Saat membuka mata, Arael mendapati dirinya berada di sebuah pondok kayu kecil yang tampak usang. Arael mencoba bergerak, tapi seluruh badannya terasa nyeri. Tiba-tiba dari balik tirai muncul seorang pemuda bertelinga runcing. Rambut panjang pemuda itu bersinar keperakan, dengan kedua mata biru terang yang teduh. Penampilan rupawannya semakin ditunjang dengan tubuh yang tinggi dan tegap. Seorang Elf.
“Jangan banyak bergerak dulu. Tubuhmu itu tidak ada bedanya dengan orang mati,” kata Elf itu dengan suara yang dingin.
“Kau menolongku?” tanya Arael dengan suara parau.
Elf itu tak menjawab. Ia justru memunggungi Arael sambil meracik ramuan beraroma tanah di atas meja kayu kecil di sudut ruangan. Sepertinya ia sedang menumbuk sesuatu yang mirip dengan akar tanaman. Arael tidak bertanya lagi. Pada akhirnya yang bisa dilakukan Arael hanyalah mengamati sang pemuda elf itu melakukan kesibukannya.
Setelah beberapa waktu, elf itu pun akhirnya selesai melakukan pekerjaannya. Sebuah mangkuk kayu sebesar telapak tangan dia sodorkan pada Arael. Gadis itu memaksa tubuhnya untuk bangkit dan duduk di atas dipan kayu keras itu. Sang elf sama sekali tidak membantunya dan hanya menatap Arael dengan dingin.
Susah payah Arael menerima ramuan yang diberikan oleh elf tersebut. Aroma tanah yang kuat menyeruak dari dalam mangkuk. Tapi Arael tidak terganggu. Bau ini jauh lebih bisa diterima dari pada aroma di penjaranya.
“Minumlah dalam sekali teguk,” perintah sang elf.
Arael menurut. Gadis tersebut meminum ramuan berwarna coklat tua pekat itu dalam satu tarikan napas. Rasanya benar-benar seperti menelan tanah, meninggalkan rasa pahit yang membuat lidah Arael kebas. Arael mencoba mencecap-cecapkan lidahnya berharap agar rasa pahit itu segera menghilang.
Tapi elf itu segera tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Sebutir gula-gula kecil segera dia masukkan ke dalam mulut Arael, membuat mata gadis itu membulat kegirangan. Rasanya sudah lama sekali Arael tidak merasakan makanan manis senikmat ini. Tapi sebelum Arael sempat meminta lebih banyak gula-gula, elf itu sudah kembali pergi meninggalkannya. Arael hanya bisa terdiam melihat kepergiannya. Ia pun kembali merebahkan tubuh di atas dipan keras yang sudah berubah dingin.
Hari-hari selanjutnya dijalani Arael bersama sang elf yang pendiam itu. Elf tersebut merawat Arael tanpa banyak bicara hingga tubuh Arael semakin membaik dari hari ke hari. Setelah Arael sudah cukup kuat untuk melakukan pekerjaan sehari-hari, akhirnya elf itu tidak lagi menaruh perhatian pada Arael. Bahkan kadang-kadang elf tersebut tidak kembali ke pondok selama beberapa hari, meninggalkan Arael sendirian.
Sampai akhir pun Arael tidak pernah tahu siapa nama elf yang telah menyelamatkannya itu. Hingga suatu hari, sesosok elf lain datang ke pondok itu.
“Ylyndar!” seru elf yang baru datang itu memanggil-manggil dari depan pintu.
Arael keluar dari biliknya untuk menengok. Seorang elf berambut emas berkilau, dengan mata biru terang tampak berdiri gagah. Seperti umumnya seorang elf, pemuda itu juga sangat rupawan dan cantik. Tampaknya elf ini jauh lebih muda daripada elf yang merawat Arael.
“Pemilik rumah ini sedang pergi sejak kemarin. Biasanya dia akan datang nanti malam, atau besok pagi,” ucap Arael menyambut kedatangan tamu tak terduganya.
“Dan siapa kau? Kenapa bocah manusia sepertimu ada di rumah Ylyndar?” seru elf itu tampak marah.
“Namaku Arael. Pemilik rumah ini yang membawaku kemari. Dia merawatku yang pingsan di tengah hutan,” kata Arael menjelaskan.
“Kau pasti mata-mata kerajaan! Apa kau kemari untuk menjebak bangsa elf?” seru pemuda itu sambil menggebrak pintu.
“Aku tidak tahu apa maksudmu,” jawab Arael datar.
“Tidak usah bersikap polos. Kalian para manusia adalah makhluk licik yang menjijikkan. Tak ubahnya dengan orge jahat!” Elf tersebut kini mencengkeram leher Arael, bersiap untuk mencekik gadis itu.
“Iolas! Apa yang kau lakukan!” seru sebuah suara yang tergopoh-gopoh mendekati pondok.
Iolas segera melepaskan cengkeramannya setelah mendapati Ylyndar datang.
