11. Cemas.

Bang Sanca dan Bang Wilang bisa bernafas lega akhirnya Hemas tidak merasakan sakit lagi.

"Sudah aman San??" Tanya Bang Wilang.

"Aman Bang." Bang Sanca terduduk lemas. Ia memercing menahan nikmatnya rasa mual. Kepala berdenyut membuatnya pening.

"Mual San? Minum saja obat dari dokter..!!" Saran Bang Wilang.

"Nggak mempan Bang..!! Rasanya hilang dan timbul tiba-tiba."

Bang Wilang yang sempat merasakan nikmatnya sensasi mual pada kehamilan anak kedua pun hanya tersenyum tipis. Ingatan masa lalunya masih teringat di pelupuk mata.

Tak sampai menunggu waktu lama, ada panggilan telepon dari sang istri. Bang Wilang segera mengangkat panggilan telepon tersebut. Sengaja dirinya mengaktifkan loudspeaker karena kemarin ponselnya sempat terjatuh dan membuat suara ponselnya sedikit mengalami gangguan.

"Assalamu'alaikum.. Mas dimana?" Tanya Mbak Iyang.

"Wa'alaikumsalam Dinda.. masih di rumah Sanca. Ada sedikit masalah. Kenapa sayang?"

"Kita ke rumah sakit yuk Mas, ini kenapa testpack nya garis dua ya. Apa testpack nya rusak??" Kata Mbak Iyang di seberang sana.

Untung sejenak bibir Bang Wilang terasa kaku, anak pertamanya saja sudah seusia adik bungsunya Hemas. Mana mungkin dirinya sampai kecolongan punya anak ke empat.

"Ya sudah Mas pulang ya. Kita ke rumah sakit." Jawab Bang Wilang.

"Waduuuhh.. bakal ada si bontot nih." Ledek Bang Sanca.

"Diam lu San. Kalau sampai besok lu keceplosan baru dah tau rasa." Secepatnya Bang Wilang mengambil langkah seribu.

...

Alat USG memeriksa kondisi rahim Mbak Iyang. Jantung Bang Wilang ikut berdebar melihat littingnya belum juga memberinya penjelasan.

"Bagaimana pot?" Tanya Bang Wilang.

"Kenapa baru kamu periksakan sekarang. Ini anak perempuan." Jawab dokter Hagi.

"Maksudmu opo?"

"Ini sudah hamil lima bulan Wil."

"Haaaahh.." mata Bang Wilang melotot tak menyangka anak ke limanya sudah sebesar itu di dalam rahim Mbak Iyang.

//

Malam ini hujan turun begitu deras, kilat menyambar. Terdengar suara ketukan pintu di rumah Bang Sanca dan suami Hemas itu segera membukanya.

"Cena????" Bang Sanca melihat Cena basah kuyup, badannya menggigil. "Kamu darimana? Kenapa bisa kembali lagi kesini??"

"Siapa Bang?" Tanya Hemas.

"Cena dek." jawab jujur Bang Sanca.

Hemas keluar dari kamar, ia pun turut melihat apa yang terjadi dengan tamunya.

"Aku hamil Bang." Ucap Cena mengagetkan Hemas.

Seketika itu juga Bang Sanca cemas luar biasa melihat reaksi sang istri yang bersandar lemas di tepi pintu. "Dindaa.. jangan salah paham..!!"

"Itu.. anak siapa?" Tanya Hemas dengan kaki gemetar.

"Anak Bang Sanca." Jawab Cena.

"Cenaaa..!!!!!"

Hemas mengibaskan tangan Bang Sanca. Hatinya terasa sakit karena Bang Sanca mengkhianatinya.

"Sumpah Dinda.. Abang nggak pernah melakukannya. Abang hanya melakukannya sama kamu.. istri Abang." Bang Sanca berusaha meyakinkan sang istri yang tengah terbakar emosi.

"Nggak mungkin Abang nggak melakukannya. Abang berpacaran dengan Cena cukup lama. Dinda memang tidak begitu mengingat apa yang kita lakukan, tapi hati Dinda sakit membayangkan Abang melakukan hal seperti itu bersama Mbak Cena apalagi sampai mbak Cena hamil..!!" Hemas berlari keluar dari rumah.

"Dindaa..!!" Bang Sanca tidak sempat menggapai tangan Hemas. "Aahh.. ****" Bang Sanca masuk ke dalam kamar untuk mengganti sarungnya dengan celana panjang. Hatinya sungguh mencemaskan keadaan Hemas hingga melupakan Cena masih ada di sana.

"Bang..!!" Sapa Cena yang sudah berdiri di bingkai pintu melihatnya berganti celana.

"Apa-apaan kamu Cena.. cepat keluar..!!" Bentak Bang Sanca sambil berbalik badan mempercepat memakai pakaiannya.

"Kamu berubah Bang, dulu kita biasa saja. Bahkan kita saling menyenangkan." Kata Cena.

"Itu dulu Cena. Saat aku masih b******n dan terperangkap nafsu setan tanpa pikiran. Sekarang aku sudah beristri. Tidak ada lagi urusan di antara kita..!!!!" Ucap tegas Bang Sanca.

"Sancaaaaaaaaa...!!!" Tak tau sejak kapan, tiba-tiba saja Bang Wilang sudah ada disana dan melihat posisi Bang Sanca yang 'salah'. "Kamu berduaan dengan Cena di dalam kamar???? Lalu dimana Hemas???????"

"Nanti saya jelaskan Bang..!!" Bang Sanca berlari menyambar HT, ponsel, dompet dan segera berlari keluar mencari Hemas.

"Kamu berurusan dengan saya..!!" Bang Wilang menatap mata Cena.

~

"Tutup seluruh portal.. cegah istri saya keluar kesatrian dan tunggu saya datang..!!!!!" Perintah Bang Sanca melalui HT.

"Bang.. ibu Sanca lari keluar lewat jalan samping..!!" Laporan seorang anggotanya.

"B**oh kalian..!!!!!!!" Bang Sanca mempercepat langkahnya.

:

"Dindaaaaa.." Bang Sanca terus berteriak, kini Bang Priyo dan Bang Bara sudah turut membantu mencari Hemas.

"Cari ke tepi tebing pot, jalan disini gelap. Siapa tau Hemas terperosok." Kata Bang Bara dalam kepanikannya. "Sebenarnya apa yang terjadi??? Kenapa Cena sampai hamil???"

"Kenapa kamu tanya aku?? Memangnya aku yang buat dia hamil?????" Bentak Bang Sanca.

"Aku tau nafsumu hanya sejengkal San.." kata Bang Bara.

"Aku punya pikiran Bar."

"Heeehh sudah, kalian jangan bertengkar. Ayo cari Hemas dulu..!!" Ajak Bang Priyo.

.

..

..

.

Terpopuler

Comments

Iis Cah Solo

Iis Cah Solo

ulah kitu atu sicena teh😀😀😀

2023-10-08

0

🍀 chichi illa 🍒

🍀 chichi illa 🍒

ini kasus bos ku dlu gitu alhasil anak ke 3 nya umur 11 bulan adek nya lahir 😂😂😂

2023-03-15

2

🍀 chichi illa 🍒

🍀 chichi illa 🍒

😂😂😂😂😂😂🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️

2023-03-15

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!