7. Mulai luluh.

"Ampuuuuuunn Dindaaaa.." "Hhhhhkkk.."

byyyyrrr

"Rasakan, kamu yang menjemput masalahmu sendiri." Ledek Bang Wilang.

"Baaang.. aku nggak kuat..!!"

"Eeeeeeehhh.. Sancaaa.. ya ampun.. tolongin saya donk..!!" Pinta Bang Wilang karena Bang Sanca tiba-tiba merosot lemas.

Bang Bara segera berdiri membantu sahabatnya itu. "Kualat lu nuduh gue."

Bang Sanca tidak menggubris perkataan sahabatnya, ia hanya terus berusaha sadar agar bisa melangkah.

"Dek, maafin suamimu..!!" Kata Bang Wilang.

Hemas memalingkan wajahnya, tangisnya semakin bertambah terisak. Saat itu juga rasa mual Bang Sanca benar-benar sangat menyiksa.

"Dek, kalau bisa jangan cepat maafin suamimu..!! Dia sudah marah-marah. Nggak bener tuh." Ucap Bang Priyo lembut tapi sangat mematikan. Bang Priyo tau, tubuh Bang Sanca yang lemas tidak akan mampu menyerangnya.

Hemas mengangguk polos. Tangisnya kembali terdengar.

"Eehh.. lu benar-benar setan ya Pri." Bentak Bang Sanca sekuatnya tapi seketika itu juga perutnya kembali terasa di aduk.

"Naahh lihat, suamimu itu pemarah. Bukannya ngaku salah." Kata Bang Priyo.

Ingin rasanya Bang Sanca berteriak namun tenaganya tidak memungkinkan untuk melawan, berdebat pun tidak sanggup. Akhirnya Bang Sanca memilih untuk diam.

Bang Wilang dan Bang Larung menahan tawa geli melihat sang killer seri dua tunduk dan takhluk hanya karena rasa mual.

"Dindaaa.. Abang minta maaf..!!"

Hemas beralih posisi dan hanya memberikan punggung untuk Bang Sanca.

"Baang.. piye iki?? Mati aku di cuekin bojo.." tak tahan lagi, Bang Sanca sampai mengadu pada kedua Abang ipar.

"Sungkem lu sama istri, sudah nuduh begitu. Fatal omonganmu itu. Abang saja jengkel." Kata Bang Larung.

"Ya kalau istrimu minta kamu merayap ya jalan saja, ini khan karena ulahmu sendiri..!!" Imbuh Bang Wilang. "Marah ya marah, tapi kalau fatal begini.. siapa coba yang susah."

Bang Sanca mengerang kesakitan, tangis Hemas masih belum juga berhenti. Secepatnya ia mengatur jalan nafas dan melepaskan tangan Bang Wilang juga Bang Bara lalu menghampiri Hemas. Perlahan dirinya mencoba membujuk sang istri.

Bang Sanca menarik tirai lalu naik ke atas ranjang. Di peluknya sang istri dengan penuh kasih. "Dinda Hemas, sudikah Dinda memberikan maaf untuk Abang Abang pahami sudah khilaf menyakiti hatimu. Jujur Abang akui, Abang tidak suka melihatmu berdua di dalam rumah dengan sahabatku." Ucap jujur Bang Sanca.

Seluruh tatapan tajam mengarah pada Bang Bara. Kini mereka paham asal mula puncak kemarahan Bang Sanca.

"Kenapa tidak mau mendengar penjelasan Dinda? Satu bulan Abang mendiamkan Dinda. Apa Abang kira sikap Abang itu bagus?? Apa dengan begitu masalah kita selesai?" Tegur Hemas. "Dinda mau pulang saja, ikut Bang Wilang..!!"

"Pulang saja dek. Sanca keterlaluan." Sambar Bang Priyo.

Bang Sanca semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan Dindaa.. ampuuuuuun..!! Abang akan jaga sikap.. nggak akan bicara tanpa berpikir lagi..!! Abang mohon Dindaa..!!!"

Bang Wilang, Bang Larung dan Bang Abimanyu tersenyum lega. Hanya Bang Priyo saja yang masih tersenyum usil.

