Arael memasuki balairung istana elf air atau yang mereka sebut dalam bahasa mereka sendiri sebagai Alu-Tel-Quassir. Ruangan itu sangat megah dan besar. Dekorasi bernuansa laut menghiasi interior balairung tersebut. kulit kerang dan ornamen berbentuk bintang laut besar kecil banyak tersebar di dinding balairung. Beberapa elf penjaga berdiri di kedua sisi pintu sambil membawa tombak kayu bermata perak.
“Selamat datang di Alu-Tel-Quassir,” sambut seorang elf pria berambut cepak. Elf itu duduk di singgasananya yang berada di ujung balairung.
“Terberkatilah dalam cahaya Ingwë, Yang Mulia Raja Aegis,” kata Iolas sembari membungkuk sopan. Arael segera mengikuti gerakan Iolas dan memberi salam pada sang raja.
Raja Aegis tersenyum dari atas singgasananya. Mahkota bertatahkan Aquamarine berkilauan di atas kepala sang raja. Warna biru Kristal itu terlihat cocok dipadukan dengan rambut emas Raja Aegis yang juga berkilauan.
“Arendel sudah mengirim pesan tentang kedatangan kalian. Aku juga telah mendengar ramalan tentang Putri Arael. Apakah kalian datang kemari untuk menyatukan seluruh suku bangsa elf?” tanya Raja Aegis setelah membalas salam cahaya Ingwë.
“Benar, Yang Mulia. Saya bermaksud untuk melawan Charles dengan menyatukan seluruh suku elf,” ucap Arael tenang.
Raja Aegis tersenyum. “Aku ingin mendengar rencanamu sebelum memberikan berkatku,” katanya kemudian.
Arael terdiam sejenak. Saat berada di Or-Tel-Quassir, Arael telah banyak berdiskusi dengan Ratu Arendel. Sang ratu memberitahunya bahwa keduabelas suku elf tersebar di seluruh benua Luteria. Mereka sebelumnya merupakan kaum pelindung bangsa manusia yang membangun dua belas wilayah dalam kekuasaan kerajaan Luteria. Namun sekarang, setelah Charles berkuasa, keduabelas wilayah tersebut menjadi kekuasaan bangsa orge. Meskipun manusia yang tinggal di dalamnya masih dapat hidup seperti biasa, tetapi makhluk sihir lainnya disingkirkan.
Kaki tangan Charles akhirnya bisa menjadi penguasa di dua belas wilayah tersebut. Melalui mereka, Charles memungut pajak yang tidak masuk akal dari para penduduk dan membuat rakyat menderita. Para elf yang dulu membantu manusia dari kekuasaan orang jahat seperti itu kini justru diburo oleh orge yang berada dalam kendali Charles. Jika Arael bisa menemukan keduabelas suku elf itu, dan melakukan serangan serempak di dua belas wilayah Luteria, maka para orge bisa dikalahkan, dan kekuasaan Charles dapat ditumbangkan.
“Setelah menemukan dan meyakinkan dua belas suku elf di seluruh benua, kita bisa membangun basis pertahanan untuk melawan para orge di dua belas wilayah Luteria. Pada hari yang akan ditentukan, para elf akan menyerang kaki tangan Charles di masing-masing wilayah dan memusnahkan para orge. Aku sendiri yang akan melawan Charles di ibu kota,” jelas Arael gamblang.
Raja Aegis tampak berpikir sejenak. “Kalau perang terbuka terjadi di seluruh wilayah secara serempak, bagaimana nasib penduduk manusia di wilayah tersebut. Bukankah mereka adalah kaummu, Putri? Kami bangsa elf mungkin memang diburu, tetapi kaum kami memiliki kemampuan untuk hidup tenang dalam persembunyian. Bukankah kau berjuang sebenarnya untuk para manusia itu?’ tanya sang raja tanpa basa-basi.
Arael tercenung. Kata-kata Raja Aegis memang benar. Sepanjang hidupnya Arael tidak memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan sesama manusia. Hal itu membuatnya kehilangan fokus atas keberadaan mereka. Arael hanya terus memikirkan cara untuk mengalahkan Charles, lebih karena dendam pribadinya dan juga ramalan atas dirinya. Rencananya untuk melakukan perang terbuka pasti akan menimbulkan korban jiwa, dan di antara itu korban terbanyak adalah para penduduk kota yang adalah bangsa manusia.
“Penguasa wilayah menusia itu merupakan para penyihir kepercayaan Charles. Di antara bangsa manusia, dua belas penyihir pengikut Charles itu merupakan yang terkuat. Mereka bahkan meracuni pikiran orang-orang dengan propaganda untuk membenci elf dan makhluk sihir lainnya. Apa kau yakin akan berjuang untuk mereka?” tanya Raja Aegis sekali lagi.
“Charles adalah orang yang buruk. Orang-orang harus tahu tentang hal itu. Ia menindas rakyat dengan membuat mereka kelaparan dan terjerumus dalam kemiskinan. Saat aku berjalan-jalan di kota pelabuhan tadi, aku melihat betapa kurusnya orang-orang yang tinggal di sini. Para manusia itu tak lebih dari budak penguasa wilayah yang harus bekerja tanpa upah.
“Di sudut-sudut kota aku juga melihat daerah kumuh yang dipenuhi gelandangan. Meskipun ada banyak pedagang di pasar, tapi mereka tampak lusuh. Aku melihat beberapa pria kasar yang terus merampas uang para pedagang itu bahkan di siang bolong. Apakah itu bisa disebut kerajaan yang makmur? Apakah para penduduk itu benar-benar aman tinggal di kota ini?” Panjang lebar Arael menjelaskan pengalaman singkatnya saat menyusuri kota pelabuhan tadi.
Ia merasakan gejolak emosi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rasa marah dan frustrasi. Arael tidak pernah marah sebelumnya, bahkan ketika ia diperlakukan semena-mena saat berada di penjara. Saat melihat kota pelabuhan tadi pun perasaan tidak nyaman yang muncul tidak terlalu mengganggunya. Akan tetapi setelah mengatakan hal-hal tersebut, emosi Arael terpancing. Raja Aegis seperti sengaja membuat Arael memahami betul tentang alasannya berjuang melawan Charles.
“Baiklah, kalau begitu. Perang memang tidak akan terhindarkan. Para manusia telah hidup sama menderitanya dengan kami. Setelah kau menyadari hal itu, maka kau sudah siap untuk menjalani peranmu sebagai pemimpin bangsamu. Aku akan memberimu berkat untuk perjalananmu, Putri Arael. Lalu sebagai tanda perjanjian kita, aku akan mengutus Bryen, pengawalku yang paling setia, untuk berada di sisimu dan mendampingimu menemukan sepuluh suku elf lainnya,” ujar Raja Aegis.
Pintu balairung tersebut kembali terbuka. Bryen muncul dan menghadap Rajanya dengan penuh hormat.
“Sebuah kehormatan bagi saya untuk mendampingi Putri Arael,” kata Bryen kemudian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments