Bab 15

"Hai Chen.....

Kapan kamu tiba ke Indonesia?

Bagaimana kabar Ben?

Suara menangis tadi itu adalah suara Adel ya?"

Ratna menghampiri wanita yang di panggil nya Chen, lalu memeluk Adel dengan kasih sayang.

"Adel sayang, mengapa menangis?

Grand ma jadi ikut sedih jika seperti itu"

Adel kembali menangis sambil menunjuk Bani

"Grand ma...... hiks

Papi Adel di ambil kakak itu hiks

Adel mau papi cuma milik Adel saja, hiks.. hiks... hiks

Papi ......."

Adel berlari menghampiri Bani dan memeluk kaki panjang milik Bani. Terlihat Bani melirik ke arah Intan, ketika Intan mengangguk, Bani lalu menggendong Adel.

Sekarang malah Adit yang nangis.....

"Huwaaa, jangan ambil ayah Adit...

Dia Ayah Adit bukan papi kamu, huwaaa"

Intan yang tau bakal seperti itu malah memeluk Bani yang sedang menggendong Adel.

"Adit, dengar ibu ya, ibu pernah ngintip Adit sedang berdoa meminta Adik kepada tuhan.

Adit ingat ga?

Waktu malam itu Ayah pulang larut, Adit sampai bosan menunggu Ayah, lalu Adit pun meminta ibu menemani Adit tidur.

Nah sebelum tidur itu Adit berdoa meminta adik kepada tuhan.

Adel adalah hadiah dari tuhan, adik yang Adit minta waktu itu....

Ingat gak?

Masa doa Adit di kabulkan tapi malah gak suka Adel panggil ayah Adit papi?

Adel adik nya Adit, otomatis dia bisa panggil ayah Adit papi, gimana?

Kalau Adit tidak sayang Adel, nanti tuhan marah, Adel di ajak momi nya pulang ke negaranya, Adit gak jadi punya adik deh...

Adit mau sayang Adel atau mau tuhan marah?"

Awal nya Adit terlihat seperti mengingat-ingat perkataan ibu nya, apakah benar ia pernah berdoa meminta adik kepada tuhan?

Tak lama raut muka nya seperti telah mengingat hal itu.

"Ibu benar, jadi apakah Adel itu adik yang tuhan kasih Bu?"

Intan pun mengangguk menjawab pertanyaan Adit.

Baiklah, kalau begitu Adit akan sayang Adel dan Adel boleh panggil ayah Adit papi"

Semuanya tersenyum lega, Intan pun mencium gemas Adit "Nah begitu, anak Sholeh"

Begitu pula dengan Ratna, dia mengambil Adit dari gendongan Intan.

"Uluh uluh, cucu nenek memang pintar, ayo kita semua sebaik nya mengobrol sebentar di sana sambil memakan makanan ringan"

Ratna menoleh ke arah Chen "Kalau kamu dan Adel belum makan siang, maka pesanlah makanan untuk kalian juga"

Akhirnya mereka duduk dimeja dengan enam kursi, meminta pelayan toko menyatukan dua meja agar mereka bisa lebih leluasa berinteraksi.

Ratna memulai pembicaraan "Intan, Bani, perkenalkan dia ini Fatimah Chen Chen, dia adalah teman baik kakak nya Dewi.

Saking dekat nya kami, dia sudah ibu anggap anak ibu sendiri, kalau Adel sudah tidak perlu ibu kenalkan, karena dia sekarang jadi adik nya Adit, he he he.

Ben adalah suami Chen, namun ternyata dia tidak berumur panjang, kalau saja ibu tidak bertemu Chen disini, mungkin ibu tak pernah tau kabar nya.

.

.

Chen, mereka adalah keluarga baru kita, Intan kakak angkat Dewi, Bani adalah menantu ibu.

Ibu tak dapat mengungkapkan kegembiraan hari ini, kita dapat berkumpul tanpa sengaja di sini"

Intan, Bani dan Chen saling memperkenalkan diri, lalu merekapun terlibat obrolan seru jika saja Adel dan Adit tidak merengek meminta Bani menemani mereka bermain.

Bani pun menggendong keduanya lalu mereka menghilang diantara permainan yang ada disana.

Chen seperti nya merasa tidak enak hati "Maafkan Adel ya Intan, aku juga gak tau mengapa tiba-tiba dia memanggil suami mu dengan sebutan papi"

Intan berfikir"Apakah Ben dan Bani adalah bersaudara? tapi sepertinya tidak"

"Chen, apakah Ben memiliki kembaran atau saudara di Indonesia?

Apakah mungkin Ben adalah kembaran atau saudara nya Bani?

