Kebebasan

“Aku harus mengeluarkanmu dari sini, Nak,” ucap Casandra sungguh-sungguh.

Peri muda itu lalu bangkit berdiri lantas mondar-mandir di dalam ruangan penjara Arael. Arael menatap Casandra yang terus bergerak sambil berpikir. Tidak pernah terbayangkan dalam benaknya kalau dia bisa keluar dari tempat ini. Baginya, hidup dimana saja sama sekali tidak ada bedanya. Dia toh sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Arael sudah begitu terbiasa dengan kesendirian dan penderitaannya di dalam penjara.

“Nak, aku bisa mengubahmu menjadi bentuk lain. Akan tetapi sihir itu punya batasan waktu. Hanya lima belas menit. Karena itu, aku harus mengubahmu menjadi hewan yang bisa berlari cepat agar bisa memanjat keluar dari ruang bawah tanah ini,” ujar Casandra sambil menunduk ke arah Arael.

Arael hanya mengangguk pelan, setuju akan apa pun rencana Casandra terhadap dirinya.

“Kalau begitu bersiaplah, Anakku,” kata Casandra sambil mengambil ancang-ancang. Kedua sayap peri itu lantas mengepak-kepak cepat. Debu-debu kecil berkilauan keluar dari setiap kepakan sayap Casandra. Peri itu lantas mencabut sebuah tongkat sihir dari balik lengan gaunnya.

“Mutatio!” seru Casandra sembari mengayunkan tongkat sihirnya ke arah Arael.

Bunyi plop pelan terdengar, diikuti munculnya asap kuning pekat yang menghilang perlahan setelah beberapa saat. Setelah asap kuning itu tersibak, muncullah seekor kucing putih kurus yang tampak kumal. Kucing itu duduk dengan tatapan kosong.

“Astaga, Anakku. Bahkan saat menjadi seekor kucing pun kau tampak begitu menyedihkan Arael,” desah Cassabela kembali berkaca-kaca.

Sayangnya ia tak punya banyak waktu untuk bersedih. Waktunya untuk mengeluarkan Arael sangat terbatas. Maka, dengan gerakan yang sama, Casandra pun turut mengubah dirinya menjadi seekor kucing hitam.

“Ayo ikuti aku, Nak,” ucap Casandra dalam wujud kucingnya.

Arael bangkit berdiri. Bulu-bulu kumalnya tampak lusuh sebagai kucing, dan saking kurusnya, tulang-tulangnya tampak menonjol memprihatinkan. Meski begitu, wujud kucing Arael tidak kesulitan mengikuti Casandra menelusup di antara celah-celah kecil penjara bawah tanah tersebut.

Debu, kotoran dan bau bacin terus mengiringi perjalanan mereka selama berjalan memasuki gorong-gorong. Dinding batu kastel itu tampaknya sudah tidak terawat lagi. Banyak lumut dan kecoak juga tikus yang memenuhi tempat itu. Arael berlari gesit melewati hewan-hewan kecil tersebut sambil sesekali menahan napas karena aroma busuk yang sangat kuat.

Sejauh pelarian mereka, tidak ada penjaga ataupun orge yang menghalangi. Bahkan setelah mereka berhasil memanjat melalui tangga rahasia, tidak ada satu pun orang maupun orge yang terlihat. Waktu mereka tinggal lima menit lagi. Kini perjalanan berbahaya selanjutnya adalah melewati lorong utama kastel untuk bisa keluar.

Casandra memperlambat langkahnya. Ia mengintai sejenak suasana di lorong utama sambil mengendap-endap pelan. Dua orge penjaga tampak mondar-mandir di depan gerbang keluar. Padahal tadi saat Casandra datang kesana, tidak ada siapa pun di lorong itu. Casandra mencoba mencari akal untuk mengelabuhi orge penjaga tersebut. Jika mereka berlari sebagai kucing, mungkin para orge itu bisa-bisa menangkap mereka untuk dimakan. Kaum orge terkenal sebagai ras pemakan segalanya, termasuk kucing

“Arael, aku akan memancing para orge itu menjauhi gerbang. Kau larilah keluar saat perhatian para orge itu teralih,” ucap Casandra kemudian.

“Lalu kau bagaimana?” tanya Arael.

