"Kenapa kita kesini?"
Galexia mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru tempat yang di jejaki sekarang. Gadis berpakaian santai itu terlihat menghela napas pelan, kedua bola mata abu abunya bergulir pelan tertuju pada pria yang tengah tersenyum manis ke arahnya.
Galexia dibuat semakin tidak mengerti kenapa pria yang ada di hadapannya saat ini membawanya ke tempat yang cukup romantis menurutnya, walaupun agak sedikit lebai dengan ornamen love berwarna merah muda yang mampu membuat matanya pedih.
Galexia benci warna merah muda!
"Ya, kita makan malam lah. Sekarang kamu pilih saja mau pesan makanan apa, malam ini aku bakalan turutin apa pun yang kamu mau, kecuali pulang!"
Mulut Galexia yang tadinya siap membuka seketika menutup kembali, padahal kata Pulang sudah siap dia lontarkan tadi- tapi sayang Pradivta sudah mengskaknya terlebih dahulu.
Sang gadis dengan kesal marah buku menu yang sudah tersedia di meja, kedua mata abu abunya menelisik setiap tulisan menu makanan yang ada di hadapannya. Cukup menggoda selera, namun sepertinya malam ini Galexia hanya akan memesan salad- tapi dalam porsi yang tidak sedikit tentunya.
"Salad, tiga porsi!" cetus nya tanpa beban.
Gadis itu meletakan buku menu di depan Pradivta, lalu mengedarkan pandangannya ke arah lain bersikap tidak peduli. Bila perlu Galexia akan menambah makanannya lagi, perlahan sudut bibir gadis itu terangkat- hanya sedikit dan tidak di sadari oleh Pradivta.
Bahkan saat ini diam diam Galexia melirik pria itu lewat ekor matanya. Ide cemerlang tiba tiba saja terlintas di otaknya sekarang, ide yang belum terpikirkan olehnya selama ini.
"Gue mau nambah makanannya!" tanpa permisi Galexia kembali merebut buku menu yang ada ditangan calon suami pilihan orang tuanya itu.
Tanpa peduli dengan raut wajah terkejut yang Pradivta tunjukan saat ini, Galexia menyebutkan beberapa nama menu makanan berat yang cukup mahal dan dalam porsi yang tidak sedikit. Bibir sexynya terus saja bergerak, kedua bola mata abu abunya pun tidak kunjung berhenti bergulir mengikuti setiap huruf yang tertera di sana. Galexia terlihat masa bodo dengan Pradivta sekarang, ide cemerlang yang ada di dalam otaknya saat ini harus segera terlaksana.
Sementara itu, di hadapannya Pradivta hanya diam tak bersuara- pria itu menatap lekat pada gadis yang akan dinikahinya beberapa bulan kedepan. Bahkan Pradivta terlihat menopang dagunya, kedua matanya menatap lekat dan dalam pada gadis yang tengah bersemangat menyebutkan banyak menu makan malam mereka nanti.
"Gue pesen semuanya!" Galexia mengakhiri ucapannya. Kedua matanya terlihat berbinar, senyumannya terus saja mengembang- entah mengapa dia sangat yakin kalau saat ini pria yang ada dihadapannya mulai ilfil dan berpikir berkali kali untuk menjadikannya istri.
Pradivta tidak mungkin menyukai lalu menyetujui hubungan yang sudah terjalin ini kalau calon istrinya terlihat rakus seperti dirinya bukan.
Galexia perlahan mengangkat wajahnya, senyumannya masih terpatri bahkan terlihat melebar- tapi hanya beberapa detik saja, karena saat netra abu abunya bertemu dengan netra lembut milik Pradivta seketika senyumannya luntur. Dahi sangat gadis berkerut dalam kala melihat Pradivta tengah menatap lekat dan tersenyum manis kepadanya.
"Makan yang banyak, aku lebih suka lihat calon istriku berisi. Kayaknya lebih gemoy dan menggemaskan, ayo tambah lagi menunya! Nanti kalau enggak habis kita bisa bungkus,"
Glek!
Susah payah Galexia menelan salivanya, bahunya yang terangkat kini mulai turun dan melemas. Bahkan secara tidak sadar dia menyandarkan punggungnya di kursi, lalu menghirup napasnya dalam guna untuk mengontrol emosinya yang datang secara tiba tiba.
Dia gagal!
Dirinya gagal membuat Pradivta ilfil, bahkan kenyataan yang ada dihadapannya saat ini sangat jauh dari ekspetasinya. Bahkan sangat jauh, Galexia berkhayal kalau Pradivta akan marah, memakinya, mencelanya sebagai gadis rakus lalu pergi meninggalkannya sendiri begitu saja, tanpa mau bertanggung jawab membayar semua tagihan makan malam mereka. Dan tentunya itu bisa Galexia jadikan sebagai bukti kalau dirinya dan sang pria pilihan kedua orang tuanya tidaklah cocok sama sekali.
Hingga pada akhirnya perjodohan sepihak ini batal, kisah pun tamat.