Setahuku Bani tak pernah cerita apapun mengenai keluarga nya, karena kami sama-sama dibesarkan di panti asuhan yang berbeda"

Ratna dan Chen sepertinya memikirkan juga perkataan Intan, namun mereka akhirnya menyerah.

"Ah, tidak, tidak.

Ben juga tidak pernah bercerita apapun tentang keluarganya, kami pun sama-sama bertemu di panti asuhan yang sama.

Keberuntungan memang memihak kami waktu itu, kami diadopsi oleh seorang konglomerat.

Kami berdua berprofesi di bidang it.

Entah mengapa setelah Ben wafat, aku seperti kehilangan kapal tanpa nahkoda, akhirnya berlabuh di kota ini"

Ratna mengusap lembut kepala Chen...

"Mengapa kamu tak beri ibu kabar Chen?

Ibu akan selalu ada untuk mu, meskipun waktu itu ibu tak bisa memeluk raga mu, setidak nya ibu bisa memeluk jiwamu.

Mengapa kamu memikul kesedihan mu seorang diri, hmmm"

Tanpa rasa malu di depan Intan, Chen memeluk Ratna dengan erat dan menumpahkan sebagian rasa sedih nya.

"Ibu, itulah mengapa aku disini, di kota ini, kapal ku memang oleh sepertinya tanpa arah, namun entah mengapa seolah layar menunjukkan jalan nya untuk berlabuh di sini ibu.

Adapun mengapa aku tak memberi kabar, karena aku memang tak ingin ibu hanya menjadi pelarian saja.

Tapi aku salah, sekarang aku merasa aku sangat butuh ibu.

Semoga ibu tidak merasa jika aku menghampiri mu karena hanya hal hal sedih saja.

Ibu, maafkan aku"

Lama mereka terdiam, Chen masih dengan rasa sedih nya, Ratna masih menghibur Chen.

(Misi otomatis terpicu, untuk terus mendapatkan cashback sepuluh kali lipat, jadikan Chen staf ahli IT di perusahaan)

Intan hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal dan berkata dalam hatinya "Bisa aja nih sistem mengambil kesempatan dalam kesempitan"

"Ano.... maaf Ibu.... aku mau tanya sesuatu sama Chen"

Ratna mengangguk. Intan pun kembali berkata-kata.

"Chen....

Aku ingin menanyakan tentang pekerjaan dan tempat tinggal, apakah kamu keberatan?"

Chen menggelengkan kepalanya...

"Tak apa Intan.

Karena saat ini memang aku belum memiliki pekerjaan, baru hari ini memasukkan lamaran pekerjaan ke salah satu perusahaan.

Ternyata biaya hidup di kota ini juga tidak murah, aku khawatir kehabisan bekal sebelum bisa membahagiakan Adel.

Kami menyewa apartemen dekat dari sini, perusahaan tempat aku menaruh lamaran juga tak begitu jauh.

Aku berharap diterima, jadi bisa sedikit berhemat dengan berjalan kaki sewaktu berangkat kerja nanti"

Setelah mendengar jawaban Chen, Intan menganggukkan kepalanya.

"Baiklah, aku ingin menawarkan kerjasama dengan mu, aku rasa ini sesuai dengan kriteria pilihan mu itu

Aku dan Dewi sedang merintis sebuah perusahaan finance, Anita adalah orang yang kami percaya untuk mengurus pendirian nya.

kamu bisa hubungi dia, ini kartu namanya.

Kedepannya, selain Dewi, aku ingin merekrut Anita menjadi tim hukum perusahaan.

Jika Chen tidak berkeberatan aku mau kamu menjadi tim IT di perusahaan kami itu.

Aku rasa kita bisa mudah berkolaborasi, mengingat hubungan mu dengan Ibu dan Dewi, serta Adel dengan Bani.

Kita bisa menjalin kerjasama simbiosis mutualisme.

Aku juga bisa memfasilitasi tempat tinggal dan kendaraan, untuk efisiensi kerja, kita akan tinggal satu atap bersama ibu dan Dewi.

Jangan khawatir, tempat tinggal kita tidak akan sempit.

Masih ada tiga kamar yang kosong.

Jika kamu masih merasa itu sempit, kita akan pindah ke mansion.

Bahkan jika itu masih kurang besar, kita bisa minta agen properti untuk membangun mansion yang paling besar di negeri ini.

Bagaimana?

Mau ya?

Harus mau loh"

Intan nyerocos terus sampai-sampai Chen dibuat bingung harus jawab apa.

Chen hanya bisa berpaling memandang ke wajah Ratna, meminta pendapatnya......

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!