Bab 9

Intan merasa tak enak hati memanggil orang yang menolong nya dengan sebutan lain, jadi sekalian saja tanyakan juga nama pencopet yang ditangkap pemuda itu.

"Mas muda dan kamu, siapa nama kalian?"

Mas muda "aku Alan Bu"

Copet "aku Deni Bu"

Intan "Lusa kami akan pindah rumah, namun ada pekerjaan yang harus kalian lakukan, setelah ini aku minta tolong kepada kalian mencari panti asuhan dan panti jompo, lalu catat apapun kebutuhan mendesak yang mereka perlukan, karena kita tidak akan memberikan uang tunai.

Mengenai hal lebih lanjut, kalian hubungi ibu Dewi"

Untuk memudahkan kelanjutan komunikasi, Dewi menyimpan nomor Alan dan Deni.

Alan dan Deni merasa beruntung mendapatkan pekerjaan, meskipun pekerjaan ini terkesan remeh, namun melihat upah yang tidak sedikit dengan hanya mencarikan mereka mobil sewa.

"Terimakasih banyak Bu atas kemurahan hati menerima kami bekerja"

Intan "Sama-sama, Alan tolong jangan lepas Deni, ikat terus dia bersamamu sampai dia merasa bisa hidup tanpa bimbingan kamu"

Pemilik mobil menyela "Maaf ibu, jika tidak ada lagi yang diangkut, mari kita berangkat, sebaiknya ibu berdua bareng saja naik engkel ini, gak usah sewa taksi lagi"

Dewi "Terimakasih banyak atas tawaran nya pak, biar kami berdua naik taksi saja, bapak bisa mengikuti taksi kami atau kita bertemu di parkiran supermarket dekat rumah Bu Intan"

Intan "Oh iya, ini bayaran untuk hari ini ya pak?"

Pemilik Mobil"Hari ini..... Maksudnya?

Oh iya, aku terima dulu uang nya ya Bu"

(Cashback sepuluh kali lipat sewa engkel, saldo rekening 252.491.700.000)

Dewi "Eh ... itu seperti yang bapak dengar tadi, kalau lusa nanti, kita berdua akan pindah ke rumah yang sama, jadi kami membutuhkan jasa bapak untuk mengangkut barang, mobil boks sudah cukup, karena kami hanya membawa barang-barang yang penting saja"

Belum sempat pak supir menjawab pesanan mobil dari Dewi, terdengar seseorang mengetok-ngetok body engkel dengan besi.

Klang!

klang!

Klang!

"Hei!! engkel siapa ini? parkir kok lama pake banget!!!

Pak Supir "Tenang saja Bu, aku faham itu preman pasar yang minta jatah, aku akan menyediakan mobil box yang ibu minta, dan jemput barang ke alamat yang sama dengan pengantaran barang belanjaan ini kan Bu?"

Dewi "Oke"

Mendengar kata preman, Dewi langsung menjawab pak supir dengan jari membentuk tanda oke lalu segeralah memesan taksi online dan menyeret tangan Intan untuk segera mengikutinya ke tempat penjemputan.

Ketika Intan dan Dewi melewati sang preman, Intan malah berhenti di hadapan mas preman.

Intan "Maaf mas, saya yang pesan mobil engkel, ini saya bayar biaya parkir nya, terimakasih banyak telah menjaga barang belanjaan saya"

Intan sedikit membungkuk sebagai ucapan terima kasih nya.

Sang preman yang tadi marah-marah sambil memukul-mukul body engkel dengan besi, tetiba menjadi salah tingkah ketika menerima lima lembar seratusan ribu dari Intan.

"Eh .... begini Bu.....

anu .... anu ...

aku ..... tidak bermaksud membuat ibu takut, hanya saja aku kasihan dengan mobil lain yang akan parkir, anu .... maaf ya Bu"

(Cashback sepuluh kali lipat biaya parkir engkel, saldo rekening 252.496.700.000)

Intan dan Dewi hanya menanggapi dengan senyuman ketika melihat tingkah polah preman pasar yang tunduk ketika menerima lembaran warna merah.

