Bab 10

Ke esokan paginya ...

Intan "Mas aku lupa nanya, kamu udah izin pamit ke TK An Nikmah kan mas?"

Sambil memeluk Intan dari belakang Bani mengecup leher Intan "Sudah sayang"

Dalam hati Intan sangat bersyukur Bani telah berubah seperti semula, saat menikah dan pertama kali mereka melakukan hubungan suami-istri.

Bani sangat manja dan memanjakan Intan.

"Mas, terimakasih banyak ya, kamu sudah kembali seperti saat pertama kali kita menikah, kamu selalu bermanja dan memanjakan ku"

"Ah .... sayang, maafkan aku, aku sangat menyesal dengan tingkah polah ku yang tak pantas di ingat itu, cup, cup, mmmmmh"

Bani kembali memagut bibir ranum Intan yang amat teramat sangat membuat nya candu.

Setelah sekian menit Intan melepaskan tautan untuk menghirup oksigen "mmmfffhh, semoga kita selalu seperti ini ya mas, aku tak mau lagi di abaikan dan merasa takut terhadap mu"

"Iya, aku berjanji sayang, aku tak kan pernah berubah lagi, apapun yang terjadi kedepannya"

Bani lalu mematikan kompor dan mendudukkan Intan diatas meja, karena di kamar Adit sedang tertidur pulas, merekapun melepaskan kerinduan di dapur.

Ini adalah penyatuan mereka yang pertama sejak kejadian Bani di pecat dari kantor nya, Intan seperti menemukan telaga di padang pasir, sungguh sangat bahagia.

Intan menjadi sangat agresif, Bani menjadi semakin merasa bersalah, dan menyambut Intan dengan tidak kalah agresif.

"Terimakasih atas kesabaran mu terhadap sikap kasar ku, aku sangat frustasi ketika bos memecat ku dengan tidak hormat karena sebuah fitnah yang entah datang nya darimana"

Intan mendengar cerita Bani ikut menjadi sedih dan harus berlapang dada dengan semua yang telah di lalui nya.

"Ketika kita diatas nanti, kita akan selidiki semuanya mas, biar kedepannya kita lebih waspada dan bisa menghindari masalah"

Namun Bani seperti nya tak menyetujui saran Intan.

"Kita tidak perlu repot-repot sayang, jika kesuksesan kita melebihi mereka yang telah memfitnah, maka siapapun di balik pemecatan ku akan terkuak dengan sendirinya"

Lagi-lagi Intan sangat bersyukur jika Bani tidak menaruh dendam dalam hati nya, Intan hanya ingin menikmati hidup yang damai tanpa konflik.

Intan mengangguk kan kepalanya "Baiklah"

Tak lama kemudian telpon Intan berdering.

Kriing!!

"Hai Wi, apa kabar?"

"Baik mba, aku mau info kalau Alan ama Deni telah mengunjungi beberapa panti di sekitar kota dan sudah memberikan daftar kebutuhan yang dibutuhkan oleh panti.

Langsung aku open order ke pemasok atau nunggu kita pindah rumah?"

"Kamu open order aja ke pemasok, kirim ke panti setelah kita pindahan, hubungi juga pemilik engkel untuk angkut barang ke panti"

"Oke, siap laksanakan!!"

"Jumlah yang harus aku transfer nanti kamu info lewat pesan ya Wi, biar gak salah kirim jumlahnya"

"Ashiaaap"

Setelah menerima telpon Dewi, Intan menghampiri Adit dan Bani di kamar untuk mengajak sarapan.

Setelah itu lanjut ke rumah pak RT untuk pamit sekalian minta tolong menyebarkan informasi ke grup warga yang ada di aplikasi hijau untuk datang ke rumah nya.

Pak RT "Aku dengar kalian akan selametan, dalam rangka apa?"

Intan "Kami akan pamit kepada warga untuk pindah rumah pak, Alhamdulillaah kami dibelikan rumah oleh emak, sekalian memulai usaha baru di sana"

Pak RT "Syukurlah bapak turut senang, semoga mas Bani bisa sukses di tempat baru nanti"

Bani "Terimakasih banyak pak"

Intan "Kunci kontrakan besok kami antarkan, dan kami mau sekalian minta tolong pak RT untuk menginformasikan kepada seluruh warga untuk datang ke rumah"

Pak RT "Baik .... baik..., nanti bapak akan kirim pesan di grup warga"

Bani "Kami kira sudah tidak ada lagi yang dibicarakan, kami undur diri ya pak"

Pak RT"Baik..., baik..., tunggulah di rumah kalian, habis Ashar nanti kita ketemu lagi"

Tak lama Intan dan Bani sampai di rumah, terdengar teriakan beberapa orang sambil menggedor-gedor pintu dengan kasar.

