Bang Sanca mengeluarkan seadanya uang dari dalam dompetnya. Hanya berisi tiga ratus lima puluh ribu saja. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Bang Bara tapi littingnya itu tidak menyahut.
"Ada apa San?" Tegur Bang Abimanyu.
"Uang cash saya hanya tersisa tiga ratus lima puluh ribu saja Bang, saya sudah nggak boleh kemana-mana. Dinda Hemas seorang putri, apa ini tidak terlalu merendahkan harkat dan martabat seorang putri?" Tanya Bang Sancaka.
"Kamu merendah sekali. Abdi dalem sudah membelikan semua pesananmu. Uang hanya nominal. Seserahanmu juga sudah bagus untuk pria yang tidak memiliki pendamping." Bang Abimanyu terus membesarkan hati Bang Sanca. "Abang mau tanya, berarti selama ini kamu sudah kenal Hemas khan?"
"Siap.. sudah Bang."
"Kamu punya pacar? Masa perwira tidak punya pacar? Tantama, Bintara saja punya."
"Siap.. ada Bang. Setelah menikah nanti tidak akan ada lagi pacar." Jawab Bang Sanca.
"Laahh.. kalau pacarmu nuntut piye?" Bang Abimanyu menguji mental Bang Sanca.
"Kedudukan Dinda Hemas lebih tinggi dari seorang pacar. Jika memang nantinya saya terlibat masalah dengan wanita lain, saya menerima apapun segala keputusan dari Dinda Hemas dan pihak keluarga."
Di balik pintu, Bang Wilang mendengar semuanya dengan wajah datar.
//
Bang Wilang bersandar resah di dada istrinya. Mbak Iyang mengusap kening Bang Wilang dengan lembut.
"Ada apa sih Mas? Kenapa uring-uringan terus?"
"Mas nggak tega gadis sekecil itu harus nikah, malah di permainkan Bara segala. Hati Mas sakit sekali Dinda." Jawab Bang Wilang. "Mas takut Hemas nggak kuat menjalani biduk pernikahan. Apakah nantinya Sanca bisa sayang sama Hemas. Sanca itu garang, kaku, galaknya bukan main, perintahnya pahit sekali tidak bisa di bantah, mas khawatir dia kasar sama Hemas."
Mbak Iyang mendongak dengan senyumnya. "Ya sama seperti yang ngomong ini. Dulu Kangmas juga menikahi Dinda di usia belasan tahun, nyatanya Dinda baik-baik saja..!!"
"Kepala Kangmas pusing Dinda.. kita ke kamar saja yuk..!!" Ajak Bang Wilang.
"Mas bisa di percaya nggak nih? Mana yang pusing?"
"Aahh Dinda ini pura-pura nggak tau. Ya ke_pa_la. Ayo too..!!" Rengek manja Bang Wilang.
...
Setelah mendapatkan berbagai tutorial dadakan dari Bang Larung dan Bang Abimanyu.. Bang Sanca pun sudah teguh hati untuk menghadap seluruh keluarga karena Bunda Ratih juga sudah semakin sehat.
".... Niat kulo badhe nyuwun Ndoro Ayu Tadah Hening Masmedayu adamel garwa kulo. ( .... Niat saya ingin meminta Ndoro Ayu Tadah Hening Masmedayu menjadi belahan jiwa saya. ).
"Kalau memang begitu, tidak ada alasan saya untuk menolak niat baikmu.. tapi alangkah baiknya jika Ndoro Ayu sendiri yang menjawabnya.
Dari balik layar, hanya ada gambaran siluet bentuk tubuh Dinda Hemas. Kening proporsional dengan wajah, hidung mancung, bibir tipis, suaranya pun lembut menggetarkan hati.
"Matur sembah nuwun Kangmas, Dinda menerima pinangan Kangmas Dalu Sancaka." Ucapnya terdengar sesak karena Bang Wilang tidak ikut dalam acara tersebut.
***
Keesokan harinya, resah dan gelisah menghinggapi hati Bang Sanca. Perasaannya yang terdalam sudah mantap untuk menikahi Hemas namun ada beban yang mengganjal bahwa dirinya kini telah mengetahui status Hemas, posisinya serba salah. Ia pun syok masuk dalam lingkungan yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya. Kolonel Wilang, Komandan Markas adalah kakak kandung calon istrinya.. Hemas.
"Ayo San.. kamu nggak berniat berubah pikiran khan?" Tegur Bang Larung.
"Tidak Bang..!!"
"Ya sudah, cepat..!!"
:
Akad nikah sedang berlangsung. Sejadi-jadinya Hemas menangis dan terus mamanggil Abangnya. Bang Sanca sampai cemas di buatnya. Saat itu Mama Ruji datang bersama Bang Bara.
Niat bara untuk menunjukan bahwa Hemas telah menikah malah membuat Mama Ruji menyesal. "Kenapa kamu tidak bilang kalau dia putri raja?????"
"Sah..!!"
Semua terlambat sudah saat para hadirin turut mendoakan kedua mempelai.
"Mas Wiill.. Maas Wiiill.." Hemas merasa dadanya sesak hingga ambruk ke dalam pelukan Bang Sanca.
"Dindaaa..!!" Bang Sanca menepuk pipi Hemas.
Tak lama Bang Wilang datang dan langsung membopong adik bungsunya.
~
"Maas Wiiill..!!" Hemas terus memanggil Abangnya.
"Mas disini..!!" Bang Wilang menempelkan tangan Hemas di pipinya.
"Hemas minta maaf, belum bisa jadi adik yang baik. Hemas masih menyusahkan Mas Wil."
"Dinda nggak salah, Mas yang terlalu keras mendidikmu. Ada kurang lebihnya Mas Wil.. tolong berikan ribuan keikhlasan maafmu Dinda..!!"
Hemas memeluk Abangnya. "Ijinkan Hemas menikah dengan pria pilihan Hemas sendiri, restui adikmu Mas..!!"
"Mas kalah, Mas mengalah.. Mas merestuimu. Mas hanya takut kamu tidak bahagia..!!" Jawab Bang Wilang.
"Hemas akan selalu bahagia."
Bang Wilang memeluk dan menciumi adik kecilnya berkali-kali. Siapa sangka Bang Wilang lemas tanpa daya hingga Bang Larung, Bang Abimanyu dan Bang Sanca harus membopongnya.
~
"Apa ini San??? Kamu tidak bilang kalau Hemas adalah seorang Sekar Kedaton."
"Aku terhimpit waktu, tidak ada waktu untuk menghubungimu, lagipula kemarin kamu kemana saja??" Tanya Bang Sanca.
"Aku membahagiakan Mamaku." Jawab Bang Bara.
"Aku tidak melarangmu membahagiakan orang tuamu, tapi lihat sikon Bar..!! Keadaanku juga terjepit. Kau lihat itu keluarga Hemas semuanya komandan. Apa kamu masih mau lanjut bermain-main??" Tegur Bang Sanca.
"Apa sekarang artinya kamu tidak akan melepaskan Hemas??"
"Apa aku harus menyakiti hatinya??" Bang Sanca balik bertanya.
"Hemas mencintaiku, dia tidak akan bahagia sama kamu..!!" Ucap tegas Bang Bara.
Bang Sanca menggeleng gemas, ia pun meninggalkan Bang Bara sendirian.
~
"Singkirkan mbok.. itu urusan rumah tangga Raden dan ndoro ayu..!!" Perintah Bang Wilang.
"Baik Raden..!!"
"Itu apa Bang?" Tanya Bang Sanca yang sangat awam dengan aturan.
"Bukti kesucian istrimu. Itu privasi dan hal ini adalah urusan pribadimu dengan istrimu atau mungkin kamu malah tidak akan menyentuh istrimu." Jawab Bang Wilang sinis dan tajam.
"Mungkin tidak untuk saat ini Bang, tapi saya akan memperlakukan Dinda Hemas layaknya seorang istri. Saya tidak ingin memaksakan kehendak saya sebagai laki-laki. Saya akan menunggunya sampai hati Dinda Hemas siap."
"Saya ini laki-laki, saya paham otak kotormu."
Bang Sanca menghela nafas, berhari-hari dirinya sudah mencoba untuk sabar tapi krisis kepercayaan dari Bang Wilang semakin lama membuatnya tertekan juga.
"Saya juga punya hati Bang, saya tidak akan tega menyakiti perempuan.. saya juga lahir dari perempuan." Nada suara Bang Sanca mulai meninggi.
Bang Wilang menyimpan senyumnya.
"Lemah, jangan sampai kau keduluan Bara..!!"
Bang Sanca mengepalkan tangan, hatinya terasa panas merasa di remehkan Abang iparnya. "Jangan meremehkan aku Bang..!!!!" Akhirnya ucap geram itu keluar juga.
~
"Abang keterlaluan sekali..!!"
"Biar saja, kalau Hemas hamil.. Bara tidak akan bisa berbuat apapun. Kau tau sendiri bagaimana sifat Sanca. Biarkan sifat predatornya keluar."
"Ya Tuhan jauhkan aku dari sifat sepertimu Bang, dulu aku pusing karenamu.. sekarang harus ada Sanca lagi. Aku juga butuh tenang Bang." Protes Bang Abimanyu.
"Sabar, nanti kalau sudah pensiun." Imbuh Bang Larung.
"Iya kalau jantungku masih kuat, kalau nggak???????" Bang Abimanyu menyambar kopinya yang masih panas.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
bang wilang takut klau adiknya nggk bahagia...insya alllah pasti bahagia doong bang...jng kwatir...😊😊😊😊
2023-10-07
0
🦋 Jack and Jill 🦋
hah, mama nih bikin pengen tampol pake duit segepok aja 😒
2023-04-02
1
🦋 Jack and Jill 🦋
ngga sadar diri nih 😏 se se ku kasih cermin bang
2023-04-02
1