Ketika sampai pada titik penjemputan taksi, Intan membicarakan perihal preman pasar tadi.

"Tuh kan Wi, pada dasar nya manusia gak ada yang mau jadi penjahat, mereka hanya salah jalan, jika saja ada pekerjaan yang lebih baik, aku yakin tak akan dia menjadi preman"

Dewi pun menyahuti perkataan Intan dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dewi "Eh itu taksi nya mba, aku stop dulu"

Intan dan Dewi menaiki taksi dan tiba di supermarket dekat tempat tinggal nya, setelah membayar ongkos taksi, Intan bersegera masuk kedalam supermarket meminta izin menurunkan barang belanjaan di lokasi parkir.

Sedangkan Dewi lanjut dengan taksi menuju rumah nya, Dewi pun tidak membiarkan Intan untuk membayar taksi yang mereka naiki.

Intan "Maaf mba, mas, saya ingin mengundang acara selametan pindahan rumah, acara selamatan akan digelar besok, lusa saya pindahan ke rumah baru.

Jika ada waktu, silahkan datang ya mba... mas....

Dan ... aku mau izin menurunkan belanjaan buat selametan besok, sebentar lagi engkel nya akan sampai.

Ini undangan nya mba, mas, dan kalau datang nanti gak usah bawain apa apa ya, kalian sudah datang aja, kami sudah senang"

Pegawai supermarket menerima undangan yang berupa amplop putih yang tertulis alamat rumah Intan dan nomor telepon nya.

Pegawai menerima undangan dari Intan, ketika di pegang nya.....

"Astaga, bukan undangan biasa, lumayan tebal juga ini amplop pastilah ada isi nya" pegawai tersebut hanya mengungkapkan rasa terkejut dalam hati nya.

"Baik ibu, silahkan menurunkan belanjaan di parkiran, mungkin kami hanya akan di wakilkan oleh salah seorang diantara kita bertiga, maklum supermarket ini bukan punya kita, he he he"

Setelah mengucapkan terimakasih, Intan menuju parkiran untuk memberitahukan kepada tukang parkir mengenai mobil engkel yang akan parkir di sana sekaligus membayar biaya parkir dan mengundang nya untuk datang ke acara selametan pindah rumah.

(Cashback sepuluh kali lipat bayar parkir, saldo rekening 252.501.700.000)

Tak lama kemudian engkel pun tiba, setelah selesai menurunkan dan menaruh belanjaan di rumah kontrakan, Intan mendatangi tetangga kanan kiri depan rumah nya untuk meminta bantuan membungkus sembako yang akan di bagikan ketika selesai acara.

Sejenak beralih kepada Bani yang mendatangi kantor pengacara Anita, sosok Bani yang memang tampan, apalagi sekarang memakai pakaian branded, makin terpancar lah ketampanan nya.

Meskipun Anita berusaha seprofesional mungkin, namun tak pelak terlihat setitik kekaguman akan ketampanan seorang Bani.

Mungkin Anita akan berusaha mengejar Bani jika saja Dewi tidak menceritakan perihal perjuangan seorang Intan.

"Silahkan duduk pak ...."

"Bani, panggil saja Bani Bu"

"Ah ... baiklah, silahkan duduk Bani, aku sudah mendapatkan informasi dari Dewi perhal Bu Intan yang akan mendirikan perusahaan finance.... bla bla bla"

Anita menjelaskan prosedur dan hal hal apa saja yang dibutuhkan selain uang tentunya.

Karena Dewi telah meminta kepada firma hukum tempat Anita bekerja, agar Anita hanya fokus mengurus kasus nya saja, meskipun Dewi tau Intan akan membayar mahal untuk itu.

Namun Intan tidak merasa keberatan dengan saran Dewi, dia pun telah mentransfer seratus juta rupiah sebagai uang muka.

(Cashback sepuluh kali lipat uang muka firma hukum, saldo rekening 253.401.700.000)

Malam menjelang, Intan telah selesai berkutat dengan bingkisan selametan, Bani juga sudah pulang sambil menjemput Adit.

(Cashback sepuluh kali lipat upah bantu bungkus sembako, saldo rekening 253.411.700.000)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!