Bab 16

Akhirnya Chen berbicara "Bagaimana menurut ibu?"

Ratna menoleh dan tersenyum ke arah Intan, lalu ke arah Chen.

"Ibu tidak mau mencampuri urusan pribadi mu Chen, namun karena kamu meminta pendapat, ibu pasti akan mencoba memberikan yang terbaik untukmu.

Setelah mendengarkan penuturan Intan yang panjang lebar, ibu tidak bisa untuk tidak mengakui nya.

Bahwa itu adalah hal terbaik yang bisa kamu lakukan, untukmu dan untuk Adel sendiri.

Namun keputusan tetap ada ditangan mu, ibu sama sekali tak ada hak untuk itu"

Intan menambahkan "Aku tak serta merta mengatakan nya jika tak melihat kedekatan mu dengan keluarga ibu dan kerinduan Adel dengan papi nya.

Namun balik lagi kepada dirimu Chen, aku hanya bisa berharap, seperti yang ibu katakan, keputusan akhir tetap di tangan mu"

Chen berdiri dari duduknya "Sebentar, aku mohon waktu berfikir sejenak, aku perlu sedikit shoping untuk merenggangkan otot, agar bisa berfikir jernih"

Ratna dan Intan hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian Chen pergi menuju supermarket.

Wanita.... wanita..... siapapun dia, dari kelas manapun, me time terbaik adalah shoping!!!

He he he he, Hidup wanita!!! Hidup Shoping!!

.

.

Ketika Chen pergi shoping untuk bisa berpikir jernih, Intan meminta tolong kepada Ratna untuk menggantikan Bani menemani Adit dan Adel bermain.

Intan ingin membicarakan masalah Chen yang ditariknya untuk menjadi tim IT di perusahaan mereka.

"Maaf ibu, Aku mau minta tolong, sebentar ibu gantikan dulu Bani menemani anak-anak, aku mau membicarakan perihal tadi kepada Bani"

Ratna segera berdiri dan mengusap kepala Intan, tak lupa senyum manis nya selalu bertengger disana.

"Memang seperti itu seharusnya Intan.

Tenang saja, anak-anak aman bersama ibu"

Intan memeluk Ratna sebentar lalu Ratna berjalan menuju ke tempat Bani dan anak-anak bermain.

"Bani, ada yang mau Intan bicarakan, biarkan anak-anak ibu yang menemani"

Bani menoleh "Maaf jika merepotkan ibu"

Lalu Bani menghampiri Intan dan duduk di sebelahnya dan langsung memeluk Intan dan memberikan sedikit kecupan di bibir.

"Ada apa sayang?

Kata ibu, kamu ingin berbicara sesuatu kepadaku.

Mengenai hal apa yang?"

Intan membalas pelukan Bani dengan erat.

"Mas.... perusahaan kita akan membutuhkan seorang ahli dalam IT, kebetulan Chen memiliki nya, aku ....."

Bani langsung memotong pembicaraan Intan "Jangan bilang kamu akan membawa mereka juga ke rumah kita...."

Intan mengarahkan tatapan nya ke wajah Bani kemudian mengangguk pasrah dan tersenyum semanis mungkin sambil memasang mata puppies dan mengedip-ngedipkan nya.

Melihat kelakuan Intan, Bani yang hendak protes malah tertawa gemas lalu mencubit manja kedua pipi Intan dan mengecup bibir nya sedikit lebih lama.

"Baiklah, baiklah kalau sudah pasang tampang seperti itu, aku gak kan kuat menolak permintaan mu, namun kau harus membayar mahal dengan malam malam yang panjang.

Pada saat itu, jangan mengharapkan belas kasihan pada ku.

Dan jangan coba-coba menghindar, apalagi pura-pura lupa.

Janji ya sayang ....."

Intan mengangguk lalu membentangkan kedua tangan nya untuk kembali memeluk Bani lebih erat dan berbisik di telinga Bani.

"Terimakasih banyak sayang, aku berjanji akan menemani mu bermain setiap malam dan sepanjang malam"

Tak ada yang tak bisa di bicarakan oleh sepasang suami istri, semua perselisihan di awali dengan kesalahan pahaman.

