Pagi tiba. Bang Bara sangat terkejut karena ada nama Lettu Sanca yang akan mengikuti gerak operasi di daerah rawan yang tidak bisa di perkirakan kapan akan pulang.
"Apa-apaan ini??? Sanca sedang sakit parah. Tidak mungkin dia berangkat penugasan dua minggu lagi. Tolong kirim telegram.. biar saya yang berangkat..!!" Kata Bang Bara.
"Siap Bang, Panglima yang baru yang memberikan wewenang. Panglima terdahulu tidak mengetahui masalah ini..!!" Kata seorang junior Bang Bara.
"Saya tau, cepat kamu bantu buat telegram. Kamu lihat sendiri keadaan Dantonmu itu, tidak mungkin beliau maju dalam penugasan dalam keadaan garis merah. Dantonmu bisa menumpuk banyak masalah. Tidak fokus kerja, bisa saja sakitnya kambuh di medan tugas."
"Siap Abang.. arahan di mengerti..!!"
"Cckk.. siapa anggota personel yang kirim nama Sanca?? Apa dia nggak monitor keadaan Lettu Sanca?" Gumam Bang Bara.
...
Siang harinya wajah Hemas semakin kusut, ia kesal pada Bang Sanca soal kejadian malam itu tapi jauh di dalam lubuk hatinya di berharap Bang Sanca mau menemuinya.
"Dek..!!" Sapa Bang Bara.
"Abang lihat khan, bahkan sedikit pun tidak ada niat Bang Sanca untuk menemuiku. Bang Sanca tidak cinta sama Hemas. Apakah ini yang di bilang mencintai Hemas?" Kata Hemas.
"Sabar ya dek. Suamimu pasukan. Pasukan yang hebat. Pekerjaannya tidak sembarang orang boleh tau. Nanti kalau dia sudah pulang pasti akan segera menemui mu." Bujuk Bang Bara sesuai permintaan dari sahabatnya kemarin.
Bang Bara cukup memahami perasaan Hemas. Dua tahun diri menjalin hubungan dengan Hemas sejak masa sekolah di Jawa dan Hemas mengikuti dirinya pindah ke daerah tersebut karena memang ingin melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius.
"Kenapa Hemas harus menjadi korban dari ego kalian????" Tangis Hemas terlepas. Ia menangisi nasibnya.
Dalam hati Bang Bara ingin menenangkan Hemas namun kini dirinya memiliki batasan. Hemas adalah istri sahabatnya sendiri, tak mungkin ia mengambil kesempatan di saat Bang Sanca sedang tanpa daya. Itu adalah sikap yang tidak ksatria.
Bang Wilang yang mengerti keadaan Bang Bara segera mengambil alih. Ia duduk di samping Hemas. "Apakah mencurigai suami seperti itu adalah sikap istri sholehah? Suamimu sedang 'berjuang', do'akan dia. Segala yang ada di dalam hidup ini adalah rahasia Tuhan. Jangan sampai kamu menyesal dalam ketidak tahuanmu apalagi kamu mengandalkan dugaanmu yang semu..!!"
Hemas bersandar di bahu Abangnya.
"Jika kamu tidak percaya lagi pada Bara, kamu bisa percaya sama Abang..!!" Kata Bang Wilang.
"Jadi sekarang Bang Sanca ada di mana?" Tanya Hemas.
"Suamimu bertugas, jauh, hingga waktu yang tidak bisa di tentukan..!!" Jawab Bang Wilang.
//
Bang Sanca mengerang kesakitan, mulutnya hanya bisa beristigfar.
"San.. jangan stress, kalau kamu terus memikirkan yang tidak-tidak, sakitmu bisa kambuh." Kata Bang Bara.
Tak ada yang tau selain 'pihak dalam' bahwa Bang Sanca sungguh terpukul karena kehilangan calon anaknya juga syok dengan keadaan Hemas. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri hingga tekanan darahnya terus meningkat.
"Kamu mau sehat atau tidak San? Hemas menunggumu..!!" Tak hentinya Bang Bara memberi dukungan pada sahabatnya. "Ya kalau kamu memang tidak mau sembuh, nanti biar aku yang jaga Hemas. Lumayan.. jandanya cantik sekali. Masih belasan tahun pula."
Mendengar kata-kata tersebut hati Bang Sanca menjadi sangat kesal apalagi dirinya sempat mengingat ucap Hemas yang tidak ingin menjadi janda. Seketika itu juga Bang Sanca menarik pakaian Bang Bara.
"Jangan macam-macam kamu Bar. Saya hanya mau kamu menjaganya.. bukan merebut ataupun menikahinya." Sekuat-kuatnya Bang Sanca membentak dan memberi peringatan pada Bang Bara.
Bang Bara yang tau usaha keras sahabatnya sungguh tidak tega. Seorang Armore bisa selemah ini bahkan tidak berasa apapun karena tumbangnya sang ksatria. Tak ingin sahabatnya kecewa, ia pun berusaha melegakan hati sahabatnya. Ia mengangkat kedua tangannya. "Maaf, maaf pot.. aku kira kamu tidak punya niat untuk sembuh. Kau tau bagaimana sifat dasar laki-laki. Suka mengagumi kaum hawa adalah hal yang biasa." Ucap Bang Bara.
"Dosaaa Bar, Ya Allah.. cukup..!! Sampai kapan kamu mau mencintai istri orang??"
"Kalau begitu cepatlah sehat dan...... Tolong lamarkan De...na untukku..!!" Entah mengapa malah nama Dena yang terlontar dari bibir Letnan Umbara.
"Kau serius Bar??" Tanya Bang Sanca.
Bang Bara menarik senyumnya. "Iya, aku jatuh cinta sama Dena. Jadi.. tolong lamarkan dia untukku..!!"
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
🍀 chichi illa 🍒
lanjuuut mba Nara
2023-03-15
2
caaam
lanjut
2023-03-14
1
Fitri
semangat kk 😍😍😍
2023-03-14
1