Saat Intan memasuki kamar, Bani telah menunggu dan menagih janji nya untuk menikmati malam yang akan sangat panjang ini.
Melihat senyum smirk yang ada di bibir Bani membuat Intan bergidik ngeri.
"A... A.. aku mandi dulu ya sayang, badan ku rasanya lengket semua"
Setelah mengatakan itu, Intan langsung ngacir ke kamar mandi, khawatir di terkam oleh Bani yang sepertinya sudah tak sabar.
Benar saja, ketika Intan sedang menikmati guyuran air hangat dari shower, dia merasakan tangan kokoh sedang menyabuni punggungnya.
"Ah, mas... bikin kaget aja, aku kok gak dengar kamu masuk?"
Bani menjawab pertanyaan Intan dengan *******, belai** dan remas**
Hingga tak ada lagi kata-kata yang terucap dari bibir mereka berdua.
Bani benar-benar membuat Intan memenuhi janji nya, tak hanya di kamar mandi, bahkan setelah keluar kamar mandi, selama Intan berada di kamar utama, Bani terus menempel ditubuh Intan bak pakaian.
Akhirnya Intan pasrah tidak memakai pakaian nya, dan dia langsung di gendong ala bridal style ke atas peraduan mereka.
Setelah bertempur habis-habisan, alhasil mereka berdua bangun kesiangan dan tak ada yang berani membangun nya.
.
.
Sebagai asisten pribadi Intan, Dewi sudah mengatur semuanya, Deni dan Alan ditugaskan merambah bantuan bukan hanya untuk panti, namun juga tempat-tempat ibadah, sekolah dan desa tertinggal.
Dewi meminta Chen menemani nya untuk menemui Anita menggantikan Bani dan meminta Jein untuk menyuruh salah satu pengurus rumah mengawasi Adel dan Adit.
Karena dealer mengabari akan mengantarkan Alpradh, TSujuki, mobil boks dan Mitcubici Dewi juga meminta Jein menghubungi bagian pelayanan perumahan untuk meminta tiga orang sopir dan dua orang pengasuh.
Sambil menyetir mobil, Dewi berbincang dengan Chen
"Kak Chen, Semoga hari ini kita sudah bisa membuka rekening atas nama perusahaan, jadi aku tidak ribet harus bolak balik konfirmasi kepada Intan"
Chen menepuk pundak Dewi "Aku yakin bisa, serahkan saja padaku.
Oh iya Wi, aku penasaran, Intan dan Bani itu anak dari panti, mereka mendapatkan kemewahan ini dari mana Wi?"
Dewi melirik Chen sebentar lalu dia mengangkat bahu nya "Waktu bertemu denganku dia bilang mendapatkan kekayaan dari emak angkat nya, sekarang lagi di luar negeri, entah negeri mana.
Aku gak mau ambil pusing kak, dia itu orangnya baik banget, gak ada dua nya, dia juga orang pertama yang berani menggaji tinggi fresh graduate seperti ku.
Dari hasil analisa ku, setiap kali Intan membayar tagihan atau membeli apapun, emak nya selalu mentransfer lagi dan lagi, seperti tau duit anak nya berkurang.
Dan jumlah transfer nya melebihi apa yang Intan belanjakan, karena gak mungkin dia belanja terus kecuali emak nya ngasih ratusan juta trilyun.
Tau sedikit itu lebih baik untuk keselamatan kita kak, itu aja sih saran ku, yang penting gaji lancar, tunjangan oke dan bonus melebihi gaji, yang lain mah gak usah di ambil pusing kak"
Chen hanya mengangguk kan kepalanya "Baiklah jika seperti itu, aku gak akan tanyakan lagi, tadi itu aku hanya penasaran"
Dewi memberi tanda oke ditangan kirinya "Ga pa pa kak, itu lebih baik daripada berspekulasi yang aneh-aneh.
Intan juga gak pernah mementingkan dirinya sendiri, sedihlah pokok nya mah kalau ceritain masalah Intan.
Pokoknya kita support aja Intan dengan usaha nya ini, toh semuanya dia lakukan untuk kita-kita juga"
Chen merasa sangat beruntung, keputusan nya untuk bekerja di perusahaan yang Intan sedang rintis sudah sangat tepat.
.
.
Intan yang baru bangun melihat notifikasi di smartphone nya langsung gembira, dia mendapatkan laporan dari Dewi jika perusahaan sudah berdiri dan memiliki rekening.
