Bang Bara menemui Hemas. Ada rasa rindu tak tertahan di dalam hatinya. Ia melangkah berniat memeluk Hemas tapi Hemas mundur ke belakang punggung Bang Sanca.
"Ada apa? Kenapa kamu berubah?" Tanya Bang Bara.
"Tolong kamu jangan memaksa Hemas. Kamu menyerahkan dia padaku tanpa perhitungan."
"Aku tau aku salah, tapi aku tidak mungkin mengabaikan keinginan ibuku." Kata Bang Bara.
"Cinta pada ibumu dan wanitamu bagaikan sisi keping mata uang. Kamu tidak akan bisa melihat sisi yang kamu mau kecuali kamu bisa membuatnya berdiri tegak. Jika kamu tidak bisa membuatnya berdiri, lebih baik kamu menerima satu sisi saja."
"Kamu mau bilang kalau aku harus melepaskan Hemas???? Kamu tau bagaimana aku menyayanginya.. mati-matian aku menjaganya, tidak merusaknya." Bang Bara mulai terpancing emosi.
"Untuk hal itu, aku benar-benar berterima kasih padamu." Ucap Bang Sanca karena ia pun tau betul siapa sahabatnya itu. Mereka memang pecinta wanita tapi anti merusak wanita.
"Lalu bagaimana dengan Cena, dia tidak tau kamu sudah menikah."
Bang Sanca terdiam sejenak, Cena kekasihnya memang belum menjawab pesan singkatnya karena pastinya sedang bekerja. "Sadarkah kamu Bara, dengan adanya pernikahan ini.. aku pun sudah mengakhiri hubunganku dengan Cena." Jawab Bang Sanca.
Bang Bara terduduk lemas, wajahnya pucat tidak sanggup menerima kenyataan bahwa keputusannya akan mengakibatkan hubungannya dan Hemas berakhir. "Ya Allah, kenapa aku bisa sebodoh ini??????" Ucapnya penuh rasa frustasi.
"Aku minta maaf Bara, pernikahan bukanlah permainan. Aku harus bertanggung jawab dengan ijab qobul yang sudah aku ucapkan. Jika selangkah kamu maju. Kamu akan berhadapan denganku." Dengan kata lain, dengan ketegasannya pula Bang Sanca meminta Bang Bara untuk mundur.
Bang Bara berlutut dan benar-benar memegangi kedua kaki Bang Sanca. "Nggak.. jangan San. Sumpah aku sangat mencintai Hemas. Dua tahun lebih aku menjaganya. Aku sudah menantikan datangnya hari dimana aku bisa menjadikannya seorang istri."
Tak bisa di pungkiri Bang Sanca pun sedih menghampiri semua ini.
Bang Bara merangkak berlutut di hadapan Hemas. "Dek.. kembali sama Abang. Ikut Abang ya..!!"
Hemas terisak namun tangannya terus memegangi lengan Bang Sanca. Lama semakin lama, tubuh Hemas terhuyung lemas.
"Dindaaa..." Masih untung Bang Sanca bisa menahan tubuh Hemas.
Bang Bara ingin membantunya tapi Bang Sanca menolaknya.
~
"Hhh.. Alhamdulillah Ya Allah..!!" Kini Bang Sanca yang beringsut lemas di sisi sofa. Kepalanya bersandar pada lengan Hemas. "Dinda pusing?" Tanya Bang Sanca.
Bang Bara bersandar sembari memijat pangkal hidungnya. "Apakah secepat itu hatimu berpaling dek? Apakah tangan ini pernah kasar sama kamu? Atau mulut ini pernah berkata yang menyakiti hatimu?"
"Memang tidak Bang, tapi meminta Hemas menikah dengan sahabat Abang itu berarti Abang sudah membuang Hemas." Jawab Hemas lirih.
"Maksud Abang tidak begitu, Abang hanya ingin membujuk Mama sampai mendapatkan restu. Hati Abang sakit setiap mendengar Mama membentakmu. Bagaimanapun juga Mama adalah orang tuaku dek..!!" Suara Bang Bara sampai meninggi.
Tanpa di duga Bang Sanca menarik kerah pakaian Bang Bara. "Jangan pernah membentak istriku Bara..!!!!" Bang Sanca balik membentak dan menghempaskan tubuh Bang Bara dengan kuat.
