20. Damai.

Nara menyadari dukungan semakin tipis. Nara punya kesibukan di dunia nyata setelah berada di tempat yang baru. Terima kasih banyak bagi pembaca yang sudah menyempatkan diri untuk mampir 🙏.

🌹🌹🌹

"Demi Allah semua di luar kesadaranku San. Kata Dena aku mengucapkannya saat tidur." Sudah jujur sejujur-jujurnya Bang Bara mengakui semua.

"Sampai kapan kamu akan menyimpan rasa untuk istriku? Dia bukan tanggung jawab yang pantas kamu perjuangkan." Tegur Bang Sanca, sebenarnya hatinya merasa sangat sakit dengan kenyataan ini tapi tidak ada yang bisa menolak rasa sekalipun dirinya.

"Aku sedang berusaha melupakannya San. Aku menyadari sudah punya istri." Jawab Bang Bara.

"Basi Bar, bagaimana bisa aku percaya kata-kata mu??" Ucap kesal Bang Sanca.

"Hati kecilku mungkin masih menyimpan rasa untuk Hemas, tapi aku sudah punya rasa untuk wanita lain dan itu adalah Dena.. istriku yang saat ini sudah mengandung buah hatiku." Bang Bara sudah berusaha menjelaskan segala hal bahkan sejujurnya yang sedang ia rasakan saat ini.

Bang Sanca terdiam sejenak, sama seperti dirinya. Ia pun merasakan hal yang sama seperti Bang Bara.. setelah Hemas mengandung, segala apapun yang ada dalam dirinya hanya tertuju untuk Hemas seorang.

"Aku pegang kata-katamu, tapi tolong didik dan nasihati istrimu. Jangan melakukan sesuatu di luar batas atau dia akan menangis karena ku tegur..!!" Ancam Bang Sanca.

"Aku paham. Aku akan menasihati istriku Dena."

...

Agaknya nasihat dari Bang Bara salah arah di dalam hati Dena. Keadaannya yang sedang mengandung membuatnya menjadi lebih sensitif dari sebelumnya. Jauh sebelum dirinya mengandung.

"Dengar dek. Abang tidak bermaksud untuk membela Hemas. Cemburu boleh saja asalkan tidak berlebihan. Abang yang salah karena pernah memimpikan dia tapi dia tidak pernah dan tidak akan merespon mimpi Abang khan?" Hati-hati sekali Bang Bara membujuk Dena.

"Masalahnya di alam bawah sadar Abang adalah kejujuran yang sesungguhnya dan tidak di buat-buat." Ucap Dena yang tidak sepenuhnya bisa di salahkan.

Bang Bara mengangguk getir menyadari selama ini tanpa sadar sudah menyakiti hati istrinya. Jika keadaan tersebut di balik sudah barang tentu dirinya pun tak sanggup menerima jika mungkin Dena masih memiliki rasa pada mantan kekasihnya. Ia segera memeluk Dena dari belakang berharap hati sang istri bisa segera melunak.

"Maafkan Abang. Bukannya Abang selalu mengingatnya. Abang sedang berjuang melupakannya demi kamu.. demi anak kita. Kamu mau khan bantu Abang agar bisa melupakan Hemas." Kata Bang Bara.

Seketika hati Dena luluh dalam dekapan hangat dan kata lembut dari seorang pria yang kini sudah merajai relung hatinya.

"Iya Bang, Dena pun akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Abang dan ibu yang baik untuk anak kita." Jawab Dena.

"Terima kasih banyak sayang." Bang Bara mendaratkan satu kecupan di pelipis Dena.

***

Pagi ini ada kegiatan di Batalyon. Hemas belum begitu sehat tapi dirinya berusaha ikut bergabung mengikuti kegiatan bersama istri anggota yang lain.

Tak sengaja dirinya berpapasan dengan Dena. Ia ingin menghindar tapi siapa sangka Dena berdiri di hadapannya dan memeluknya erat, hal itu menimbulkan sedikit rasa cemas dalam hati Hemas.

"Suami kita adalah sahabat, kuharap kamu mau memaafkan salah dan sikapku yang tidak dewasa. Bisakah mulai saat ini kita berteman?" Tanya Dena.

Seulas senyum menghias wajah Hemas. Mana mungkin dirinya menolak. "Sudah sejak lama kita berteman, hanya saja kita kurang dekat layaknya suami kita yang sudah seperti saudara sedarah." Jawab Hemas.

Sedikit kelegaan dalam hati Dena. Ia mengeratkan pelukannya.

"Aku memang mantan dari suamimu, tapi itu hanya cerita di masa lalu. Sekarang aku sangat mencintai Bang Sanca.. Ayah dari anakku."

"Iya Hemas. Aku tau."

Mereka berdua pun akhirnya mengurai ketegangan dan berjalan berdua menuju gedung pertemuan. Tak jauh dari tempat mereka, Bang Sanca dan Bang Bara ikut bernafas lega.

"Akhirnya aku nafas juga pot." Kata Bang Bara.

"Itu karena kebodohanmu sendiri, tidak bisa menahan perasaan. Kalau istri sedang panas seharusnya kamu menenangkan."

"Apa kau lihat selama ini aku diam saja?? Kau jawab sendiri, berhadapan dengan bumil itu susah atau tidak??" Bang Bara balik bertanya.

"Heeh setan, apa aku bisa tau isi hatimu??? Selama ini kau hanya mengabariku sepotong tentang Hemas dan setelah aku kembali malah harus dengar berita busuk seperti ini. Kesal sekali aku lihat wajahmu." Gerutu Bang Sanca.

Bang Priyo yang sedari tadi mengunyah jambu hanya bergantian menatap perdebatan kedua sahabatnya. "Kalian ini keterlaluan, setidaknya kalian pahami perasaanku yang jomblo ini. Kalian hanya berdebat tentang istri.. aku malah sebentar saja belum pernah pacaran, prihatin lah sedikit denganku. Aku juga mau punya anak seperti kalian..!!" Cerocos Bang Priyo dengan jengkel.

Masih dalam kejengkelan Bang Priyo, ada seorang anggota yang mendekati mereka.

"Ijin Dan..!!"

"Ada apa?" Tanya Bang Sanca.

"Ijin.. Ibu Sanca minta uang dan berharap komandan datang menemui beliau sedangkan Ibu Bara minta minuman yang ada warnanya..!!"

"Haaaaa.. opo kuwi Bar?"

Bang Bara mengendikan bahunya. "Air yang berwarna itu apa?" Bang Bara tak kalah bingung.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Iis Cah Solo

Iis Cah Solo

ayoooo mba nara semsngaaaatttt..💪💪💪💪👍👍👍👍👍

2023-10-08

0

Ade Safitri

Ade Safitri

🙏 mba Nara..waktu itu Dena ngaku hamil bohongan ya???

2023-03-27

2

putri

putri

semangaaaat thooor

2023-03-27

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!