Pengalaman adalah guru terbaik dalam hidup dan belajar dari pengalaman merupakan kewajiban sepanjang hidup manusia agar tidak terjatuh ke lubang yang sama.

Sekarang tinggal menunggu keputusan Chen barulah Intan akan menginformasikan nya kepada Dewi, agar dia merasa memiliki banyak teman dan tidak lagi merasa canggung.

Bani kembali menemani anak-anak bermain begitupula dengan Ratna yang masih ingin bersama Adel.

Terlihat Chen menenteng beberapa kantong belanjaan sambil berseri-seri, Intan ikut tersenyum dan berharap akan ada kabar baik dari nya.

Chen kembali duduk dihadapan Intan "Maaf lama, karena kelamaan mikir, bukan lama karena shoping"

Intan dan Chen tertawa bersama "Ha ha ha ha"

Intan menepuk nepuk pelan tangan Chen yang ada diatas meja.

"Ya..... aku tau, shoping adalah obat terbaik bagi wanita yang lagi punya hepeng, apalagi kalau money masih banyak, he he he.

Mari kita lanjutkan pembicaraan yang tadi sempat terputus.

Lalu..... bagaimana dengan keputusan mu?"

Chen sempat terdiam sebentar "Hmmmm

Pertimbangan kamu dan kebutuhan ku, kita saling melengkapi, bodoh namanya jika aku menolak, namun aku khawatir Adel malah akan bertambah manja dengan suami mu.

Apakah..... itu tidak masalah buat suami mu dan Adit?"

Intan menjawab kekhawatiran Chen sambil terkekeh "He he he he, kamu tenang saja Chen, Bani dan Adit sangat menyayangi ku, mereka akan menuruti semua keinginanku"

Sepertinya Chen masih ragu "Hmmm bagaimana dengan kamu sendiri?

Kamu gak merasa tersaingi dengan Adel jika nanti suami mu tambah sayang dengan Adel?

Intan terkejut dengan penuturan Chen.

"Tersaingi?

Siapa?

Aku?

Kamu gak salah Chen?

Masa Adel menjadi sainganku, he he he he, kalaupun itu kamu, aku tak kan merasa tersaingi sama sekali, jadi kamu bisa tenang Chen"

Mendengar jawaban Intan, Chen malah jadi salah tingkah.

Degh!

Chen berkata dalam hatinya...

"Apakah benar aku seperti Adel? suka juga dengan Bani?

Ah, tidak, tidak, tidak mungkin kan?"

Melihat Chen hanya termangu, Intan melambaikan tangan di depan wajah Chen.

"Chen...

Chen...

Hai Chen!

Chen, Halo??!!"

Untungnya hanya beberapa detik saja Chen termangu.

"Ah...., eh...., iya.... maaf Intan....

Iya, iyalah, mana mungkin juga Adel bersaing dengan mu"

Intan menggenggam tangan Chen untuk mengurangi kegugupan yang dirasakan nya.

"Lagipula aku sudah meminta izin mas Bani untuk mengajakmu dan Adel pindah ke rumah kami, seperti kataku, mas Bani sangat menyayangi ku oleh karena itu dia mengizinkan Adel dan kamu pindah ke rumah kami.

Kamu tenang saja, nanti kita akan ke agen properti untuk membeli mansion yang besar.

Kemungkinan rekan kerja kita akan bertambah satu orang lagi, sudah pasti kita akan kekurangan kamar"

Intan bertekad akan merekrut Anita, meskipun sistem tidak memberikan misi, biar bagaimanapun sebuah perusahaan memerlukan tim hukum.

(Misi otomatis terpicu, untuk terus mendapatkan cashback sepuluh kali lipat, rekrut Anita sebagai tim hukum perusahaan)

Intan tidak bisa tidak tersenyum membaca misi tersebut, baru saja ia berkeinginan merekrut Anita menjadi tim hukum, eh datang misi dari sistem.

Semoga saja misi kali ini bisa di lakukan dengan mudah tanpa drama apapun.

Namun, meskipun itu memiliki drama pada saat pelaksanaan nya, Intan siap dengan berbagai cara.

Kini malahan Intan yang termangu dan bergumam dalam hati.

"Hmmmm, baiklah, semangat Intan, jalankan misi dengan penuh doa dan tekad, In Syaa Alloh akan dimudahkan"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!