“Jangan pikirkan aku. Kau harus selamat Arael. Ingat kata-kataku, kau tidak boleh mati. Tolong pergilah sejauh dan secepat mungkin. Sejauh apa pun kita terpisah, aku akan selalu bisa menemukanmu, Arael. Percayalah,” kata Casandra meyakinkan.

Arael mengangguk paham. Setelah sejenak menatap Arael, Casandra pun akhirnya berlari keluar dari persembunyian dan meninggalkan Arael dengan berat hati. Ia sebenarnya tidak yakin tentang keselamatan dirinya, namun ia tidak menyesal. Sudah tugasnya untuk mengorbankan diri demi menyelamatkan Arael. Satu-satunya hal yang membuatnya sedih karena ia harus berpisah lagi dengan sang putri.

Dari kejauhan, Arael melihat Casandra mengeong pelan di hadapan para orge. Sontak kedua makhluk mengerikan itu segera terpancing untuk mengejar Casandra. Peri itu berlari ke arah yang berlawanan dengan pintu keluar. Dalam wujud kucingnya, Casandra berlari dengan cukup cepat. Arael segera mendapat kesempatan untuk melarikan diri. Maka, beberapa menit sebelum berubah, Arael pun segera melaksanakan perintah Casandra untuk melarikan diri.

Sudah lama sekali rasanya Arael tidak melihat matahari. Cahaya terang segera membuat Arael menyipit kesilauan. Meski begitu ia tidak boleh berhenti. Ia harus segera melewati halaman istana dan masuk ke hutan di depan sana. Maka dengan segenap kekuatan, Arael pun terus memaksa diri untuk berlari.

Saat sudah hampir mencapai tepi hutan, mendadak tubuh Arael terasa aneh. Rasanya seperti ditarik dari segala Arah. Napasnya sesak dan berat. Arael jatuh bergulung karena tidak sanggup menahan sensasi ganjil yang dia rasakan. Beruntung tepi hutan sudah tidak terlalu jauh lagi.

Dengan sisa-sia tenaganya, Arael terus berusaha menyeret tubuh kecilnya memasuki hutan. Beberapa saat bergulat, akhirnya Arael pun berhasil mencapai hutan. Setidaknya kalau dia berubah sekarang, tubuhnya sudah lebih tersembunyi dari pantauan para penjaga istana dan orge-orge jahat. Dan benar saja, beberapa saat setelahnya, suara plop ringan terdengar. Asap putih kembali muncul dan melingkupi tubuh Arael. Dari balik asap tersebut, tubuh Arael pun kembali menjadi manusia. Arael sudah bebas.

***

Arael terus berjalan menyusuri hutan. Ia tidak pernah berada di luar kastel selama ini. Hutan itu terasa begitu asing dan sedikit menakutkan. Pepohonan lebat tumbuh rapat. Tidak ada tanda-tanda makhluk hidup di sana. Sesekali Arael mendengar suara derak menyeramkan, seperti ranting yang patah karena terinjak atau terlindas sesuatu yang besar. Meski begitu Arael terus berjalan.

Ia sudah sepenuhnya sendirian. Hari sudah hampir gelap dan Arael tidak tahu kemana ia harus pergi. Tidak seperti janjinya, Casandra sama sekali tidak muncul kembali. Akhirnya, karena kelelahan, Arael pun memilih untuk merebah di bawah pohon besar yang berdahan rendah. Kakinya terasa perih karena sedari tadi ia tidak berjalan mengenakan alas kaki apa pun.

Luka-luka gores yang mengeluarkan darah tampak memenuhi kedua kakinya. Arael berkali-kali menginjak duri dan batu-batu runcing yang tajam sepanjang perjalanannya. Di samping itu, perutnya kini juga mulai lapar. Arael baru makan pagi tadi. Sekarang sudah menjelang gelap, dan Arael sudah berlari sangat jauh. Tenaganya seperti dikuras habis hingga Arael menjadi benar-benar lemas hingga nyaris pingsan.

Di ambang batas antara sadar dan tidak, mendadak Arael menyadari kedatangan sesosok makhluk yang menyerupai manusia. Arael tidak bisa melihat dengan jelas karena kesadarannya berangsur menghilang. Satu-satunya hal yang dia ingat adalah bahwa sosok itu jelas tampak menyeringai sambil mendekati dirinya. Arael sudah tidak punya kekuatan untuk melawan. Setidaknya Arael yakin bahwa sosok itu bukanlah orge yang jahat.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!