"Istri??? Ya.. dia istrimu San." Bang Bara tak sanggup menahan laju air matanya. Bang Bara berdiri di hadapan Hemas. "Pikirkan kembali dek, redakan amarahmu. Abang masih menunggumu. Abang harap kamu masih bisa menjaga dirimu." Ucapnya kemudian meninggalkan rumah Bang Sanca.
...
"Kamu masih menangisinya?? Kamu menyesali pernikahan kita??" Tegur Bang Sanca.
"Bukan begitu Bang."
"Lalu apa yang kamu tangisi????"
tok.. tok.. tok..
Mendengar suara ketukan pintu, Bang Sanca segera membukanya.
"Sayaaaang.. surpriseeee..!!!!!!!"
Bang Sanca ternganga saat Cena memeluknya erat. Sadar dirinya telah beristri, Bang Sanca melepaskan pelukan Cena.
"Kenapa sayang??" Tanya Cena kemudian mengintip ke arah belakang punggung Bang Sanca. "Dia.. kenapa ada disini??"
"Hemas istri Abang." Jawab Bang Sanca.
~
"Tega kamu ya, kamu juga seorang perempuan. Kenapa kamu tega merebut kebahagiaan wanita lain. Aku kerja halal Hemas, aku tidak menjual diri..!!" Teriak Cena tidak terima atas pernikahan kekasihnya.
Seperti biasa, Hemas tidak bisa membela diri.
"Atau jangan-jangan kamu yang sudah menggoda Bang Sanca?????" Tuduh Cena.
"Sudah Cena.. apa-apaan kamu??? Pernikahan ini sudah terjadi, kita tidak bisa bersama lagi..!!" Ucap Bang Sanca dengan tegas.
Melihat situasi sudah semakin tidak baik, Bang Sanca menghubungi rekan-rekannya.
~
Bang Bara sudah menjelaskan situasinya dan Bang Priyo menjadi saksi bersama Bang Karim juniornya.
"Kenapa Abang putuskan hal seperti itu, Abang tau kalau Bang Sanca adalah tunanganku." Protes Cena.
"Maaf Cena, Abang khilaf memutuskannya." Jawab Bang Bara.
"Kalau semua ini hanya sebuah cara agar Bang Bara bisa kembali bersama Hemas, bukankah itu berarti Bang Sanca bisa menceraikan Hemas??" Kata Cena masih penuh harap.
"Kamu mau mengkhianati arti sebuah pernikahan??" Tanya Bang Sanca.
"Mau apalagi?? Di antara kalian juga tidak ada cinta. Abang nggak usah munafik, setiap bertemu denganku Abang selalu bernafsu dan ingin segera menikahiku, mana mungkin Abang bisa melakukannya dengan wanita lain." Jawab Cena.
Bibir Bang Sanca rasanya terkunci. Ia mengingat segala perlakuannya pada Cena.
"Katakan.. ucapanku benar atau tidak??" Tanya Cena.
"Iya Cena, benar. Abang akui, Abang selalu tergoda dengan penampilanmu, dengan gayamu. Abang laki-laki yang punya nafsu. Maafkan segala khilaf Abang selama ini, tapi perasaan di dalam sebuah pernikahan itu berbeda Cena. Hati Abang jauh lebih tenang, tidak ada beban."
"Sungguh tidak sanggupkah Abang menungguku?? Apakah secepat itu Abang melupakanku demi dia?? Apa sungguh Abang bisa menyentuhnya hanya karena dia menyandang status sebagai istrimu?????"
"Tenang dulu. Kita bicarakan semua baik-baik..!!" Bujuk Bang Priyo. "Sebenarnya masalah ini mudah saja jika kalian semua tenang.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
fitri indrawati sutanto
emang km tdk pernah kasar sama Hemas tp dengan km menyerahkan kepada sanca spt barang itu lebih sakit lo
2023-03-09
2
fitri indrawati sutanto
hei bang emang Hemas itu barang yg bisa seenaknya km ambil lagi setelah km kasih keorg gitu ya
2023-03-09
1
🍀 chichi illa 🍒
sabar selesaikan dengan kepala dingin ... istighfar
2023-03-09
1