"Ikhlas??? Abang tidak merasakan apa yang aku rasakan..!!!" Pekik Cena.
"Lalu kamu mau apa? Menceraikan mereka?? Apa kuasamu melebihi Tuhanmu???" Tegur Bang Priyo.
Cena menangis tidak bisa menerima kenyataan, ia pun pergi.
"Kejar Mbak Cena Bang..!!" Pinta Hemas.
"Nanti anggota ada yang mengurusnya. Cena bukan menjadi urusan Abang lagi." Meskipun terkesan sangat kejam, Bang Sanca berusaha menutup mata demi hubungan pernikahan mereka.
Tau Bang Sanca begitu keras menjaga hubungan pernikahan mereka, Hemas pun berusaha untuk berbesar hati.
Bang Bara sama sekali tak bersuara. Hanya ada rasa pedih di dalam hatinya.
\=\=\=
Bang Bara meraih tangan Hemas yang baru saja pulang dari warung tetangga. "Tunggu dek, Abang mau bicara..!!"
Hemas menepis tangan Bang Bara. "Ada apa Bang, tidak ada lagi yang harus kita bicarakan."
Bang Bara menarik tangan Hemas di belakang rumah Bang Sanca lewat arah samping lalu mendorongnya agar segera masuk ke dalam rumah.
"Abang kangen dek. Abang tidak lagi bagaimana untuk menjelaskan sama kamu, hati ini masih belum ikhlas dan belum bisa melepaskan kamu menjadi istri Sanca." Jawab jujur Bang Bara.
"Abang yang memilih jalan ini. Sekarang Hemas sudah menjadi istri orang. Rasa itu mungkin masih ada tapi Hemas tidak akan memupuknya lagi."
Saking rindunya, Bang Bara tidak bisa menahan diri. Hal yang sama sekali tidak pernah di lakukannya, kini ia berani melakukannya. "Apa Abang harus menghamilimu agar Sanca mau melepasmu??" Bang Bara terus menyerang Hemas.
Tak ada yang menyangka saat itu Bang Sanca pulang dan melihat istri serta sahabatnya berada di belakang rumah dalam keadaan saling setengah memeluk. "Apa yang kalian lakukan di rumah ini??????" Bentak Bang Sanca.
Amarah Bang Sanca meluap. Ia gelap mata sampai akhirnya menghajar Bang Bara. Keduanya saling baku hantam. "B******n, apapun alasannya.. Hemas adalah istriku yang sah. Beraninya kamu mendekati istriku..!!!!"
"Abaang.. jangan..!!!" Pekik Hemas.
Seketika itu juga Bang Sanca membanting tubuh Bang Bara lalu menghampiri Hemas yang masih ketakutan. "Kenapa?? Kamu mau membelanya??? Beraninya kamu memasukan laki-laki lain tanpa seijinku. Kamu sudah menginjak mukaku dek. Apa selama ini diam-diam kamu sering memasukan dia di dalam rumah ini??? Aku rela membuang Cena demi kamu. Demi sayangku sama kamu. Apa salah kalau aku punya perasaan sama kamu???"
Hemas beringsut ketakutan. Dirinya yang hampir tidak pernah bersinggungan dengan masalah, kali ini harus menerima amarah dari Bang Sanca, seorang pria yang mendapat peringkat Armore dalam hidupnya. Yaitu ujung senjata perang atau makhluk yang di segani karena prestasinya yang tidak bisa di anggap remeh.
"Pot, jangan marahi Hemas. Aku yang salah..!!" Pinta Bang Bara, ia menahan rasa sakit karena hantaman littingnya.
"Keluar dari rumahku atau aku tidak bisa menahan amarahku lagi."
"Bang.. Dinda minta maaf..!!" Ucap Hemas.
"Masuk ke kamar dan renungkan kesalahanmu..!!"
\=\=\=
Sejak kejadian itu tidak banyak interaksi di antara Bang Bara dan Bang Sanca. Hubungan mereka nampak renggang. Hanya profesionalitas kerja saja yang membuat mereka saling membuka suara.
Danyon yang paham keadaan ini lalu memanggil keduanya.
~
"Sampai kapan kalian harus seperti ini??? Kamu Bara, jika hatimu tidak kunjung ikhlas, maka hidupmu tidak akan tenang.. dan kamu Sanca, jika kamu terus bersikap protektif dan kaku tanpa penyelesaian.. tidak hanya suasana yang tidak nyaman, tapi istrimu akan tertekan." Tegur Bang Abimanyu.
"Siap Danyon.." jawab keduanya.
"Saya bicara tidak sebagai komandanmu. Tapi sebagai Abangmu. Sadari porsi masing-masing. Kalian sudah masuk dalam ujian ini dan kalian harus menyelesaikan..!!"
"Siap Bang..!!"
"Kamu San, sudah berapa lama kamu mengabaikan istrimu karena masalah ini?? Kalau sampai Bang Wilang tau, habis kamu di tumbuknya..!!" Tanya Bang Abimanyu.
"Satu setengah bulan Bang." Jawab jujur Bang Sanca.
