Kota Pelabuhan

Paginya, Arael dan Iolas melanjutkan perjalanan. Bila sesuai dengan estimasi Iolas, mereka harusnya sampai di kota pelabuhan dua hari lagi. Itupun jika mereka hanya beristirahat satu kali setiap hari. Iolas tidak yakin kalau Arael akan kuat menjalani ritme perjalanan semacam itu. Namun karena semalam gadis itu sudah bersikeras, maka Iolas memilih untuk mengujinya. Ia akan melihat sejauh mana Arael bisa bertahan. Dalam hati Iolas berjanji untuk tidak membiarkan gadis itu beristirahat sebelum ia sendiri yang memohon-mohon untuk berhenti.

Hari semakin terik dan tengah hari berlalu begitu saja. Arael tidak menampakkan tanda-tanda akan berhenti. Alih-alih Iolas yang mulai merasa kelaparan. Mereka sudah berlari lebih dari tujuh jam sekarang. Apa masuk akal bagi seorang manusia untuk memiliki stamina yang lebih banyak dibanding suku elf? Meski begitu Iolas tetap memilih untuk diam. Harga dirinya sebagai elf, juga sebagai laki-laki akan terluka kalau ia memutuskan untuk beristirahat. Pada akhirnya, keadaan tersebut pun berlangsung sampai malam menjelang.

“Apa kau ini benar-benar manusia?” tanya Iolas yang sudah menggelepar lemas di atas tanah.

Api unggun di hadapan mereka menyala-nyala terang. Hari ini giliran Arael yang berburu. Ia mendapat seekor ayam kalkun yang cukup besar.

“Apa aku membuatmu terlalu memaksakan diri?” sahut Arael balas bertanya. Gadis itu menatap Iolas yang pucat kelelahan sambil memilin-milin kalkunnya yang sudah dikuliti.

“Bukan begitu. Hanya saja, sehari penuh berlarian tanpa istirahat, memangnya ada manusia yang sekuat itu?” sergah Iolas masih sambil menengadah menatap langit malam.

Arael terdiam sejenak. “Entahlah. Selama ini aku tidak pernah mencoba untuk mencari tahu sampai mana batas kemampuanku. Ini pertama kalinya aku melakukannya,” ucap Arael pelan.

Iolas kembali menghela napas panjang. “Dengan kecepatan ini, besok seharusnya kita sudah sampai di kota pelabuhan. Berhati-hatilah saat mulai mendekati kota. Para orge biasanya berjaga di hutan sekitarnya,” ujar Iolas mengalihkan pembicaraan.

Arael menjawab singkat. Keduanya lantas makan malam lalu beristirahat hingga pagi datang.

Seperti yang dikatakan Iolas semalam, perjalanan mereka sepertinya sudah hampir sampai. Vegetasi hutan mulai berubah menjadi tidak terlalu rimbun. Pepohonan tidak lagi berjarak terlalu rapat dan hal itu memaksa mereka berdua untuk berhenti melompati dahan-dahan pohon. Arael dan Iolas lantas berjalan perlahan sambil tetap waspada jika bertemu dengan para orge penjaga wilayah.

Dan benar saja. Tak jauh dari tempat Arael dan Iolas tengah berdiri, sekumpulan Orge sedang duduk mengitar sambil tertawa-tawa. Arael dan Iolas sontak bersembunyi di balik semak-semak terdekat. Ada tiga orge bertubuh besar yang menghadang jalan mereka. Iolas berkata bahwa mereka punya dua pilihan: melawan tiga orge tersebut dan melalui jalan setapak dengan aman, atau berjalan memutar tapi kemungkinan akan bertemu orge lainnya yang entah berjumlah berapa.

Arael memilih opsi pertama. Begitu pula dengan Iolas. Bagaimanapun tiga orge sepertinya tidak terlalu buruk. Arael cukup percaya diri dengan kemampuannya. Meskipun belum pernah berhadapan langsung dengan orge, tetapi mereka mungkin tidak lebih kuat daripada babi hutan raksasa. Arael pernah berburu babi dan dia berhasil membawa pulang lima ekor sekaligus.

Iolas melancarkan serangan pertama dengan tembakan anak panah yang tepat mengenai kepala salah satu orge itu. Sang orge yang terpanah seketika ambruk ke tanah dan mati. Dua kawannya lantas meraung marah dan mulai mencari-cari kea rah sumber serangan. Saat itulah Arael melompat keluar dari semak-semak sambil menghunuskan pedangnya. Attila berhasil merobek dada salah satu orge. Akan tetapi luka tersebut belum cukup untuk menumbangkannya.

