Dinner Yang Mencekam

Roni menemui Rey di ruangannya, karena sejak Zea tak ada, Rey kembali pulang larut malam dan pergi pagi-pagi sekali.

"Nanti kita akan makan malam di rumah Om Adam. Papa harap kau cepat pulang." ujar Roni.

"Heemm ...."Rey hanya berdehem tanpa menoleh ke arah sang Papa, dia pura-pura sibuk membaca berkas dihadapannya.

Roni menghela nafas melihat sikap dingin Rey itu, bahkan setahun belakangan ini semakin parah. Dia bahkan tak mau menatap Roni apalagi bicara padanya sebelum sang Papa memulai. Entah apa yang terjadi?

"Rey, berhentilah bersikap dingin seperti ini! Kau hanya membuat Mamamu sedih dengan semua ini." ucap Roni sembari melangkah pergi dari ruangan putranya itu.

Rey tak menggubris omongan Rudi, dia hanya mengeraskan rahangnya, mencoba menahan geram.

"Tahu apa kau tentang perasaan Mamaku?" gumam Rey kesal.

Dia kembali teringat kejadian setahun yang lalu, kejadian yang menjadi awal mula dia marah terhadap Roni.

**

Sore itu, Rey tak sengaja melihat mobil Roni berbelok ke sebuah klinik, dia pun mengikuti sebab penasaran.

Saat itulah dia melihat seorang gadis remaja yang masih memakai seragam SMA, turun dari mobil sang Papa. Dan yang membuat Rey lebih tercengang lagi adalah perlakuan Roni terhadap gadis itu, Roni merangkul pundaknya dengan penuh kasih sayang.

Saat itu Rey ingin menangkap basah Roni, tapi urung sebab Mona terus menghubunginya. Mendadak dia merasa takut kalau sampai Mamanya tahu kelakuan sang Papa, dia tak ingin Mamanya sedih dan terluka. Akhirnya Rey memutuskan untuk pergi dari klinik itu.

Setelah itu, dia sering memergoki sang Papa mendapat telepon dan pergi dengan tergesa-gesa. Dia mencoba menutup matanya, dia terlalu takut untuk menerima kenyataan mungkin saja Papanya selingkuh.

**

Rey mengusap wajahnya dengan kasar, kenapa semua seperti ini? Dengan sifat introvert nya itu, dia sangat sulit menangani semua yang terjadi.

***

Malam pun tiba, Mona dan Roni sudah sampai di rumah Adam, tapi Rey belum juga kelihatan batang hidungnya.

Di ruang makan, tampak Zea dan Vano sedang bercengkrama sambil tertawa. Namun begitu melihat kehadiran Mona dan Roni, tawa Zea sontak menguap entah kemana.

"Mereka disini? Apa dia juga akan datang?" Zea bertanya-tanya dalam hati.

"Hai, semuanya." sapa Roni ramah, lalu melempar senyum ke arah Vano. Lelaki hitam manis itu hanya membalasnya dengan anggukan kepala.

"Loh, Rey mana? Nggak ikut?" tanya Sandra.

"Sebentar lagi juga datang." jawab Mona. Dia melirik Zea dan Vano yang tak lagi bercengkrama seperti tadi.

Jantung Zea berdebar kencang mendengar nama Rey, dia benar-benar ingin menghilang saat ini agar tak perlu bertemu manusia salju itu.

"Maaf, aku terlambat." ucap Rey dengan wajah datarnya.

"Eh, ini dia yang ditunggu-tunggu, sudah datang." seloroh Sandra saat melihat Rey datang.

Zea hanya menghela nafas sambil memalingkan wajahnya, sedangkan Vano tersenyum sinis kepada Rey yang menatap tajam kearahnya dan Zea.

"Mari kita mulai makan malamnya." Adam mempersilahkan mereka semua untuk makan.

Rey duduk tepat di hadapan Zea dan Vano, sejujurnya Rey sangat benci dengan situasi ini, hatinya panas melihat Vano mendekati gadis pujaan hatinya.

Sadar jika Rey masih memiliki rasa kepada Zea, Vano pun memulai aksinya.

"Kamu mau cobain ini nggak?" tanya Vano sambil menunjuk udang asam manis.

"Mau dong!"

Vano mengambilkan seekor udang asam manis lalu mengupas kulitnya dan menyuapkannya ke mulut Zea.

"Enakkan?" tanya Vano. Zea hanya mengangguk sambil mengunyah udang di mulutnya.

Adegan itu berhasil membuat emosi Rey naik, hingga dia akhirnya bersikap impulsif.

"Saya permisi ke kamar mandi dulu!"

Rey sontak beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan meja makan, semua orang bingung melihat kelakuannya itu, kecuali Vano yang kini tersenyum penuh kemenangan.

Rey sudah hapal dimana letak kamar mandi, karena saat kecil, dia sering datang ke rumah ini. Cukup lama Rey berada di dalam kamar mandi, pria itu hanya menatap lekat pantulan dirinya di cermin, dia masih berusaha mengontrol emosi yang sudah memenuhi kepalanya.

Setelah cukup tenang dan membasuh wajahnya, Rey pun keluar. Tapi alangkah terkejutnya dia saat melihat Vano sudah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di di dinding kamar mandi.

"Hai ... Reyfal Daniswara, ternyata kau nggak berubah ya? Apa sekarang kau sudah punya nyali untuk mendekatinya?" ejek Vano.

Rey tak membalas ucapan Vano itu, dia hanya mengepalkan tangannya demi menahan geram.

"Kau lihat, aku bahkan bisa dengan mudah menyentuhnya. Karena apa? Karena aku bukan pecundang sepertimu."

Buuugghh ....

Rey melayangkan kepalan tangannya dengan kuat ke wajah Vano dan membuat pria hitam manis itu sempoyongan.

"Jaga ucapanmu!" bentak Rey.

Tak terima diperlalukan seperti itu, Vano pun menyerang Rey dengan menendang kuat perutnya, hingga lelaki rupawan itu jatuh terduduk.

Vano kembali menyerang Rey, dan baku hantam pun tak dapat dielakkan. Keduanya bergumul dan saling pukul.

Mendengar keributan itu, seluruh penghuni rumah termasuk Roni dan Mona pun berlari ke asal suara, betapa kagetnya mereka melihat kelakuan Rey dan Vano.

"Vano! Hentikan!" bentak Adam sembari Vano.

"Rey! Apa-apaan kau ini?" Roni pun berusaha melerai dengan menarik Rey.

Perkelahian telah berakhir, keduanya sudah berdiri sambil tertunduk dengan wajah babak belur.

"Ada apa ini?" Adam menatap Ray dan Vano bergantian.

Rey dan Vano sama-sama bergeming, tak satupun dari mereka mau membuka suara. Adam hanya menghela nafas kedua orang itu.

"Baiklah, Om tunggu kalian di ruang kerja. Kita harus bahas ini." ujar Adam dan melangkah meninggalkan mereka, diikuti oleh Roni dan Sandra.

Mona pun menarik Rey agar mengikuti Adam.

Tinggallah Vano yang masih meringis sembari memegangi sudut bibirnya yang berdarah. Zea hanya menatap tajam dirinya.

"Apa? Mau memarahiku ?" ledek Vano.

"Kakak kenapa sih berkelahi dengan dia?" tanya Zea penasaran.

"Sudahlah, ini urusan anak laki-laki." Vano menepuk pundak Zea dan pergi menyusul yang lain.

Zea benar-benar bingung dengan semua ini, apa yang sebenarnya terjadi?

Apa dia melewatkan sesuatu? Entahlah!

***

Terpopuler

Comments

Icy tel

Icy tel

next

2020-06-14

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!