18. Pulang.

"Dena tidak marah Bang, Dena hanya ingin Abang mengerti kewajiban Abang sebagai seorang suami."

Bang Bara mengangguk sembari mencium kening Dena. "Iya sayang.. iyaa.. Abang janji..!! Maafkan Abang selama ini belum bisa menjadi imam yang baik untuk kamu."

...

Hemas di tempatkan satu ruangan bersama Mbak Iyang agar Bang Wilang bisa mengawasi keduanya tanpa cemas.

Dokter Hagi masuk ke kamar rawat para wanita Bang Wilang.

"Hemas hamil." Bisiknya.

"Kau serius?" Tanya Bang Wilang.

"Serius lah, apa wajahku terlihat seperti sedang bercanda?" Jawab dokter Hagi. "Usia kandungan sudah masuk empat belas minggu.

Seketika kepala Bang Wilang terasa pening. "Bukan main si Sanca. Asal sembur sembarangan." Gumam Bang Wilang.

"Ada apa Mas?" Tanya Mbak Iyang.

"Haaa.. nggak, ini.. Hemas harus banyak istirahat. Darah rendah." Jawab Bang Wilang bingung sendiri.

"Kenapa kamu nggak bilang kalau Hemas hamil?" Tanpa di duga dokter Hagi langsung membuka suara.

"Hamil???"

"Ha_mil??? Hemas hamil sama siapa Bang??" Hemas langsung saja histeris mendengarnya.

//

"Awaaaaass.." Bang Sanca mendorong seorang anggotanya.

doooorr..

"Leettt..!!"

"Ratakan semua..!!!" Perintah Bang Sanca. "Hancurkan markasnya..!!!" Bang Sanca menahan luka di tubuhnya. Team kesehatan segera mengambil alih Lettu Sanca.

-_-_-_-_-

"Jahat sekali. Hemas menunggu Abang pulang. Sekesal-kesalnya Hemas sama Bang Sanca.. Hemas mencintainya."

"Abang tau, sudahlah.. Sanca pasti akan pulang. Abang sudah dengar kabar kalau Sanca sudah menyelesaikan misinya. Sekarang malah gantian dia yang tidak tau kalau kamu hamil." Jawab Bang Wilang masih memeluk dan menenangkan adik bungsunya.

"Hemas marah sama Bang Sanca." Hemas terisak-isak karena memang ada rindu yang tidak tersampaikan.

Mbak Iyang tersenyum melihat adik iparnya. Ada kisah cinta yang penuh liku dalam kehidupan Hemas dan Bang Sanca.

***

Keesokan harinya Hemas mengikuti acara penyambutan para anggota yang baru pulang dalam tugas dinas khusus dan Hemas baru menyadari bahwa suaminya menjadi Dantim kegiatan tersebut, sejak kemarin yang dirinya tau sang suami sedang berada dalam tugas yang tidak rawan dan minim sinyal.

Para anggota sudah turun dari truk namun hanya sosok Lettu Sanca saja yang tidak terlihat. Hemas mengedarkan pandangan ke segala arah hingga ia melihat Bang Priyo berlarian panik.

"Tandu donk..!!" Pintanya.

"Bang Pri.. siapa yang di tandu??" Tanya Hemas.

"Sanca tertembak." Jawab Bang Priyo tanpa melihat siapa lawan bicaranya.

"Priii.. aahh bagaimana sih lu, ingat pesan Sanca atau tidak????" Tegur Bang Bara yang saat itu akan membantu Bang Priyo mengangkat Bang Sanca menggunakan tandu.

"Mana aku tau itu Hemas." Kata Bang Priyo.

Kaki Hemas terasa lemas, pandangannya terasa kabur berkunang-kunang, ia nyaris tumbang.

"Bang Sanca.. Abaaaaaaaaaanggg..!!!!!!" Hemas berteriak panik hingga refleks Bang Bara melepas tandu yang sedang di bawanya dan berlari menghampiri Hemas.

"Dek.. tenang dulu..!!' bujuk Bang Bara menenangkan Hemas.

"Lepaass..!!!! Hemas mau lihat keadaan Abang..!!!!!" Pinta Hemas meronta-ronta.

Tak lama ada bayangan yang berjalan pelan di samping truk dan akhirnya nampaknya sosok disana.

"Lepas Bar..!! kurang ajar sekali kau ya, benar-benar tidak amanah." Tegur Bang Sanca.

Bang Bara melepas genggamannya dan segera menjauhkan diri dari Hemas.

Kaki Hemas semakin gemetar, Bang Sanca melihat perut Hemas yang sedikit lebih membuncit. Hemas salah tingkah, ia takut Bang Sanca tidak akan percaya padanya seperti dulu. Ia pun mundur beberapa langkah.