“Kenapa kau menyakitinya?” tanya Ylyndar tampak marah.
“Kau melindungi manusia ini, Ylyndar?” tanya Iolas tampak tidak percaya.
“Aku menyelamatkannya. Dia sepertinya tahanan yang kabur dari istana,” kata Ylyndar sembari menggantungkan busurnya di dinding pondok.
“Bagaimana kau tahu kalau dia bukan mata-mata bangsa manusia?” Iolas terus bersikeras dan mengikuti Ylyndar yang sedang melucuti dirinya dari perlengkapan berburunya.
“Dia sudah nyaris mati saat kutemukan. Setelah kondisinya membaik aku akan membiarkannya pergi dari sini.”
“Ylyndar! Kau itu seorang elf pengintai! Seharusnya kau tidak menaruh belas kasihan pada musuh bangsa kita!”
“Maaf, boleh aku menyela? Aku bukan mata-mata kerajaan seperti yang kalian kira. Seperti yang dikatakan oleh Tuan eh… Ylyndar… aku adalah tawanan di istana yang baru saja berhasil melarikan diri,” ucap Arael kemudian.
Iolas dan Ylyndar menoleh menatap Arael yang tiba-tiba membuka suara. Sepanjang yang Ylyndar tahu, Arael sangat pendiam, bahkan melebihi dirinya sendiri. Selama ini Arael tidak pernah bicara apa-apa.
“Dan siapa namamu?” tanya Iolas galak.
“Arael,” jawab gadis itu.
“Huh! Bagaimana kami bisa percaya pada bocah…”
“Tunggu, Iolas,” potong Ylyndar tiba-tiba.
Elf berambut perak itu lantas maju mendekati Arael dengan hati-hati.
“Siapa namamu, sekali lagi?” tanya Ylyndar samabil menatap Arael dengan seksama.
“Arael.”
“Berapa lama kau menjadi tawanan di istana?” lanjut Ylyndar terus menanyai Arael.
“Aku tidak tahu. Tapi seingatku, aku berada di penjara sejak kecil. Charles membunuh ayah dan ibuku,” ucap Arael tanpa ekspresi.
Ylyndar kembali memperhatikan Arael dari ujung rambut sampai ke bawah. Rambut hitam Arael yang panjang dan sangat kusut sekarag sudah dipotong sependek bahu. Kedua mata gadis itu tampak jernih dan tajam. Kedua ciri-ciri itu mungkin belum cukup untuk memastikan keaslian identitas Arael. Meski begitu, Ylyndar sepertinya cukup yakin akan tebakannya.
“Apakah secara kebetulan, anda adalah Putri Arael, sang pewaris tahta Raja Sion, putri tunggal Raja Peter?” tanya Ylyndar hati-hati.
Iolas yang berdiri di belakang Ylyndar tampak mengernyit bingung sambil menatap rekannya. Bagaimana bisa bocah perempuan kecil yang tampak sangat lemah ini adalah Putri Mahkota yang ada dalam ramalan.
Tapi Arael lantas mengangguk mantap, mematahkan keragu-raguan Iolas.
“Tidak mungkin…,” desah Ylyndar dengan mata berkaca-kaca. Elf berambut perak itu pun lantas menangkupkan tangan kanannya ke dada, lalu berlutut penuh hormat.
“Sebuah kehormatan bagi saya untuk dapat bertemu dengan Yang Mulia,” ucap Ylyndar dengan suara bergetar menahan rasa haru.
“Tidak mungkin! Jangan tertipu oleh manusia, Ylyndar! Putri Mahkota sudah lama mati bersama Raja dan Ratu sebelumnya!” seru Iolas tidak terima.
“Jaga sikapmu, Iolas!” sambar Ylyndar marah.
“Tapi…”
“Ini perintah! Beri hormat pada Yang Mulia!”
Iolas tampak semakin tidak terima. Meski begitu elf muda itu sepertinya tidak bisa melawan perintah Ylyndar. Pada akhirnya Iolas pun turut melakukan salam penghormatan khas bangsa elf.
“Tolong berdirilah, Ylyndar, Iolas. Aku yang seharusnya berterima kasih karena telah diselamatkan,” ucap Arael sambil meraih bahu Ylyndar dan menyuruhnya bangkit berdiri.
“Itu sudah menjadi tugas kami, Putri…” ucap Ylyndar yang kini benar-benar menitikkan air mata penuh rasa syukur. “Aku… tidak menyangka bahwa ramalan itu benar… Putri… anda adalah harapan bagi semua makhluk sihir yang telah ditindas oleh Raja Lalim itu…”
“Tidak… aku…” Belum sempat Arael menyelesaikan kalimatnya, mendadak dari luar pondok terdengar suara gebrakan yang sangat keras.
Sontak Arael, Ylyndar dan Iolas langsung menengok ke arah luar pondok. Begitu melihat apa yang terjadi di luar sana, Ylyndar dan Iolas segera berubah waspada.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments