Melihat Intan yang sedang termangu itu membuat Chen sedikit gemas, meskipun mereka baru saja dipertemukan oleh takdir.
Namun Chen sudah merasakan keakraban sudah terjalin dengan Intan, maka tanpa ragu Chen memeluk Intan untuk membuyarkan lamunannya.
Chen bangkit dari tempat duduknya dan dia memeluk Intan dari arah belakang sambil berbisik di telinga Intan.
"Kamu tidak dapat menarik kata-kata mu lagi Intan, aku akan menjadi benalu dalam sekam, he he he he he, tapi bohong ....., aku berjanji, aku akan menjadi yang terbaik untuk mu karena kini cinta telah tumbuh diantara kita"
Intan yang baru saja sadar dari lamunan nya, menjadi merinding mendengar kata-kata dari mulut Chen.
Apalagi Chen mengatakan kata-kata tersebut sambil memeluk dan berbisik di telinga nya, Intan tidak bisa tidak memiliki pemikiran aneh tentang Chen.
"Ya tuhan Chen, apakah kamu akan membuat ku menjadi kekasih mu?
Kata-katamu barusan membuat aku berfikir seperti itu, itu ..... itu tidak benar kan?
Kamu masih normal kan Chen, aku berharap kamu tidak pernah sedikitpun berhasrat kepadaku"
Mendengar ketakutan Intan Chen merasa semakin gemas.
"Ha ha ha ha ha ha, lucu, ha ha ha ha ha, kamu itu ya, ha ha ha ha ha, kamu lucu Intan, apakah kamu memang benar-benar tidak memiliki rasa persaudaraan yang lengket dengan salah satu teman di pantimu dulu?
Ha ha ha
Memang sih rasa persaudaraan ku dengan Ben yang lengket itu akhirnya menyatukan kami dalam pernikahan.
Namun tenang saja Intan, aku masih normal, lagipula cintaku pada Ben masih setinggi gunung dan sedalam lautan.
Belum ada yang bisa menggoyahkan nya"
Chen melepaskan pelukannya dan duduk kembali, kali ini Chen duduk di sebelah Intan, bukan di depan nya, seperti saat ia sampai di meja ini selesai shoping tadi.
"Huft..... / Eh....."
Mereka sama-sama merasa lega.
"Chen, kau menakutiku, untung saja aku tidak mati ketakutan, aku khawatir jika kematian ku akan menggoyahkan cintamu, ha ha ha ha "
Kali ini Intan yang menggoda Chen.
"Baiklah, kita bersiap ke apartemen mu dan berkemas, karena besok kamu sudah harus siap bekerja.
Jangan khawatir kan Adel selama bekerja, selagi belum ada pengasuh, aku akan meminta pengurus rumah menemani Adel dan Adit.
Kamu juga bisa tambah tenang, karena pengurus rumah akan di awasi oleh ibu ketika mengasuh Adel dan Adit.
Sekarang kita susul ibu dan anak-anak"
Chen tak dapat berkata-kata lagi, dia hanya mengikuti Intan dan menggenggam tangan Intan dengan erat seolah mengucapkan terimakasih atas kekhawatiran nya.
Setelah sampai di apartemen, Chen berkemas dibantu Intan, sedangkan ibu, Bani dan anak-anak diminta menunggu di restoran terdekat.
Karena belum lama pindah ke apartemen, kardus bekas pindahan belum Chen buang, jadi ini memudahkan nya berkemas saat ini.
Intan menelpon supir boks langganan nya lalu menelpon Dewi untuk mengabari perpindahan Chen ke rumah mereka.
Mendengar hal tersebut, Dewi semakin semangat, dia yakin pertumbuhan perusahaan nya nanti akan semakin cepat.
Mengenai perkembangan perusahaan, mungkin dalam beberapa hari kedepan mereka sudah bisa membuka rekening atas nama perusahaan.
Kembali ke apartemen, barang yang dibawa Chen tidak banyak, hanya memang tidak bisa dibawa oleh mobil Intan.
Setelah memastikan semua barang telah diangkut ke mobil boks oleh kernet dan sopir nya, Intan dan Chen pergi meninggalkan apartemen menuju restoran tempat ibu, Bani dan anak-anak makan malam, tak lupa menitipkan kunci apartemen ke security.
Sumber: pinterest.
