Raja Zidalor

Arael berjalan bersama Hakaris memasuki istana es. Seluruh interior istana terbuat dari es. Meski begitu, suhu di dalamnya tidak terlalu dingin. Arael bisa berjalan seperti biasa tanpa perlu menggigil kedinginan. Setelah melewati aula utama, Hakaris membawa Arael memasuki balairung istana yang sangat luas. Dua elf penjaga lain berdiri di depan pintu balairung dan memperislakan Hakaris masuk membawa Arael.

“DIberkatilah dalam cahaya Ingwë,” ujar Hakaris sambil menunduk hormat pada rajanya.

Sang raja duduk di singgasana dengan tangga yang cukup tinggi. Raja tersebut berambut perak seperti seluruh kaumnya di kerajaan elf salju. Pakaiannya serba hitam dan sorot matanya begitu tajam menatap Arael. Arael segera menunduk hormat mengikuti gerakan Hakaris.

“Mendekatlah,” perintah sang raja dengan suara membahana.

Hakaris melirik Arael dan menyuruhnya segera menghadap. “Silakan mendekat pada Raja Zidalor,” bisik Hakaris.

Arael mengangguk singkat, lantas kembali menegakkan badannya. Gadis itu kemudian mulai berjalan menaiki tangga dengan pijakan sempit yang licin menuju singgasana Raja Zidalor.

“Kau boleh pergi,” ucap sang raja pada Hakaris.

Hakaris kembali menunduk hormat lalu berbalik undur diri. Arael sementara itu masih berjuang berjalan tertatih-tatih menaiki anak tangga yang tidak ada habisnya. Akhirnya setelah berjalan dengan hati-hati selama beberapa saat, Arael pun sampai di hadapan sang raja. Kharisma dan aura Raja Zidalor jauh berbeda dengan tiga pimpinan elf lainnya yang pernah ditemui Arael. Setelah ia berdiri begitu dekat, Arael segera merasakan tekanan yang begitu mengintimidasinya. Ada semacam kekuatan dari sang raja yang membuat Arael otomatis berlutut untuk menghormat tanpa berani menatap langsung ke wajah Raja Zidalor.

“Apa kau putri bangsa manusia yang sudah diramalkan itu?” tanya Raja Zidalor penuh wibawa.

“Benar, Yang Mulia. Sayalah anak dalam ramalan centaur,” ucap Arael berusaha tetap tegas.

“Apa kau tahu bahwa sebagian bangsamu meminta perlindungan dari kami dan tinggal di sini untuk bersembunyi dari raja kalian yang sekarang?”

“Saya telah melihatnya saat memasuki wilayah  ini. Meski begitu saya belum menemui mereka, Yang Mulia.”

Raja Zidalor terdiam selama beberapa saat. Tekanan auranya semakin pekat dan mengintimidasi.

“Blarani adalah leluhur bangsa elf. Pendahuluku adalah yang pertama di antara delapan ras utama bangsa elf yang bersedia hidup di dunia manusia. Dengan kekuatanku, tidak ada manusia yang berani mengusik kaum Blarani. Lantas apa yang membuatmu berpikir kalau aku bersedia membantumu melawan rajamu sendiri?” tanya Raja Zidalor kemudian.

Arael tercekat sejenak. Ia harus memikirkan jawaban yang tepat. Blarani adalah nama suku elf salju dalam bahasa mereka. Iolas dan Bryen memang sudah menjelaskan bahwa suku ini merupakan leluhur semua bangsa elf di Luteria. Mereka adalah kaum tertua yang membawa para elf untuk tinggal dan hidup bersama manusia. Tak heran kalau kekuatan sang raja begitu besar hingga menimbulkan tekanan aura yang mengintimidasi. Arael begitu terdorong untuk menyenangkan hati sang raja agar bisa mendapat restunya.

“Raja Zidalor yang Agung, penguasa Blarani dan seluruh bangsa elf di Luteria, saya percaya bahwa kebijaksanaan Anda adalah yang paling tersohor. Anda memiliki kebaikan yang berbanding lurus dengan kekuatan besar yang Anda miliki. Terbukti dengan bagaimana Anda bersedia menampung rakyat kami yang melarikan diri dari kekejaman Raja Charles yang lalim.

“Sebagai manusia, saya merasa malu atas Raja kami yang tamak. Dia bekerja sama dengan makhluk gelap dan orge, serta menggunakan sihir-sihir hitam yang terlarang demi memuaskan keserakahannya. Raja kami telah mengkhianati rakyatnya, bahkan memburu makhluk sihir yang tidak bersalah. Karena itu, saya percaya bahwa kebijaksanaan Anda tidak akan membiarkan ketidakadilan tersebut terus merajalela.

