“Belum Pih” gadis itu masih menundukkan kepalanya.
“Briyan ninggalin kamu? Keterlaluan anak itu!” geram sang Papih membuka pintu mobilnya, mempersilahkan gadis malang itu untuk memasuki mobilnya.
“Iya Pih, mungkin Briyan buru-buru” gadis itu menunduk mencari alasan.
“Maafin Briyan ya Asha” Papih melirik gadis yang tengah menatap keluar jendela mobilnya, setelah hampir sampai di pertengahan jalan.
“Briyan gak salah kok Pih” Asha tersenyum lalu menggeleng, membuat Papih menggelengkan kepalanya bingung.
“Sudah sampai Pih” Asha terkekeh kala mobil yang ditumpanginya malah berjalan hampir melebihi lokasi sekolahnya.
“Ah ya, maaf Papih kelebihan nyetirnya, anggap saja ini bonusnya” kedua orang beda usia itu terkekeh bersama.
Asha keluar dari mobil mewah yang membawanya, setelah sebelumnya dia mencium tangan Papih mertua dengan takjim, lalu berjalan menuju gerbang sekolah, hampir saja dia terlambat, namun untung saja masih ada waktu lima menit menuju bel tanda masuk sekolah.
Matanya mengedar kala tiba di parkiran siswa, menilik motor sang suami yang harusnya sudah berada disana, namun gadis itu menggelengkan kepalanya, kala tak di dapatinya motor tersebut.
“Ayang kemana dulu sih?” gumamnya kesal.
Tak lama kemudian terdengar suara motor yang tengah berhenti di belakangnya, kemudian Asha melirik, dan tepat! Dia melihat suaminya tengah memarkirkan motornya, di belakangnya seorang perempuan berseragam abu-abu turun dari motor tersebut.
“Ayang!” merasa dikhianati, gadis itu segera berlari memekik, menghampiri suaminya.
“Ck! Lo lagi, Lo lagi” perempuan yang baru berhasil turun itu memutar kedua bola matanya malas.
“Ayang, kamu ninggalin aku dan jemput dia?” gadis itu bertanya penuh rasa kecewa.
Kesal! Tentu Briyan merasa waktunya diganggu, berulang kali dia memperingatkan agar jika di hadapan umum, perempuan itu tidak memanggilnya dengan sebutan ‘Ayang’.
“Heh! Perempuan halu! Bisa gak sih? Lo itu sehariii aja gak ganggu Briyan? Asal Lo tahu, Briyan sama Gue itu udah jadian! Kita pacaran!” ucap gadis yang diketahui bernama Raisya itu berkacak pinggang, menjelaskan dengan raut pongahnya.
Mata Asha membulat, tatapan kaget mendominasi.
“Ayang beneran jadian sama dia?” gadis itu bertanya dengan nada kecewa.
Namun alih-alih menjawab Briyan malah pergi meninggalkan dua gadis yang kini tengah saling menatap dengan tajam, tak ingin peduli pada keduanya, pria itu cukup pusing dengan semua yang terjadi pada hidupnya.
“Lo! Awas ganggu Briyan Gue lagi!” gadis berbody ramping itu mengingatkan dengan tegas, berjalan melewati gadis itu setelah sempat menyenggol bahunya cukup keras.
“Briyan itu suamiku” tatapan gadis itu tertuju pada tanah, tangannya bergetar hebat, sementara itu bel sekolah sudah berbunyi sedari tadi, dan Asha, gadis itu memilih untuk tidak peduli.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Elen Situmorang
sdh di-like..emang like
2024-02-14
0
Eka Suryati
like dan komen tetap akan diberikan
2023-11-03
0
Eka Suryati
Sementara biarkanlah dengan rasa penasaran diriku sebagai pembaca. Walau ada gambaran tapi seutuhnya biarkan Author yg bercerita, aku nyimak aja ya.
2023-11-03
0