12. Cobaan.

Naik konflik.. tanpa mengurangi rasa hormat, yang tidak tahan dengan konflik. Di mohon untuk undur diri. Terima kasih..!!

🌹🌹🌹

Satu setengah jam berlalu, tidak ada tanda Hemas berada di sekitar tempat mereka padahal jika menelisik lebih dalam, Hemas tidak akan berlari jauh.

"Bagaimana apa ada tanda Hemas di temukan??" Tanya Bang Bara.

"Tidak ada." Jawab Bang Priyo saat mereka sudah berkumpul bersama.

Kepala Bang Sanca berputar-putar sampai terhuyung di samping Bang Bara. Rasanya sungguh terpukul mendengar sang istri tak di temukan dimana pun.

"Sabar pot, tenang. Jangan panik dulu..!!" Bang Bara menahan tubuh sahabatnya.

"Nggak panik bagaimana Bar, istriku hamil." Suara Bang Sanca begitu lirih.

Bang Bara sudah menahan tubuh Bang Sanca namun badan Bang Sanca yang tinggi dan gagah membuatnya sedikit kesulitan menahan. Sigap Bang Priyo pun membantunya.

"Jangan ikut terbawa arus pot. Kamu harus kuat, tenangkan diri..!!" Bang Bara memijati kening Bang Sanca. Apapun yang telah terjadi di antara mereka tak menyurutkan rasa simpatinya pada sahabatnya itu.

Sesak merajai diri, ia terdiam sejenak. Ada rasa menekan jantungnya. Bang Sanca menggigit bibirnya.

"San.. Sancaaaa..!!" Bang Bara menggoyang tubuh Bang Sanca.

"Tolong cari Hemas. Cepaaaatt..!!!" Pinta Bang Sanca.

...

"Sementara gejala sakit jantung atau bisa juga tekanan darah tinggi. Tapi kita harus memeriksa seluruh kondisi Sanca untuk mengetahui jawaban pastinya" Kata dokter saat Bang Priyo membawanya ke rumah sakit.

"Bagaimana bisa Sanca terkena gejala sakit jantung?? Apa saat pemeriksaan kesehatan di pendaftaran dulu tidak terdeteksi apapun." Tanya Bang Priyo.

"Tidak semua sakit bisa terlihat sejak awal."

//

Samar Bang Bara melihat sosok yang tergeletak di tepi sungai. Ia pun mendekatinya dan benar saja, sosok tersebut adalah Hemas.

"Deekk.. Ya Allah.. Kenapa kamu keluar dari rumah dan tidak mendengarkan suamimu???? Abang yakin suamimu tidak akan bertindak di luar batas..!!" Saking takutnya, Bang Bara memeluk tubuh Hemas dengan erat. "Bangun dek, bangun sayang..!! Abang akan lakukan apapun demi kebahagiaanmu."

"Bawa Hemas pergi, jauh dari Bang Sanca..!!" Pinta Hemas.

Tentu saja Bang Bara senang mendengarnya tapi ia masih waras untuk bisa berpikir jernih. Kini Hemas adalah istri sahabatnya dan ia tidak ingin menjadi batu sandungan di antara sahabat dan mantan kekasihnya.

"Dek, jangan mengambil keputusan sepihak tanpa kamu akan tau hasil akhirnya. Abang sudah pernah melepasmu dalam kalutnya pikiran. Karena hal itu pula Abang menyesal, rasa sakitnya tak terkira dan belum ada obatnya, Abang harap kamu juga berpikir dengan segala tindakanmu. Masalah Cena masih di tangani. Sanca belum tentu melakukannya. Itu hanya sekedar kata-kata dari Cena."

"Selama jeda waktu ini Bang Sanca tidak mencoba untuk menyelesaikan masalah di antara kami. Abang lebih memilih mendiamkanku. Hemas sangat tersiksa dengan sikap Abang. Sekarang kekasihnya datang dan mengatakan bahwa dia hamil. Bisa saja dalam rentang waktu kerenggangan kami.. Bang Sanca bertemu dengannya lalu melakukannya." Jawab Hemas.

