Harapan

Arael dan Iolas menginap satu malam di kerajaan elf air. Selama waktu itu Arael dan Iolas memanfaatkan waktu mereka untuk mengenal Bryen lebih dekat. Mereka akan menjadi rekan seperjalanan dalan waktu yang lama. Maka baik bagi mereka untuk menjadi lebih akrab.

Sejujurnya sangat sulit bagi Arael untuk menerka usia para elf. Mereka semua terlihat muda, bahkan Ratu Arendel dan Raja Aegis pun terlihat seusia dengan para elf lainnya. Meskipun penasaran, tetapi Arael memutuskan untuk tidak bertanya mengenai usia mereka. Itu terdengar tidak sopan. Hingga akhirnya, justru Iolaslah yang mengangkat topik tersebut.

“Bryen, berapa usiamu?” tanya Iolas tanpa tendensi apa pun.

“Seratus enam tahun,” jawab Bryen lugas. “Kau?”

“Ternyata kau lebih muda dariku. Aku seratus dua puluh tiga tahun,” sahut Iolas sambil menyuap daging siput laut yang disajikan untuk makan malam mereka bertiga.

Arael menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan tak percaya.

“Kenapa kau terkejut begitu? Jangan bilang kau tidak tahu kalau usia kaum elf memang jauh lebih panjang daripada manusia,” sergah Iolas setelah menyadari ekspresi aneh Arael.

“Tidak, bukan begitu. Hanya saja selama ini aku memperlakukan kalian seperti teman seumuran. Padahal kalian sangat jauh lebih tua dariku. Seharusnya aku bersikap sopan,” jawab Arael tersenyum tipis.

“Jangan perlakukan kami seperti orang tua begitu. Pada dasarnya kita memang seumuran. Kalian para manusia memang lebih cepat dewasa daripada kami. Kita anggap saja begitu,” sahut Iolas sambil mengangkat bahu.

“Iolas benar, Putri. Kaum elf tumbuh lebih lambat. Karena itu usia kami juga lebih panjang. Secara mental dan penampilan fisik kita seumuran,” tandas Bryen.

Arael mendesah lega. “Baiklah kalau kalian berpikir begitu. Tapi, Bryen, kau bisa memanggilku dengan nyaman. Panggil Arael saja.”

Bryen yang sehari-hari bersikap tegas mendadak tampak tersipu malu. “Bagaimana mungkin saya melakukannya pada Anda. Saya lebih nyaman memanggil Anda Putri,” ucapnya sambil tertunduk malu.

Iolas mendengkus geli. “Sepertinya kau berhasil mendapat penggemar baru, Putri,” goda pemuda elf itu sambil tertawa kecil.

Arael hanya menghela napas panjang tanpa menghiraukan godaan Iolas. “Kalau begitu lakukan senyamanmu saja, Bryen,” lanjutnya sembari tersenyum tipis.

Wajah Bryen semakin merona. “Terima kasih, Putri,” ucapnya pendek.

Mereka bertiga mengobrol sampai jauh malam hingga akhirnya Arael sudah tidak kuat lagi menahan kantuknya. Para elf ini sepertinya punya lebih banyak stamina daripada Arael dan tidak henti-hentinya bicara tentang kejayaan bangsa mereka di masa lalu. Akhirnya Arael memilih untuk pergi tidur lebih dulu.

Paginya, Iolas dan Bryen sudah menyambut Arael untuk sarapan bersama sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Keduanya tampak sama bugarnya seperti sebelumnya. Arael sedikit curiga kalau mereka tidak tidur semalaman dan hanya saling mengobrol sampai pagi. Akan tetapi gadis itu tidak bertanya apa-apa.

Raja Aegis turut serta bersama maereka saat sarapan. Pada dasarnya para elf tidak memerlukan rutinitas makan sesering itu. Namun demi menghargai Arael sekaligus untuk melepas kepergian rombongan mereka, sang raja pun duduk semeja dan memakan sarapan bersama-sama.

“Apa kalian sudah menentukan tujuan perjalanan selanjutnya?” tanya Raja Aegis membuka perbincangan.

“Kami akan menuju ke kerjaan elf salju. Ratu Arendel berpesan kepada kami untuk mengunjungi kerajaan tersebut setelah kami menyelesaikan urusan di sini,” jawab Iolas.

“Yah, kerajaan mereka ada di utara juga. Lokasinya merupakan yang terdekat dengan kerajaan ini. Sudah lama aku tidak mendengar kabar mereka. Badai salju di utara semakin ganas. Bahkan para manusia yang mampu tinggal di sana semakin sedikit. Sebaiknya kalian berhati-hati,” nasehat sang raja.

“Apakah selain manusia dan elf, para makhluk sihir lainnya juga masih ada?” tanya Arael menanyakan hal yang terlintas di kepalanya begitu saja.

Raja Aegis tampak berpikir sejenak. “Aku sesekali bertemu dengan Centaurus dan para peri. Berbeda dengan manusia atau elf, mereka kini tidak bisa lagi hidup dalam koloni kaum mereka. Manusia bertahan karena mereka dijadikan budak oleh raja kalian. Para elf juga, walaupun terpecah belah, tapi masih bisa bersembunyi dengan baik karena kemampuan manipulasi energi alam. Kami bisa menyembunyikan kerajaan kami dengan sihir kabut.

“Para makhluk sihir lainnya tidak bisa melakukan sihir yang sama sehingga mereka terpaksa hidup dengan penyamaran atau bersembunyi sendirian. Meski begitu aku dengar ada beberapa kerajaan elf yang bekerja sama dengan bangsa centaur dan menyembunyikan mereka di kerajaan.

“Nasib yang paling menyedihkan adalah kaum naga. Selama ini jumlah mereka memang sudah sedikit. Kini setelah raja manusia itu memulai perburuan, para naga menjadi target utama untuk dimusnahkan. Telur-telur mereka bahkan dihancurkan sebelum menetas. Itu sangat menyedihkan,” jelas Raja Aegis panjang lebar.

Arael tertunduk murung. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, kenapa manusia bisa setamak itu? Bahkan para dwarf yang mencintai harta pun tidak membunuh hanya untuk menjadi kaya. Akan tetapi keinginan manusia untuk berkuasa dan menjajah bangsa lain membuat perasaan Arael begitu sesak karena kemarahan.

“Karena itulah ramalan tentang Putri merupakan harapan bagi kami para makhluk sihir. Saya yakin kalau semua makhluk sihir di benua ini juga mengharapkan kehidupan yang harmonis dengan manusia,” ucap Bryen menimpali.

“Kata-kata Bryen benar. Kau adalah tonggak penentu kedamaian di Luteria. Karena itu, meski tugasmu sangat berat, tapi berkatku selalu menyertaimu, Putri Arael,” tandas Raja Aegis.

Hati Arael menghangat. Mereka benar. Arael adalah orang yang sudah ditakdirkan untuk melawan kelaliman Charles. Ia harus berhasil melakukannya cepat atau lambat.

Akhirnya, setelah selesai sarapan. Arael, Iolas dan Bryen pun meninggalkan kerajaan elf air. Ketiganya mengarungi laut lepas menuju ke ujung utara benua Luteria. Iolas bilang kerajaan elf salju berada di pegunungan tinggi yang diliputi salju sepanjang tahun. Karena itu Raja Aegis memberi mereka mantel tebal dari serat kayu. Mantel itu berat tapi sangat hangat.

Perjalanan mereka cukup lancar selama beberapa waktu, hingga secara perlahan, suhu udara semakin menurun. Arael menyadari bahwa napasnya kini mengeluarkan uap putih. Jemarinya juga nyaris membeku ketika akhirnya mereka melihat sisi pantai yang tertimbun salju. Entah itu daratan atau bongkahan es, Arael tidak bisa membedakannya. Ia hanya bisa mempercayai Iolas yang berperan sebagai navigator perjalanan mereka.

“Kita sudah sampai. Elf salju ini pada dasarnya baik, tapi mereka sedikit tidak ramah pada pendatang. Karena itu kalian harus berhati-hati,” kata Iolas memperingatkan.

Arael dan Bryen mengangguk siap. Iolas pun mendaratkan perahu kayunya di tepi pantai tanpa dermaga. Susah payah pemuda itu menambatkan perahu tersebut di atas salju tebal. Sepertinya para elf salju ini tidak terbiasa menerima tamu melalui jalur laut.

Bryen membantu Arael turun dari perahu. Ini pertama kalinya Arael melihat dan menyentuh salju. Rasanya dingin tapi sangat indah. Arael tengah menikmati hamparan salju yang melingkupi tanah itu ketia mendadak instingnya merasakan hawa membunuh yang begitu kuat. Arael segera mencabut Attila lantas melibaskannya ke samping. Hasil sabetan pedang Arael itu berhasil memblokir lesatan anak panah yang di arahkan ke kepalanya.

“Benar-benar sambutan yang luar biasa,” gumam Arael tersenyum simpul.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!