"Betah kamu mengabaikan istrimu seperti itu??"
"Saya serba salah Bang. Jujur masalah ini juga membuat saya stress." Bang Sanca masih saja terbakar emosi.
"Apa inginmu?"
"Mempertahankan rumah tangga saya. Saya tidak akan membiarkan siapapun masuk ke dalam ranah pribadi saya..!!" Ucap tegas Bang Sanca.
"Kalau kamu Bara."
"Mengikuti arus hidup ini. Saya berusaha melepaskan Hemas, tapi sekaligus masih ada hati yang berharap." Jawab Bang Bara.
Bang Sanca yang tidak terima sudah berdiri dan bersiap menghajar Bang Bara namun saat itu suara ketukan pintu membuat perhatiannya teralihkan.
"Ijin Dan, istri Lettu Sanca pingsan saat acara coffe morning."
Tanpa banyak bicara Bang Sanca segera berlari meninggalkan ruangan Danyon disusul Bang Bara dan Bang Abimanyu.
:
"Dindaa.. bangun Dindaaa..!!" Sudah setengah jam berlalu tapi Hemas belum juga bisa di sadarkan. "Saya bawa ke rumah sakit saja Bang..!!"
"Mbak ikut San, sebenarnya ada apa sih. Kalian sedang bertengkar ya? Beberapa hari ini mbak lihat badan Hemas lesu, mual." Tanya Mbak Nawang.
"Kamu jangan ikut emosi Dinda. Ingat kandunganmu..!!" Bang Abimanyu mengingatkan sang istri yang tengah mengandung anak ke tiganya.
"Tapi nggak mungkin nggak ada apa-apa di antara mereka Mas." Kata Mbak Nawang.
"Makanya supaya lebih jelas ayo kita bawa saja Hemas ke rumah sakit..!!"
...
"Hamil???" Bang Sanca dan Bang Bara terpekik bersamaan. Keduanya pun saling menatap.
Emosi Bang Sanca merangkak naik memanaskan ubun-ubun kepala. Ia menarik kerah seragam Bang Bara.
"Heehh Sanca.. apa-apaan kamu ini..!!" Bang Wilang menyergap adik iparnya untuk mundur sedangkan Bang Larung menjauhkan Bang Bara dari amukan Bang Sanca.
"Sumpah demi Allah, aku nggak macam-macam. Hari itu, untuk pertama dan terakhir kalinya aku bertemu Hemas. Aku berucap seperti itu karena frustasi San, hariku sangat berat berpisah dari Hemas..!!"
Hemas menangis sesenggukan. "Hanya Hemas yang tau siapa bapaknya. Biar saja bapaknya mabuk membayar kelakuannya..!!" Hemas sampai histeris hingga dadanya terasa sesak.
Bang Wilang memiting leher Bang Sanca. "Eehh Sanca.. kamu merasa pernah melakukannya atau tidak?????" Bentak Bang Wilang.
"Pernah Bang."
Plaaaakk..
Bang Wilang menampar wajah Bang Sanca. "Darimana pikiran bodoh itu timbul?????"
"Saya hanya melakukannya dalam satu hari itu dan tidak pernah mengulangnya lagi." Jawab Bang Sanca.
"Kamu pikir adik saya perempuan macam apa???? Mau satu kali kalau uget-uget mu nyangkut ya jadi juga San. Gimana kamu ini." Bentak Bang Wilang.
"Bang.. lepas Bang.. saya mual..!!!!" Bang Sanca melepas pitingan lengan Bang Wilang kemudian berlari ke toilet. "Hhhhhkkk.."
Bang Abimanyu melihat jam tangannya. "Belum lima menit sudah jalan aja karmanya. Dendam betul keponakanku sama bapaknya."
"Hhhkkkkk.." suara Bang Sanca terdengar begitu tersiksa.
"Deeehh.. merepotkan sekali." Bang Wilang menyusul Bang Sanca ke dalam toilet. "Makanya, lain kali itu jangan emosian. Pikir dulu sebelum marah."
"Laah.. nggak ingat dia sama-sama sumbu pendek." Bang Larung menahan senyumnya.
Bang Bara terduduk lemas mendengarnya.
"Dilarang cemburu Bar. Nggak ada suami yang kuat nggak nyentuh istrinya. Istri adalah sebenar-benarnya pelampiasan yang sah bagi seorang suami." Kata Bang Abimanyu kemudian mendekap juniornya itu.
"Astagfirullah hal adzim." Bang Bara mengusap dadanya sekedar menenangkan hati yang tidak karuan.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Any Anthong
tokcer y bang uget2 2
2023-03-31
2
Ratu Tety Haryati
Sebetulnya serba salah bagi Bang Bara, hanya karena ingin berbaktinya seorang anak pada ibu, dan sayangnya Sang ibu yang mengutamakan status dan kekayaan, jadilah prahara ini.
Semoga semua dapat diselesaikan dgn baik, dan Bang Bara ikhlas dgn keputusannya
2023-03-12
1
🍀 chichi illa 🍒
alhamdulilah sanca junior otw
2023-03-09
1