Tau sang istri sangat takut padanya.. Bang Sanca berjalan mendekat. "Apakah ini hadiah ulang tahun untuk Abang?" Tangan Bang Sanca menyentuh perut sang istri. Saat ini penampilannya gondrong, berkumis, berjambang tebal dan acak-acakan

Hemas mengangguk takut.

Bang Sanca mengecup kening Hemas lalu menekuk kedua lututnya dan mencium perut Hemas. Ia bersandar lemas menumpahkan tangisnya. "Anak Papa, sehat selalu sayang..!! Papa sudah menantikan kehadiranmu." Ucapnya. Rasa bahagia Bang Sanca menutup rasa nyerinya akibat tembakan peluru yang bersarang di bawah tempurung bahunya.

"Papa rindu Mama atau tidak? Kenapa Mama tidak di ajak saat jemput adek? Keterlaluan sekali." Ledek Hemas.

Akhirnya Bang Sanca tersenyum geli mendengar protes sang istri. Memang sudah dua kali Bang Sanca selalu diam-diam saja. "Maaf Ma, nanti malam Papa ajak nengok adek..!!" Bisik Bang Sanca.

"Lettu Sanca..!!"

"Siap..!!" Bang Sanca langsung berdiri dengan sikap sempurna saat mendengar Bang Wilang menegurnya. Tak lama Bang Sanca memercing meremas dadanya.

Bang Wilang segera memeluknya. "Abang bangga sama kamu San. Kamu satu-satunya perwira yang berani memberikan perintah pada anggotamu untuk meledakkan sarang musuh dan mengambil seluruh persenjataannya."

"Itu bukan hal yang patut di gemborkan Bang. Masih banyak prajurit yang penuh prestasi." Jawab Bang Sanca terbata.

"Masih kuat tempur Let?" Tanya Bang Wilang.

"Siap Bang, kuat kalau sama istri." Jawab jujur Bang Sanca tapi kemudian bersandar di bahu Abangnya hingga terdengar suara asing.

"Heeh kalian, berapa lama Dantim tidak tidur??" Bang Wilang menegur anggota Bang Sanca saat mendengar iparnya mengorok di bahunya.

"Ijin.. tiga hari terjaga Komandan..!!"

"Pantas, cepat rawat Dantim kalian..!! Kotor sekali." Perintah Bang Wilang.

"Biar Hemas yang mandikan Bang." Pinta Hemas.

"Cckk.. akhirnya Abangmu juga yang turun tangan..!!"

...

Guyuran air tak juga menyadarkan Bang Sanca yang di sandarkan pada sebuah kursi.

"Apa selama ini kalian tidak menemukan air bersih untuk mandi??" Tegur Bang Wilang yang ikut repot memandikan adik iparnya.

"Ijin, tidak ada Komandan. Minim sumber air." Jawab anggota tersebut.

"Dakimu Astagfirullah.. Sancaaaa..!!" Gerutu Bang Wilang.

Bang Bara datang membawa air hangat pada sebuah ember besar lalu menuangnya. "Maklum lah Bang, berapa bulan dia bertugas."

"Untung kau ini ganteng San." Bang Wilang menggosok gigi Bang Sanca dengan telaten lalu menyekanya agar busanya tidak tertelan. Tak lama Bang Wilang melirik Hemas. "Kenapa berdiri saja, cepat gosok badannya pakai sabun..!! Lepas celananya..!!"

"Malu lah Bang" jawab Hemas lirih nyaris tak terdengar.

Bang Bara, Bang Priyo dan Bang Wilang menunduk menahan tawa melihat tingkah Hemas.

"Kenapa harus malu sih, ini suamimu lho." Kata Bang Wilang.

Seorang anggota yang sedang mencukur rambut Bang Sanca bersama Bang Priyo pun nyaris tak bisa menahan tawanya.

"Itu Bang, anu.. soalnya..........."

"Halaah.. cepat..!!" Bang Wilang menarik tangan Hemas sampai tidak sengaja menyentuh sesuatu.

"Bang Sanca ngantongin apa ya?" Tanya polos Hemas.

Seketika para pria menunduk menyembunyikan wajahnya, mereka tertawa geli melihat polosnya istri Lettu Sanca.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Iis Cah Solo

Iis Cah Solo

awaass hemas bang sanca ngantongin bom molotof😂😂😂😂

2023-10-08

0

caaam

caaam

lanjut thor

2023-03-22

2

👑Keluarga author

👑Keluarga author

keren 🥰🥰🥰

2023-03-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!