Orge lainnya mencoba menerjang Arael dengan pemukul kayu yang dilapisi paku-paku besi. Namun Iolas segera melontarkan anak panahnya yang kedua dan mengenai pergelangan tangan orge tersebut. Serangannya ke arah Arael pun berhasil digagalkan.

Selama beberapa waktu, Arael berkutat dengan dua orge tersebut sambil dibantu oleh Iolas dari jarak jauh. Para orge hanya memiliki badan yang besar, tetapi otak mereka benar-benar kosong. Dengan memanfaatkan hal tersebut, akhirnya Arael dan Iolas pun berhasil membunuh tiga orge tersebut melalui kerja sama tim yang baik.

“Kau berhasil,” puji Iolas setelah muncul dari persembunyiannya.

“Semua berkat bantuanmu, Iolas,” sahut Arael tersenyum puas. “Tak kusangka mengalahkan orge ternyata benar-benar menyenangkan,” lanjutnya sembari mengusap mata pedangnya yang terkena darah orge.

“Kau sepertinya menemukan hobi yang menarik,” komentar Iolas kemudian.

Arael tertawa kecil. “Sepertinya begitu,” ucapnya lantas memasukkan kembali Attila ke dalam sarung pedangnya.

“Kalau begitu kita tinggal mengikuti setapak ini dan sampailah di kota pelabuhan. Sebaiknya kita menggunakan jubah agar tidak dikenali,” saran Iolas kemudian.

Pemuda elf itu merogoh tas pinggang kecilnya dan mengeluarkan dua potong jubah berwarna coklat gelap. Arael segera menerima jubah tersebut dan mengenakannya hingga menutupi kepala. Iolas melakukan hal yang sama. Tudung kepala jubah mereka berhasil menutupi telinga elf milik Iolas termasuk seluruh wajahnya.

“Tidak ada orang yang mengenaliku, dan aku juga adalah manusia biasa. Haruskah aku mengenakan tudung kepalanya juga?” tanya Arael yang berharap untuk bisa melihat kota pelabuhan sejelas mungkin. Tudung kepala hanya akan menghalangi pandangannya.

Ini adalah kali pertama Arael mendatangi kota manusia. Ia benar-benar penasaran bagaimana rasanya bertemu dengan banyak orang.

“Gambar wajahmu sekarang mungkin sudah tersebar di seluruh pelosok benua. Raja lalim itu pasti akan mencarimu hingga ketemu. Sebaiknya kau lebih waspada atas dirimu sendiri,” nasehat Iolas.

Arael akhirnya menurut. Keduanya lantas mengenakan jubah dengan rapat dan mulai berjalan menyusuri setapak hutan. Tak lama berjalan, mereka pun sampai di gerbang kota yang menjulang tinggi. Gerbang tersebut tampak terbuka begitu saja tanpa dijaga oleh siapa pun. Sepertinya tiga orge yang sudah dikalahkan oleh Arael dan Iolas barusan adalah orge penjaga gerbang ini. Beruntung mereka sudah tewas di tengah hutan. Kini Arael dan Iolas pun bisa melewati gerbang kota tanpa banyak masalah.

Hiruk pikuk keramaian kota menyambut mereka. Kota pelabuhan ini terlihat sangat sibuk dengan beragam manusia yang berlalu-lalang. Sebuah pasar tampak riuh di tengah kota itu. Iolas membawa Arael melewati jalan utama kota yang dipenuhi berbagai macam pedagang. Mulai dari buah-buahan, kue-kue, hingga pakaian dan porselen. Mau tak mau perhatian Arael pun segera teralih. Ia belum pernah melihat kehidupan rakyat biasa seperti ini.

Beberapa kali Iolas harus memutar balik karena mendadak Arael menghilang di belakangnya. Rupanya gadis itu tengah mengamati aksesori dan perhiasan imitasi yang dijual oleh seorang pedagan tua. Akhirnya Iolas memutuskan untuk menggandeng gadis itu agar tidak perlu lagi membuang waktu untuk mencarinya. Mereka punya tugas yang harus segera diselesaikan.

“Tidak bisakah kita berkeliling sebentar?” pinta Arael memelas.

“Tidak. Kita harus segera menyelesaikan misi kita. Kau harus fokus!” seru Iolas kesal.

Arael mendesah kecewa, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. Ia membiarkan Iolas terus menggenggam tangannya selama menembus jalan utama kota tersebut.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!