"Hai Bani!!!

Bani sialan!!

Brengsek!!

Bayar hutang kau Bani!!!

Awas kau kabur sebelum membayar hutang-hutang mu!!!

Keluar kau brengsek!!!"

Adit yang sedang tidur siang menjadi terganggu lalu mengerjap-ngerjapkan mata nya sambil menguap.

Bani yang sedang mencumbui Intan akhir nya menyudahi aktivitas nya.

"Ah sial!!

Aku melupakan soal mereka"

(Misi otomatis terpicu, untuk terus mendapatkan cashback sepuluh kali lipat, maafkan Bani dan beri dia nasihat)

Intan menjadi heran, meskipun Bani tidak memiliki pekerjaan, namun Bani bukanlah orang yang akan merepotkan dirinya dengan rentenir.

"Kenapa kamu gak cerita kalau pinjam hutang sama mereka mas?

Kamu hutang berapa?"

Bani meremas rambut nya "Kenapa bisa lupa ya, aku hutang gak banyak sayang, waktu itu tergiur dengan teman nongkrong yang sedang berjudi"

Intan menghela nafas "Hmmm, berapa hutang kamu mas? Biar kita selesaikan segera, kalau mereka tau lokasi rumah emak, bakal membumbung tinggi bunganya"

Bani berdiri dan jalan menuju pintu keluar lalu menoleh sedikit kepada Intan "Kamu tetap di kamar"

Intan hanya mengiyakan perintah Bani.

krieek ...

Pintu pun terbuka "Haaish!! kalian berisik sekali!! berapa banyak memang hutang ku?"

Debitur semakin sangar dan menunjuk nunjuk muka "Tak usah banyak bacot kau!!!

Apa kau amnesia sehingga lupa jumlah hutang kau!!

Dasar brengsek!!!"

Bani menggaruk kepalanya yang tidak gatal

"Kau mau dibayar apa tidak? Cepat sebutkan saja!! Kau yang banyak bacot!!"

Ketika mendengar Bani akan membayar hutang, Debitur pun melembutkan sedikit suaranya

"Masa kau lupa jumlah hutang mu kawan, baiklah aku ingatkan lagi, kau berhutang 250 juta"

Bani "Mana nomor rekening nya, aku akan transfer, duduklah kau disana sambil menunggu sebentar"

Debitur "Nah begini lebih enak, tak perlu tarik urat"

Tanpa banyak cingcong Bani memberitahukan Intan jumlah hutangnya, karena dia tau, protes pun tak ada guna, rentenir memang tugasnya menghisap habis darah pemakai jasa nya.

Intan menerima kartu nama yang Bani berikan "Ini nomor rekening nya mas?"

Bani hanya mengangguk pasrah.

Intan "Berapa jumlah yang harus di bayar mas?"

Bani menghela nafas sesaat sebelum menjawab "250 juta sayang, maaf... maafkan aku sayang..."

Intan "Tenang saja mas, aku gak akan marah, namun jangan kamu ulangi lagi, judi adalah perbuatan yang sangat haram untuk di lakukan.

Tak ada orang yang kaya dari berjudi, bahkan perbuatan judi bisa menambah lemah iman kita.

Sudahlah terpuruk, iman merosot, judi pula, membuat hutang bertumpuk, pantaslah kau lampiaskan semua amarah mu pada kami"

Bani "Iya sayang, kamu benar, karena berhutang dengan jumlah yang besar aku makin menjadi jadi kepada kalian.

Maaf sayang ....

Maafkan aku..."

Intan membelai rambut Bani "Tak apa sayang, dengan begini kau sudah belajar banyak, semoga kita bisa bahagia menyongsong masa depan.

Dengan pengalaman hidup mu ini, semoga kau bisa mengarahkan Adit agar terhindar dari kesalahan yang sama"

Bani mengecup kening Intan "Terimakasih banyak sayang, kau adalah istri yang sangat sempurna"

Intan pun membayar hutang Bani kepada rentenir.

"Ini bukti bayar nya kamu tunjukkan pada Debitur ya mas, Adit sudah tertidur kembali, aku tunggu kamu segera"

(Cashback sepuluh kali lipat bayar hutang, saldo rekening 255.661.700.000)

Intan menyerahkan ponsel nya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Bani pun tersenyum dalam lalu menuju kedepan rumah, dimana debitur menunggu nya.

Ketika Bani nongol depan pintu, debitur sudah berdiri dan pamit "Hai bro, bos telpon, sudah beres katanya, thanks ya bro, have A nice day"

Bani hanya menggelengkan kepalanya dan bergumam.

"Huft dasar rentenir penghisap darah"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!