Aquatic Elves

“Kita harus menyeberang,” ucap Iolas setelah keduanya sampai di pinggir dermaga.

Beberapa kapal dagang besar-besar tampak memenuhi pelabuhan. Mereka membawa berbagai macam barang dagangan mulai dari porselen hingga kain sutra. Orang-orang asing berkulit gelap juga tampak hilir mudik mengangkut kotak-kotak kayu untuk dibawa turun ataupun naik ke dalam kapal. Arael terus mengamati kegiatan orang-orang tersebut dengan takjub hingga tidak terlalu mendengar kata-kata Iolas.

“… el. Arael. Hey, apa kau mendengarku?” seru Iolas persis di depan wajah Arael.

Gadis itu tersentak kaget. “Ah … maaf. Kau bilang apa?”

Iolas menarik napas panjang sambil memijit pelipisnya. Membawa Arael rasanya seperti mengajak anak kecil yang belum pernah melihat dunia. Poin terakhirnya memang benar. Akan tetapi Arael saat ini sudah kehilangan fokusnya. Berbeda sekali dengan gadis itu saat berada di hutan beberapa hari terakhir. Iolas menatap Arael yang tampak penuh rasa ingin tahu. Searusnya ia menyuruh Arael untuk tetap fokus. Namun melihat wajah girang Arael saat mengamati aktivitas kota itu, Iolas pun mengalah.

“Apa kau mau jalan-jalan sebentar?” tanya Iolas kemudian.

Arael menatap Iolas dengan kegembiraan yang tidak bisa disembunyikan. “Bolehkan?” ucapnya tak percaya.

“Jangan jauh-jauh dariku, dan jangan lepaskan tanganku. Kita bisa jalan-jalan ke pasar sebentar sambil makan siang. Juga tetap tutupi wajahmu dengan tudung kepala itu,” perintah Iolas.

“Baik,” ucap Arael riang.

Keduanya pun kembali berjalan menyusuri pasar. Iolas membawa Arael untuk membeli berbagai jenis jajanan. Ada buah apel berlumur madu yang manis, mereka juga mencicipi cumi-cumi bersaus pedas. Berbagai jenis makanan dicoba oleh Arael hingga perutnya penuh. Hingga akhirnya mereka tiba di alun-alun tengah kota.

Arael masih menikmati camilannya ketika mata-nya mendadak menemukan sesuatu yang janggal di papan pengumuman kota. Arael membawa Iolas mendekati papan itu untuk melihat dengan lebih jelas.

“Iolas, ini … ,” desah Arael pelan.

“Kita harus segera pergi dari sini,” gumam Iolas sambil buru-buru menyeret Arael menjauh.

Di papan kayu itu tertempel sebuah gambar yang menampakkan wajah Arael. Tidak tertulis tentang identitas gadis itu, melainkan hanya dijelaskan bahwa ia adalah buronan kerajaan yang berbahaya. Selebaran itu mengatakan bahwa Arael merupakan penyihir jahat yang kabur dari penjara istana. Bahkan uang hadiah disediakan bagi siapa pun yang berhasil menangkap Arael.

“Aku menjadi buronan?” tanya Arael polos.

“Tidak mengherankan memang. Selebaran itu mungkin sudah disebarkan ke seluruh benua. Kau harus berhati-hati,” ucap Iolas.

Keduanya kembali ke dermaga. Iolas buru-buru menyewa salah satu perahu nelayan dengan keping uang yang dimilikinya. Nelayan tua itu mengatakan agar Iolas mengembalikan perahunya sebelum malam tiba. Namun sepertinya Iolas tidak berniat untuk mengembalikan perahu tersebut. Alih-alih, pemuda elf itu hanya memberi tambahan uang emas sebanyak tiga kali lipat dari biaya sewa perahu. Sepertinya uang itu sudah lebih dari cukup bagi si nelayan untuk mendapatkan perahu baru.

Setelah membantu Arael duduk di atas perahu kecil itu, Iolas pun mulai mendayung ke tengah laut. Dermaga beserta kapal-kapal besarnya semakin lama semakin menjauh, termasuk hiruk pikuk orang yang sibuk dengan aktivitas perdagangan mereka. Iolas terus mendayung hingga sangat jauh ke tengah. Air laut siang itu cukup tenang. Hanya ombak-ombak kecil yang berdatangan silih berganti. Angin laut membawa aroma asin yang khas. Burung-burung camar sesekali berkoak di atas kepala mereka.

