Kedua manusia beda gender yang saat ini tengah saling berhadapan itu masih saling diam, Galexia yang sedari tadi menantikan pria bermasker di hadapannya berbicara hanya menaikan sebelah alisnya, melipat kedua tangannya di dada- ekspresinya terlihat santai dan seolah mempersilahkan lawan bicaranya memulai pembicaraan.
Tapi nyatanya, sekian menit berlalu pria bermasker dan bertopi hitam itu tidak juga kunjung memulainya, jujur Galexia juga kian bosan dan ingin segera pergi dari tempat itu.
Di luar ruang interogasi, beberapa orang juga terlihat menunggu Sang Komandan Tim berbicara dan segera menginterogasi gadis bar bar yang berhasil membuat mereka mengelus dada.
"Kenapa Komandan diam saja?" tanya salah satu dari mereka.
Para rekannya tidak menyahut, mereka hanya mengedikan bahu tanda tidak tahu, kedua mata mereka terus saja terarah pada pembatas kaca yang menjadi penghalang.
Didalam sana suasana masih sama, lima belas menit berlalu tapi tidak ada kemajuan sama sekali. Hingga pada akhirnya Galexia yang sudah semakin bosan bercampur kesal terdengar berdecak, gadis itu menegakan tubuhnya- mencondongkannya agar lebih dekat dengan pria yang belum dia ketahui bentuknya seperti apa karena terhalang masker dan topi.
Bahkan untuk melihat kedua matanya saja Galexia tidak bisa. Dia heran kenapa pria ini malah menutup seluruh tubuh bahkan wajah dan kepalanya dengan kain berwarna hitam, padahal rekannya yang lain tidak menggunakan atribut yang sama?
Aneh sekali? Apa jangan jangan pria ini memiliki sindrome pemalu, atau dia tidak memiliki hidung?
Galexia terus saja memicingkan kedua matanya, bola mata berwarna abu abu itu terus saja bergulir memindai tubuh lawan bicaranya dari atas hingga bawah, guna mencari celah agar dirinya tahu hal apa yang tersembunyi dibalik kain dan benda hitam yang membalut tubuh itu.
"Kalo lo memang gak mau ngomong, mending lo suruh bawahan lo buat nganterin gue pul-,"
"Pulanglah!" selanya cepat.
Galexia yang belum sempat menyelesaikan ucapannya terlihat mengernyit, mulutnya masih terbuka- kedua mata abu abunya menatap lekat pada orang yang baru saja membuka suaranya walaupun hanya sepatah kata dan terdengar tidak jelas.
"Lo ngomong apa?" tanyanya.
Galexia kian mencondongkan tubuhnya hingga semakin mendekat pada sang introgan, dia mencoba lagi untuk mengintip wajah serta mata yang sedari tadi enggan menatapnya.
Tapi bukannya mendapat jawaban yang dia inginkan, sang introgan justru berdiri kala melihat gadis yang ada di hadapannya kian mendekat. Sepertinya dia mengambil jalur aman untuk saat ini, jangankan untuk membuka masker dan topi- untuk membuka suara saja dirinya belum yakin.
Galexia kian di buat meradang karena di abaikan, gadis itu bangkit dan dengan cepat mendekat pada pria yang hendak keluar dari ruang interogasi- tangan gadis itu reflek menarik jaket hitam yang di pakai sang introgan, membuat pria itu hilang keseimbangan dan berhasil Galexia pojokan dengan posisi wajahnya menekan pembatas kaca.
Para rekannya yang melihat hal itu tersentak kaget, mereka reflek berteriak dan mendekat namun langkahnya kembali berhenti saat melihat Sang Komandan mengangkat satu tangannya tanda baik baik saja.
"Lo pikir bisa keluar dan pergi gitu aja setelah rekan tim sialan lo bikin mood gue tambah ancur?!" desis Galexia.
Gadis itu melipat salah satu tangan pria yang tengah disandera nya ke arah belakang, membuat sang pemilik tangan sulit untuk berkutik- bahkan saat memberontak tangan itu akan terasa menyakitkan karena sudah terkunci.
"Lo tau, gue datang kesana bukan karena ikut kelompok kriminal yang lo incer itu. Tapi gara gara cowok sialan yang ingkar janji, dua jam gue nunggu tapi dia gak datang datang. Di telpon gak diangkat, di chat gak di bales, maunya apa sih tuh cowok?! Dan sekarang lo juga bikin mood gue tambah anjlok!"
"Aakkhh!" pekiknya.
"KOMANDAN!" seru beberapa orang yang ada di luar, kala melihat sang komandan tim mereka meringis saat sang gadis bar bar kian menekan lengan serta mengunci pergerakannya.
"Sorry," gumamnya.
Suaranya berusaha dia tahan, ekor matanya berusaha melihat kebelakang dimana sang gadis berada. Dia menghirup napas dalam, menghembuskannya pelan- ucapan yang di lontarkan gadis itu kian membuatnya merasa bersalah. Ya dia bersalah karena harus mengingkari janjinya sendiri, bahkan untuk membalas chat serta mengangkat panggilan telepon saja tidak bisa.
"Gue paling benci sama orang yang suka ingkar janji," imbuhnya lagi kian rendah dan dalam.
"Sorry," gumamnya, terdengar tertahan tapi penuh akan penyesalan bahkan terdengar tidak jelas sama sekali.
Galexia tertawa kecil, dia melepaskan kunci'annya lalu perlahan menjauh dari pria yang sedari tadi berada didalam kuasanya. Galexia tahu kalau pria itu tidak melakukan perlawanan secara maksimal, bukan karena tidak bisa melawan dan melepaskan kunci'annya, lebih tepatnya mengalah- Galexia tidak suka itu, karena merasa dianggap lemah.
"Bukan lo yang salah, tapi orang lain gak perlu minta maaf. Ya walaupun lo juga salah karena udah nangkap gue tanpa alasan, tapi ya udahlah- anterin gue pulang dan balikin motor gue ke rumah! Gue mau pulang dan bakalan bikin perhitungan, liat aja nanti!"
Setelah mengatakan hal itu Galexia benar benar menjauh dan keluar begitu saja dari ruang interogasi, meninggalkan pria yang masih memejamkan kedua matanya tanpa berani melihat kepergian sang gadis.
"Ck, dia benar benar marah." gumamnya lagi.
OTW DAPET HADIAH🙈🙈🤣🤣
MODE NGAMBEK
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Nindhi Pratiwi
pas bgt pelampiasan nya kepada pelaku 😂🤣
2024-05-17
0
rorosableng
rrrrrrrr..
2024-04-22
1
Abie Mas
marah
2023-12-02
2