"Kenapa lihat suamimu begitu?" Tegur Bang Wilang saat Hemas memperhatikan wajah Bang Sanca di sana sini.
"Kenapa ya Bang Sanca tidak sadar juga. Apa ada sesuatu yang buruk lagi terjadi pada Bang Sanca selain tembakan ini?" Tanya Hemas merasa cemas. Suara dengkuran Bang Sanca sudah seperti suara mesin mobil yang lama tidak di service.
Bang Wilang tersenyum. "Tidak ada. Suamimu mengalami tingkat kelelahan yang tinggi hingga tidur dan pingsan nyaris tidak bisa di bedakan." Jawab Bang Wilang.
Ada secercah rasa tidak tega melihat pria yang perlahan kini telah merasuk ke dalam lubuk hatinya. Jemari lentik itu perlahan mengusap pipi Bang Sanca dengan lembut. "Cepat bangun donk Pa, adek pengen di ajak main sama Papa..!!"
Bang Wilang menyembunyikan senyum geli, ia menggaruk kepalanya bingung sendiri menyembunyikan rasa salah tingkah. "Main apa??" Gumamnya.
***
Malam masih begitu larut saat Bang Sanca terbangun dari tidurnya. Ia melihat Bang Wilang tidur pulas di sofa bersama Bang Abimanyu sedangkan Hemas tertidur tertelungkup dengan posisi duduk.
Sekuat tenaga dirinya mengubah posisi untuk duduk lalu turun menapakan kaki pada lantai dan hati-hati sekali mengangkat tubuh sang istri serta membaringkan di atas ranjang pasien klinik kesehatan Batalyon.
Bang Sanca kemudian duduk dan melihat perubahan tubuh Hemas. Ia menyangga dagunya dengan sebelah tangan dan tersenyum. Perut buncit Hemas menambah semangat dirinya, rasa sakit di tempurung bahunya seakan tidak terasa.
"Hai sayang, anak Papa. Sedang apa kamu disana? Terima kasih banyak kamu sudah mau datang di tengah kami. Papa janji akan menjagamu dan Mama. Tidak akan pernah Papa tinggalkan kalian." Gumam Bang Sanca. "Baik-baik ya nak di perut Mama, sampai nanti.. lima bulan lagi kita bertatap wajah dan saling melepas rindu. Jagoan Papa." Meskipun Bang Sanca belum tau jenis kelamin calon bayinya tapi seakan ada naluri yang meyakini bahwa calon bayi yang ada di dalam kandungan hemas adalah bayi laki-laki.
Bang Wilang terbangun lalu melihat pemandangan yang menyejukkan dan menentramkan hati. Senyum lega menghias wajahnya.
-_-_-_-_-
"Dena nggak mau ikut masuk ke ruangan Bang Sanca..!!" Tolak Dena bersikeras tidak ingin masuk.
Bang Bara mengajak sang istri untuk duduk bersamanya tidak jauh dari ruangan tersebut.
"Ada apa? Pasti bukan karena tidak ingin menjenguk Sanca khan?" Tanya Bang Bara.
"Dena capek..!!" Jawab Dena beralasan.
"Jangan cemburu lagi sama Hemas. Di alam bawah sadar Abang mungkin memang pernah melakukan salah. Namun bukan berarti di dasar hati Abang hanya tersimpan nama dia. Dia hanya bagian dari masa lalu. Masa depan Abang hanya bersamamu dan anak kita." Bang Bara berusaha keras meyakinkan Dena agar jangan sampai istrinya menyimpan dendam pada Hemas yang dalam hal ini sama sekali tidak bersalah. "Lagipula, apa selama bersama Abang ada lagi hal yang membuatmu tidak nyaman? Apa Abang kurang memberimu perhatian dan kasih sayang?"
"Tidak Bang."
"Abang sayang sama Dena. Sungguh.. ada bagian tubuh Abang di tubuhmu, mana mungkin Abang tidak sayang.. tidak cinta sama kamu. Ibu dari anak Abang."
Dena pun luluh dan akhirnya memeluk Bang Bara. Di saat itu Bang Bara membuang nafas kelegaan. Akhirnya Dena tidak lagi berpikir yang tidak-tidak.
"Masuk yuk.. nggak enak lah kalau nggak jengukin Sanca..!!"
~
Bang Sanca merasa ada yang berbeda dari kilas tatapan mata Dena untuk Hemas. Perasaannya sedikit merasa tidak enak seakan menangkap sesuatu yang tidak beres.
