Rencana Adam

Selepas Zea berlalu, Adam dan Sandra terkekeh geli demi mengingat sandiwara yang mereka mainkan barusan.

"Akting mu sungguh bagus, Sayang."

"Ssstt ... pelan-pelan bicaranya, nanti kedengaran Zea, bisa gagal rencana kita." Adam berbisik sembari meletakkan jari telunjuknya di depan mulut.

"Iya ... iya ...." Sandra masih berusaha menahan tawanya.

"Aku sudah menceritakan semuanya kepada Roni, mereka sangat senang jika Zea mau tinggal n kuliah disana. Roni dan Mona juga pasti menyayanginya." ujar Adam.

"Semoga ini yang terbaik untuk Zea." sahut Sandra.

Adam meletakkan kedua tangannya di belakang kepala dan memandangi langit-langit kamarnya, terbesit sedikit rasa bersalah di hati pria itu karena telah membohongi sang putri.

"Ma, kira-kira Zea marah nggak ya kalau tahu kita sudah membohonginya?" Adam memutar kepala dan menatap cemas ke arah istrinya.

"Entahlah, Pa! Tapi kurasa nggak deh! Zea kan anak yang baik. Suatu saat dia pasti mengerti apa yang kita lakukan demi kebaikannya."

"Iya, semoga saja dia bisa mengerti. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya."

"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan! Papa kan lagi kena serangan jantung." seloroh Sandra.

Keduanya tertawa pelan lalu saling berpelukan.

***

Pagi ini begitu cerah, cahaya mentari mulai masuk melalui celah-celah jendela kamar. Menyinari wajah damai Zea yang masih terlelap.

"Ze, bangun!" Sandra menggoyangkan badan putrinya yang masih terlelap seperti bayi.

Zea menggeliat dan mengerjap, berusaha memfokuskan pandangannya yang masih kabur, hingga kornea matanya bisa menangkap jelas sosok cantik sang mama.

"Masih ngantuk, Ma." Zea memejamkan kembali matanya.

"Ayo bangun! Terus siap-siap. Hari ini kamu ke rumah Om Roni, agar bisa secepatnya kuliah."

"Apa ...? Hari ini ...? Kenapa buru-buru sekali, Ma?" Zea spontan bangun dan melayangkan protesnya.

"Lebih cepat, lebih baik. Mandi dulu sana! Biar Mama bantu kamu beresin barang barang yang diperlukan saja, sisanya nanti menyusul." Sandra melangkah ke arah lemari pakaian Zea.

Zea tercengang tak percaya, dia bahkan belum menyiapkan apapun, tapi sang Mama sudah menyuruhnya untuk pergi dari rumah ini.

"Apa Mama dan Papa nggak sayang lagi sama aku. Kenapa aku merasa seperti anak kucing yang akan dibuang?" batin Zea sedih.

Sebenarnya alasan Adam dan Sandra mempercepat kepindahan Zea adalah agar gadis itu tidak sempat berubah pikiran.

***

Zea terpaku di depan rumahnya dan memandang nanar bangunan bercat tosca itu, walaupun ini bukan yang pertama kali dia berpisah dari kedua orang tuanya, tapi tetap saja hatinya sedih.

"Ayo, Sayang." Sandra meminta Zea masuk ke dalam mobil, dengan berat hati gadis cantik itu menurut.

Diperjalanan Zea hanya memandang keluar jendela, ingin nangis tapi dia malu. Hatinya sungguh menolak, tapi dia pasrah.

"Ayolah Zea, semua pasti baik baik aja, ini tidak terlalu buruk. Walaupun kuliah dan jadi pengacara, aku kan tetap masih bisa jadi atlet renang." ujar Zea dalam hati. Seulas senyum kecil terbit di bibirnya.

***

Sesampainya di rumah Roni, mereka disambut hangat oleh sang empunya rumah.

Mona membuat kan minum dan membawakan cemilan, sepertinya wanita itu sangat senang dengan kedatangan Zea.

Mona dan Roni memang sangat menginginkan anak perempuan, karena mereka cuma punya seorang putra yang sangat sibuk dengan rutinitasnya. Sampai-sampai dia nyaris tak ada waktu untuk sekedar mengobrol bersama kedua orang tuanya.

"Selamat datang, Ze. Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri." ucap Roni. Zea hanya mengangguk sembari tersenyum.

"Aku titip Zea ya, Ron ...? Kalau dia berbuat ulah, marahi saja seperti kau memarahi anakmu." ujar Adam.

"Haahaha ... percayakan saja dia padaku." balas Roni.

Setelah mengobrol dengan Roni dan memberi wejangan ke pada Zea, Adam serta Sandra berpamitan pulang. Rasanya Zea ingin nangis dan mengejar mobil Papanya, tapi itu tidak mungkin, dia bukan anak anak lagi.

"Ayo Tante antar ke kamar kamu." Mona menarik pelan tangan Zea yang mengikuti nya berjalan.

"Istirahatlah, kalau butuh apa-apa bilang ya, Sayang."

"Iya Tante, terima kasih." balas Zea.

Setelah Mona berlalu, Zea pun mendudukkan dirinya di atas ranjang dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar, serasa ada yang kurang karena tak ada poster idolanya ... princess Ariel.

"Aku kangen kamarku." ucap Zea sedih.

***

Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.

Seseorang turun dari mobil dan berjalan lemah ke dalam rumah, raut wajahnya terlihat lelah sekali.

"Kenapa baru pulang larut malam begini, Rey ...?" Roni muncul dari ruang kerjanya saat Rey melintasi ruangan itu.

"Banyak kerjaan." jawab Rey singkat sembari berlalu.

"Tunggu! Mulai hari ini putri Adam akan tinggal disini dan kuliah di kampus kita." suara Roni membuat langkah Rey terhenti sejenak.

Namun beberapa detik kemudian, Rey kembali melanjutkan langkahnya tanpa berniat membalas ucapan sang papa.

Roni hanya berdecak kesal sambil geleng-geleng kepala melihat sikap dingin putranya itu.

Didalam kamar Rey segera masuk ke kamar mandi, mungkin dengan mandi bisa sedikit menyegarkan tubuhnya dan menghilangkan kepenatan yang sedang dia rasakan.

Setelah itu tanpa buang waktu, dia merebahkan badan di ranjang empuk miliknya.

Sejenak dia teringat sosok wanita yang telah mencuri hatinya sejak bertahun-tahun lalu.

"Dia sudah kembali dan akan tinggal disini.

Itu berarti aku akan melihatnya setiap hari." ucap Rey dengan senyuman yang mengembang.

Rey memejamkan matanya dan dalam sekejap dia sudah terlelap dalam sepinya malam.

Ternyata tubuhnya begitu lelah, sampai secepat itu dia tertidur.

Rey memang begitu sibuk dengan kerjaan nya menjadi dosen dan mengurus restoran miliknya, sampai dia tak punya waktu untuk berkumpul dengan keluarga.

Dia hanya menghabiskan hari-harinya dengan segala rutinitas yang menguras tenaga dan pikirannya.

Sebenarnya kesibukan bukan satu-satunya alasan Rey jarang ada di rumah, tapi rasa kecewa dan marahlah alasan utamanya, hingga membuatnya mengalihkan semua itu pada pekerjaan.

***

Terpopuler

Comments

nobita

nobita

sesibuk itukah Rey?? hmmm

2024-09-09

0

dita18

dita18

msh nyimak

2023-09-21

2

Tiwik Firdaus

Tiwik Firdaus

emang marah dan kecewa sama siapa

2023-02-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!