“Saya, pewaris terakhir keturunan Sion, bersedia menjadi perpanjangan tangan Yang Mulia untuk menumpas kelaliman Raja Charles. Bersama restu Baginda, saya yakin saya bisa membawa perdamaian kembali di tanah Luteria ini.” Arael membujuk sang raja dengan kata-kata panjangnya yang dia pelajari dari Ratu Arendel. Sebelumnya sang Ratu pernah memberi tahu Arael bahwa raja-raja elf kuno memang biasanya perlu dibujuk dengan etika dan sopan santun yang sedikit rumit. Kini setelah mengatakan semua yang bisa dia pikirkan, Arael hanya bisa menantikan respon Raja Zidalor dengan hati yang berdebar-debar.

Mendadak tawa Raja Zidalor membahana. Arael otomatis mendongak terkejut karena sang raja tertawa sangat keras tanpa peringatan. Namun gadis itu buru-buru menunduk kembali, khawatir tindakannya bisa menyinggung raja.

“Bangunlah, Nak. Sepertinya Arendel mendidikmu dengan baik,” kata sang raja kemudian.

Arael bangkit berdiri dengan sopan. “Terima kasih, Yang Mulia,” ucapnya pendek.

“Aku puas dengan jawabanmu. Kau benar, aku memang elf yang sudah tua, tapi melihat kalian para manusia datang berduyu-duyun ke tempat ini sambil menggigil kedinginan dan mempertaruhkan nyawa, membuatku tidak bisa menolak permintaan tolong mereka. Jika orang-orang itu lebih memilih pergi ke wilayah utara yang berbahaya ini, itu artinya mereka tidak punya pilihan. Kudengar rajamu bahkan membunuh rakyatnya sendiri yang tidak bersedia mengikuti perintah,” kata sang raja kemudian.

“Anda benar, Yang Mulia. Saya dipenjara selama lebih dari sepuluh tahun. Tapi kemudian ibu peri saya membantu saya melarikan diri hingga tersesat di hutan. Setelah itu seorang elf baik hati membantu saya untuk bertahan hidup hingga akhirnya saya bertemu dengan Ratu Arendel. Sang ratu menyarankan saya untuk mencoba meminta bantuan dari dua belas suku elf agar dapat menggulingkan Charles yang Lalim. Karena itulah saya berada di sini sekarang,” terang Arael.

“Or-Tel-Quassir dan Alu-Tel-Quassir sudah memberikan restu mereka untuk membantumu. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak. Meski begitu, rajamu selama ini tidak bisa menyentuh wilayahku. Maka kaumku tidak akan ikut berperang saat harinya tiba nanti. Sebagai gantinya, aku akan memberimu berkat spirit salju. Kekuatan spirit akan membuatmu memanggil musim salju di mana pun kau berada,” kata Raja Zidalor sambil mengangkat tangannya.

Arael otomatis kembali berlutut untuk menerima berkat raja. Dari kedua tangan Raja Zidalor, muncul partikel-partikel es dan salju yang berkilau serupa debu-debu putih yang cantik. Partikel salju tersebut lantas berputar-putar melingkupi tubuh Arael. Angin semilir yang dingin muncul bersama lingkaran partikel salju yang berpusar. Pedang Arael, Attila, bereaksi dengan sihir es Raja Zidalor tersebut. Attila memunculkan cahaya biru yang terang dan dingin. Secara instingtif, Arael merasa harus mencabut pedangnya agar dapat menerima berkat raja juga. Maka gadis itu pun melakukannya lantas menaruh bilah pedang tersebut di kedua telapak tangannya. Sang raja kembali mengirim berkat kekuatan es pada Attila. Arael menerima seluruh berkat tersebut dengan khusyuk.

Setelah beberapa menit berlalu, pusaran partikel salju tersebut menggumpal di hadapan Arael dan membentuk sebuah sosok serigala besar berbulu putih. Serigala tersebut memiliki mata biru yang teduh. Ukurannya dua kali lebih besar dari serigala biasa. Sepintas, Arael merasa tertegun melihat betapa cantik dan kuatnya serigala itu.

“Namanya Luca. Ia adalah spirit salju yang akan kupinjamkan untukmu selama perjalananmu dan untuk mengambil kembali tahta yang menjadi hakmu. Panggillah dia kapanpun kau membutuhkan,” ucap Raja Zidalor sambil mengusap punggung serigala itu.

“Terima kasih atas kemurahan hati Yang Mulia. Semua berkat yang Anda berikan akan menjadi kekutan bagi saya melawan ketidakadilan. Bantuan Anda tidak akan pernah saya lupakan dan akan terus diingat oleh seluruh keturunan saya,” ucap Arael kemudian.

Raja Zidalor tersenyum puas. “Pergilah. Berkatku menyertaimu.”

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!