Bab 3

Pas masuk ke dalam rumah Bani langsung mencecar Intan "Dapat duit darimana kamu belanja banyak gini? habis jual diri ya? laku berapa?"

"Istighfar mas, aku dapat bantuan dari Emak, dia membantuku tanpa pamrih, asalkan tidak pernah sedikitpun di hatiku berniat untuk berbuat jahat" Intan menjelaskan asal usul uang yang di dapat

"Hadeeh, hari gini mana ada makan siang gratis Tan, mau aja kamu dikadali" sungguh siapapun tak mungkin percaya

"Mas tidak apa tidak percaya saat ini, lama kelamaan mas juga akan percaya dengan apa yang saya omongin.

Oh iya Adit sudah di cek lab di puskesmas, untung nya tidak ada yang serius, hanya kecapean, jadi saya mohon mas tidak memaksa Adit ngamen lagi, biarkan dia bersekolah.

Besok saya akan daftarkan Adit di TK An Nikmah"

Ketika suami nya akan menyahuti perkataan Intan

Suara pemuda berseragam kembali terdengar "Permisi Pak, Bu, saya antar pakai troli saja, saya taruh dimana ini belanjaan nya?"

"Silahkan turunkan di depan sini saja mas, makasih banyak atas bantuannya" Intan berterima kasih dengan sedikit membungkukkan badan nya.

"Sama-sama ibu, saya juga berterimakasih atas pemberian ibu kepada kami, baiklah bapak ibu saya pamit, jika butuh bantuan.lagi, kami siap membantu" pemuda berseragam tak kalah rendah hati nya

Setelah pemuda berseragam tak lagi terlihat.

"Kamu kasih apa mereka? uang? lebih baik kau kasih uang mu itu buat aku beli rokok!" suami Intan terlihat kesal dengan uang yang Intan hamburkan.

"Ini mas, aku tak lupa belikan rokok buat kamu, maaf hanya sebungkus, karena rokok tak baik untuk kesehatan dan jangan merokok dalam rumah, kasihan Adit sedang pemulihan"

Intan sangat mencintai suaminya, namun perubahan sikap suami nya tatkala terhimpit ekonomi, menjadikan Intan takut jika harus bicara apalagi menasehati seperti tadi.

Namun karena Intan sudah mendapatkan bantuan dari Emak, dia berpikir jika suaminya akan mau mendengarkan kembali omongan nya.

Benar saja, tanpa bicara lagi, suami Intan mengambil rokok ditangan nya dan langsung keluar rumah untuk merokok di ruang terbuka. Dibawah rokok Intan selipkan upah nya bekerja hari ini.

"Alhamdulillaah, meskipun memang uang bukan segalanya, namun hidup lebih mudah dengan ada nya uang, semoga aku tidak berlaku sombong, apalagi berbuat jahat, terimakasih banyak emak atas kemurahan hati emak mau menjadi perantara rizki untuk keluarga kecil kami" ucap Intan dalam hatinya.

(Jangan berpikiran sempit Intan, kekayaan mu harus dirasakan juga oleh orang orang yang membutuhkan, ingatlah selalu berbagi)

"Terimakasih sudah mengingatkan hati ku ini Mak"

Ke esokan pagi

TK An Nikmah sejatinya adalah tempat penitipan anak, namun anak-anak disana diajak bermain sambil belajar, jadi seperti sekolah paud pada umumnya.

Hari ini Intan akan menitipkan Adit di TK tersebut, sebelum berangkat dia membuka smartphone dan mengklik tunai, ia menaruh nya di tas selempang yang sudah tak lagi berwarna.

"Maaf ustadzah, saya hendak menitipkan Adit anak saya di TK ini, karena saya harus bekerja sampai malam di warung makan yang berada depan pertokoan jalan utama" ucap Intan

Setelah proses pendaftaran selesai, Intan pamit kepada Adit, untuk bekerja.

(Cashback sepuluh kali lipat daftar sekolah, saldo 5.000.000; tunai; transfer)

(Cashback sepuluh kali lipat ongkos angkot, saldo 5.050.000)

Sesampainya di tempat kerja, dia hendak meminta izin tidak masuk kerja hari ini, hendak membuat rekening, namun pemilik warung belum sampai.

"Mbak, aku pinjam smartphone buat telpon ibu ya, mau izin gak masuk buat ngurus pembukaan rekening, saya dapat bantuan yang mengharuskan memiliki rekening di Bank" Intan mencoba untuk mendapatkan izin memakai telpon teman kerjanya.

