Setelah mobil boks yang membawa barang dan mobil Dewi sampai, merekapun beberes bersama.
Intan mengikut sertakan Adit membantu Dewi dan ibunya, kini mereka menjadi akrab, bahkan kini Adit memanggil ibu Dewi bukan tante dan memanggil nenek kepada ibunya Dewi.
Intan tidak mempermasalahkan panggilan Adit kepada kedua wanita beda generasi tersebut, malahan Intan sudah mengganggap ibunya Dewi adalah ibunya juga.
Berbeda dengan Bani, ia hanya merokok dihalaman belakang, rupanya dia masih sangat canggung dengan situasi di rumah barunya, dia pun home tour sendirian, dan berakhir di pos satpam.
Bani bergumam dalam hati nya "Aku sungguh sangat bersyukur memiliki Intan dan Adit yang tak menyimpan sedikitpun rasa dendam di hati mereka, cinta mereka sangat tulus aku rasakan, tenanglah sayang, aku tak kan lagi mengecewakan kalian, aku sayang dan cinta kalian berdua"
Tak ada kata-kata yang dapat mengungkapkan rasa bahagia dalam dadanya, hanya ucapan rasa syukur kepada yang maha kuasa atas segala qada dan qadar Nya.
Ke esokan hari pada saat Intan, Adit, Bani, Dewi dan ibunya sarapan di rumah baru, Intan menerima misi dari sistem cashback sepuluh kali lipat yang diterima nya dari emak.
(Misi otomatis terpicu, untuk terus mendapatkan cashback sepuluh kali lipat, beri tips kepada SPG properti lalu ajaklah Adit, ibunya Dewi dan Bani jalan-jalan)
Intan telah terbiasa membicarakan segala sesuatu dimeja makan pada saat aktivitas makan telah selesai, Dewi dan ibunya hanya mengikuti kebiasaan tersebut.
Intan sedikit menyela waktu makan nya untuk sedikit berbicara "Maaf, nanti ada yang akan aku bicarakan selesai sarapan"
Yang lain hanya mengangguk tanda mengerti. Beberapa saat kemudian, semua orang telah menyelesaikan aktivitas makan pagi nya.
Intan mulai berbicara "Nenek, Adit, mas Bani, hari ini kita akan jalan jalan kemanapun kalian mau, namun sebelumnya kita akan ke kantor perumahan, lanjut ke dealer mobil, kita akan membeli mobil baru"
Adit berteriak gembira "Yeaaaa, asyiiik, kita bakal punya mobil kayak orang orang kaya"
Dewi "Maaf menyela mba, aku gimana? Dan untuk apa ke kantor perumahan kita?"
Ibunya Dewi dan Bani hanya tersenyum menanggapi ucapan Intan.
Intan menjawab pertanyaan Dewi "Maaf ya Wi, kita harus memastikan semuanya berjalan lancar, jadi walaupun aku mengajak ibu, Adit dan mas Bani jalan-jalan, tetep ada hal yang aku kerjakan, tagihan-tagihan sudah mengantri kan?
Lalu aku mau memesan 10 orang pengurus rumah, kita berdua gak akan sanggup mengurus rumah sebesar ini Wi, so enjoy the day, oke?"
{Waduh tetiba nginggris aja nih Intan}
"Ah iya benar mba, untung kamu ngingetin ya, padahal aku emang udah ingat kok jadwal kita yang padat hari ini, baiklah aku memang sudah sangat siap untuk menggunakan stamina ini.
Dan masalah pengurus rumah serta Anita, aku yang akan handle, so have fun ya dengan ibu, Adit, dan mas Bani"
Intan menepuk tangan nya sambil mengarahkan tatapan nya ke ibunya Dewi diakhiri dengan memeluknya "Nah gitu dong, memang Dewi the best deh, anak siapa sih Bu?
Ah.... tentunya anak ketiga ibu kan?
Karena aku anak ibu yang nomor dua.
Terimakasih sudah menganggap kami bagian dari keluarga ibu"
Tak ada ucapan dari ibunya Dewi, beliau hanya membalas pelukan Intan dengan lebih erat, lalu melambaikan tangan memanggil Adit untuk dipeluknya juga.
"Terimakasih ibu, Adit ayo bilang terimakasih sana Nenek"
Adit "Terimakasih nenek"
Dewi dan Bani hanya bisa menitikkan air mata, turut berbahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan Intan.
Acara kebahagiaan di sudahi dulu oleh Intan "Adit sekarang temenin nenek jalan-jalan di taman belakang dulu ya, ibu Dewi dan Ayah ibu mau membicarakan pekerjaan"
Lalu Dewi maupun Bani melaporkan kemajuan dari planning yang telah mereka buat.