"Kita tidak bisa memutuskannya hanya dari amarah dan analisamu. Abang bawa kamu ke rumah sakit. Kasihan calon anakmu..!!"

...

Bang Wilang, Bang Larung dan Bang Abimanyu sudah tiba di rumah sakit. Bang Sanca belum juga sadar. Kejadian ini membuatnya syok, nadinya sangat lemah.

"Kenapa Sanca bisa sampai begini??" Tegur Bang Larung.

"Ijin Bang, tadi Sanca terlalu gelisah karena Hemas tidak kunjung di temukan. Setelahnya dia lemas sambil meremas dadanya. Sudah beberapa bulan ini Sanca terlihat kurang fit." Jawab Bang Priyo.

"Ada apa dengan Sanca?" Bang Abimanyu Tutut prihatin melihat keadaan Bang Sanca.

Bang Wilang mengusap wajah adik iparnya yang terlihat sangat pucat. "Begitulah kalau kurang kepercayaan. Seharusnya Hemas percaya dengan suaminya dan lagi Sanca tidak terlampau stress agar tidak terjadi hal berkepanjangan seperti ini."

"Mungkin salah satunya karena bawaan hamil juga. Sanca jauh lebih stress dari biasanya."

"Siap Bang." Bang Priyo pun membenarkan semua.

"Lalu sekarang dimana Hemas?" Tanya Bang Larung.

"Ada bersama Bara." Jawab Bang Wilang yang sesaat tadi sudah mendapatkan laporan bahwa adik bungsunya sedang bersama juniornya itu.

//

Dokter Hagi memeriksa kondisi Hemas secara menyeluruh. Melalui layar USG beliau menarik nafas. "Apa kalian mau mempertahankan calon bayi ini?"

"Ada apa dok?" Tanya Bang Bara cemas.

"Usia kehamilan awal ini sudah bisa mendeteksi bahwa calon bayi ini beresiko down syndrome. Keadaan janin juga lemah karena benturan. Ada flek yang semakin memperburuk keadaan." Jawab jujur dokter Hagi.

Bang Bara ikut terasa begitu berat mendengarnya tapi segala keputusan bukan ada pada dirinya melainkan Sanca sahabatnya yang juga suami dari Hemas.

"Saya akan menemui Sanca, dia yang berhak memutuskan..!!" Kata Bang Bara.

:

"Ada apa Bar?" Selang infus masih menancap di punggung tangan, selang oksigen masih menopang jalan nafas Bang Sanca. Seluruh Abang dengan di temani dokter Hagi sebagai saksi sudah menunggu kabar dari Bang Bara.

"Saya minta maaf San, tapi siap tidak siap kamu harus mendengarnya. Terus terang keadaan Hemas sedang tidak baik-baik saja. Ada masalah dengan kandungan istrimu. Calon bayimu terindikasi mengalami down syndrome." Kata dokter Hagi membuka pembicaraan.

Benar saja ketakutan para Abang. Bang Sanca kembali meremas dadanya seakan tak kuat mendengar berita tersebut. Dengan sigap Bang Wilang mendampinginya adik iparnya. "Aku akan menerima apapun keadaan anakku. Dia darah dagingku dan sampai kapanpun aku akan menyayanginya."

"Aku tau Sanca. Masalahnya calon bayimu juga tidak begitu kuat melekat, ada sedikit flek kemudian berubah menjadi pendarahan yang mengarah pada keguguran. Maka dengan berat hati kami menyarankan agar calon anakmu lebih baik di angkat saja." Imbuh Bang Bara.

"Astagfirullah.. Yg Allah..!!" Bang semakin erat meremas dadanya. Tubuhnya sampai mengejang merasakan sakitnya perasaan. "Jangan..!! Aku rela melakukan apapun, aku sanggup membayar mahal asal jangan sakiti anakku."