"Ini pakai aja, kalau sudah selesai taruh di brankas khusus menaruh smartphone ya"

"Anu mbak, saya gak faham cara pakai nya, kalau bisa minta tolong sambungkan dulu ke ibu, he he he"

Teman nya hanya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, lalu memencet kontak ibu pemilik warung. Setelah mendapatkan izin, Intan segera berangkat.

(Cashback sepuluh kali lipat ongkos angkot, saldo 5.100.000)

Begitu sampai di bank, mungkin karena hari masih pagi, antrian menuju customer servis hanya ada seorang, pembukaan rekening pun tak memakan waktu yang lama.

"Maaf mba, untuk pertanyaan sumber dana ini maksudnya apa ya?" Intan sedikit faham namun daripada salah lebih baik bertanya

"Oh... ibu mendapatkan uang ini dari mana?" customer servis menjawab dengan pertanyaan kembali

"Dari Emak mba, sebelum kemari saya dikasih sama Emak" jawab Intan

"Kalau gitu, tulis saja, pemberian orang tua" customer servis menjelaskan hal yang perlu ditulis dalam kolom pertanyaan sumber dana.

Intan memasukkan uang 20juta ke rekening nya, Sisa 9.500.000 mau dia belikan smartphone untuk dia dan suaminya.

Setelah urusan di Bank selesai, Intan menuju toko ponsel sambil membawa black card dalam tas nya.

Entah mengapa pihak bank memberikan Intan black card, mungkin memang emak lah yang telah mengatur melalui sistem cashback sepuluh kali lipat yang menyertai Intan.

Ketika sampai di toko ponsel "Mbak kalau mau ngemis jangan depan toko ya, nanti pembeli kami pada takut"

Intan yang mendengar perkataan penjaga toko jadi kaget, diapun memindai baju nya yang memang lusuh, apalagi tas nya yang sudah kusam.

"Hmm pantas saja aku disepelekan, setelah membeli ponsel sebaiknya aku membeli baju baru" ucap Intan dalam hatinya.

"Maaf mbak, saya bukan pengemis, saya ingin membeli smartphone" ujar Intan menjelaskan mengapa ia berdiri depan toko

"Oh maaf, kalau begitu silahkan masuk saja, jangan berdiri depan toko gitu, mari saya pilihkan ponsel yang sesuai dengan uang nya si mbak" walaupun mempersilahkan Intan masuk, namun sepertinya ada sedikit nada merendahkan.

Meskipun Intan sudah biasa di rendahkan, namun setelah menerima bantuan Emak, rasanya dia ingin sekali berontak dan mengatakan dengan keras.

Hei !!

Jaga ya mulut kau!!

Saya ini mampu membeli ponsel seharga puluhan juta!!

Tak tau kau di rekening ku ada 20juta!!

Dan dengan bantuan Emak, saldo ku akan terus bertambah!!!

Namun apalah daya, dia hanya bisa mengatakan dalam hati nya.

"Silahkan mba, di etalase ini harga kisaran 500ribu sampai 2juta, mau yang harga berapa?" penjaga toko mulai menawarkan nya ponsel dengan spek terendah.

"Maaf mba, setahu saya, harga menentukan kualitas, saya mau yang harga 10jutaan, dan saya mau beli dua smartphone ya mba"

"Apa???!! gak salah mba nya mau harga 10jutaan???!!" penjaga toko hampir menjatuhkan rahang nya, membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang didengar.

"Betul mba, sekalian saya beli untuk suami saya, maaf ya mba, saya baru dapat warisan, he he he"

"Apa???!!! Dua!! Dua buah ponsel??!!"

Kali ini penjaga toko hampir pingsan mendengar nya.

Penjaga toko lalu menggelengkan kepalanya agar tak jatuh pingsan "Ooooh baru dapet warisan, pantesan mbak nya royal, tapi apa gak sayang tuh mbak, uang warisan buat beli ponsel, pake belikan suami pulak"

Intan jadi gemes banget, dan beneran pengen teriakin nih orang.

Hei mbak!!!

Suka suka akulah!!

Duit duit aku!!!

Namun lagi lagi hanya tertahan dalam hatinya.

(Misi otomatis terpicu, untuk terus mendapatkan cashback sepuluh kali lipat, berilah tips kepada penjaga toko sebesar satu juta rupiah, selain pembayaran barang dan jasa tidak akan menimbulkan cashback sepuluh kali lipat)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!