Intan menerima file tagihan pesanan sebesar 1 milyar atas barang-barang yang akan di distribusikan kepada beberapa panti asuhan.
File tagihan sebesar 10 juta dari supir truk, proposal deposit 1 milyar ke firma hukum tempat Anita bekerja, dan Intan sengaja membayar gaji di awal untuk Bani 50 juta, Dewi 30 juta, Deni dan Alan masing-masing 10 juta.
Total bayar mencapai satu milyar seratus sepuluh juta rupiah.
(Cashback sepuluh kali lipat total bayar, saldo rekening 265.663.700.000)
Selesai melakukan pekerjaan nya, Intan lalu mengajak ibunya Dewi, Adit dan Bani ke dealer mobil.
Setelah pembayaran terkonfirmasi, Dewi menggunakan mobilnya menuju satu persatu panti asuhan maupun panti jompo yang akan di berikan barang-barang sesuai dengan apa yang mereka bicarakan sebelumnya dengan Deni dan Alan.
Deni dan Alan telah menunggu di panti yang akan mereka kunjungi pertama kali. Setelah dari panti pertama, Alan di suruh menggantikan Dewi, kebetulan Alan sudah memiliki SIM.
Dengan begitu, Dewi bisa menelpon ke bagian pelayanan kantor perumahan dan menelpon Anita.
Mobil Dewi lanjut jalan ke panti selanjutnya di iringi oleh mobil truk pembawa barang kebutuhan panti.
Kriing!!
Dewi pun mengangkat telpon nya "Ada apa mba?"
"Wi, berikan tips 10 juta buat SPG yang melayani kita waktu beli rumah, dan infokan biaya pelayanan yang harus kita bayar"
"Siap mba"
Tak memakan waktu yang lama, Intan bersama rombongan kecil nya telah sampai di dealer mobil terbesar.
Adit langsung diajak Bani melihat lihat mobil sport. Dan salah seorang SPG menghampiri Intan dan ibunya Dewi "Ada yang bisa aku bantu Bu?"
Intan berbicara sambil matanya melirik lirik Bani dan Adit
"Ah iya mba, maaf aku sedang memperhatikan suami dan anakku, kami ingin membeli mobil keluarga.
Seperti nya kami cocok dengan Alpradh, beri kami dua mobil Alpradh, satu mobil boks, dan mungkin satu lagi mobil yang dipilih suami saya.
Oh iya ibu mau mobil yang seperti apa?"
Intan mengalihkan pandangan nya kepada ibunya Dewi.
"Ah, ibu mah gak usah dibelikan mobil, memang nya ibu mau kemana? lagipula ibu tidak menyetir mobil, sayang kalau mobil nya malah gak terpakai"
Intan sedikit menggigit bibir nya
"Hmmm, begini saja mba, Alpradh dua, TSujuki Spesia Gir satu warna soft, Mitcubici eikros sepes satu warna abu, mobil boks satu dan satu lagi pilihan dari suami saya"
SPG menganggukkan kepalanya sambil mencatat pesanan Intan dan mengarahkan nya ke kantor pemasaran "Apa ada lagi Bu?"
Intan menggandeng tangan ibu nya Dewi sambil perlahan mengikuti SPG "Aku DP dulu sambil menunggu total harga yang harus kami bayar"
Tiba di kantor pemasaran "Silahkan duduk ibu, biar kami menyiapkan mesin EDC terlebih dahulu"
Pada saat itu Bani dan Adit menyusul Intan ke kantor pemasaran.
Bani "Intan, aku dan Adit sudah menemukan mobil yang tepat untuk kami"
Adit "Betul ibu, Adit mau naik mobil sama ayah"
Intan "Baiklah, baiklah, tunggu sebentar, kita bayar DP terlebih dahulu"
Melihat Adit yang merajuk, ibunya Dewi hanya terkekeh "He he he he, anak Sholeh, dilarang merajuk seperti itu, katakan ya katakan saja, tanpa merajuk, oke?"
Belum sempat Adit menjawab, seseorang memasuki ruangan.
"Ho hoi, lihatlah siapa ini?
Bukan kah itu orang yang dipecat secara tidak hormat?
Apa kini kamu sudah menjadi bos dan membeli mobil di sini?
Hah! jangan mimpi Bani!
Semua perusahaan sudah black list namamu!
Jadi bisa dipastikan kamu adalah pengangguran tulen!!!
Ha ha ha ha!!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 26 Episodes
Comments