"Kandungan ini tidak sehat San. Bisa membahayakan nyawa istrimu juga..!!" Jawab dokter Hagi sembari membawa sebuah map di tangannya.

Bang Sanca histeris dan mengamuk tak sanggup merasakan situasi yang ia hadapi saat ini.

"Sancaaaa, istighfar..!! Yang kuat le..!!" Bang Wilang mencoba menguatkan adiknya itu.

"Anakku Bang, anakkuuuu..!! Istriku pasti menanyakan anak ini Baaaaang. Aku nggak kuat, aku nggak siap"

"Sancaaa............."

***

Bang Sanca menemui sang istri yang baru saja tersadar. Wajah Hemas begitu murka melihat kedatangan Bang Sanca. Tangisnya pecah setelah mengetahui keadaan dirinya. Ia pun tak kalah histeris dari Bang Sanca semalam.

"Kalau Abang tidak mencari Dinda.. Dinda tidak masalah. Mungkin memang benar Abang lebih mementingkan Mbak Cena yang sedang hamil anak Abang, tapi kenapa harus Bang Bara yang peduli sama Dindaa????" Teriak Hemas. Ia menarik pakaian Bang Sanca sampai memukulnya, meluapkan rasa marahnya "Apa begitu besar rasa cintamu untuk Mbak Cena sampai Abang ingin anakku yang pergi dari dunia ini????"

"Sebegitu hinakah kamu menilai suamimu Dinda?? Tak bisakah Dinda tanyakan bagaimana sakitnya hati Abang kehilangan anak kita??" Tanya Bang Sanca menahan air matanya.

"Kalau Abang memang sedih kehilangan anak kita, kenapa Abang menggugurkannya. Apa hanya anak Mbak Cena yang akan Abang akui??" Hemas kembali berteriak sekuatnya.

Bang Sanca menengadah menahan rasa perih. Tuntutan pertanyaan itu begitu menyiksa batinnya.

"Kenapa tidak bisa menjawab?? Apa benar yang Dinda katakan???"

Bang Wilang menyentuh bahu Bang Sanca, ia mengisyaratkan agar Bang Sanca bisa lebih jujur dan tidak memikul beban batin yang begitu berat ini.

"Aku yang tidak sempurna menjadi seorang laki-laki, benih yang kutanam membuatnya down syndrome." Ucap Bang Sanca merasa rendah diri.

"Dinda sanggup merawatnya Bang."

"Abang tau, tapi Dinda terperosok. Perut Dinda terbentur dan terjadi pendarahan.. tidak ada tindakan apapun selain mengangkatnya." Jawab Bang Sanca.

Kondisi mental Hemas yang buruk membuatnya tidak stabil. "Nggak.. bohong. Dinda ingin anak itu kembali..!!!!" Hemas meronta tidak bisa menerima kenyataan.

Bang Sanca segera memeluk untuk menenangkan sang istri. Ia pun kalut. "Dindaaa.. jangan begini Dindaaaa..!!!!!! Hati Abang sakit sekali Dindaaaaa..!!" Keadaan Bang Sanca mulai melemah, agaknya ia memang terlalu memaksakan diri untuk melepas segala alat di tubuhnya.

Bang Wilang sampai memejamkan matanya ikut memeluk keduanya. "Cobaan ini kalian pikul berdua. Selesaikan baik-baik tanpa emosi..!! Sanca menekan emosi. Hemas mendengarkan dulu penjelasan suami..!!"

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Iis Cah Solo

Iis Cah Solo

💪💪💪💪💪💪😍😍

2023-10-08

0

🍀 chichi illa 🍒

🍀 chichi illa 🍒

lanjuuut mba Nara

2023-03-15

2

M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛⒋ⷨ͢⚤

M⃠Ꮶ͢ᮉ᳟Asti 𝆯⃟ ଓεᵉᶜ✿🌱🐛⒋ⷨ͢⚤

sabar Hemas Sanca😔😔

2023-03-12

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!