Tapi apa ini? Kenapa Pradivta malah terlihat senang, bahkan menyuruhnya untuk memesan banyak makanan?
"Xia, apa ada lagi yang mau kamu pe-,"
"Udah!" selanya cepat.
Galexia tidak tahu lagi harus berbuat apa agar bisa membuat Pradivta ilfil dan meninggalkannya, tapi sepertinya saat ini bukan soal pria itu yang membuatnya terkena vertigo seperti Galaska sang Papi, melainkan makanan yang di pesannya tadi. Sanggupkah dia menghabiskannya nanti? Bukankah tidak baik membuang makanan, tapi apa perutnya yang datar sanggup untuk menampungnya nanti?
Ya semoga saja.
💕
💕
💕
Makan malam keduanya berjalan lancar, Galexia terlihat cukup menikmati makanan yang sudah di pesannya tadi, walaupun sesekali bola matanya bergerak melirik deretan menu makanan yang ada di atas meja.
Perlahan mata abu abu itu bergulir, menatap diam diam pada pria berwajah tampan dan manis yang saat ini masih setia mempertahankan senyuman tipis di bibirnya. Galexia sampai mengernyitkan dahinya melihat senyuman Pradivta, entah apa yang sedang pria itu pikirkan saat ini hingga bisa tersenyum sepanjang menikmati makan malamnya.
Sesi makan malam hampir berakhir, Galexia tidak mampu menghabiskan semua menu yang di pesannya. Sungguh sangat di sayangkan, kalau saja perutnya tidak terasa penuh mungkin semua makanan lezat dan cukup menguras kantong itu akan menemaninya tidur malam ini.
Sang gadis termenung, saat ini dia tengah memikirkan nasib makanan yang sudah terlanjur di pesannya ditambah lagi bagaimana cara dirinya membayar nanti. Galexia sendiri tidak membawa uang sepeser pun, dan tidak mungkin kan kalau Pradivta mampu membayar semua menu makanan cukup mahal ini. Lagian untuk apa pria itu membawanya ke restoran mahal seperti ini? Kenapa tidak membawanya ke rumah makan padang sederhana, warung tenda pecel lele, tukang bakso atau tukang sate yang biasa berjualan di tepi jalan saja.
Ck merepotkan! Harusnya Pradivta mengukur kondisi dompetnya dulu sebelum membawanya kemari. Semoga saja mereka tidak berakhir di dapur restoran untuk mencuci semua piring kotor dan peralatan masak lainnya untuk bisa membayar mahal makan malam ini.
"Makanannya mau di bungkus?"
Galexia tersentak, gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap lekat pada Pradivta yang terlihat santai seolah tidak memiliki beban hidup sepertinya sekarang.
"Eem- Gue, kita ini- gimana ba-,"
Galexia bahkan kesulitan untuk menggerakan lidahnya, padahal seuntai kalimat sudah tertulis didalam otaknya namun sulit untuk dia ucapkan sekarang. Dan lagi ucapannya harus terputus saat sering ponsel milik Pradivta menggema, situasi yang benar benar berhasil membuat Galexia vertigo.
Pradivta terlihat merogoh ponselnya, wajah sumringah nya masih terpatri sebelum dia melihat layar benda pipih kesayangannya. Sebuah pesan singkat dan rahasia masuk, dengan caption-
'Berang berang ada di titik mu saat ini! Kirim umpan ikan segar segera!'
Pradivta menelan salivanya susah payah, bila matanya melirik perlahan pada gadis yang ada dihadapannya saat ini. Sang gadis terlihat santai menyeruput jus jambu biji miliknya dan sesekali mengedarkan pandangannya ke arah lain.
Bagaimana ini? Pradivta menjadi bingung sendiri sekarang. Haruskah dia bertugas saat ini dan meninggalkan makan malam limitide editionnya bersama Galexia atau stay di tempat karena sudah memiliki janji dengan sang Eyang?
Ingat ini makan malam, bukan tugas malam!
Kalimat itu kembali menggema di dalam otaknya, Pradivta belum bisa memutuskannya sekarang. Dia berharap sebentar lagi akan ada ilham yang datang agar dirinya bisa segera mengambil keputusan tanpa mengabaikan salah satu dari mereka, si judes sexy plus cantik dan tugas negaranya.
AWAS KESELEK MAS
BERHARAP SI DIO ILFIL EH MALAH TERSEPONA DIANYA🙈🙈🤣🤣
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Abie Mas
kere suaminya istrinya banyak makan
2023-12-02
3
aisya_
kno bawa2 ilham si kakek buyut..
2023-09-10
0
Alexandra Juliana
Sebanyak apapun kamu pesan makanan pasti Divta bisa byr Lexy...Jd ingat sama Pak Penghulu yg hidupnya sederhana dan Cia kira pehasilannya hanya dr honor menikahkan byk pasangan ternyata diam² punya perkebunan coklat dan hektaran sawah..Smg Divta juga diam² punya aset lainnya selain motor keren dan mobilnya yg di peram di garasi😁😁
2023-09-03
1