Pertemuan Kembali

Pagi ini menjadi awal Zea memulai sesuatu yang mati-matian dia tolak dari dulu, yaitu kuliah.

Zea melangkahkan kaki dengan tidak bersemangat menuju meja makan, disana telah duduk Roni dan Mona.

"Selamat pagi, Ze." sapa Roni dan Mona serentak.

"Selamat pagi, Om .... Tante." balas Zea dengan memaksakan senyuman.

"Kamu udah bisa langsung masuk kuliah, Om sudah mengurus semua nya kemaren. Kamu hanya perlu belajar dengan sungguh-sungguh." ujar Roni.

"Iya, Om." jawab Zea, tanpa banyak bicara langsung melahap sarapan di hadapan nya.

"Ternyata mereka udah mempersiapkan semuanya, cepat sekali? Aku merasa ada yang aneh." batin Zea sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

Belum lagi selesai dengan pikiran-pikiran jeleknya, Zea dikagetkan dengan suara seseorang yang berjalan cepat di belakang nya.

"Aku pergi dulu." Rey berlalu tanpa singgah di meja makan.

"Kamu tidak sarapan dulu?" tanya Mona.

"Aku buru-buru." Rey menjawab tanpa menoleh kepada sang ibunda.

Bahkan Zea hanya melihat punggung Rey yang berlalu pergi dan akhirnya hilang di balik pintu.

"Dia selalu begitu, kapan dia punya waktu untuk keluarganya?" protes Roni kesal.

"Sudahlah, Pa." Mona mengusap punggung tangan suaminya.

Sementara Zea hanya diam, mencoba mencerna situasi ini. Sudah lama sekali rasanya dia tidak bertemu dengan Rey, dan dia tak menyangka Rey masih dingin seperti dulu.

***

Roni mengantar Zea sampai ke kampus, beberapa dosen dan pengurus kampus tampak memberi hormat padanya.

Roni pun mengantarkan Zea ke ruangan Rey, dia hanya ingin menitipkan pesan kepada putranya itu agar menjaga Zea selama di kampus, karena dia tak sempat mengatakannya saat di rumah.

Roni mengetuk pintu, dan terdengar suara seseorang mempersilahkan masuk. Roni dan Zea masuk dan mendapati Rey sedang membolak-balik berkas di hadapannya.

Rey melirik Roni dan Zea sejenak, lalu kembali memfokuskan pandangan ke berkas-berkas dihadapannya.

Zea berdiri di samping Roni dan memperhatikan tingkah cuek Rey yang seolah-olah mengabaikan mereka.

"Papa hanya mengantar dia kesini, selanjutnya Papa serahkan ke kamu! Mohon dibimbing dengan baik." ucap Roni tegas.

"Hmmm ...." Rey berdehem tanpa menoleh mereka.

Roni hanya mengembuskan napas melihat sikap cuek dan dingin putra nya itu.

Sementara Zea memandang Rey dengan perasaan kesal, ingin rasanya dia mencakar wajah menyebalkan pria itu.

"Baiklah, Om tinggal, ya. Kamu bisa tanya jadwal kuliah atau apapun yang perlu kamu tanya pada Rey." Roni beralih memandang Zea.

Zea hanya mengangguk dengan senyum getirnya dan Roni bergegas keluar dari ruangan horor itu.

Zea masih berdiri mematung dihadapan Rey, dia bingung harus ngapain dan memulai percakapan dari mana?

"Sampai kapan kau terus berdiri?" Rey bicara tanpa memandang Zea.

"Eh ... i-iya, Kak." Zea pun mendudukkan dirinya dengan hati-hati.

Rey memberikan beberapa lembar kertas jadwal mata kuliah dan peraturan di kampus ini, tanpa memandang Zea apalagi berbicara padanya.

Zea mengambilnya dan membaca dengan sangat teliti.

Rey kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu, tapi Zea masih duduk manis dengan pura-pura serius membaca kertas-kertas ditangannya.

Rey berhenti sejenak sebelum dia keluar dari ruangannya. "Mau berapa lama lagi kau duduk disitu?"

"Eh ... ma-maaf, Kak." Zea kaget dan mendadak gugup. Dia beranjak dan langsung berjalan ke arah Rey.

"Panggil saya, Pak." pinta Rey tegas lalu melanjutkan langkahnya.

"Ba-baik, Pak." sahut Zea.

"Dia sombong banget sih!" ucap Zea dalam hati sambil mengepalkan tangannya.

Zea berjalan mengikuti Rey, masuk ke ruangan yang tadinya terdengar berisik seketika hening begitu melihat kedatangan Rey si dosen dingin.

"Duduk!" suara tegas Rey membuat Zea melangkah mencari bangku yang bisa dia duduki.

"Hai ... duduk di sini." seorang bocah laki-laki berwajah tampan dan sedikit imut bak aktor Korea itu menunjukkan bangku kosong di belakangnya.

Zea hanya tersenyum sembari duduk di bangku itu, tak ada pilihan lain, memang cuma bangku itu yang kosong.

"Kenalin, aku Keanu. Kamu?" bocah tampan yang bernama Keanu itu mengulurkan tangannya ke arah Zea sambil tersenyum manis.

"Saya enggak suruh kalian berkenalan!" ujar Rey tegas, membuat Zea mengurungkan niat nya untuk menjawab Keanu apalagi menjabat tangan nya.

Keanu mulai merasa kesal dengan sikap sombong dosen nya itu, tapi dia tetap berusaha sabar karena dia masih mahasiswa baru, hanya masuk lebih awal dari Zea. Beruntungnya gadis cantik itu bisa masuk dengan mudah.

Secara akademis, Zea bukanlah anak yang pintar apalagi berprestasi. Sangat sulit untuk orang lain dengan nilai pas-pasan sepertinya bisa kuliah di kampus ini, berkat bantuan Roni yang merupakan orang berpengaruh di kampus ini, Zea bisa masuk dengan mudah.

Tapi tetap saja itu bukan hal yang bisa dibanggakan, namun Zea tak perduli.

Toh dia kuliah di kampus ini karena terpaksa, bukan keinginannya apalagi menjadi impiannya.

Terlebih jika harus membayangkan dosen dingin yang akan selalu dia temui di kampus maupun di rumah, sungguh membuat Zea semakin frustasi dan tak bersemangat.

Rasanya ingin dia pergi ke segitiga bermuda, lalu menenggelamkan diri ke dasarnya, dari pada setiap hari harus bertemu dan berurusan dengan dosen sedingin es balok itu.

Walaupun mereka sudah kenal dari kecil, lantas bukan berarti Rey akan bersikap manis padanya, bahkan sejak kecil Zea sudah tidak menyukai sikap Rey yang tak pernah menatapnya apalagi berbicara padanya seperti orang benci.

Tanpa Zea ketahui apa yang sebenarnya membuat pria tampan itu bersikap demikian.

***

Terpopuler

Comments

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

aroma2 cembokur....poeesif naaaaaaa

2023-01-29

2

Wulan Dari

Wulan Dari

msh nyimak thoorr....😊

2021-08-01

1

Mamie kembar

Mamie kembar

semangat kak

2020-07-29

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!