Sejak hari itu, Hemas belum mendapatkan kabar apapun dari Bang Sanca. Di tengah kesendiriannya, hari ini dirinya merasakan perutnya melilit. Ia berlari keluar dari gedung serbaguna saat ada acara gabungan di Markas.
Bang Wilang yang melihat adiknya berlari, refleks berdiri dan menyusulnya diikuti mbak Iyang di belakangnya.
~
"Mbak kerokin ya dek..!!" Mbak Iyang tidak tega melihat adik iparnya mual namun tidak bisa memuntahkan apapun dari perutnya.
"Nggak usah mbak, minta tolong di ambilkan obat maag saja. Sepertinya asam lambung naik."
"Obat maag mas, cepaat..!!" Mbak Iyang meminta Bang Wilang segera mencarikan obat untuk Iyang.
//
bbyyyrr..
Bang Sanca berusaha berpegangan pada sebatang pohon namun.
"Let, masih kuat??"
Entah mengapa sejak semalam Bang Sanca terus saja mual dan muntah, saking lemasnya ia sampai tidak sanggup untuk berdiri.
"Insya Allah kuat..!!" Ucap Bang Sanca namum tidak sesuai dengan kenyataannya. Untuk berjalan sejauh lima meter saja dirinya harus di papah dua orang anak buahnya.
"Istirahat dulu, situasi tidak kondusif..!!" Arahan wakil team.
"Maafkan saya, sudah merepotkan kalian. Jika nanti kita sudah melakukan penyerangan dan ternyata saya masuk garis merah, tinggalkan saya..!! Anak istri kalian menunggu di rumah." Perintah Bang Sanca.
"Ijin Let, kami tidak akan meninggalkan Letnan dalam keadaan apapun..!!"
//
"Masa mas nggak lihat, perut Hemas sedikit membuncit lho mas, apa mungkin Hemas sedang hamil. Tapi sama siapa? Hampir empat bulan Sanca tidak pulang." Bisik Mbak Iyang.
"Sayang, jangan banyak ghibah. Kalau Hemas hamil juga pasti Sanca lah pelakunya. Siapa lagi???" Jawab Bang Wilang.
"Duuh mas, kapan buatnya???"
"Naahh.. ini nih perempuan, kalau ditanggapin satu hal, pasti ada lagi pertanyaan lain. Kamu jangan banyak mikir..!! Jaga saja si kecil di dalam perut, sebentar lagi mau lapor datang." Kata Bang Wilang.
"Mas, sebenarnya dari tadi malam. Selesai Mas patroli, perut Dinda sudah mulas." Mbak Iyang memercing merasakan sakit sampai meremas tangan Bang Wilang.
"Astagfirullah.. kenapa baru bilang???? Tau begitu tadi nggak usah ikut kegiatan." Suara Bang Wilang sedikit meninggi, ia menoleh kanan kiri melihat keadaan di sekitar. Dirinya harus meminta tolong seseorang untuk mengawasi Hemas yang juga sedang lemas dan duduk tidak jauh darinya.
Tepat saat itu Bang Bara lewat. Bang Wilang pun memanggilnya.
"Baraa..!!!!"
~
"Abang antar ke klinik asrama ya dek..!!" Saran Bang Bara karena sepertinya Hemas tidak sanggup untuk berdiri.
"Terima kasih Bang, Hemas tunggu mualnya agak reda saja." Hemas menolak bantuan Bang Bara.
"Nggak apa-apa, Abang juga mau antar Dena kesana. Sekalian saja..!!" Ajak Bang Bara lagi.
Dari jauh terlihat langkah kaki kecil, Dena berjalan ke arah Bang Bara dan Hemas.
"Ada apa Bang?" Tanya Dena karena melihat Bang Bara seakan memberikan perhatian lebih pada Hemas.
"Bang Wilang titip Hemas karena Mbak Iyang mau melahirkan."
