Pneumothorax

Seminggu sudah Zea menghabiskan hari-harinya dengan berkuliah, sepertinya memang tak seburuk yang dia pikirkan.

Dia pun mulai terbiasa dengan lingkungan kampus, teman-temannya dan juga sikap dingin Rey di kampus maupun di rumah.

Ini weekend pertama Zea di rumah Roni, dia bosan seharian di kamar. Zea memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang dan duduk di tepi kolam renang, ditatapnya hamparan air di dalam kolam, terbesit ide cemerlang di otaknya.

"Udah lama aku nggak berenang, sebentar saja kayaknya nggak masalah. Daripada jenuh nggak ada kerjaan." Zea mengoceh sendiri.

Kebetulan sekali Zea hanya memakai kaos tanpa lengan dan hotpants, tanpa pikir panjang langsung melompat ke dalam air.

Berenang kesana kemari bak ikan lumba-lumba yang sedang beratraksi.

Dari atas balkon, terlihat Rey yang sedang memperhatikan tingkah laku Zea, sesekali dia tersenyum samar.

Memang sejak Zea tinggal di rumahnya, Rey jadi sering menghabiskan waktu di rumah, Mona juga menyadari hal itu, dia juga memperhatikan Ray yang terus memandang ke arah Zea.

"Dia cantik sekali ya?." tanya Mona.

"Hmmm .... Mama ..."Rey jadi gugup karena tertangkap basah sedang mengintip Zea.

"Kamu masih saja suka memperhatikan dia diam-diam."

"Eng ... nggak kok, Ma." bantah Rey.

"Mama selalu memperhatikan itu." ujar Mona, dia teringat beberapa tahun lalu saat pertama kali Zea bertemu Rey.

**

Zea datang kerumah Roni untuk pertama kalinya, saat itu Zea masih berumur 5 tahun dan Rey sudah berumur 10 tahun. Karena sifat tertutupnya, Rey kecil tak mau menghampiri Zea, dia hanya melihat Zea dari balik tembok.

Begitulah Rey, dia selalu bersembunyi dari orang-orang yang menarik perhatiannya. Dia bahkan pernah kehilangan seorang teman yang datang dan tinggal di rumahnya tanpa sempat menyapanya, karena Rey bersikap dingin dan tak acuh kepada anak itu, hingga anak laki-laki itu berpikiran bahwa Rey sombong.

Namun selepas bocah itu pergi, Rey menjadi sedih dan merasa kehilangan.

Begitu juga dipertemuan-pertemuan berikutnya, Rey kecil hanya berani curi-curi pandang kepada Zea. Jika mereka terpaksa harus berdekatan, Rey kecil hanya tertunduk seperti enggan melihat Zea yang telah mencuri perhatiannya.

Dan Mona selalu memperhatikan hal itu, tapi dia menganggap itu sepele, karena sikap introvert Ray.

**

"Mama pikir kau begitu karena malu, tapi sekarang Mama tahu jika kau menyukainya." lanjut Mona.

"Ah, Mama ada-ada saja." Rey tersipu malu.

Mona tersenyum penuh arti, dia tahu Rey sedang berusaha menyembunyikan perasaannya.

"Tolong ... tol ...." Zea berteriak. Rey dan Mona sontak mengalihkan pandangan ke arah gadis itu.

Mata kedua anak dan ibu itu membulat demi melihat tubuh Zea hilang timbul di tengah kolam.

"Zea ...." Rey spontan berlari sekuat tenaga, menuruni anak tangga dengan langkah yang lebar dan langsung melompat ke dalam kolam.

Mona pun ikut berlari dengan perasaan panik.

Rey berusaha meraih tubuh Zea yang mulai melemas karena kehabisan tenaga dan terlalu banyak meminum air kolam. Dengan susah payah, akhirnya Rey berhasil mengangkat tubuh lemas Zea dan membaringkannya di tepi kolam.

"Ze, bangun!" Rey menepuk pipi Zea yang sudah pingsan. Lalu dia melakukan CPR dengan menekankan dada Zea, tapi tak ada reaksi apa-apa, membuatnya semakin panik.

"Kasih nafas buatan, Rey! Cepat!" Mona berteriak panik, membuat Ray tersentak.

Nafas buatan?

Ragu-ragu Rey mendekatkan wajahnya ke wajah Zea, menekan hidung gadis itu dan mengembuskan nafas dari mulutnya ke mulut Zea.

Untuk pertama kalinya bibir Rey menyentuh bibir Zea, membuat jantung pria itu berdegub semakin kencang. Ini ciuman pertamanya.