"Laki-laki pasti mengulang salahnya dek.."

"Diam lu berang-berang..!! Keluar sana.. buat rusuh saja..!!!!!" Bentak Bang Sanca.

"Baaaang..!!!" Hemas menegur Bang Sanca.

"Iya Dinda.. Abang nggak marah." Bang Sanca beringsut di belakang punggung Hemas.

Para 'hadirin' yang sebenarnya sejak tadi mengintip di balik tirai terkikik melihat tingkah Bang Sanca yang tiba-tiba saja menjadi takhluk di tangan Hemas.

Disana Bang Bara terpejam menahan rasa pedihnya. Harapnya patah jadi dua. Hatinya hancur berkeping. Dadanya terasa sesak. Bang Wilang yang tau hal itu hanya bisa mendesah pasrah dengan carut marut rumah tangga adik bungsunya.

Ada sedikit kelegaan dalam hati Bang Wilang karena adik bungsunya memiliki suami seperti Bang Sanca.

...

Bang Sanca menggandeng tangan Hemas, agaknya sang istri sudah mulai sehat, tidak ada amukan, tidak ada tangisan.. dirinya pun terhindar dari segala prahara bencana mual, muntah dan kawan-kawannya.

"Bang..!!"

"Dalem Dinda.. kenapa?" Bang Sanca memberikan seutuhnya perhatian untuk sang istri.

"Abang masih marah sama Bang Bara?" Tanya Hemas.

"Nggak, buat apa marah. Yang sudah ya sudah." Jawab Bang Sanca berusaha memberikan jawaban yang menenangkan.

"Benar Bang?" Selidik Hemas.

"Iyaaa.. memangnya kenapa??" Meskipun kesal tapi Bang Sanca harus menahannya sekuat hati.

"Dinda pengen lihat Abang balap karung sama Bang Bara."

Bang Sanca sejenak memejamkan matanya. Sungguh dirinya tak menyangka sang istri akan mendekatkan dirinya dengan 'musuh' yang beberapa waktu ini ia hindari.

"Hmm.. kalau yang lain gimana? Kaki Abang agak sakit nih." Tolak Bang Sanca secara halus.

Belum ada jawaban dari Hemas. Istri Lettu Sanca itu hanya menunduk dengan wajah mendung yang mulai meremang. Tak menunggu jam berganti, perut Bang Sanca langsung terasa mual dan merangkak naik hingga ke kerongkongan.

"Oke.. okee.. Abang temui Bara buat balap karung. Main topeng monyet pun Abang kerjakan..!!!!" Ucap Bang Sanca langsung menyanggupi permintaan sang istri.

Bang Sanca terkejut saat tiba-tiba Hemas memeluk lengannya.

"Terima kasih Bang..!!" Wajahnya begitu imut menatap wajah Bang Sanca dengan wajah polosnya.

Saat itu juga senyum di wajah Bang Sanca mengembang, ternyata ada rasa begitu bahagia melihat sang istri bahagia. Rasa yang tidak bisa tergantikan oleh apapun juga.

"Sama-sama." Bang Sanca sedikit ragu namun ia memberanikan diri untuk mengecup kening Hemas. "Jangan sakit lagi Dinda. Lihat kamu sakit, hati Abang ikut sakit."

Hemas menunduk dan mengangguk. "Sekarang Abang percaya ini anak siapa?"

"Anak siapa lagi yang berani buat Papanya mabuk kalau bukan anak Lettu Sanca."

Hemas tertawa mendengarnya dan baru saat itu Bang Sanca melihat tawa sang istri.

'Ternyata kamu memang sangat cantik Dinda."

Bang Sanca menunduk, ada hati yang berdesir. Sudah cukup lama dirinya tidak mengulang membelai manja sang istri.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Any Anthong

Any Anthong

nyidam e mulai aneh

2023-03-31

1

🍀 chichi illa 🍒

🍀 chichi illa 🍒

lanjuuut mba Nara

2023-03-09

1

🍀 chichi illa 🍒

🍀 chichi illa 🍒

roman² nya bang sanca , bang bara ,dan bang Priyo ini macam trio rival ,Ardi dan Rama 😂😂😂😂😂😂😂

2023-03-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!