Dena tidak menjawab apapun, ia hanya menarik nafas panjang lalu menarik garis senyumnya. "Ya sudah ayo kita sama-sama ke klinik..!!" Dena membantu Hemas untuk berdiri tapi tubuhnya lemas nyaris menimpa dirinya.
Bang Bara sigap menarik tangan Hemas hingga posisi mereka setengah memeluk hingga kemudian merosot.
"Baaang..!!" Pekik Dena.
"Ya ampun, kamu nggak apa-apa dek?" Pandangan mata Bang Bara mengarah pada Dena. Ada yang sakit nggak?"
Dena menggeleng. Bang Bara segera mengangkat tubuh Hemas. "Kamu jalan di belakang Abang dek..!! Pelan ya..!!"
Dena tersenyum karena Bang Bara tidak membiarkan dirinya meskipun sedang membantu perempuan lain. "Iya Bang."
:
Hemas sudah mendapatkan perawatan sendiri, sedangkan Bang Bara menemani sang istri di ruang BKIA.
Bidan tersenyum mengarahkan pandangan pada Lettu Umbara dan Dena secara bergantian. "Kalau dari telat haidnya dan test barusan, sudah jelas ya Bu Bara sedang mengandung."
"Serius Bu?" Tanya Bang Bara dengan wajah takjub. Ia tidak menyangka sang istri akan memberinya seorang anak secepat ini.
"Benar Pak, Bu Dena sedang hamil muda. Sebelas minggu." Jawab bidan PNS tersebut.
"Alhamdulillah Ya Allah..!!" Bang Bara menghambur memeluk Dena. "Makanya Abang curiga. Kamu suka sekali cium pakaian Abang yang baru di pakai."
Dena yang pembawaannya sangat tenang tak bisa banyak menanggapi apapun. Ia berbisik sangat pelan di samping telinga Bang Bara. "Tolong jangan menyebut nama Hemas lagi sekalipun dalam mimpi Abang..!!"
Mendengar itu Bang Bara sangat terkejut, sejak kapan sang istri mengetahui bahwa Hemas adalah masa lalunya.
"Maksudmu?? Kamu tau tentang Hemas?" Tanya Bang Bara.
"Awalnya tidak, tapi Abang terlalu sering mengigau tentang Hemas dan mengucap kata maaf penuh sesal dan Abang sering katakan bahwa Abang menikahi Dena agar Bang Sanca tidak mampu melihat perasaan Abang untuk Hemas." Jawab Dena.
Bagai tersambar petir Bang Bara kaget dengan ucapan sang istri. Dirinya sungguh tidak menyadari ada ucapnya yang terlontar di luar kesadaran.
"Dek.. maksud Abang.........."
Dena menutup mulut Bang Bara. Ia masih menjaga suaminya di hadapan Bu bidan.
~
"Dek, kita harus bicara..!!" Bang Bara menghadang langkah Dena yang terus berjalan.
"Dena nggak apa-apa Bang, bukannya Dena tidak pernah marah sekalipun Abang memuji kemolekan tubuh wanita lain." Kata Dena.
"Astagfirullah hal adzim dek. Maafkan Abang.. semua di luar kendali Abang..!!" Sungguh teramat sesal dirasakannya apalagi saat ini di dalam hatinya sudah terselip nama Dena.
Dena menunduk dan terisak. Bang Bara yang cemas segera memeluknya. Dena pun bersandar di dada bidang Bang Bara. "Salahkah Dena yang mencintai Abang?"
"Nggak dek.. Abang yang salah, Abang yang keterlaluan. Marahlah sama Abang.. Abang terima..!!"
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
rika
ye....sanca junior sudah maen bola, kapan ka nara bang sanca pulang???
2023-03-17
1
caaam
lanjut
2023-03-17
1
Yayuk Bunda Idza
perempuan kepooo nya gde bang.... hehehehe
2023-03-17
1