“Oh … uh … terima kasih, Ratu,” ucap Arael tak siap menerima sambutan tersebut.
“Panggil saja Arendel. Keberadaanmu adalah harapan bagi kami, bagi seluruh makhluk sihir di tanah Luteria,” ucap Ratu Arendel.
Tatapan sang Ratu begitu bercahaya saat menatap Arael. Gadis itu menjadi sedikit terbebani olehnya.
“Aku sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maafkan aku, karena mungkin akan mengecewakan kalian,” ucap Arael kemudian.
“Ini pasti berat bagimu. Setelah sepanjang hidupmu dihabiskan di dalam penjara dan sekarang kau harus dibebani dengan tanggung jawab yang besar. Tidak apa-apa, Anakku. Kau tidak perlu terburu-buru. Gunakan waktumu sebanyak yang kau mau. Kau akan selalu diterima untuk tinggal di kerajaan kecilku ini,” ucap Ratu Arendel tulus.
Belum pernah ada orang yang mengatakan hal tersebut kepadanya sepuluh tahun terakhir. Ucapan Ratu Arendel benar-benar menghangatkan hati Arael. Namun, meski begitu, hatinya tetap merasa berat karena sang Ratu tersebut mungkin memang membutuhkan bantuannya. Akan tetapi ia tidak punya kekuatan apa pun saat ini.
“Hutan ini bernama Ni-Bioü. Begitulah kerajaan kami disebut. Kami adalah elf hutan yang biasa dipanggil dengan nama Or-Tel-Quassir. Pada jaman dulu, sebelum raja menusia lalim itu berkuasa, ketiga belas suku elf di Luteria memiliki hubungan yang sangat baik. Kami bertugas untuk menjaga stabilitas benua ini dan menyatukan berbagai ras makhluk sihir.
“Akan tetapi, sejak keturunan Sion dibunuh oleh Charles yang Lalim, kami semua terpisah-pisah karena ancaman para Orge. Makhluk jahat itu menghancurkan kerajaan elf satu per satu dan membuat kami hidup dalam pelarian dan persembunyian. Jika saja saat itu kami bisa bersatu dan bergerak bersama, mungkin keadaan tidak akan menjadi seburuk ini,” kisah Ratu Arendel yang kini sudah berjalan ke depan balkon aulanya yang menyerupai tebing curam.
Arael memperhatikan sang Ratu yang kini berubah muram. Pengetahuannya tentang dunia ini memang tidak terlalu banyak mengingat sebagian besar hidupnya telah dia habiskan di penjara bawah tanah. Namun ekspresi sang Ratu saat menceritakan kisah itu sedikit menggerakkan hati Arael. Sesuatu di dalam dirinya seperti bergejolak. Ia ingin melakukan sesuatu.
“Apa yang harus saya lakukan untuk bisa menghancurkan Charles?” tanya Arael kemudian.
Ratu Arendel menoleh padanya dengan muka sendu. “Tidak perlu terburu-buru. Semua sudah sesuai dengan garis waktunya. Sekarang sebaiknya kau gunakan waktumu untuk beristirahat, Arael. Kau akan menemukan jawabannya seiring waktu berjalan.”
***
Pertemuan Arael dengan Ratu Arendel meninggalkan kesan yang unik. Entah bagaimana perasaan Arael yang sudah lama membeku kini mulai tergerak. Ia kembali mengingat Casandra, peri yang sudah mengorbankan diri untuk kebebasannya. Arael juga teringat pada Ylyndar yang entah bagaimana nasibnya saat ini setelah melawan selusin orge demi menyelamatkannya. Keberadaannya saat ini telah membuat banyak orang terluka. Arael tidak pernah berpikir untuk melakukan sesuatu bagi orang lain sebelum ini. Ia hanya bertahan sejauh agar ia tetap bisa hidup. Namun Ratu Arendel seperti menyentuh bagian di dalam hati Arael dan membuat gadis itu ingin membalas kebaikan orang-orang yang telah berkorban baginya.
“Iolas … .” panggil Arael saat keduanya berjalan kembali dari aula Ratu Arendel.
Iolas menengok dengan terkejut. Gadis itu tidak pernah memanggil namanya sebelum ini. “Kenapa?” tanyanya bingung.
“Bisakah kau mengajariku bertarung?” pinta Arael lugas.
“Hah?” sahut Iolas terbengong-bengong. “Aku tidak salah dengar?” lanjutnya tak percaya.
“Aku ingin melakukan sesuatu. Kalau memang ramalan itu benar, bukankah aku sudah ditakdirkan untuk melawan Charles? Aku tidak punya kemampuan sekarang. Karena itu aku harus berlatih dan menjadi kuat,” ucap Arael menjelaskan.
Iolas mendengkus keras lalu mulai tertawa parau. “Aku tak percaya kau akan mengatakan hal semacam itu. Ini kalimat terpanjang yang pernah kau ucapkan sejauh kita bertemu,” komentar Iolas yang masih tertawa sembari berkacak pinggang dengan satu tangan. Tangan lainnya ia tempelkan ke atas kening sambil mendongak tak percaya.
Arael tak bergeming. Ekspresinya tidak berubah. Gadis itu dengan sabar menanti Iolas menyelesaikan derai tawanya.
“Baik … baik … . Kalau memang itu maumu, aku akan mengajarimu beberapa latihan dasar. Meski sebenarnya sudah sangat terlambat untuk berlatih di usiamu yang sekarang. Tapi aku akan mempertimbangkan masa lalumu yang sulit.” Iolas akhirnya mengakhiri tawanya karena sikap Arael yang tampak benar-benar serius.
Arael mengangguk setuju. Ini pertama kali baginya untuk memiliki keinginan melakukan sesuatu.
“Apa yang ingin kau pelajari lebih dulu? Aku menguasai kemampuan memanah dan berburu. Ilmu pedangku juga cukup baik meski tidak bisa dibilang sempurna. Atau kau lebih suka menggunakan belati?” tawar Iolas kemudian.
“Aku mau mempelajari semuanya,” jawab Arael mantap.
“Hmph … . Baiklah.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Shahid Alfatih
suka ma cerita nya .
mksh ya author
2023-03-23
0