Setelah memastikan kondisi Zea sudah membaik dan melepas jarum infusnya, dokter yang merawat Zea mengizinkannya untuk pulang dan beristirahat di rumah.
"Kamu sudah bisa pulang, banyak istirahat ya. Mama kamu pasti bisa menjagamu dengan baik dan memberitahumu apa yang boleh dan nggak boleh kamu lakukan agar kejadian serupa tak terulang lagi." dokter muda itu menepuk bahu Zea dan tersenyum pada Sandra.
"Iya, terima kasih ya, Dok." sahut Sandra.
"Sama sama, Dok!" dokter muda itu mengangguk dan melangkah keluar meninggalkan ruangan Zea.
"Ma, sebenarnya aku sakit apa sih? Kok dia bicara begitu?" tanya Zea penasaran.
Sandra terlihat ragu untuk menjawab tapi bagaimana pun juga Zea harus tahu tentang penyakitnya ini.
"Kamu terkena pneumothorax." jawab Sandra.
"Penyakit apaan tuh, Ma? Berbahaya nggak?"
Sandra menarik nafas lalu menghembuskanya perlahan, suaranya seperti tercekat di tenggorokan, susah untuk dikeluarkan.
"Ma ...."
"Pneumothorax itu suatu kondisi dimana paru-paru kita mengempis dan nggak bisa mengembang lagi, sehingga udara nggak bisa keluar dengan baik. Biasanya itu diakibatkan benturan keras pada dada atau karena aktifitas yang terlalu memberatkan kerja paru-paru, seperti ...." Sandra nggak sanggup melanjutkan lagi penjelasannya.
"Seperti apa, Ma?" Zea semakin penasaran menanti kelanjutan penjelasan Sandra.
"Berenang dan menyelam." lanjut Sandra hati-hati, takut Zea syok dan tak bisa menerima semua ini.
Seketika wajah Zea berubah sedih, dia tertunduk dan memejamkan matanya, mencoba menahan rasa sesak di dada karena mendengar penjelasan Sandra barusan.
Sandra semakin khawatir melihat sikap diam putrinya itu, air matanya mulai jatuh menetes. Sandra mengelus pelan pundak Zea, memberikan sentuhan lembut agar gadis itu merasa tenang.
Lalu perlahan Zea mengangkat kepalanya dan menatap manik hitam milik Sandra dengan penuh harap.
"Aku masih boleh berenang kan, Ma?"
Sandra terdiam, dia tak sanggup menjawab pertanyaan paling menyedihkan dari putrinya itu.
"Ma ...?"
Sandra menggelengkan kepalanya. "Nggak, Ze. Kamu nggak boleh berenang lagi."
Seketika air mata Zea jatuh menetes, betapa terpukulnya dia saat mengetahui bahwa impiannya dari kecil harus berakhir sebelum terwujud. Bahkan saat terpaksa kuliah, dia masih berharap bisa menjadi atlet renang. Tapi sekarang semua sirna.
Sandra memeluk dan berusaha menenangkan putri semata wayangnya itu, dia tahu ini akan terjadi saat Zea mendengar kenyataan yang sebenarnya.
"Katakan kalau Mama lagi bercanda. Itu bohong kan, Ma?"
"Maafin Mama, Sayang." Sandra semakin menguatkan pelukan nya.
Zea menangis sejadi-jadinya didalam pelukan Sandra.
Disaat bersamaan Mona serta Rey masuk ke ruangan Zea dan melihat pemandangan haru itu. Memang setiap kali ingin menjenguk Zea, Mona selalu mengajak Rey, karena dia tahu putranya sangat ingin melihat Zea tapi dia tak akan berani jika datang sendiri.
Mona dan Ray bingung dengan apa yang terjadi, Zea yang masih sesenggukan dipelukan Sandra tak menyadari kehadiran mereka.
"San, ada apa?" tanya Mona.
Sandra langsung berbalik dan memandang ke arah Mona dan Rey, begitu pun dengan Zea, gadis itu langsung melempar tatapan sinis kepada Rey. Disaat seperti ini, sangat menyebalkan jika harus melihat wajah dingin dosen killer itu.
Seketika Zea turun dari ranjangnya dan berjalan melewati Rey menuju pintu keluar, tapi dengan cepat Rey menarik lengan Zea dan menghentikan langkah gadis itu.
Zea berbalik dan menatap tajam Rey. "Lepas!!!"
Rey hanya bergeming tanpa melepaskan genggaman tangannya, Zea yang terlalu kecewa dan kesal tak bisa lagi mengontrol emosinya lalu berkelakuan impulsif.
Plaaaakk ....
Satu tamparan keras mendarat dipipi Rey, membuat Sandra dan Mona terkejut bukan main.
Rey hanya memalingkan wajah dan menutup matanya, merasakan perih di pipinya yang memerah. Tapi tangannya tetap menggenggam lengan Zea.
"Jangan ganggu aku! Ini bukan kampus, jadi jangan campuri urusanku!" sungut Zea sambil menarik lengannya dengan kuat dan berlari meninggalkan ruangan itu.
Bahkan dia tak memperdulikan Mona yang melihat semua kelakuannya itu.
Rey pun bergegas menyusul Zea tanpa sepengetahuan gadis itu, dia tak akan sampai hati membiarkan gadis yang dia cintai itu sendiri.
Rey terus mengikuti Zea yang berlari menuju taman rumah sakit ini, tampak Zea duduk di salah satu bangku taman.
Rey mengambil jarak aman dari Zea tapi tetap memperhatikan gadis itu dari jauh.
Tampak sesekali Zea menyeka air matanya, Rey benar-benar tak tega melihatnya seperti itu, ingin rasanya dia memeluk Zea, tapi itu tak mungkin.
Tapi tiba-tiba, seseorang yang tak asing bagi Rey menghampiri Zea dan duduk di sampingnya. Seseorang itu terlihat mengusap air mata di pipi Zea lalu memeluknya.
Zea terlihat begitu tenang di dalam pelukannya. Melihat semua itu, emosi Rey naik ke ubun-ubun, tangan Rey mengepal dengan rahang yang mengeras.
"Berengsek! Kenapa dia ada disini?"
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Arik Kristinawati
zea ini ni kasar skli jdi wnita....blum apa2 su plaakk....plokkk...kmu yg pykitan Rey yg kna gampar....mati mampus sj Zeanya
2023-03-12
1
Neneng cinta
makanya gercep rey....cepet ungkapin perasaan kamu....
2023-03-01
2
Anyta Djami Lay
siapa suruh sikap ke kutub
2022-09-18
4