Situasi saat ini tidak memungkinkan dirinya untuk bertanya pada Bang Bara. Ia meredam perasaannya hingga perkiraan saat yang tepat telah tiba.
:
Dena berusaha bersosialisasi dan menyambut para pengurus ranting yang hadir untuk menjenguk Lettu Sanca yang tengah mendapat perawatan di klinik batalyon.
Bang Sanca menyenggol tangan Bang Bara. "Bar, aku mau bicara..!!"
"Ada apa? Ada yang sakit?" Bang Bara sigap dan tanggap memberi perhatian pada sahabatnya.
"Bukan."
"Lalu apa?" Tanya Bang Bara.
"Apa yang terjadi selama aku tidak di base camp. Kenapa aku menangkap kekakuan seolah istrimu tidak menyukai istriku?" Tegur Bang Sanca.
Mau tidak mau akhirnya Bang Bara mau sedikit terbuka keadaan yang ada.
"Mungkin bawaan bumil saja San." Jawab Bang Bara berhati-hati karena ia paham betul bagaimana sifat Bang Sanca.
Meskipun ada keraguan dalam hatinya namun Bang Sanca tetap berusaha untuk berdamai dengan segala ucapan Bang Bara.
Pandangan mata Bang Sanca terus mengarah pada Dena hingga saat Hemas mencoba mendekati Dena namun istri sahabatnya itu beralih menjauh dari Hemas dan memilih berinteraksi dengan perwira serta anggota yang lain.
"Kamu jangan bohong..!! Apa untungnya mencoba membohongiku?????" Tegur Bang Sanca sekali lagi.
Tau Bang Sanca memang tipe pria yang sulit di alihkan analisanya maka Bang Bara pun mengakui.
"Dena cemburu sama Hemas." Jawab jujur Bang Bara.
"Cemburu?? Bagaimana bisa istrimu jadi cemburu sama Hemas???? Pasti ada sesuatu." Kata Bang Sanca mulai naik darah dengan segala pemikirannya. Bang Sanca menahan dulu rasa kesalnya hingga para tamu yang menjenguknya kembali ke rumah masing-masing.
~
Bang Sanca ikut duduk di sofa, tepat di samping Hemas berhadapan dengan Bang Bara dan Dena.
"Katakan dengan jelas sejelas jelasnya kenapa kamu bersikap tidak peduli dengan Hemas. Jika istri saya melakukan kesalahan, saya minta maaf karena tidak bisa mendidiknya tapi jika kamu menjauhi Hemas tanpa alasan yang jelas maka kamu berhadapan langsung dengan saya..!!!" Ucap Bang Sanca penuh ketegasan.
Hemas menatap mata Bang Sanca. Air matanya menggenang di bingkai matanya.
"Apa Abang bisa menerima jika pasangan Abang masih mengingat masa lalunya, memuji kecantikannya, keindahan tubuhnya juga segala kebaikannya meskipun tidak pernah terucap?" Tanya Dena.
Bang Sanca paham dan langsung menatap mata Bang Bara.
"Ini lingkungan Batalyon, tidak mungkin Dena meminta Hemas untuk pergi, apalagi dia seorang istri Armore yang terhormat. Dena ingin marah tapi nyatanya suami Dena yang berulah.
Untuk sejenak mata Bang Sanca terpejam. Ia beralih menatap mata Dena. "Terima kasih kamu hanya menghindar dan tidak menyakiti fisik istri saya. Atas nama pribadi saya mohon maaf karena aurat istri saya sudah mengganggu pandangan mata suamimu. Untuk hal itu saya mengaku salah karena belum bisa menjaganya dengan baik." Ucap Bang Sanca tidak membawa emosi karena dua wanita yang ada di ruangan tersebut sedang mengandung. "Saya harap kita menyudahi semua sampai disini. Tidak ada untungnya berdebat toh istri saya tidak ada rasa dengan suamimu. Hemas tidak akan pernah kembali merajut cinta dengan Bara..!! Saya tau betul bagaimana istri saya."
Mendengar ucap Bang Sanca, Dena hanya menunduk dan menumpahkan tangisnya.
"Kamu Bara, urusan kita belum selesai. Nanti kita bicara..!! Ada bumil yang harus di tenangkan..!!" Ucap datar Bang Sanca namun terdengar tajam dengan sorot mata menusuk.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Iis Cah Solo
alhamdulilahh..😍😍😍
2023-10-08
0
Ratu Tety Haryati
Semoga dapat diselesaikan dgn baik.
Bang Sanca-Bang Bara dan Hemas-Dena akur
2023-03-26
2
Yane Kemal
Alhamdulillah
2023-03-23
1