Ketika tiba di rumah Intan, mau tak mau Chen dan Adel sangat mengagumi rumah tersebut.
Untung lah para pengurus rumah kloter pertama sudah tiba dan pembagian tugas sudah di atur Dewi kepada kepala pengurus rumah.
Chen dibantu oleh pengurus rumah merapihkan barang bawaan nya, kamar Chen bersebalahan dengan kamar Adel, kamar Dewi bersebelahan dengan kamar Adit, sedangkan ibu menempati salah satu ruang tamu yang berada di lantai dua.
Tentu saja kamar utama di tempati oleh Intan dan belahan jiwanya, yaitu Bani.
Untuk mempersingkat alur distribusi gaji, Intan akan membayarkan gaji hanya lewat kepala pengurus rumah, oleh karena itu Intan meminta kepala pengurus rumah menghadap nya.
"Selamat malam ibu Intan, perkenalkan aku Sujanah, ibu bisa memanggilku Jein, aku adalah kepala pengurus rumah ibu"
Intan ingin tertawa namun hanya bisa tersenyum dan terbahak-bahak dalam hatinya.
"Baiklah Janah, eh maaf, Jein, aku meminta nomor rekening mu, sebagai kepala pengurus rumah kamu berkewajiban mengatur segala keperluan rumah.
Termasuk mengatur pendistribusian gaji bagi mereka yang bekerja di rumah ini.
Aku inginkan laporan keluar masuk uang secara rinci dan jangan coba-coba bermain angka denganku.
Karena aku pasti akan tahu setiap satu sen yang kau curi, bekerjalah dengan jujur, karena kejujuran mu akan membawa berkah"
Aura intimidasi yang dikeluarkan Intan melalui kata-kata nya berhasil membuat kepala pengurus rumah menjadi takut.
"Ib.... ib... ibu... tid... tidak usah khawatir akan hal itu, aku.... aku... tak pernah sedikitpun terbersit di hatiku untuk mengkhianati kepercayaan yang telah ibu berikan.
Aku akan buktikan jika ibu bisa tenang melakukan pekerjaan ibu yang lain, urusan rumah percayakan saja padaku.
Aku sudah berpengalaman dengan hal ini"
Intan mengangguk senang dengan jawaban Jein, meskipun awalnya dia gugup "Baiklah, sebutkan nomor rekening mu.
Sambil mendengarkan Jein menyebutkan nomor rekening nya, Intan mentransfer satu milyar ke rekening Jein.
"Gunakan rekening itu khusus mengurus rumah ini, buat rekening yang lain untuk keperluan mu sendiri.
Saat ini, itu dulu yang ingin aku sampaikan, aku menantikan kinerjamu, jangan buat aku kecewa"
Jein sedikit membungkuk kan badan nya sebelum berlalu meninggalkan ruang kerja.
"Aku pamit undur diri Bu, terimakasih banyak atas kepercayaan mu"
Intan hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab.
Setelah Jein keluar ruangan, Intan teringat akan tagihan jasa angkut, namun ketika akan transfer, dia mendapatkan pesan bahwa tagihan nya sudah lunas.
Dan Intan lihat nomor rekening yang melunasi atas nama Fatimah Chen Chen. Intan hanya tersenyum melihatnya.
Intan ingin mengikat para wanita yang akan membantu nya mengembangkan perusahaan, namun dia bingung dengan cara apa yang benar-benar efektif.
Mengumpulkannya jadi satu di rumah nya ini tidak juga membuat Intan tenang, karena sewaktu-waktu mereka akan berumah tangga dan keluar dari rumah nya.
Tidak hanya keluar dari rumah nya, mungkin saja keluar dari perusahaan nya.
Kalaupun menampung suami mereka juga, Intan akan merasakan ketidak nyamanan, jika tinggal bersama pria selain suaminya.
"Ah.... ketidaknyamanan yang akan aku rasakan ketika suami-suami mereka nanti berada di rumah, apakah ketidaknyamanan ini dirasakan oleh mas Bani.
Apakah mas Bani tidak nyaman tinggal bersama wanita yang bukan siapa-siapa nya?"
Intan merasa kasihan dengan Bani, tapi dia juga merasa buntu dengan pemecahan masalah ini.
(Cashback sepuluh kali lipat mengurus rumah, saldo rekening 4.465.293.700.000)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments