Perasaan Rey 2

Cahaya mentari sudah terlihat masuk di sela-sela jendela, perlahan mata lentik Zea terbuka, samar-samar dia melihat Sandra yang tengah duduk di sisi ranjangnya sedang tersenyum.

"Aku kenapa, Ma? Kok bisa ada disini?" Zea bertanya dengan tatapan bingung.

"Kemaren kamu pingsan saat berenang di rumah Om Roni, jadi kamu dibawa kesini." jawab Sandra sembari mengelus kepala Zea.

"Hmmm ... pingsan? Kemaren seingatku, tiba-tiba dadaku sesak dan badanku rasanya lemas banget, kakiku juga keram. Tapi setelah itu aku nggak ingat apa-apa lagi, Ma." ujar Zea.

"Sekarang kamu sudah baik-baik aja kan, Sayang?" Sandra memastikan kondisi putrinya itu.

Zea mengangguk pelan. " Udah enakan kok, Ma."

"Syukurlah."

"Tapi siapa yang bawa aku kesini?"

Ada rasa penasaran dihati Zea yang medapati dirinya sudah terbaring di rumah sakit, sementara semalam seingatnya cuma ada Mona dan Rey di rumah itu. Sedangkan Roni sedang keluar.

"Rey yang menyelamatkan kamu dan membawa kamu kesini." sahut Sandra.

"Apaaa ...? Dia?" pekik Zea kaget.

"Kenapa, Ze?"

Zea menggelengkan kepalanya. "Nggak, nggak apa-apa kok,Ma."

"Ya sudah, kamu sarapan dulu ya."

"Iya, Ma." jawab Zea. Dia masih mencerna semua ini.

"Ternyata dia masih punya hati, ku pikir dia benci padaku." batin Zea.

Sandra pun menyuap kan bubur ke mulut Zea dengan hati-hati, dia merasa lega karena sang putri sudah lebih baik.

Sementara itu di kediaman Roni, Keanu sudah datang untuk menjemput Zea, Mona yang menghampirinya lalu memberi kabar jika Zea sedang di rawat di rumah sakit.

Keanu tampak khawatir dan bertanya tentang kondisi Zea, dia juga meminta alamat rumah sakitnya, sepulang kuliah Keanu berniat untuk menjenguk Zea bersama Ruby.

Dari dalam rumah, Rey hanya menatap tajam ke arah Keanu, berharap bocah itu segera berlalu dari halaman rumahnya.

Karena kehadiran bocah itu sungguh membuat emosinya naik pagi-pagi begini.

***

Siang hari menjelang sore ...

Pintu ruang perawatan Zea tiba-tiba terbuka, sepasang anak manusia muncul dari balik pintu.

"Hai, Ze. Hai, Tante." sapa Ruby dan Keanu bersamaan.

"Ruby .... Keanu ...?" Zea memekik senang melihat dua temannya itu datang.

"Bagaimana keadaan kamu, Ze?" Keanu bergerak cepat dan langsung duduk di sisi rajang Zea, membuat Sandra dan Ruby kaget dengan aksinya.

Seperti biasa, bocah ini tanpa perlu izin sudah bisa mendaratkan bokongnya dimana saja yang dia mau. Tak perduli orang-orang akan berfikiran apa.

"Aku udah baikan, kok." jawab Zea.

"Syukurlah. Kampus sepih banget tanpa kamu, Ze." Keanu memasang wajah sedih.

"Lebaaaayyyy ...." ejek Zea dan Ruby serentak, lalu terkekeh bersama.

Sandra yang melihat tingkah Keanu pun ikut tertawa, dia bersyukur melihat putrinya baik-baik saja dan masih bisa tertawa seperti ini. Walaupun dia masih bingung bagaimana cara menjelaskan kepada Zea tentang kondisi yang sebenarnya.

"Aku serius loh, Ze! Kamu nggak lihat wajah aku udah sedih begini?" Keanu berbicara dengan tampang melas.

"Wajah kamu lucu tahu!"

Zea dan Ruby kembali tertawa melihat tingkah konyol Keanu, dia benar-benar datang untuk menghibur Zea, buktinya gadis itu bisa terrawa riang sekarang, seolah lupa kalau dia sedang sakit.

Tapi suasana riang itu tak bertahan lama sebab mendadak semua menjadi horor karena tiba-tiba pintu ruang perawatan Zea terbuka dan Rey serta Mona pun masuk.

Keanu dan Ruby kaget melihat kehadiran dosen dingin mereka itu, keduanya saling pandang. Kemudian beralih memandang Rey sembari menelan ludah.

"Pak." sapa Keanu dan Ruby serentak. Rey hanya membalasnya dengan anggukan kepala.

"Hmmm, kami pamit aja deh." bisik Keanu pelan.

"Yaaaaa, baru juga datang." Zea keberatan.

"Nanti kalau situasi sudah aman, kami kesini lagi." ujar Keanu masih dengan berbisik.

Zea tahu karena apa Keanu jadi enggan berlama-lama disini, semua pasti karena kehadiran Rey. Wajahnya sontak cemberut, hilang sudah tawa riangnya tadi.

"Ya udah, deh. Makasih, ya."

"Iya, cepat sembuh." balas Keanu.

Setelah berpamitan pada Rey, Sandra dan Mona. Kedua bocah itu pun bergegas keluar. Rey merasa lega karena Keanu akhirnya pergi.

Mona pun menanyakan kabar Zea, dia bersyukur putri sahabatnya itu baik-baik saja.

"Oh iya, San. Temani aku ke kantin yuk?" ajak Mona.

"Mau ngapain?" tanya Sandra.

"Tiba-tiba aku lapar banget ni." jawab Mona sembari memegangi perutnya.

Sebenarnya Mona sengaja mengajak Sandra pergi agar bisa memberi waktu untuk Rey dan Zea berduaan.

"Ya udah, yuk." dengan polosnya Sandra menuruti ajakkan Mona.

"Rey, titip Zea, ya?" pinta Sandra dan Rey hanya mengangguk.

"Iya, Mama ...." Zea merengek keberatan.

"Sebentar aja, Ze."

Sandra dan Mona pun pergi meninggalkan Zea bersama Rey yang kini sudah memfokuskan pandangannya ke layar ponsel.

Perlahan Zea memberanikan diri melirik ke arah Ray yang tengah duduk di sofa.

Melihat Rey yang fokus pada ponsel, Zea buru-buru membalikkan badannya membelakangi Rey lalu menarik selimut sampai menutupi kepalanya.

Rey melirik Zea, dia tahu gadis itu berpura-pura tidur karena menghindarinya.

Rey hanya bisa menghela nafas, dia sendiri bingung, kenapa tak bisa bersikap wajar dan manis kepada gadis itu? Hingga membuatnya tidak nyaman.

Suasana ruang perawatan Zea begitu hening, tak ada aktifitas, tak ada suara apapun meski ada dua mahkluk hidup di dalam sana.

***

Terpopuler

Comments

Wafa Herni

Wafa Herni

aduh rey²😀

2022-02-18

2

Wulan Dari

Wulan Dari

ada ya...org kyak rey itu...?? 🤔🤔🤔🤔

2021-08-01

2

?

?

semangat terus Thor aku suka banget banget banget novelnya

2020-08-06

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!