Bang Sanca menarik nafas dalam-dalam. Ia mengintip kegiatan para anggota di balik pohon mahoni. Nampaknya kali ini dirinya harus menekan ego dalam diri sekuatnya. Dirinya yang belum sepenuhnya menemukan titik temu perdamaian dengan sahabatnya Bara malah harus berdamai dengan kenyataan karena ngidamnya sang istri.
"Ngintip apa bro."
"Haghhh.." Bang Sanca berjingkat kaget saat ada seseorang yang menyentuh pundaknya. "Astaga Priii.. ada apa???" dengusan kesal terlepas begitu saja dari bibir Bang Sanca.
"Naahh.. lu yang apa? Kenapa harus ngintip?? Bukannya nyamperin aja kesana..!!" Kata Bang Priyo.
~
Bang Priyo tak hentinya menertawakan kesusahan sahabatnya. Ia tau pasti Bang Sanca sangat berat berdekatan dengan Bang Bara apalagi setelah pertikaian besar di antara mereka satu setengah bulan yang lalu.
"Terus saja tertawa. Aku tidak mau bertemu wajah dengan dia, tapi istriku ngidam.. aku tidak bisa berkutik." Ucap gusar Bang Sanca sembari mengusap perutnya yang agaknya mulai ada tanda-tanda kambuh.
"Demi anak Kang.. tego?????"
Untuk sejenak Bang Sanca terdiam. Setelah membuang nafas panjang akhirnya ia mantap melangkahkan kakinya.
~
"Hmm.. kapan?" Jawab Bang Bara sembari menghisap rokoknya. Wajahnya terlihat santai saja saat Bang Sanca meminta dirinya lomba balap karung dengan suami wanita yang sangat di cintanya itu.
"Nanti sore."
"Alhamdulillah.. aku cari karung dulu." Pamit Bang Priyo.
"Yang besar Pri..!!" Kata Bang Sanca.
...
Sore hari Hemas sudah duduk di tepi lapangan. Ia sudah menunggu sang suami yang akan bersiap untuk lomba balap karung. Dari sebelah Utara terlihat Bang Priyo berlari membawa kantong plastik dan sudah pasti ada karung di dalamnya.
Bang Priyo terengah-engah lalu menyerahkan karung itu pada Bang Sanca dan Bang Bara, keduanya pun menerimanya.
Begitu Bang Sanca dan Bang bara membukanya, kedua bola mata itu membulat besar.
"Priyoooo.. yang benar aja lu. Ini yang mau balap karung, aku atau anak kucing???? Kamu cari ukuran lima kilogram begini." Protes Bang Sanca.
"Ngelindur lu ya. Setengah kaki aja nggak masuk pot." Imbuh Bang Bara.
"Aduuuhh.. mana nih si Baim. Dia nggak dengarkan perintah." Sambil menggaruk kepalanya, Bang Priyo celingukan mencari Prada Ibrahim.
"Masa tinggi seratus delapan puluh begini di suruh pakai karung lima kiloan." Omel Bang Sanca sembari menjauhi Bang Bara.
Bang Bara yang tingginya seratus tujuh puluh sembilan sentimeter pun hanya menggeleng dengan tawa gelinya.
"Baiiiiiimm...!!!!!!!!!" Teriak Bang Priyo.
"Siaaap..!!" Prada Baim berlarian menghampiri Lettu Priyo yang memanggilnya.
Pllkk..
Bang Priyo menepak topi Prada Baim. "Apa tadi saya bilang???"
"Siap.. cari karung untuk Danton." Jawab Prada Baim.
"Kalau untuk Danton seharusnya kamu cari ukuran yang besar. Kalau ukuran lima kilogram begini sepatu jenggel nya saja nggak masuk. Dantonmu mau balap karung.. ibu Danton ngidam." Kata Bang Priyo menjelaskan.
"Ooohh.. siap salah. Komandan tidak jelaskan maksudnya."
"Kamu mau menyalahkan saya??????" Mata Bang Priyo membulat dan menekan Prada Baim dengan tatapannya.
"Siaaap.. tidak berani Dan."
Di sisi lapangan, Hemas sudah menunggu dengan resah. Udara tidak begitu panas dan malah cenderung dingin tapi kemudian ia merasakan badannya sangat letih.
"Hhkkkk.." Bang Sanca berlari menjauh ke sekitar semak-semak. Berpegangan pada sebatang ranting pohon, ia menumpahkan semua isi perutnya.
Bang Bara menoleh sahabatnya, apapun yang telah terjadi di antara mereka.. hatinya tetap tidak sampai hati melihat Bang Sanca tersiksa, ia pun segera menghampiri untuk membantu.
Hemas merasakan sesak, perutnya seakan di aduk dengan kuat. Rasa mual terus menyiksanya hingga kepalanya terasa berat.
"Hhhhhkkk.." Bang Sanca semakin parah saja.
"Baim, cepat cari karung..!! Kamu tolong bantu saya Pri.. cari buah apa gitu yang segar. Perut Sanca pasti kosong."
//
Bang Priyo tersenyum melihat beberapa orang putri dari anggotanya sedang bermain di halaman rumah.
"Waahh.. ada buah jambu. Om Pri boleh minta nggak dek? Om Sanca lagi sakit nih." tunjuk Bang Priyo pada salah satu keranjang buah berukuran sedang.
"Boleh Om, aku masih punya banyak." Kata gadis kecil tersebut.
"Waaahh.. terima kasih anak baik."
Gadis kecil itu memberikan beberapa buah pada Bang Priyo dan Bang Priyo segera meninggalkan tempat.
Tak lama ayah dari si gadis keluar dari dalam rumah. "Ya ampun Aisyah.. Kenapa buah ini di bawa keluar, ayah baru kupas kulitnya." Ayah Aisyah mengambil keranjang buah tersebut namun baru tiga langkah berjalan ia menoleh. "Kok isinya berkurang banyak dek?"
"Tadi Om Pri minta jambunya yah soalnya Om Sanca lagi sakit." Jawab Aisyah.
Praka Sukanto melonjak kaget. "Astagfirullah Aisyaaaah.. ini buah kecubung, bukan jambu. Ini buat makan burung ndhuk..!!!! haduuuhh.. ayah bisa di gulung komandan." Praka Sukanto segera meletakkan keranjang buah menyambar kunci motor.
//
Bang Bara dan Bang Priyo panik melihat Bang Sanca berkelakuan tidak biasa. Sesaat tadi Bang Sanca bernyanyi kemudian berteriak mencari giginya, tak lama Bang Sanca berjongkok, kepalanya menghadap ke sudut ruangan.
"Kamu lagi apa San?" Tanya Bang Bara.
"Hhsstt.. aku batu."
Entah apa yang di rasakan Bang Bara. Ingin tertawa tapi juga sedih, ia menghampiri Bang Priyo. "Sanca kamu kasih apa??? Mana buahnya?????"
~
"Dungu betul kau ya.. kamu tidak bisa bedakan antara jambu dan kecubung???? Lihat itu?? Sanca sudah seperti orang gila. Sedikit-sedikit jadi batu, sebentar lagi tiarap jadi daun. G****k lu..!!" Bentak Bang Bara ikut stress karena ulah sahabatnya.
"Bar, itu Sanca buka baju. Mau apa tuh???" Kata Bang Priyo memutus omelan Bang Bara.
"Astagfirullah.. mau apa kamu San???" Secepatnya Bang Bara menghampiri Bang Sanca. "Heeehh.. jangan buka yang itu..!!! Pekok tenan to kowe San... Duuuhh mumet akuu..!!!!"
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
mabuk kecubung bang sanca...kocak tenan...😀😀😀😀😀
2023-10-08
0
ᵉᶜ✿ 𝕜𝕙𝕠𝕚𝕣𝕦𝕟 𝕟𝕚𝕤𝕒
jadi ingat temanku dulu yg mabuk kecubung
2023-04-17
2
timbuljaya
🤣🤣🤣🤣🤣🤣guuuubraaaax....sanca makin oleng dah tuh.
2023-03-12
2