Intan membalas pesan Dewi untuk segera mencari tim keuangan, agar dia bisa fokus mengerjakan yang lain.
Setelah itu Intan langsung mentransfer sejumlah 4.450.000.000.000 ( empat triliun empat ratus limapuluh milyar) ke rekening perusahaan.
(Cashback sepuluh kali lipat mengurus perusahaan, saldo rekening 44.515.293.700.000)
Tanpa menunggu Bani bangun Intan turun dan melihat Ratna sedang mengawasi pengurus rumah mengasuh Adit dan Adel.
Intan pun spontan memeluk Ratna dari belakang "Ibu... maafkan aku bangun kesiangan, hari ini kita akan mencari sekolah untuk anak-anak, ibu tak keberatan kan?"
Ratna hanya tersenyum dan mengangguk sambil mengusap kepala Intan.
"Ah.... ibu, terimakasih banyak, aku mau makan duluan sebelum mas Bani turun, aku sengaja tidak membangunkan harimau yang sedang tertidur, aku takut di terkam lagi"
Intan beranjak dari sisi Ratna menuju ruang makan, setelah sarapan dia menerima laporan dari Jein tentang pengeluaran pagi ini.
"Jein, apakah kamu bisa membuat laporan digital?
Belilah laptop layar sentuh yang bisa di lepas layar nya, agar kita bisa menghemat penggunaan kertas, oke?"
Jein merasa malu dan menundukkan kepalanya"Maaf ibu, aku akan membeli nya, terimakasih atas petunjuknya"
Intan melambaikan tangan nya "Bukan masalah besar, aku hanya ingin berbuat baik bagi bumi ini dengan menghemat penggunaan kertas.
Kerja bagus Jein, Dewi sangat profesional, aku suka dengan pengaturan nya, ku harap kamu tak pernah membantah perintah nya.
Apakah mobil-mobil sudah datang?"
Jein menggeleng "Sebentar lagi sampai Bu, mereka sudah dijalan"
Intan menambahkan"Jangan lupa kau kasih makanan dan minuman ringan serta bayarkan upah kepada supir pengangkut dan kernetnya juga mungkin akan ada orang dari kantor, kau urus semuanya"
Jein lagi lagi menganggukkan kepalanya "Siap ibu"
Ketika Intan hendak berdiri, dilihat nya Bani menuju ruang makan "Sayang, kamu sudah bangun?
Kemari lah makan terlebih dahulu, tugas mu sudah di wakilkan oleh Dewi dan Chen, mereka bisa diandalkan jadi kamu bisa antar kami mencari sekolah untuk Adit dan Adel.
Namun sebelumnya aku ingin membangun mansion yang sesuai dengan anggota keluarga kita yang kini bertambah"
Sebelum Bani duduk untuk sarapan, terlebih dahulu dia mengecup bibir Intan.
Jein sudah tak ada disana karena dia sedang mengatur pengurus rumah membawakan sarapan untuk Bani.
.
.
Intan meminta Ratna menemani nya pergi beserta anak-anak, seperti biasa, Bani menjadi supir mereka.
Ketika tiba di kantor properti, Intan meminta mba SPG mengantarkan Ratna dan anak-anak ke ruang bermain yang memang di sediakan pihak developer, agar klien seperti Intan bisa nyaman berdiskusi tanpa harus terganggu dengan anak-anaknya.
Kini Intan dan Bani tengah berdiskusi dengan pihak developer agar bisa membangunkan sebuah mansion besar untuk mereka.
Mereka sudah mendapatkan gambaran nya lewat pinterest. Kurang lebih mereka ingin yang seperti ini tampak depan nya, hanya ditambahkan satu lantai kebawah dan satu lantai lagi keatas, jangan lupakan privat lift dari basemen hingga ke rooftop.
Mereka ingin turun mobil sudah berada di lantai dua, lantai satu nya basemen.
Empat buah kamar utama dilantai teratas, lantai tiga sepuluh kamar dan area bermain, lantai dua dimaksimalkan untuk ruang kerja, ruang tamu, perpustakaan, dapur bersih, ruang makan, ruang keluarga dan kolam renang.
Sedangkan basemen seperti biasa berisi kamar-kamar pengurus rumah tangga, gudang serta dapur kotor.
photo di bawah ini tampak belakang rumah, sumber masih sama, Intan dapat dari pinterest.
Nah ini tampak atas, Intan mendapatkan nya juga dari sumber yang sama, yaitu pinterest.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments