Bang Bara masih belum tidur satu ranjang bersama Dena. Ia pahami saat ini memikirkan istri orang bukanlah sikap yang benar, tapi bayang Hemas masih belum sepenuhnya hilang dari dalam hatinya.
'Ya Allah, aku menikahi Dena agar bisa melupakan mantan kekasihku. Tolong bantu aku memuliakan istriku dan bukan mantan kekasihku. Jagalah wibawaku demi hati dan kehormatan istriku juga harga diri mantan kekasihku.'
"Abang, maaf Dena lancang buatkan teh untuk Abang." Dengan tangan gemetar Dena menghidangkan secangkir teh untuk Bang Bara.
Tau sang istri sangat grogi di hari kedua pernikahan mereka, ia pun segera mengambil cangkir teh tersebut. "Abang ini suami sendiri, kenapa sampai setakut ini?" Tegur Bang Bara kemudian meletakan cangkir tersebut di atas meja.
Tanpa di sangka Bang Bara menarik tangan Dena hingga gadis itu terduduk di pahanya. Dena yang kaget segera beranjak namun Bang Bara mencegahnya.
"Minum dulu, kamu gugup sekali dek..!!" Bang Bara mengangsurkan teh tersebut agar Dena bisa meminumnya.
Mata Dena masih melihat sorot mata Bang Bara yang kemudian meminum teh dari bekas bibir istrinya.
"Abang minum dari gelas bekas bibir Dena?" Tanya Dena tidak percaya penglihatannya.
"Ada yang salah?" Bang Bara balik bertanya. Ia pun mengarahkan wajah Dena agar kembali menatapnya. Rasa hati itu masih berat mendekati wanita lain namun ia harus melakukannya karena sekarang dirinya adalah seorang suami yang wajib memberikan nafkah pada istrinya.
Dena menggeleng tidak berani menatap wajah Bang Bara. Wajah polos tanpa riasan make up dan terlihat apa adanya tapi begitu menunjukkan cantiknya paras istri Lettu Umbara.
Bang Bara mendorong dirinya sendiri untuk mendekatkan wajahnya pada bibir Dena tapi saat itu perutnya berbunyi nyaring mengadakan pemberontakan.
"Maaf dek.. Abang lapar nih."
"Maaf Bang, tadi Dena pakai dapur kecil Abang. Dena masak yang ada di kulkas " Kata Dena.
"Pakai saja dek. Ngomong-ngomong kamu masak apa?"
"Yang ada di kulkas."
~
Bang Bara tersenyum menyantap masakan dari Dena. Ternyata istrinya itu tidak kalah pintar dari Hemas. Telur ceplok balado dan tumis buncis cabai hijau menjadi santapan makan malam Bang Bara.
"Keasinan Bang?" Tanya Dena.
"Pas dek. Perfect." Jawab Bang Bara mengurai senyumnya.
Lama kelamaan rasa takut Dena menjadi sirna. Bang Bara tidak kasar seperti selama ini dirinya merasakan perlakuan dari Bang Wahyu. Bahkan tidak seperti namanya yang mudah terbakar amarah. Bara.. adalah pria yang tenang.
"Tolong ambilkan dompet Abang di meja nakas..!!" Pinta Bang Bara.
Dena segera berjalan untuk mengambilnya lalu menyerahkan pada Bang Bara.
Bang Bara membuka isinya. "Ini ATM gaji Abang. Kamu bawa ya..!! Besok Abang antar kamu belanja segala kebutuhan dapur. Lusa kita pindah ke rumah baru."
Untuk sejenak Dena terpaku dan Bang Bara kembali menyodorkan dua kartu ATM tersebut.
"Ambil dek. Ini milikmu..!!" Bang Bara meraih tangan Dena dan menggenggamkan kartu ATM itu di tangan istrinya.
"Te_rima kasih Bang."
"Sama-sama dek. Itu memang hak mu." Jawab Bang Bara.
//
Bang Sanca mengatur strategi untuk melacak markas utama te****s. Ia menerapkan segala ilmu yang pernah di pelajarinya dari Papa Risang, Om Naru dan Bang Wilang sebagai ahli strategi. Sejenak dirinya harus mengesampingkan masalah pribadi dalam diri demi keamanan bangsa.
"Istirahat dulu Let kalau memang lelah. Jangan lupa Letnan minum obat." Kata seorang anggotanya.
Perhatian dari anggotanya tersebut membuat hati Bang Sanca terasa sakit. "Kenapa saya menyimpan penyakit seperti ini. Saya malu pada diri saya sendiri, malu dengan istri saya, keluarga saya dan juga pada rekan semuanya. Bagaimana bisa mereka meminta saya menjadi Dantim. Ibarat mesin, saya ini bobrok.. tidak layak dan harus di ganti..!!"
"Ijin Dantim.. raga saja yang kurang memadai, tapi jiwa patriot Dantim yang membuat semangat kamu tak pernah padam. Semangat Dantim..!! Kami akan selalu ada untuk mendukung Dantim..!!" Kata salah seorang anggota.
"Terima kasih banyak. Kita harus segera menyelesaikan misi ini, ada orang terkasih yang menunggu..!!"
...
Malam semakin larut, para anggota terlelap di atas ranting pohon terkecuali dengan Bang Sanca. Rasa tanggung jawab terhadap nyawa anak buahnya membuatnya terus terjaga, apalagi bayang Hemas terus saja berseliweran di kepalanya. Seperti sebelumnya, ia hanya menyisakan waktu satu atau dua jam untuk tidur atau menunggu salah seorang anggotanya terbangun.
"Tuhan tolong jaga dia untukku, jika ragaku tak sampai menjadi sayap pelindungnya, maka kutitipkan dia dalam perlindunganmu..!!" Do'a yang terus ada dalam hati Bang Sanca untuk Hemas istri tercinta nya.
//
Dena baru saja mencuci piring dan saat menoleh ternyata Bang bara sudah memainkan ponselnya di atas tempat tidur.
Merasa Dena hanya berdiri saja di antara pembatas dapur dan kamar, Bang Bara pun menyapa Dena. "Kenapa berdiri saja disana? Cepat kesini..!!" Bang Bara menepuk bagian kosong di ranjang kecilnya namun matanya tetap menatap layar ponselnya.
Dengan langkah pelan Dena menghampiri Bang Bara dan duduk di ranjang kecil tersebut.
"Tidur di sini dek." Bang Bara kembali menepuk space kosong di sampingnya agar istrinya tidur di sisi dinding.
Barulah setelah Dena merebahkan diri, Bang Bara menatap wajah sang istri lalu mengarahkan tubuhnya untuk mendekap Dena. "Kita sudah menikah dan kita harus belajar membuka hati. Abang akan berusaha mengobati luka hatimu, lupakan mantan kekasihmu.. biarkan Abang yang mengisi hatimu." Bang Bara mengecup sela leher Dena dan menyerusuk hingga beralih posisi.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
😊😊😊😊👍👍👍
2023-10-08
0
🍀 chichi illa 🍒
lanjuuuut mba Nara
2023-03-17
1
caaam
lanjut
2023-03-16
1