Arael dan Iolas mendayung dalam diam. Hingga tak terasa kabut tipis kini mulai melingkupi mereka. Semakin jauh Iolas mendayung, kabut itu pun semakin menebal. Arael mengamati bahwa kabut itu kini sudah mulai menghalangi cahaya matahari. Hawa dingin menerpa tubuh Arael dan membuatnya sedikit bergidik. Ia belum pernah pergi ke laut, tapi ini pertama kalinya bagi Arael mengalami sensasi kabut tebal di tengah samudra.

“Iolas, aku tidak bisa melihatmu,” ucap Arael yang menyadari bahwa jarak pandangnya kini begitu pendek.

“Tenang saja, aku masih bisa melihat dalam kabut. Jangan bannyak bergerak atau membuat suara. Kita sudah berada di depan gerbang kerajaan elf air. Penjaga gerbang di sini tidak terlalu ramah,” ucap Iolas dengan suara pelan.

Arael menurut. Peringatan Iolas sepertinya beralasan. Meski tidak bisa melihat jauh, Arael merasakan bahwa dayungan Iolas kini melembut, seolah berusaha mengurangi riak-riak air di atas permukaan.

Setelah beberapa waktu berselang, Iolas akhirnya menghentikan perahunya. Ia meletakkan sepasang dayung dengan hati-hati di dalam lambung perahu. Satu tangannya kemudian membuat pola sihir di udara. Keadaan menjadi hening selama beberapa saat. Hingga kemudian kabut tebal itu tersibak perlahan.

Arael kembali bisa melihat Iolas yang duduk tenang di hadapannya. Cahaya matahari dan desau angin muncul setelah kabut tebal menghilang.

“Apa kita sudah sampai?” tanya Arael.

“Lihatlah di belakangmu,” ucap Iolas sembari mengambil kembali dayungnya dan mulai menggerakkan perahu.

Arael menoleh dan mendapati sebuah gerbang batu maha besar terbuka di belakangnya. Di bali gerbang batu itu terdapat sebuah pulau dengan pohon-pohon palem yang rindang serta pasir putih berkilauan. Arael terpesona dengan pemandangan tersebut. pantai itu sangat indah dan menawan. Rasanya seperti berlibur ke daerah tropis.

Iolas membawa perahu mereka menuju dermaga kecil di sisi pantai. Tidak ada orang di tempat itu, tetapi beberapa perahu kayu tampak tertambat di sana, bergoyang-goyang disapu ombak tipis. Arael yang duduk membelakangi pantai terus-terusan menoleh untuk melihat tempat indah itu dengan lebih seksama. Bahkan hingga Iolas selesai menambatkan perahu mereka, Arael masih saja terpukau dengan keindahan pulau tersebut.

“Ayo segera masuk ke dalam. Mereka sudah menunggu kita. Ratu Arendel sudah mengirim kabar kedatangan kita,” ucap Iolas yang lantas berjalan mendahului Arael.

Arael mengikuti Iolas menyusuri barisan pohon-pohon palem. Udara di tempat itu beraroma laut yang menyegarkan. Arael menikmati perjalanan mereka dengan antusias.

“Kalian sudah datang?” sebuah suara mendadak muncul dari balik pepohonan palem.

Seorang elf pria berambut emas menyambut mereka dengan senyuman.

“Terberkatilah dalam cahaya Ingwë,” sapa Iolas.

“Terberkatilah dalam cahaya Ingwë,” balas elf itu.

“Namaku Bryer. Aku adalah elf pejaga gerbang. Raja sudah memberi tahu tentang kedatangan kalian. Apakah benar kau adalah Iolas dari Or-Tel-Quassir dan Putri Arael pewaris darah Sion?” tanya Bryer mengonfirmasi.

“Benar. Aku Iolas dan ini Arael,” jawab Iolas singkat.

“Kalau begitu ikut saya. saya akan membawamu ke balairung utama,” ucap Bryer lantas membimbing mereka meintasi padang pohon palem.

Arael dan Iolas mengikuti Bryer hingga mencapai sebuah istana batu pualam megah yang menempel mengitari bukit hingga ke puncaknya. Istana itu tampak berkilauan ditimpa cahaya matahari. Ada beberapa elf lain yang berkeliaran di sekitar istana itu sambil melakukan aktivitas mereka masing-masing. Mereka semua menoleh penasaran saat Arael berjalan melintas. Rambut gelap Arael terlihat mencolok karena seluruh elf di tempat itu memiliki rambut emas yang berkilau. Arael berusaha tidak memedulikan pandangan mereka dan hanya fokus berjalan di sisi Iolas.

“Selamat datang di kerajaan kami, Alu-Tel-Quassir,” ucap Bryen sambil membuka gerbang istana.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!