Sandra membawakan makan malam ke kamar Zea, tapi putri semata wayangnya itu sedang tertidur pulas. Mungkin dia kelelahan karena menangis seharian.
"Ze, bangun!" Sandra menggoyangkan pelan pundak Zea
Zea menggeliat dan membuka matanya yang tampak sembab dan basah, lalu bangkit dari pembaringan.
"Ze, makan dulu ya? Sini Mama suap." Sandra menyodorkan makanan ke arah mulut Zea.
Zea hanya menggeleng pelan tanpa membuka mulutnya.
"Makan dong, Ze! Jangan buat Mama khawatir."
"Aku nggak berselera, Ma."
"Kami masih sakit? Apa sebaiknya kita ke rumah sakit lagi?" tanya Sandra cemas.
"Aku baik-baik aja kok, Ma." Zea tertunduk sedih.
"Kalau begitu makan dong, Sayang. Jangan buat Mama khawatir."
Akhirnya Zea pun mengalah, dan mau makan. Dia tak sampai hati membuat Mamanya itu sedih.
"Tadi kenapa kamu menampar Rey? Emang ada masalah apa antara kalian?" tanya Sandra penasaran.
"Aku kesal dengan dia. Habis dia selalu aja bersikap menyebalkan, kayaknya dia benci banget sama aku." sungut Zea.
"Masa sih? Kayaknya Rey nggak gitu deh. Dia anak yang baik dan nggak mungkin benci sama kamu."
"Mama aja yang nggak tahu." Zea melengos. "Ma, aku pindah ke universitas lain aja ya?"
"Ya nggak bisa dong, Sayang. Kamu baru aja masuk kuliah kok sekarang mau pindah."
"Kalau gitu aku tinggal disini aja deh. Aku nggak mau tinggal di rumah Om Roni lagi. Malas lihat dia."
"Tapi jarak dari sini ke kampus kamu terlalu jauh, Ze. Belum lagi macetnya. Lagipula nggak enak dong sama Om Roni dan Tante Mona." ujar Sandra.
"Cckk ...." Zea berdecak kesal, dengan wajah yang cemberut.
***
Malamnya, Adam menghubungi Roni dan menceritakan apa yang disampaikan oleh Sandra tadi. Mereka bingung dengan semua ini, kenapa Zea begitu tidak suka terhadap Rey?
"Kalau begitu, besok makan malam lah dirumah kami, kita akan bicarakan ini lagi kepada Zea. Ajak Rey juga." Adam mengundang Roni dan keluarganya untuk makan malam.
"Baiklah, sampai bertemu besok malam."
Sementara itu di restoran miliknya, Rey sedang duduk melamun sendiri, tatapannya kosong. Mendadak kejadian masa lalu menghampirinya, momen saat dia melihat Zea remaja menggandeng erat tangan Vano dan memutuskan untuk pergi bersama pria itu, sementara dia hanya bisa melihatnya dari jauh dengan perasaan sedih. Membuat rahang Rey mengeras, dan ....
Brraaakk ....
Tanpa sadar Rey menggebrak meja di depannya, membuat karyawan di sekitarnya kaget dan bingung. Untung saja restorannya sepi pengunjung karena sudah mau tutup.
Dua orang karyawan wanita saling berbisik, curi-curi memandang ke arah Bos tampan mereka itu.
"Pak Rey kenapa, ya? Nggak biasanya seperti itu."
"Entahlah."
"Apa dia lagi patah hati?" pelayan itu bertanya lagi, sepertinya dia sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Rey.
"Mungkin!" pelayan yang satu lagi menjawab sekenanya.
"Bodoh sekali sih gadis yang udah membuat Pak Rey patah hati." lanjutnya lagi.
"Hemmm ...."
"Kamu ini, dari tadi jawabnya singkat-singkat mulu! Uups ...." sungut pelayan kepo itu dan langsung menutup mulut saat sadar suaranya yang keras.
Rey tak menggubris karyawannya itu meskipun dia mendengar ocehannya. Rey kemudian beranjak pergi, dan melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan malam.
Pikirannya terus dipenuhi dengan Zea, hatinya benar-benar galau memikirkan semua ini, seolah kejadian waktu itu terulang lagi.
Seketika rasa takut menghantuinya, takut jika Zea menolak perjodohan ini dan itu berarti dia kehilangan kesempatan untuk memiliki cinta pertamanya itu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Ayunina Sharlyn
oke
2020-07-18
1
Satu kata Seribu makna ( ANU )
Hai kak aku nyicl baca+like, kapan" aku lanjutkan lagi, janlupa back
Thank's😊
2020-06-14
2