Setelah memberi nafas buatan, Zea tetap tidak bangun dari pingsannya. Rey yang semakin panik, langsung menggendong tubuh lemah Zea, membawanya ke rumah sakit terdekat.

***

Di ruang tunggu UGD ...

Rey, Roni dan Mona tengah duduk menanti kabar tentang kondisi Zea. Tak lama kemudian Adam dan Sandra pun datang setelah sebelumnya Mona menelepon mereka.

"Kenapa bisa seperti ini, Ron? Selama setahun dia les berenang dan aku tau kemampuan berenangnya baik. Tapi kenapa sekarang ...." Adam mengusap wajahnya dengan kasar.

"Maaf, Dam. Aku juga nggak ngerti kenapa bisa seperti ini?" jawab Roni. Dia merasa tak enak hati sebab sudah tak becus menjaga Zea.

Sandra yang tak sabar menanti kabar anaknya, langsung menerobos masuk ke ruang UGD. Diikuti Adam, Rey, Roni dan Mona.

"Bagaimana kondisi putri saya?" tanya Sandra yang berjalan mendekati Zea.

Tim medis di dalam ruangan itu terlihat tidak suka melihat Sandra masuk secara tiba-tiba.

"Dia terlalu banyak meminum air, dan sepertinya dia juga kelelahan." jawab seorang dokter muda yang sedang memeriksa Zea dengan stetoskop.

Sandra menggenggam tangan Zea dan memperhatikan putrinya itu dengan seksama.

"Tangannya dingin sekali, kulitnya membiru dan nafasya cepat. Ini pneumothorax.

Siapkan alat-alatnya ... cepat!" Sandra yang panik berteriak memerintah dokter dan suster di dalam ruangan itu.

"Tapi anda tidak bisa sembarangan memutuskan." dokter muda itu protes karena meras keberatan.

"Saya dokter Sandra, kepala rumah sakit Medica. Dan saya akan tuntut anda beserta rumah sakit ini kalau terjadi sesuatu dengan putri saya." ancam Sandra dan sukses membuat dokter muda itu beserta tim nya segera menyiapkan alat-alat yang diminta Sandra.

Rey, Adam, Roni dan Mona terlihat sangat khawatir dengan kondisi Zea.

Bahkan mata Rey mulai basah dan memerah.

"Tuhan ... tolong selamatkan dia." batin Rey.

Dengan cekatan Sandra memasukkan selang dari hidung Zea sampai ke paru-paru, memasang tabung udara, dan memompa udara masuk agar paru-paru Zea yang mengempis bisa mengembang kembali.

Setelah melakukan semua tindakan medis yang seharusnya, akhirnya Zea bisa diselamatkan.

Nafasnya normal kembali, kulitnya sudah hangat dan tidak membiru lagi.

Membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi lega.

"Kita tunggu dia sadar, dia butuh istirahat. Maafkan saya karena telah memerintah kalian." Sandra menepuk pundak dokter muda yang menangani Zea itu.

"Iya, nggak apa-apa dok, kami yang seharusnya minta maaf karena telah lalai." balas dokter muda itu.

"Sudahlah!" Sandra tersenyum hangat, membuat dokter muda itu juga ikut tersenyum lega lalu dia keluar meninggalkan Zea bersama keluarganya.

"Maafkan kami karena nggak becus menjaga Zea." Roni memegang tangan Adam seolah tampak penyesalan dari matanya.

"Sudahlah, Ron. Kamu nggak salah, ini hanya kecelakaan. Maaf tadi aku panik sekali." sahut Roni.

Kemudian Zea dipindahkan ke ruang perawatan karena kondisi nya telah stabil.

Mereka pun keluar dari ruangan Zea dan membiarkannya beristirahat. Zea masih belum sadarkan diri, mungkin karena masih dalam pengaruh obat.

Rey masih berdiri di depan pintu ruangan perawatan Zea dengan pakaian yang lembab, ingatannya kembali pada adegan nafas buatan tadi, membuat darahnya berdesir dan jantungnya berdetak cepat.

Lalu dia menyentuh bibirnya dan tersenyum.

"Maaf, aku telah mencuri ciuman darimu."

***

Terpopuler

Comments

nobita

nobita

jangan meminta maaf Rey... itu karena darurat

2024-09-09

0

Kenzi Kenzi

Kenzi Kenzi

terbayang2 terus.kan bang

2023-01-30

2

Yuli Rafa

Yuli Rafa

aku suka ceritanya

2022-04-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!